9. Kemeja Suami

3819 Kata
Alunan musik melow nan lembut dari saxophone, mengalun romantis mengiringi acara pernikahan di sebuah aula hotel bintang lima yang megah. Bunga-bunga warna putih bertebaran, mewah, memenuhi sudut-sudut ruangan, serasi berpadu dengan latar belakang warna abu-abu. Lampu lampu bercahaya emas menyorot di setiap sudut ruangan aula, membuat kesan tak terlupakan, seolah berada di negeri seribu satu malam berkolaborasi dengan simpel nya budaya eropa, simpel tapi tetap mewah. Di atas pelaminan, Emir terlihat kaku duduk di samping Rindu. Pasangan itu sejak tadi berdiri, sesekali harus duduk istirahat ketika para tamu undangan sudah tidak ada di atas pelaminan. Emir terlihat gagah dengan setelan jas abu-abu, korsase bunga pikok yang mungil menempel rapi di sela kantong jas nya. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, sorot matanya yang tajam terlihat seksi di bawah alis nya yang tebal, dan rahangnya yang bergaris kuat di tumbuhi jambang tipis yang rapi khas pria Turki, membuatnya terlihat lebih maskulin. Dan tubuh tinggi Emir terlihat menawan bersanding di sisi Rindu yang mempunyai tinggi sedagu nya. Jika Emir terlihat cuek dan dingin, berbeda dengan Rindu. Wanita yang bergaun serasi dengan Emir tersebut terlihat sesekali mencuri pandang ke arah suaminya. Rona merah selalu meresap di wajah cantiknya tatkala berhasil menangkap wajah tampan Emir, setelah itu buru-buru ia membuang wajah ayunya yang tersimpan rapi di dalam cadar. Dalam angan, Rindu selalu berkhayal, Emir akan menggenggam mesra jari-jarinya, merangkul mesra bahunya di hadapan para tamu, menunjukkan jika Emir adalah pasangan yang cocok untuknya. Bahagia rasanya jika Emir terlihat menginginkan dirinya dan menghendaki pernikahan itu. Namun Rindu hanya bisa menghela nafasnya ketika kenyataan tak sesuai dengan keinginan. Yang memegang tangan nya bukanlah suaminya namun justru ibu mertuanya yang ikut naik ke atas pelaminan. Wanita itu menemani bibi Emir yang datang jauh-jauh dari Turki dengan beberapa anak saudaranya. Menyalami Emir, memeluknya penuh kasih sayang, lalu menghadiahi ciuman penuh kasih di pipi dan kening Emir. Rindu hanya mengerutkan dahi ketika Emir dan bibinya berbicara dalam bahasa Turki, ia sama sekali tidak mengerti bahasa itu. Yang jelas dua orang itu saling melepas Rindu dan bertanya kabar. Mereka pun tertawa dan tersenyum bahagia. “Dia bibinya Emir, namanya Vilis. Rumahnya di Ankara Turki." Bisik Bu Aishe di samping Rindu. "Sepertinya…, mereka sangat dekat." Rindu memperhatikan bagaimana cara Emir menghapus air mata wanita itu. Begitu lembut dan penuh perhatian, seandainya Emir memperlakukan dirinya seperti itu…, 'ah mimpi sana kau Rindu….' Bu Aishe mengelus bahu ramping Rindu. "Emir itu keponakan kesayangan Bibi Vilis dan juga cucu kesayangan neneknya. Emir dulu menghabiskan masa sekolahnya di Turki bersama nenek dan bibinya. Saking sayang nya, neneknya sampai membuatkan Emir mall untuknya, sayang tidak lama kemudian nenek nya meninggal, dan Emir memilih pulang ke Indonesia. Dan untuk sementara ini mall itu dikelola bibi nya." Terang Bu Aishe. Rindu pun mengangguk-angguk faham "Umarım mutlusundur, Jasmin." ucap Bibi Vilis dalam bahasa Turki, ia menggenggam tangan Rindu hangat. "Dia bilang semoga kamu bahagia, dia kira kamu adalah Jasmin." bisik Bu Aishe. "I'm not Jasmin, I'm Rindu." ucap Rindu dalam bahasa Inggris. Mungkin wanita itu mengerti bahasa Inggris. Jasmin senang, wanita itu ternyata mengerti bahasa Inggris. Dan berkat ucapan Rindu, ia mengerutkan dahi. Ia terlihat bingung. "Tapi…, bukankah namamu Jasmin? Seingatku, Emir pernah mengatakan kalau namamu adalah Jasmin." ucap Vilis dalam bahasa Inggris. Vilis yakin, walau dirinya kakak dari Bu Aishe, lebih tua sepuluh tahun, tapi ingatannya masih baik-baik saja. "Wah sepertinya kamu semakin tua, Kak. Masa sama nama calon istri Emir aja nggak ingat? Kamu pernah beberapa kali video call sama dia kan? Kalau sama nama aja nggak ingat, gimana kamu bisa ingat wajahnya?" Canda Bu Aishe. "Benarkah aku salah?" Vilis menggaruk dahinya bingung. Matanya lalu menatap penuh selidik, meniti wajah Rindu yang bersembunyi di balik cadar. Hanya kedua mata berbingkai maskara hitam dan sebagian hidung mungil mancungnya yang kelihatan. Tangan wanita itu lalu memakai kan kerudung pashmina ke kepalanya, yang sejak tadi lepas, menggantung di bahunya begitu saja. Mendapat tatapan tajam wanita di depannya, Rindu refleks menunduk. Ia sekarang tahu, alasan mengapa dirinya harus memakai cadar. Untuk menyembunyikan identitasnya bahwa ia bukan pengantin yang sebenarnya. Atas permintaan Bu Aishe yang sejak tadi mengantarnya naik ke atas pelaminan, Vilis akhirnya turun. Walau wanita itu dihantui rasa penasaran, ia tetap menggenggam hangat tangan Rindu, memeluknya sejenak sembari berkata, "kamu sangat cantik, aku berdoa semoga kamu bisa menjadi ladang kebahagiaan untuk Emirku." Usai berkata seperti itu, Vilis lalu turun. Di atas pelaminan. Tangan Rindu saling meremas gelisah. Ia harus selalu ingat, jika sejak awal dirinya memang hanya pengantin pengganti, mempelai yang tak pernah diharapkan. Sebenarnya keadaan ini sungguh menguntungkan Rindu, tapi juga membuatnya malu setengah mati. Hingga Ia tidak berani memberitahu teman-teman, atau mengundang mereka dalam acara pernikahannya. Mengambil posisi yang harusnya milik sahabatnya membuat Rindu benar-benar dihantui rasa malu yang tak bertepi. Ini sungguh memalukan. Entah mengapa, tiba-tiba beberapa orang terlihat berkerumun di sudut ruang aula, awalnya hanya ada lima orang, namun semakin lama semakin banyak yang berkerumun. Rindu dan Emir pun hanya bisa berdiri di tempatnya, sebagai pemilik acara, mereka harus stand by di tempatnya. Bu Aishe yang sudah berada di bawah, seketika langsung menghampiri kerumunan itu. Dan ia terkejut ketika berhasil masuk ke dalam tengah-tengah kerumunan. Seorang wanita muda dengan paras cantik, rambut panjang nya ia sanggul, ia memakai kebaya modern yang indah. Sayang, wajah cantiknya tak seindah sikapnya yang tidak punya sopan santun. Mata bulat wanita itu melotot mengerikan, melebar bagai mata ikan hiu, menatap jahat wajah Pak Ridwan, suami Bu Aishe. “Anda keterlaluan sekali. Pak Ridwan." Suara wanita itu melengking di antara suara musik. "Anda juga Bu Aishe.” wanita itu tiba-tiba juga melotot ke arah Bu Aishe yang baru datang. "A-ada apa ya?" Bu Aishe tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat wanita itu marah-marah. Makanan yang ia sajikan kurang enak kah? Apa ada cicak, kecoa, semut yang ikut menikmati sambil berenang di dalam kuah makanan? Memangnya siapa wanita ini? “Tenang lah, Sayang. Jangan marah-marah begini sama mereka. Dia besan kita, aku tidak enak." Pak Halim, ayah Rindu yang sejak tadi berdiri di samping wanita itu mencoba menenangkan istri mudanya. Bu Aishe seketika mengangkat kedua alisnya kaget, ternyata wanita ini istri muda besannya. Pantas ia tidak mengenalinya, mereka memang belum pernah bertemu sebelum ini. Bukannya tenang atau malu, sadar karena dirinya kini malah jadi bahan tontonan orang-orang di sekitarnya. Wanita itu justru memutar tubuhnya, ganti memelototi wajah suaminya yang baru beberapa bulan ia nikahi. “Kenapa harus malu, Mas? Aku nggak suka ya, ada yang ngeremehin kamu. Kamu ini jadi pria yang tegas dong. Tuntut yang harus jadi hak kamu.” “Hak? Hak apa maksud kamu?” Pak Halim pun tidak mengerti apa yang dibicarakan istri mudanya. Nafas Siska mendengkus kesal, menatap tak sabar wajah suaminya, ia lalu memutar tubuhnya, kembali berhadapan dengan pak Ridwan dan istrinya. Siska lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. “Orang kaya seperti kalian memang tidak peka, suamiku ini besan kalian, sudah jadi anggota baru keluarga kalian juga. Sudah ngerti nggak apa yang harusnya kalian lakukan?" ucap Siska dengan suara lantang. “Kewajiban apa? Bicaralah yang jelas, apa maksudmu dengan kewajiban kami, kewajiban yang mana?” pak Ridwan pun bingung dengan maksud ucapan Siska. Percuma dia cantik, Budi pekerti nya sangat jelek. “Tentu saja kewajiban kalian membuatkan pesta untuk Rindu. Itu sudah jadi kewajiban kalian dari pengantin pria. Apa kalian pikir karena pernikahan ini mendadak, kalian berusaha melepaskan diri dari kewajiban kalian untuk mengadakan pesta di tempat Rindu. Dan…,” wanita itu menelan ludahnya sendiri. “Dan…., kenapa kalian tidak sopan sama sekali pada suamiku? Harusnya kalian memberinya sedikit tips juga, dia sudah capek-capek meluangkan waktunya untuk menikahkan Rindu dengan putra kalian. Sebenarnya suamiku ini orang yang sangat sibuk, hampir setiap hari melakukan perjalanan wisata, menjadi supir di agen travelnya sendiri, apa kalian tidak tahu malu?" “Sayang, kamu ngomong apa sih? Aku ini papanya Rindu. Jadi nggak perlu minta uang untuk menikahkan putriku sendiri.” Pak Halim berusaha menenangkan istrinya yang emosional. Siska terlihat menipiskan bibirnya, menatap jengkel wajah suaminya yang lebih pantas ia panggil Om atau ayah. “Ini nih, yang gak aku suka dari sikapmu yang lembek gini, makanya usaha travel mu sulit berkembang. Gimana bisa sukses kalau kamu gak tegas dan mudah dilemahkan oleh keadaan.” Suara Siska semakin melengking. “Biasakan dirimu disiplin menerima apapun yang seharusnya memang hak kamu, nggak peduli apapun itu, kalau sudah jadi hak kamu. Kamu harus terus terang memintanya, iyakan Pak Ridwan?” Siska menatap Pak Ridwan sinis. “Ah ya-ya….” Pak Ridwan tertawa hambar sembari mengangguk-anggukkan kepalanya, ia mulai mengerti ke arah mana arah pembicaraan Siska. Wanita itu ingin dirinya memberi sedikit uang untuk besannya. “Kalian memang seharusnya menerima sesuatu dari keluarga kami. Baiklah aku akan mentransfernya ke rekening…, siapa?” Pak Ridwan melihat bergantian antara Siska dan Pak Halim. “Tidak-tidak jangan lakukan ini, Pak." Pak Halim menghampiri Pak Ridwan. Mengenyalami tangannya tak enak hati. "Jangan pedulikan dia, Istriku kadang memang sangat perhitungan.” Pak Ridwan menarik tangannya, ganti memegangi tangan besan nya. “Tidak apa. Pak. Lagipula istrimu memang benar, maaf kalau kami telat memperhatikan kalian, rencananya setelah kami tidak repot nanti kami memang akan mentransfer uang ke rekening kalian. Tapi karena keadaan sekarang jadi seperti ini, sebaiknya kami mentransfernya sekarang juga. Jadi, aku harus mentransfer ke nomor rekening siapa?” “Rekening ku saja.” sahut Siska cepat. “Maksudku rekening ini milik kami berdua. Jadi kirim saja ke rekening ini.” lanjut Siska. Pak Ridwan lalu mengirimkan sejumlah uang ke rekening Siska. Tidak lama kemudian, senyum pun terbit di bibir merah wanita itu, tatkala sejumlah uang sudah masuk ke rekeningnya. Ketika ditanya lagi oleh Pak Ridwan, apa ada yang kurang? Pak Halim pun cepat-cepat menjawabnya sebelum Siska membuka mulutnya. Pak Halim berkata, jika tidak ada lagi yang harus mereka berikan, lagipula tidak ada acara khusus di rumahnya untuk merayakan pernikahan Rindu, jika ingin mengirim sejumlah uang lagi, Pak Ridwan sebaiknya memberikannya pada Bu Yunita, dia lebih berhak menerima banyak uang. Di rumah itu pasti akan ada perayaan meski itu kecil-kecilan. Pak Halim lalu menatap sendu Bu Yunita yang duduk di atas kursi rodanya tak jauh dari tempatnya berada, dia duduk di sekitar keluarganya. Wanita itu tidak berubah sama sekali, tetap terlihat cantik walau dengan minim perhiasan. Padahal wanita itu punya banyak perhiasan di lemarinya. Namun seperti biasa ia hanya memakai sebuah cincin lamanya. Untunglah dirinya masih punya hati nurani ketika mengambil seluruh perabotan di rumah istri pertamanya, ia meninggalkan perhiasan istrinya tetap utuh, tersimpan secara khusus di sebuah tempat, sengaja tidak mengambilnya satu pun. Karena ia hanya mengambil yang memang ada hak untuknya, harta yang ia beli dengan uang patungan. Dan tentu saja untuk membangun rumah idaman wanita cantik yang baru saja ia miliki, ia terpaksa memakai uang tabungan istrinya, cinta memang butuh pengorbanan kan? “Kamu puas?” Tanya Pak Halim pada istri mudanya saat para tamu mulai mengurai diri, tidak lagi mengerumuni dirinya dan istrinya. “Lumayan!” jawab Siska enteng sembari menatap layar ponselnya, bibirnya tersenyum-senyum, matanya berbinar menatap saldo dua puluh juta di layar ponselnya. “Sebenarnya ini masih bisa nambah kalau kamu gak buru-buru bilang cukup.” BIbir Siska mengerucut. Pak Halim mendengkus, “Uang satu triliyun pun tidak akan pernah cukup di rekeningmu.” sindir Pak Halim. “Ya iyalah nggak cukup.” jawab Siska. “Jadi wanita cantik itu mahal, Mas. Harus perawatan tubuhlah, kulit, rambut, kuku, wajah, kalau perlu aku juga harus operasi plastik ke Korea. Dan aku nggak mungkin pakai barang murahan kan? Masa wajah superior pakai baju pasaran? Yang benar aja lah.” sinisnya. “Terserah lah.” jawab Pak Halim pasrah, dia kira setelah menikahi Siska, ia cukup menghadiahi wanita itu dengan rumah dan kendaraan, ternyata masih ada lebih banyak lagi yang harus ia berikan untuk merawat kecantikan istrinya. Nafas Pak Halim menghela berat ketika beranjak pergi meninggalkan tempat Siska. Ia harus mencari udara sejuk di luar gedung, untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Siska baru saja membuatnya malu di depan para tamu undangan dan juga di depan besan nya. Dan keinginan Siska yang tiada henti, terus meminta jatah uang banyak dan lebih banyak lagi setiap hari membuat kepalanya semakin cenat cenut. Siska hanya mengangkat alisnya ketika melihat suaminya pergi. Sepertinya pria itu harus menata hatinya setelah mendapatkan besan yang kaya raya. Dia juga harus terbiasa jika kedepannya nanti, dirinya akan beberapa kali mengunjungi rumah besan nya, atau mungkin ke rumah anak tirinya, eits bukan…, itu bukan rumah anak tirinya, lebih tepatnya rumah menantunya yang sangat tampan, tingginya yang menjulang, senyumnya yang kharismatik, dan sorot matanya yang tajam dan seksi, lebih menggairahkan dari milik suami tuanya yang sebentar lagi tidak akan produktif. Senyum misterius muncul di sudut bibir merah Siska. *** Malam itu, acara resepsi pernikahan berjalan lancar. Selesai dari aula, atas permintaan Bu Aishe, Rindu dan Emir langsung menuju kamar hotel bibi Vilis. Di kamar bibi Vilis, Emir dan Rindu berusaha terlihat baik-baik saja, seolah mereka pasangan pengantin yang sedang berbahagia. Rindu pun tersenyum melihat kedekatan Emir dan bibinya, bahkan terlihat lebih akrab dari ibunya, walau ia tak mengerti apa yang di ucapkan dua orang yang saling berbicara dengan bahasa Turki tersebut, namun ia yakin jika dua orang itu pasti saling menanyakan kabar dan keadaan mereka. Karena Rindu sering di anggurin, tidak diajak bicara. Emir akhirnya menyuruh Rindu kembali duluan ke kamar. Ia masih ingin melepas Rindu dengan bibinya. Di kamarnya. RIndu langsung menghubungi ibunya, ia lega saat wanita itu cepat mengangkat teleponnya, rupanya ibunya baru sampai di rumah. Bu Yunita lalu berpesan, Rindu bisa mengunjungi dirinya kapanpun dia mau, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan dirinya, karena Mulai malam ini sudah ada Anis, tetangga mereka yang hidup sendirian kini ikut tinggal dan mengurus keperluan Bu Yunita. Anis sengaja di pilih oleh Pak Ridwan atas rekomendasi dari Bu Yunita. Selain Anis sudah menjanda dan tidak punya anak, Anis dan Bu Yunita memang mempunyai hubungan yang dekat. Rindu bernafas lega, mertuanya rupanya bertindak cepat, segera mengutus seseorang untuk mengurus dan menemani ibunya yang belum sembuh benar dari sakit stroke nya. Satu persatu hiasan di kepala, mulai Rindu lepas. Termasuk juga cadar putih yang sejak tadi menutupi wajah cantiknya. Tubuh Rindu sudah kotor dan lengket oleh keringat, Ia harus segera mandi. Sebelum masuk kamar mandi, Rindu mengambil baju di tas sling bagnya. Ternyata tidak ada baju di sana. Satu-satunya baju yang ia bawa di tas itu sudah ia pakai siang tadi. Rindu pun teringat tas jinjingnya. Ia membawa tiga baju di tas tersebut. Namun saat Rindu mencarinya, entah kenapa tas itu tidak ada di manapun. Ah sial, nyasar dimana tas itu? Gerutu Rindu sembari segera masuk ke kamar mandi. Rindu lalu memutuskan untuk segera mandi, sudah tidak tahan dengan tubuhnya yang kotor dan mengeluarkan aroma yang memalukan, jangan sampai Emir kembali ketika dirinya masih dalam keadaan bau. Ia sebaiknya memakai baju yang tadi siang yang ia kenakan, dari pada memakai baju pengantinnya yang besar dan berat semalaman. Betapa terkejutnya Rindu saat baru selesai mandi, baju tadi siang yang ia kenakan, tergantung di kamar mandi entah kenapa tidak ada di tempatnya, kemana hilangnya baju nya? Pikir Rindu panik. Rindu kesal saat menyadari jika bajunya ternyata diambil oleh pihak pelayanan hotel. Ia ingat ketika sedang berdandan, ada pelayanan dari hotel untuk pencucian baju, waktu itu Rindu hanya mengangguk saja ketika mereka hendak membawa bajunya. Rindu akhirnya melilitkan sebuah handuk di tubuhnya, tidak memakai bathrobe karena itu untuk Emir. Ia lalu berjalan keluar, mungkin ia bisa mencari sesuatu yang bisa ia kenakan. Lagi-lagi Rindu hanya bisa menggerutu, ternyata tidak ada yang bisa ia kenakan selain handuk dan baju pengantinnya. Tunggu, itu apa? Pikir Rindu sambil berjalan memutari ranjang. Di sudut ranjang, tanpa ia sadari ada sebuah kotak kado warna putih elegan tergeletak begitu saja di atas kasur. Cepat-cepat ia menghampiri nya. Rindu heran, mengapa masih ada kado yang tertinggal di kamarnya, padahal semua kado pengantin tadi sudah diboyong pulang ke rumah Emir. Rindu lalu membuka kotak itu. Dan dahinya seketika berkerut ketika melihat sebuah kain sehalus sutra di dalamnya, “sapu tangan?” gumam Rindu, ternyata masih ada orang yang memakai sapu tangan. Dirinya saja sudah melupakan benda seperti itu, beralih pada tisu yang tentu saja lebih praktis, tinggal membuangnya ketika selesai memakainya, tidak perlu repot mencucinya. Tapi kado sapu tangan ini teramat mewah, terbuat dari kain sutra terbaik, warna gold. Ada sedikit rasa ragu ketika Rindu ingin mengangkat sapu tangan itu, ingin melihat detail. Tapi, bukankah lebih baik jika ia melihat kado itu bersama Emir? Batin Rindu. Namun rasa penasaran Rindu terlampau membumbung, hingga tanpa sadar tangannya sudah mengangkat tinggi-tinggi sapu tangan mewah tersebut. Mata Rindu seketika terbelalak, bibirnya pun memekik kaget saat ia baru saja mengangkat kain yang ia kira sejak tadi adalah sapu tangan. “Lingerie? Ini dari siapa?” kicau Rindu. Mata bulat gadis itu nanar melihat baju di tangannya. Hatinya menjerit deg-degan saat membayangkan baju seksi itu menempel di tubuhnya. “Ini untukku?” tanya Rindu pada dirinya sendiri, tidak yakin. Ia lalu mencari-cari siapa pengirim baju seksi itu. Ternyata tidak ada keterangan apapun, tidak diketahui siapa pengirimnya. Rindu terduduk lemas di atas ranjang. Ia menggigit bibirnya sendiri, apa benar ia harus memakai baju ini? Atau…, ia berkeliaran dengan memakai handuk saja? Emir pasti menganggap dirinya wanita aneh dan tidak normal. Tapi…, kalau ia memakai lingerie, Emir pasti mengira dirinya sedang menggodanya. Kalau Emir tertarik sih oke, bagaimana kalau dia menolak dirinya, harga dirinya pasti hancur tak bersisa. Di dalam kamar mandi, Rindu akhirnya memakai baju seksi itu, daripada ia memakai handuk, benda itu bisa saja lepas dimana saja, itu pasti lebih memalukan. “Aaa….” Rindu memekik kaget saat melihat dirinya di pantulan cermin, baju itu terlalu seksi untuk di pakai, tidak punya sopan santun, sangat aneh, karena hampir sebagian dadanya terlihat dari luar, menyembul seolah menantang siapa pun yang ada di depannya. Selain terlalu terbuka di bagian atas, baju itu juga terlalu pendek, tepat di bawah bongkahan bokongnya. Baju seksi itu memamerkan setiap lekukan di tubuh nya, semakin tidak pantas dipakai karena baju itu tipis menerawang. Dirinya tak jauh berbeda dengan wanita murah yang menjajakan dirinya di tepi jalan. Buru-buru Rindu melepas baju itu, baju itu membuat dirinya hampir kehilangan akal. Emir pasti tidak akan nyaman berada di sampingnya. Cklek…. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Emir yang baru saja membuka pintu, berdiri kaku di sana. Tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari tubuh polos istrinya yang indah. “Aaa…, apa yang kamu lakukan? Pergi!” Teriak Rindu sembari cepat-cepat berjongkok, sembunyi di balik toilet. Teriakan Rindu seketika membuat kesadaran Emir kembali. Wajah tampan nya menjadi merah karena malu. Buru-buru ia tutup pintu itu. “Maaf.” ucap Emir gugup dari luar. “Aku tidak tahu kamu ada di dalam. Aku kira kamu berada di balkon. Maaf.” ucap Emir kaku. “Ke-kenapa kamu ceroboh? Tidak mengunci pintu kamar mandi?” Rindu menggigit bibirnya sendiri. Karena terburu-buru masuk ke kamar mandi, segera memakai lingerie nya, ia lupa mengunci pintu. “Maaf, aku…, lupa.” jawab Rindu. “Silahkan lanjutkan mandi.” ucap Emir. Desik langkah kaki Emir lalu terdengar menjauh dari pintu kamar mandi. Rindu pun segera menguncinya dari dalam. Di kamar mandi, Rndu berjalan mondar-mandir. Ia bingung, sebenarnya dirinya sudah selesai mandi, hanya saja ia bingung, bagaimana cara ia keluar? Ia hanya punya lingerie dan handuk. Dua barang itu sama, sama-sama tidak bermanfaat untuk menutupi tubuhnya. Di depan televisi, Emir diam-diam menggerutu, mencibir Rindu yang hanya buang-buang waktu di dalam kamar mandi. Lima belas menit sudah Rindu hanya berdiam diri di kamar mandi, tidak ada bunyi gemericik air sedikitpun dari arah sana. “Sebenarnya sedang apa dia di sana? Bersemedi? melukis di air? atau dia ketiduran?” Gerutu Emir. Ia lalu berjalan ke arah pintu kamar mandi, ingin mengetuk tapi ragu. Nafas Emir semakin sering keluar dan masuk banyak banyak dari mulutnya. Mendesah dalam hati, mengapa Rindu masih belum juga keluar? Tidak ada gemericik air dari sana. Kalau dia tidak mandi, apa mungkin dia berendam? Atau dia BAB? BAB atau sedang melamun? Memangnya melamun apa sampai membutuhkan waktu lima belas menit lebih, sekarang bahkan hampir setengah jam. “Rindu? Kamu masih lama?” ucap Emir akhirnya, sudah tidak sabar lagi. “Aku…, sudah selesai mandi dari tadi,” jawab Rindu terbata. “Maaf, aku tidak bisa keluar.” “TIdak bisa keluar? Kenapa?” Apa dia mau tidur di kamar mandi? Untuk menghindariku? pikir Emir. “Aku…, tidak punya baju. Tas ku, aku tidak tahu ada di mana. Satu-satunya bajuku yang ku pakai tadi siang sudah diambil oleh layanan kamar. A-aku tidak bisa keluar dari sini.” ucap Rindu dari dalam kamar mandi, kini ia mengenakan lingerie seksinya lagi. Lebih baik ia memakai itu dari pada tidak mengenakan apapun, bisa-bisa ia masuk angin. Sejenak tidak ada respon apapun dari luar kamar mandi, namun tidak lama kemudian, pintu kamar mandi di ketuk lagi oleh Emir. “Buka pintumu, Rindu.” ucap Emir sembari mengetuk pintu sejenak. “A-apa? A-aku tidak mau!” refleks Rindu duduk berjongkok, tidak siap Emir melihat tubuhnya. “Jangan salah faham!” Emir pun terdengar gugup. “Pakai saja kemejaku, itu cukup untuk menutup tubuhmu sampai lutut.”’ ucap Emir lagi. Perlahan Rindu membuka pintu kamar mandi, sebuah tangan dengan membawa kemeja warna putih tiba-tiba muncul di depan Rindu, membuat wanita itu kaget, namun buru-buru ia mengambil kemeja itu, lalu menutup pintu kamar mandi. Emir benar, sebaiknya ia memakai baju pria itu. Walau agak kebesaran dan kedodoran, itu lebih lumayan daripada mengenakan lingerie seksinya. Jantung Rindu berdesir cepat saat ia menyusupkan tubuh nya ke dalam kemeja Emir. Wangi lavender pakaian Emir membuat jantungnya berdebar semakin cepat dan indah. Tanpa membuka kancing kemeja, Rindu berhasil menelusupkan tubuhnya ke dalam kemeja suaminya. Kemeja itu terlalu panjang di tubuhnya, cukup menutupi paha nya, namun belahan samping khas kemeja membuat kakinya tetap saja terekspos dari luar, membuat kaki indahnya mau tidak mau terlihat. Bahkan lingerie seksinya terlihat sedikit mengintip malu-malu dari balik kemeja Emir. Cklek…. Rindu akhirnya membuka kamar mandi. Ia berdiri tak nyaman di depan Emir yang sedang berdiri menyandar di dinding. “Terima kasih untuk bajunya.” ucap Rindu sambil menunduk. "Em…, apa kamu tidak meminjamiku celanamu juga?" tanya Rindu menahan malu, sudah di beri hati masih minta ampela? Ya Allah…. "Kenapa pakai celana ku segala? Lihat dirimu, pakai baju ku saja kamu sudah seperti hantu gentayangan, kamu mau jadi hantu apa kalau pakai celana kepanjangan juga?" Emir tanpa dikomando. Menyapukan pandangannya pada tubuh istrinya, tapi buru-buru ia membuang muka saat melihat kaki Rindu yang putih bersih. Tangan Rindu menarik-narik bagian bawah kemejanya salah tingkah, berharap kemeja itu bisa jadi gamis, menutup seluruh kakinya yang yang terbuka. "Baju ini tidak bisa menutup seluruh kaki ku." ucap Rindu sambil menunduk malu. Emir menatap tempat lain. Kakinya bergerak-gerak tak nyaman. "Gak usah pakai celana ku. Lagian siapa yang peduli kakimu kelihatan sampai atas?" Tanpa bicara lagi ia masuk kamar mandi. Dugaan Rindu benar, Emir memang tidak tertarik sedikitpun pada dirinya, jangan kan mencintai dirinya, melihat dirinya saja Emir tidak sudi. Rindu lalu segera sholat isya, setelah itu merangkak ke atas ranjang, tidur mendengkur bagai kucing. Hari itu cukup menguras tenaganya, semakin melelahkan karena Emir tidak peduli padanya. Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN