8. Kantor KUA

2444 Kata
Apa yang kamu rasakan ketika wali mu mengucapkan ijab pada calon suamimu? Jantungmu deg-degan? Tentu. Lalu seberapa bahagia dirimu ketika orang yang kamu cintai akhirnya menjawab qobul untukmu? Tentu dunia terlihat semakin indah, bunga-bunga di hatimu seolah bermekaran, nadimu berdesir lebih cepat, dan jantungmu menjadi liar tak terkendali, begitu cepat terpompa, seolah ia bisa meledak karena luapan kebahagiaan. Tes…. Sebutir air mata tanpa terkontrol lolos begitu saja dari pelupuk mata bening Rindu. Buru-buru gadis itu menyusutnya, jangan sampai ada yang tahu jika ia sebenarnya benar-benar bahagia dengan pernikahan tanpa rencana tersebut, tidak peduli walau ia mempunyai dugaan yang menyakitkan, bahwa ia mencintai sendirian. Rasa bahagia itu membuat Rindu tanpa sadar menatap wajah tampan khas Turki milik Emir. Namun baru saja ia menatap nya, buru-buru ia menunduk. Sakit hingga terasa perih di relung hatinya, tubuh nya seketika seolah terhempas keras ke palung laut yang dingin dan gelap saat menyadari Emir yang sedang duduk di sampingnya diam tanpa ekspresi. Jelas terlihat di wajah tampannya, rahangnya mengeras, lehernya mengurat nadi, ia tidak bahagia. Dalam cadarnya, Rindu menggigit bibir bawahnya keras-keras, berusaha menahan diri, agar air mata tidak lagi tumpah. Namun saat ayahnya yang duduk di sebelahnya mengusap bahu Rindu. Gadis itu pun tak sanggup lagi menahan perasaannya. Tidak bisa di pungkiri, walau pernikahan ini bukan pernikahan yang tidak di rencana, tetap saja dirinya berharap agar ia bisa bahagia, berharap Emir punya perasaan yang sama dengan dirinya. Rindu lalu menangis di pelukan ayahnya yang selama ini menghilang dari hidupnya. Rupanya ayahnya tidak bisa memahami perasaan Rindu, mengira tangis putrinya adalah tangis kebahagiaan. Ia selalu mengatakan jika Rindu berhak bahagia, mengatakan jika Emir adalah pria tampan yang tepat untuk putrinya. Akibat salah hiburan yang di berikan ayahnya, Rindu pun semakin sesenggukan, berusaha menahan tangis kencangnya. Kecewa dengan pernikahannya. Setelah Rindu berhasil menguasai emosinya, penghulu pernikahan melanjutkan acara ijab qobul. Memberikan sedikit wejangan, nasehat membina rumah tangga yang baik untuk Emir dan Rindu. Emir mendengar nasehat itu dengan wajah datar, dan ketika di tanya ia hanya menampilkan sedikit senyum menawannya lalu mengangguk sejenak, setelah itu wajahnya tanpa ekspresi lagi. Selesai memberikan nasehat-nasehat tentang pernikahan pak penghulu melanjutkannya dengan membaca doa, dilanjutkan dengan membaca sholawat penenang hati. Tangan Rindu panas dingin ketika Emir menyematkan cincin berlian di jari lentiknya, lalu menerima mahar uang 100 juta dari Emir. Dan ia sempat menahan amarahnya ketika mendengar bisik bisik di belakangnya, istri muda ayahnya menuntut agar ayahnya meminta bagian dari mahar Rindu. 'Dasar Mak Lampir serakah. Aku gak akan memberimu sepeserpun, karena uang ini untuk pengobatan ibu. Kalau mau uang, kerja sana! Jangan cuma bisa minta aja.' umpat Rindu dalam hati, kesal dengan wanita yang usianya terpaut lima tahun lebih tua darinya. Wajah cantik Rindu seketika berubah merona merah menahan malu, tersembunyi aman di balik cadarnya ketika ia mencium tangan Emir, ia berharap Emir tidak mendengar detak jantungnya yang terlalu keras bertabuh, jangan sampai ketahuan jika ia terlalu bahagia dengan pernikahan ini. Namun hatinya kembali teriris sembilu ketika Emir tak kunjung membalas ciuman di tangannya, pria itu belum juga mencium dahi nya. "Sayang, cium kening istrimu." Suara Bu Aishe berbisik pada putranya, terdengar hingga telinga Rindu. "Cepat lakukan, orang-orang menunggumu!" desak wanita itu sembari menggoyang pelan lengan Emir. Cup…. Sebuah ciuman mendarat di atas kepala Rindu yang tertutup kerudung. Rindu pun memejamkan matanya, meresapi tindakan Emir yang menyentuh hatinya, namun juga menyakitinya. Padahal ada bagian dahinya yang terbuka, cukup untuk mendaratkan ciuman kecil di sana. Namun Emir justru memilih mendaratkan ciumannya di tempat lain, seolah tak rela menyentuh kulit Rindu, apalagi dengan bibirnya. Pliss Rindu, bangun dari mimpimu, secantik apapun dirimu berdandan, Emir tetap saja tidak mau melihatmu, jangan kan melihat wajahmu, melirik pun pria itu tidak tertarik. Kamu harus ingat, hati Emir masih tersangkut di mantan tunangannya, masih belum bisa melupakannya. Kalau kamu memang ingin mendapatkan hati Emir, bersabarlah dan terus berusaha mendekatinya, memperhatikannya, dan melimpahinya dengan cinta yang sudah tidak bisa diberikan lagi oleh Jasmin. Teriak hati kecil Rindu. Acara ijab qobul di kantor KUA hari itu berjalan lancar. Rindu dan Emir lalu di antar ke hotel bintang lima, tempat resepsi pernikahan Emir dan Rindu yang akan di adakan malam nanti. Di dalam mobil, keadaan tak jauh berbeda dengan ketika berada di kantor KUA, sikap Emir sama dinginnya ketika berada di kantor KUA. Walau kini dua orang itu duduk berduaan di bagian belakang mobil. Emir sama sekali tak melihat ke arah istrinya, sama sekali tak mengajaknya bicara, seolah mereka tak saling mengenal. Rindu membuang muka, berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya, sebelah tangannya meremas-remas baju pengantinnya gugup. Tidak habis pikir dengan keadaan kaku yang menyelimuti mobil. Padahal sebelum pernikahan ini terjadi. Di kampus, ketika ia bersama Jasmin, mantan tunangannya. Emir selalu bersikap biasa-biasa saja padanya, mengajaknya bicara seperti layaknya seorang teman, bahkan pria itu terkadang mengajaknya bercanda. Tapi sekarang keadaan mengubah segalanya. Emir tidak lagi bersikap hangat, sama sekali tak melihat ke arahnya seolah dirinya tak ada, seolah mereka tak saling mengenal. Dinginnya sikap Emir membuat Rindu segan membuka percakapan di antara mereka. Hingga akhirnya mereka tiba di hotel. Di kamar hotel, sejak seluruh anggota keluarga pulang. Rindu sendirian di kamar high class yang disiapkan khusus untuk dirinya dan Emir, di atas ranjang super luasnya ia berbaring sendirian, merana, meratapi sikap suaminya. Mewahnya fasilitas kamar hotel tak terasa di hatinya, pemandangan memanjakan dari atas ketinggian kamarnya sama sekali tak menghibur matanya, bahkan televisi yang ia nyalakan hanya terdengar berdengung di telinganya, mata bulat Rindu yang bening justru memburam karena air mata yang berdesakan keluar, membasahi bantal putih. d**a Rindu terasa sesak, menyimpan luka atas sikap suaminya yang jelas tak menginginkan dirinya. Emir menghilang begitu saja setelah mengantar kepergian keluarganya. Tak memberitahu keberadaannya. Rindu semakin cemas saat gelap mulai menyelimuti langit, sayup suara adzan maghrib memenuhi cakrawala. Emir masih juga belum menampakkan wajah tampannya yang bertubuh jangkung, dengan senyumnya yang mempesona, memukau setiap wanita termasuk juga Rindu. Rindu berjalan mondar mandir di kamarnya setelah ia baru selesai sholat maghrib, sebentar lagi MUA mereka datang, mereka akan menjadi ratu dan raja semalam di pesta pernikahannya nanti. Apa yang akan ia katakan? Mengatakan jika sang pengantin pria melarikan diri? Oh tidak…! Pikir Rindu frustasi. Cklek…. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Rindu seketika meremas ujung bajunya, berusaha sekuat tenaga menahan diri. Hampir saja ia berlari, menghambur ke arah Emir, menangis di d**a bidang pria itu. Tidak tahukah dia, seharian ini ia hanya bisa menangis karena mengkhawatirkannya tanpa berani menelponnya. Dan ia justru langsung salah tingkah saat Emir menatap ke arahnya. Rindu refleks mengangkat kerudung yang sejak tadi mengalung di lehernya, memakainya, menutupi rambut panjang nya yang terurai cantik, membingkai wajah cantiknya yang sayu akibat seharian menangis. Dadanya yang berdegup bahagia membuat Rindu lupa jika Emir kini adalah suaminya, berhak melihat rambut yang selama ini ia sembunyikan. Rindu lalu bergegas ke pantry, dapur mungil yang ada di kamarnya. Membuatkan suaminya kopi. Tidak berapa lama, Rindu menghampiri Emir yang sedang duduk berselonjor kaki di sofa, tubuh jangkungnya bersandar santai di sandaran tangan, dan ia langsung menegakkan tubuh saat menyadari kehadiran Rindu. Sebelah mata Emir terasa menikam tajam wajah cantik istrinya yang menunduk ketika meletakkan gelas. “Kita sudah menikah, kamu gak perlu lagi pakai kerudung di depanku.” ucap Emir dingin dengan suara bas nya, terdengar seksi di telinga Rindu. Mendengar ucapan Emir. Jantung Rindu seketika terpacu kencang, ia senang, Emir ternyata tidak membenci dirinya seperti yang ia kira, sepertinya ia hanya bingung, tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika harus bersamanya, apalagi berdua-duaan dengannya di dalam kamar hotel, apalagi ada pemandangan romantis di bawah sana. Perlahan Rindu mengangkat wajahnya, menatap wajah Emir yang kini kembali menatap ponselnya. Wajah itu tetap tampan, rambut hitamnya yang tebal tertata rapi, mata tajamnya yang sebelumnya biasa-biasa saja tiba-tiba berubah menatap ogah-ogahan layar ponsel di tangannya, merasa terganggu oleh tatapan bola mata bening milik istrinya. Ia terlihat jengkel ketika mengangkat wajahnya, menatap balik istrinya, buru-buru Rindu mengalihkan pandangannya. “Ada yang mau kamu tanyakan?” tanya Emir blak-blakan, terus terang merasa terganggu dengan tatapan sendu mata istrinya. Rindu lalu menggelengkan kepalanya, memang tidak ada yang ingin ia tanyakan, hanya ingin menatap wajah tampan Emir. “Aku tadi sudah minum kopi dengan teman-teman ku. Lain kali, kalau mau buat kopi tanya aku dulu” “Oh…,” jawab Rindu pelan, ada nada kecewa tersembunyi di sana. ‘Oh jadi dari tadi dia nongkrong sama teman-temannya?’ pikir Rindu. ‘Apa susahnya sih bilang kalau dia tadi lagi sama teman-temannya?’ Rindu lalu mengambil kopi di meja, membawanya ke belakang. “Mau dibawa kemana kopinya?” ucap Emir tiba-tiba, menghentikan langkah kaki Rindu yang sedang berjalan. “Aku akan membuangnya, em…, mungkin aku akan meminumnya.” jawab Rindu. Sayang sekali kalau kopi mahal yang disediakan hotel di buang begitu saja. “Jangan minum kopi, kamu punya asma. Taruh saja di sini, aku nanti akan meminumnya.” ucap Emir datar tanpa menoleh kebelakang. Ia kembali bersandar di sofa, memainkan ponselnya. Hati Rindu aneh, rasa gembira menyeruak begitu saja dalam hatinya, Emir tidak menolak minum kopi buatannya, mau memberi tahu dimana dirinya tadi, dan apa tadi? Dia mengkhawatirkan penyakit asma nya? Ah rupanya Emir perhatian juga, ternyata dia tidak sejahat di pikirannya. Buru-buru Rindu menaruh kembali kopi itu di meja, lalu segera melesat ke kamar mandi. Harus segera bersiap-siap, sebentar lagi MUA mereka datang, pesta pernikahan sebentar lagi berlangsung di aula hotel. Benar saja, baru saja Rindu selesai mandi, MUA nya datang, Rindu pun segera ke kamar, berdandan di sana sembari menunggu Emir selesai mandi. Rindu hanya tersenyum ketika para MUA itu, yang mendandaninya pagi tadi menggodanya lagi, mengatakan apa saja yang telah di lakukan pengantin baru di kamar hotel yang mewah, Emir pasti membuat Rindu kesulitan berdiri karena terus-terusan ingin menggagahi Rindu. Ketika melihat bibir Rindu cemberut, para MUA yang semuanya adalah wanita minta maaf karena mengganggu Rindu, mengganggu waktu mereka bermain cinta. Tawa terbahak-bahak pun menggema dari kamar itu. Rindu pun tersenyum kecut, sayang sekali tebakan para MUA itu seratus persen meleset. tidak ingin dipecundangi para perias itu, Rindu pun menggoda balik para periasnya, membual jika dirinya sedang berbahagia bersama Emir, jadi para MUA itu tidak boleh iri padanya, meminta maaf karena dia lah yang paling beruntung di antara semua cewek yang hanya bisa mengagumi ketampanan Emir dari kejauhan. Sambil berdandan, Rindu dan para periasnya bercanda, saling menggoda. Namun Rindu lah yang paling sering jadi bulan-bulanan candaan tersebut, hingga akhirnya ia benar-benar menggerutu karena kesal. Yang paling Rindu benci akhirnya datang juga, ia harus memakai dulu korset sebelum memakai gaun indahnya yang berwarna abu-abu. Sebelum Rindu memakai korset ia mengenakan rok panjang berbahan kain tile mengembang sebagai isian gaunnya nanti, tujuannya agar rok gaun pengantinnya bisa mekar indah, terlihat lebih alami. Korset itu benar adanya menyesakkan Rindu. Akibat penekanan di perutnya, d**a sekalnya pun otomatis tertekan ke atas, membuat sebagian dadanya menyembul seksi. Melihat d**a Rindu, lagi-lagi para perias itu menggodanya. “Mbak Rindu d**a mu ini dari bahan plastik kan? Nggak heran deh, soalny bagus banget.” celetuk salah seorang MUA. “Plastik? Enak aja, emang nya aku boneka? Di buat dari plastik?” sahut Rindu. “maksudnya dia itu, apa dadamu hasil operasi plastik?” jelas MUA yang lain. “Ya aku tahu maksud dia. Tapi ya enggak lah, ini alami tahu.” jawab Rindu. Tidak habis pikir dengan cara pikir para MUA nya. Masih ada loh yang alami dan jujur di dunia ini. “Lagi pula kalau operasi pakai uangnya siapa? Pakai uang nenek moyang mu?” “Kali aja di kasih Emir. Keluarganya kan kaya raya. Emir sendiri juga udah punya usaha mall.” Rindu menghembuskan nafasnya panjang-panjang. “Walau keluarga Emir kaya raya, aku nggak akan manfaatin uang mereka buat operasi plastik, dosa tahu, kalau merubah ciptaan tuhan.” sahut Rindu. “Kamu beruntung tahu, selain punya wajah cantik, tubuhmu juga seksi banget, duh aku iri banget sama kamu, Sayang. Sekarang Emir pasti udah kenyang.” “Hah? Udah kenyang?” Rindu tidak mengerti apa maksud salah satu perias tersebut, kata-katanya sama sekali tidak nyambung. Dalam hati ia mengeluh, tidak tahukah, di balik keindahan fisik yang ia punya, hidupnya ternyata tidak seindah fisiknya, terlalu banyak duka yang harus ia alami. Mulai dari ayahnya yang selingkuh, keuangan keluarga yang carut marut, hingga menyebabkan ibunya jatuh sakit karena tidak sanggup menghadapi kenyataan hidup mereka yang pilu. “Emir pasti udah kenyang melahap tubuhmu, iyakan? Eh enggak deh, tunggu aja nanti malam, Emir pasti akan memakanmu lagi, Mbak Rindu, hahaha….” jelas salah satu perias sambil tertawa-tawa, di ikuti para perias yang lain. “Apaan sih. Nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh.” Pembicaraan mereka kian tak terkendali. Wajah Rindu bersemu merah, membayangkan Emir memperlakukan mesra dirinya membuat tubuhnya seketika terasa panas dingin. Kret…. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Emir berada di ambang pintu. Dan mata pria itu seketika melebar ketika menatap Rindu yang belum mengenakan baju. Beberapa MUA yang berada di belakang Rindu sedang menarik tali korset Rindu. Emir pun tidak bisa mengendalikan matanya saat menatap gundukan Rindu yang subur, sebagian mencuat keluar, indah, menangkap mata Emir yang berubah jadi liar dan sulit dikendalikan, ketagihan untuk terus menatapnya. Rindu yang sadar Emir sedang melotot menatap tubuhnya, refleks mengangkat roknya yang lebar, menutupkannya pada bahu dan dadanya yang terbuka. Yang terjadi selanjutnya justru membuat Rindu semakin malu. Terlihat jelas kaki Rindu yang ramping dan indah, putih bersih tanpa noda sedikitpun terbuka lebar di depan suaminya. Dan itu lagi-lagi membuat Emir semakin tidak bisa mengendalikan matanya, ia tanpa sungkan menatap penuh kagum kaki indah istrinya. Rindu yang menyadari Emir kini justru melihat kakinya refleks berteriak-teriak sambil melempari suaminya bantal. Rindu lalu duduk berjongkok, berharap tubuhnya yang terbuka tidak lagi dipelototi oleh Emir. Lupa jika pria itu berhak melihatnya. Dan lemparan itu tepat mengenai wajah Emir, membuat pria itu seketika tersadar akan rasa terpananya. Tubuh indah itu sejenak mampu membuatnya terhipnotis. Buru-buru ia menunduk. “Maaf.” ucapnya sembari menutup pintu. Tiga MUA yang sejak tadi berada di sekitar Rindu seketika terbengong-bengong keheranan, saling memandang dan menebak-nebak, merasa aneh dengan tingkah pasangan pengantin baru tersebut. Mereka seolah belum pernah saling bersentuhan, seolah dua orang asing yang saling tak mengenal. ‘Ah sial banget, kenapa Emir tiba-tiba masuk sih? Aku kan jadi refleks teriak ketakutan.’ Dan akibat teriakan itu, tiga periasnya jadi kepo, semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Emir. Rindu menggaruk alisnya salah tingkah. Semoga saja mulut para wanita itu tidak ember, tidak menceritakan kejadian antara dirinya dan Emir barusan, apalagi menceritakannya pada keluarga. “Rindu,” panggil salah satu perias, dia yang paling senior. “A-apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya…, kalian belum pernah bersentuhan.” Rindu menarik nafasnya dalam, jika sejak tadi ia terpaksa berbohong sudah bersatu dengan Emir, melewati siang mereka dengan bara api cinta yang membara. Kali ini ia akan jujur, bahwa ia memang belum menyatu dengan Emir. Karena dirinya sedang menstruasi. Hehe…. Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN