7. Cadar

2123 Kata
Bruk…. Tubuh indah seorang gadis cantik yang memakai setelan baju babydoll warna pink, tiba-tiba jatuh dari atas ranjang kamarnya. Mata nya melebar, nafasnya terengah, tubuhnya bermandi keringat dingin, rambut panjangnya yang biasanya terawat lembut, entah sejak kapan jadi lembab oleh keringat. Perlahan tangan Rindu yang bergetar mengusap dahinya sendiri, menyeka keringat yang membanjir. Heran, setelah sekian lama tidak bermimpi tentang kejadian kelam malam itu, entah mengapa malam ini tiba-tiba memimpikannya lagi. Apa ini sebuah pertanda buruk? Tidak, jangan mikir yang aneh-aneh, Rindu. Batin nya resah. Perlahan Rindu bangkit, duduk kembali di atas ranjangnya. Ia lalu meraih ponsel nya yang terletak di atas bantal. Jam menunjuk angka empat pagi, dan Rindu pun mendengar sayup-sayup suara adzan subuh bersahutan. Untuk kesekian kalinya sejak semalam, Nafas gadis itu menghela berat ketika menatap layar di ponselnya, pesan yang ia nanti dari Jasmin ternyata tak kunjung ada. Padahal ia sudah mengirim banyak pesan pada sahabatnya itu. Meminta maaf karena selama ini kurang memperhatikannya, terlalu sibuk mengurus ibunya, ia juga meminta maaf, karena di hari pernikahan Jasmin, dirinya tidak sempat bicara banyak, tentu saja karena saat itu suasana sedang ramai oleh tamu undangan pernikahan. Rindu kecewa, Jasmin sepertinya masih sangat sibuk, sampai-sampai ia tidak sempat membalas pesan-pesannya yang berjumlah belasan. Jangankan dibalas, dibaca saja belum, gerutu Rindu. Lagi-lagi Rindu hanya bisa menelan ludahnya sendiri, pahit, sepahit sikap Emir yang tidak pernah mengiriminya pesan satu pun. Seolah tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Emir. Seolah tidak ada acara pernikahan nanti siang. Harusnya ada komunikasi antara dirinya dan Emir, walaupun itu sedikit. Bagaimana kalau ada acara yang tidak ia pahami di hotel nanti? Hei…, apa yang kamu harapkan Rindu? Emir langsung mencintaimu begitu ia tahu akan menikah denganmu? Tidak mungkin, semua butuh proses, pria itu butuh waktu melupakan calon istri yang sangat dia cintai, dan pasti butuh waktu pula untuk menerima pernikahannya, menerima diri nya sebagai istri. Dan sekarang, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengadu pada sang pembuat takdir, semua ini memang mendadak dan tanpa rencana, tapi tentu saja terjadi atas izin dari sang pencipta, jika memang Emir adalah takdirnya, ia berdoa semoga hati pria itu segera terbuka untuknya. Kaki Rindu melangkah gontai, tidak bersemangat menuju kamar mandi. ia harus segera sholat, setelah itu mempersiapkan dirinya untuk menikah, ya hari ini dirinya menikah, hari yang seharusnya ia lalui dengan kebahagiaan, hari yang harusnya paling ia nanti-nantikan, tapi ternyata, itu hanya ada dalam film-film romantis. Tidak ada cinta yang bisa ia harapkan dari Emir. Bu Aishe dan Pak Ridwan bilang, mereka akan segera memberitahu Emir, kalau dirinya adalah Ana, teman masa kecilnya. Hingga sekarang, tidak ada reaksi apapun dari Emir, pria itu tidak marah atau bertanya tentang keadaannya. Apa Emir masih kecewa dengan perbuatan nya dulu? Hhh…, Rindu menghela nafasnya panjang-panjang. Ia harus puas dengan keadaannya sekarang, setidaknya Emir tidak marah padanya. Pagi itu seperti biasa, selesai sholat subuh, Rindu membuatkan ibu nya bubur, dan kali ini ia tidak membuat sayur untuk makan siang nanti. Karena mereka nanti makan di luar. Di kamar ibunya, entah mengapa pagi ini Bu Yunita terlihat murung, ia tiduran lagi setelah sholat, bahkan mukena yang biasanya dia lipat sendiri, kini dibiarkan teronggok begitu saja di samping tubuhnya. Perlahan Rindu duduk di kasur ibunya, yang sedang tidur membelakangi dirinya. Lalu melipat mukena nya. Benarkah ia tidur lagi? Kenapa? Apa dia sakit? Ah semoga saja tidak, hari ini kan aku menikah. Pikir Rindu seraya melirik tubuh ibunya yang masih membelakanginya. “Mama, ayo sarapan.” ucap Rindu, sembari memegang lembut bahu ibunya. Namun bu Yunita hanya diam. Awalnya Rindu kira ibunya tidur lagi, namun setelah mendengar ibunya yang menghela nafas tertahan, berusaha memelankannya suara helaan nafasnya, sayang Rindu mendengarnya. Dari belakang, Rindu lalu memeluk bahu ibunya. “Mama kenapa? Sakit?” tanya nya. Menurutnya ibunya selalu diam sejak Pak Ridwan dan istrinya pulang dari rumah mereka. Dan ia sedih saat ibunya hanya diam, tidak merespon sama sekali pertanyaan nya. “Apa…, Mama marah tentang aku yang sudah tidak perawan?” tebak Rindu. Dan akibat pertanyaaan itu, tubuh ibunya seketika mengeras tegang, namun wanita itu kembali hanya diam. “Mama jangan khawatir. Aku…, masih perawan kok. Maaf aku bohong.” bisiknya. Bu Yunita seketika berbalik. Memandang tak percaya wajah cantik putrinya yang putih bersih. "Bener kamu masih perawan?" Tanya nya tak sabar. Rindu pun mengangguk. Bibirnya tersenyum manis, "aku masih perawan ting-ting, Ma." Bukannya ikut tersenyum, Bu Yunita justru mencubit pelan lengan Rindu. “Bodoh! Kenapa kamu bohong? Udah berapa kali Mama mewanti-wanti mu, jangan bohong. Apapun alasannya.” ucap Bu Yunita dengan mata membulat. Bibir Rindu pun seketika mencebik, "aku terpaksa, Ma." Kilah Rindu membela diri. “Kemarin…, aku terpaksa bohong. Ku pikir setelah ku bilang aku tidak perawan, Pak Ridwan akan membatalkan pernikahan ini, tapi…, kenapa Mama langsung membuangku pada mereka? Sial sekali nasibku, mereka nggak peduli dengan statusku.” Mata Rindu memandang merajuk pada ibunya. "Salahmu sendiri, ngapain kamu bohong?" Bu Yunita tidak mau tahu, justru menyalahkan putrinya sendiri. "Mama…," rengek Rindu sedih. Menutup kedua matanya dengan lengannya. “Kalau sudah kejadian begini, kamu masih mau bohong lagi? Harusnya kamu mikir panjang sebelum bicara, Sayang. Mama udah berkali-kali pesan sama kamu, jangan pernah bohong walau maksud kamu baik. Pasti akan ada akibat yang harus kamu tanggung karena kebohongan mu.” ucap Bu Yunita sembari membelai rambut Rindu. Menyingkirkan rambut-rambut halus yang menutupi wajah cantik putrinya. “Maaf. Ma. Aku tidak berpikir panjang sebelum berbuat. Bagaimana ini? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada pernikahanku nanti.” Rindu menelusup ke dalam pelukan hangat ibunya. Dahi Bu Yunita berkerut. "Memangnya apa yang akan terjadi sama kamu?" "Emir…, sepertinya tidak mencintaiku." Gumam Rindu. "Gimana kamu tahu sebelum ketemu sama dia? Jelas-jelas dia bilang mau nikah sama kamu kan?" "Feeling, Ma. Perasaan ku bilang kayak gitu. Emir nggak pernah menghubungiku." "Oh…, jadi gitu." Bu Yunita manggut-manggut. "Ini wajar sih, Emir rencananya kan mau nikah sama Jasmin. Ternyata malah sama kamu. Setidaknya dia tidak menolakmu, itu awal yang baik. Berdoalah semoga hati Emir segera terbuka untuk mu. Kalau perlu bacakan dia surat Alfatihah setiap hari." "Aku sama dengan guna-guna Emir dong, Ma." "Nggak pa pa. Guna-guna nya alami, jadi nggak ada efek sampingnya ke dia maupun ke kamu. Lebih tepatnya Itu namanya berdoa. Minta sama Allah. Bukan minta sama syetan." Bu Yunita mencubit gemas janggut lancip putrinya. "Lagian, kamu juga aneh-aneh sih. Kenapa hanya itu yang kamu pikirkan Rindu? Kenapa mengatakan tidak perawan? Apa nggak ada ide lain?” Rindu mengangkat bahu rampingnya sekilas. “Waktu ku pikir Pak Ridwan tidak suka Jasmin karena tidak perawan, kupikir dia juga akan membenciku setelah tahu aku tidak perawan.” Bu Yunita menghembuskan nafasnya banyak-banyak. “kita tidak bisa merubah apa yang sudah kita sepakati dengan keluarga Pak Ridwan, Sayang. Mama tidak bisa menyakiti hati mereka, apalagi mama sendiri yang menyetujui pernikahan ini.” gumamnya. “Aku percaya pada didikan keluarga mereka, apalagi keluarga Pak Ridwan banyak yang keturunan ulama, kakak dan adiknya punya pesantren semua, Pak Ridwan sendiri yang berbeda, dia lebih memilih bisnis daripada membangun pesantren. Hebatnya lagi, dulu aku tidak pernah melihat pak Ridwan dan istrinya bertengkar. Kepribadian mereka baik. Aku yakin Emir juga menyimpan sifat baik salah satu dari mereka. Dia akan jadi imam yang baik untuk mu, Sayang.” Dalam hati sebenarnya Bu Yunita pun juga sedih, karena pernikahan mendadak ini, ijab kabul Rindu dan Emir nanti terpaksa di lakukan di kantor KUA. Dirinya yang sakit tidak bisa berbuat apapun, tidak sanggup melakukan persiapan pernikahan yang mendadak di rumahnya. Pak Ridwan juga telah berjanji, bahwa keluarga mereka nanti yang akan membeli beberapa kotak makanan, dibagikan pada para tetangga Bu Yunita, menjadi pertanda syukuran keluarganya karena Rindu telah menikah. Di kantor KUA, hanya ada beberapa orang yang ikut kesana, dirinya, Papa nya Rindu. Pak RT, RW, dan beberapa pemuka orang di kampung. Ah…, ada rasa nyeri di d**a Bu Yunita saat mengingat suaminya lagi. Pria itulah yang dulu melukis kebahagiaan di hatinya, namun sekarang dia sendiri yang merobeknya, membuangnya tak berharga ke tempat sampah yang tak terurus. Bu Yunita berdoa, semoga saja istri serakah pria itu nanti tidak ikut dalam acara ijab qobul, dia pasti tertawa melihat keadaanku, pikir Bu Yunita pedih. “Mama yakin, ada yang bisa di harapkan dari Emir?” ada sebersit rasa tak percaya di hati Rindu. “Mama akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Sayang.” Seulas senyum kaku tersungging di bibir merah muda Rindu yang mempunyai ukuran pas, pas berpadu dengan wajah cantiknya, pas indahnya ketika dia tersenyum maupun tertawa, bisa di bilang bibir itu adalah ukuran yang seksi, tidak tipis juga tidak terlalu tebal. Rindu lalu bangun, bergegas kembali ke kamar mandi saat ibunya mengingatkan dirinya agar segera bersiap, sebentar lagi tukang rias yang sudah di siapkan keluarga Emir segera datang. Rindu pun buru-buru ke kamar mandi, berharap pernikahannya benar-benar bisa membuat dirinya bahagia, sesuai dengan harapan ibunya, walau ia bahkan tidak punya kesempatan memilih apa saja yang diinginkan dalam pernikahan, apa saja yang ingin ia lakukan, semua harus ia lakukan sesuai kemauan keluarga Emir yang punya kuasa, tentu saja mereka lebih berkuasa mempunyai banyak uang untuk melakukan apa saja yang dibutuhkan dalam pernikahannya, mulai dari baju pernikahan, perhiasan-perhiasan, mahar, hingga semua yang akan diberikan pada tetangga Rindu, semua di lakukan oleh keluarga Emir. baru saja Rindu hendak membuka kamar mandi, pintu rumahnya diketuk seseorang, ia pun bergegas ke depan, membuka pintu rumahnya, firasat ibunya kuat, di depan pintu rumahnya berdiri tiga orang wanita, mengaku sebagai perias yang dikirim oleh keluarga Pak Ridwan. Rindu pun mempersilahkan masuk ke tiga wanita tersebut ke dalam rumahnya, ia lalu mohon izin, untuk mandi. *** Baju pengantin terbuat dari sutra thailand pilihan berwarna putih, berlapis kain brokat mewah, bermandikan batu swarovski, membuat baju yang dipakai Rindu berkilau indah ketika Rindu berputar, batu-batu indah di bajunya berkilau ketika terkena sorot cahaya lampu, hingga membuat ketiga perias itu memuji baju yang dikenakan Rindu. Rindu hanya bisa pasrah, saat ketiga perias itu mulai merias wajahnya, memakaikan jilbab pengantin yang cantik, lalu memasang mahkota mungil yang indah di kepalanya. Ia bagai seorang putri dari kerajaan Arab Saudi. Lagi-lagi para perias itu memuji kecantikan Rindu, tanpa pakai make up saja dia sudah luar biasa cantik, apalagi setelah di rias pengantin, ia jadi semakin sangat cantik. Mereka bahkan berani bertaruh, pengantin pria nanti pasti langsung melongo ketika melihat Rindu, nggak sadar kalau mulutnya mengeluarkan air terjun ketika melihat istrinya yang cantik jelita. Membayangkan yang aneh-aneh tentang calon suami Rindu, tiga wanita itu lalu tertawa terpingkal-pingkal. Rindu tersenyum kecut, ia tidak akan terperdaya oleh ucapan para perias itu, ia tahu sebenarnya mereka tidak memuji dirinya, tapi memuji hasil kerja mereka sendiri karena berhasil membuat karya spektakuler di wajahnya, dan juga memuji pakaian indah yang ia kenakan. Selesai dirias, Rindu mematut dirinya di cermin. Para perias itu betul, dirinya memang terlihat cantik dengan pakaian serba putih di tubuhnya, make up nya tidak menor tapi justru membuat dirinya terlihat semakin cantik. Salah satu perias itu berkata jika Rindu tidak perlu memakai make up tebal, karena ia sudah memiliki dasar wajah yang cantik, maka mereka tinggal mempertegas , menyapukan lipstik warna pink membuat Rindu justru terlihat lembut dan alami. Srak…. Tiba-tiba salah satu perias memasang sebuah cadar putih di wajah Rindu, menutup sebagian wajahnya, walau wajahnya tertutup cadar, Rindu tetap terlihat cantik. “Tolong lepaskan cadar ini, aku tidak pernah pakai cadar.” ucap Rindu pada saat sang perias merapikan cadar nya. “Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Ini permintaan keluarga mertuamu, Kamu nggak dikasih tahu mereka, kalau kamu harus pakai cadar?” tanya perias yang sedang memakaikan cadar untuk Rindu. Rindu menggeleng. Ia jadi bertanya-tanya, mengapa mereka memakaikan dirinya cadar? “Gimana? Kamu tetap nggak mau pakai cadar? Em…, gini aja aku telpon dulu Mama mertuamu, bilang kalau kamu nggak mau pakai cadar.” Perias itu menghentikan aktivitasnya merapikan cadar Rindu. Mengambil ponsel yang ia letakkan di atas ranjang kamar. “Nggak usah, Mbak.” ucap Rindu cepat. “Aku pakai cadar aja nggak pa pa, kalau ini memang kemauan mereka, aku akan melakukannya.” Di balik cadarnya, Rindu tersenyum masam. “Ya sudah kalau kamu akhirnya memutuskan pakai cadar. Duh…, mantu idaman, nurut banget sih? Nggak hanya sekarang loh kamu pakai cadar, di hotel nanti malam, kamu juga harus pakai cadar loh.” goda sang perias. Glek…. Rindu menelan kembali ludahnya, heran mengapa keluarga Emir menyuruh dirinya bercadar, mungkinkah ini sebuah tradisi keluarga mereka? Atau mungkin ada alasan lain? “Apaan sih, Mbak. Dari tadi muji-muji aku terus. Ini hanya masalah kecil, semua wanita juga akan melakukannya.” Tidak berapa lama, mobil yang menjemput Rindu pun datang. Gadis itu pun siap menuju kantor KUA. Dan lagi-lagi ia terhenyak, bercampur sedih dalam hati, yang menyusul dirinya ternyata hanya orang tua Emir. Kata mereka Emir menunggu nya di kantor KUA. RIndu, ibunya, dan beberapa orang yang ikut ke kantor KUA berangkat, segera menuju ke tempat menikah. Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN