bc

The Serious Type and The Star

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
HE
friends to lovers
confident
neighbor
boss
heir/heiress
drama
sweet
bxg
serious
city
office/work place
rejected
secrets
seductive
like
intro-logo
Uraian

Cinta pertama tak pernah benar-benar pergi. Dia hanya menunggu waktu untuk mengacaukan hidupmu lagi. Gavin tak pernah berniat jatuh cinta lagi, terutama saat masa lalunya kembali dalam wujud Alea, cinta pertamanya yang kini terjebak dalam pernikahan penuh luka. Di saat yang sama, Nayra hadir tanpa izin—artis naik daun, ceroboh, berisik, dan terlalu lengket. Satu perempuan adalah masa lalu yang tak selesai. Satu lagi adalah kekacauan yang menolak pergi. Ketika rahasia mulai terkuak dan perasaan bertabrakan, Gavin harus memilih, memperbaiki yang pernah rusak atau menerima cinta yang datang dengan cara paling tidak dia inginkan?

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Lima Tahun Kemudian
Nama itu menghantam Gavin lebih keras dari yang seharusnya. Alea Miller. Lima tahun berlalu, dan reaksi tubuhnya masih sama, rahang mengeras, napas tertahan sepersekian detik terlalu lama. Seolah waktu tak pernah benar-benar menutup apa pun, hanya mengajarkannya cara menyembunyikan bekasnya. “Alea Miller?” Gavin menatapnya, memastikan nama yang baru saja Dion sebut tak salah. Dion mengangguk singkat, lalu menepuk pundak Gavin. “Besok hari pertamanya bekerja sebagai staf umum. Lebih baik kau menemuinya.” Gavin tak segera menjawab. Pikirannya sudah melayang ke masa yang dia kira telah dia tinggalkan—ke keputusan Alea lima tahun lalu, keputusan yang memaksanya belajar menerima tanpa pernah benar-benar memaafkan. Apakah dia akan berpura-pura semua itu tak pernah ada? Atau justru membuka kembali kekecewaan yang selama ini dia simpan rapi? “Aku pergi dulu,” kata Dion akhirnya, melirik jam tangannya. “Sharon sudah menunggu.” Gavin hanya mengangguk. Tak ada komentar. Pintu ruangan itu menutup pelan di belakang Dion, meninggalkannya seorang diri. Gavin berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah jendela. Di balik kaca tinggi itu, kota Sydney terbentang, gedung-gedung menjulang, lalu lintas yang terus bergerak, kehidupan yang tampak sibuk dan teratur. Semuanya berjalan seperti seharusnya. Tak ada yang berhenti hanya karena satu nama kembali muncul. Dia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca. Wajah yang lebih dewasa, lebih terkendali. Setidaknya, begitulah yang selalu dia yakini. Tangannya terangkat, menyentuh dadanya, tepat di tempat jantungnya berdetak terlalu cepat untuk sesuatu yang seharusnya sudah selesai. Irama itu mengkhianatinya, menertawakan semua usaha yang dia bangun selama lima tahun terakhir. Gavin menarik napas dalam-dalam, lalu memutuskan berhenti memikirkan Alea. Dia kembali ke mejanya, menyalakan layar komputer yang sempat redup. Jam di sudut kanan bawah menunjukkan waktu pulang sudah lama terlewati. Namun, itu bukan hal baru baginya. Bekerja selalu menjadi distraksi paling efektif. Dan Gavin ahli dalam itu. Dokumen demi dokumen dia buka, laporan dia koreksi, angka-angka dia pastikan kembali. Di balik reputasinya sebagai pria kaya dan tampan, dia dikenal sebagai pekerja keras yang dingin, fokus, dan nyaris tak tersentuh oleh urusan personal. Banyak yang mengagumi etos kerjanya. Tak sedikit pula yang menyerah mencoba menembus tembok sikap acuhnya. Dia berhenti sejenak saat sebuah notifikasi berita muncul di layar. Judulnya cukup besar. Terlalu besar untuk diabaikan. Gavin mengernyit tipis, mengklik tautan itu. Nama dan fotonya terpampang jelas, diambil dari sebuah acara publik beberapa waktu lalu. Isi beritanya mengulas gosip lama yang kembali dihangatkan, sikap dinginnya terhadap perempuan, penolakannya yang nyaris tak sopan menurut sebagian orang, hingga spekulasi murahan tentang preferensi pribadinya. Termasuk rumor paling absurd itu, bahwa Gavin lebih menyukai pria. Dia menyandarkan punggung ke kursi, ekspresinya datar. Gosip seperti ini juga bukan hal baru. Tempo lalu, seorang selebritas sempat terang-terangan menggoda dirinya di sebuah acara. Jangankan diajak berkenalan, keberadaannya saja seolah tak dia sadari. Sejak saat itu, narasi mulai dibangun oleh publik, bahwa tak mungkin seorang pria sepertinya memilih sendiri. Ironisnya, rumor itu tak hanya menyeret namanya. Dion ikut terkena imbasnya. Hubungan Dion dan Sharon sempat memanas, dipenuhi kecemburuan yang seharusnya tak pernah ada. Gavin mengetahuinya, meski Dion berusaha menutupinya dengan candaan khasnya. Kursor berkedip di kolom pencarian. Ini konyol, pikirnya. Namun, tangannya tetap bergerak. Dia membuka peramban, lalu mengetik sesuatu. Tips bertemu mantan setelah bertahun-tahun. Begitu menekan tombol enter, rasa tak nyaman menjalar di dadanya. Meskipun tak ada siapa pun di sana, tapi dia malu, karena pria yang biasa mengambil keputusan besar tanpa ragu, kini mencari panduan dari internet. Daftar artikel bermunculan. Dia mengklik salah satunya. Bersikaplah tenang dan profesional. Gavin mendengus pelan. Dia menutup poin itu tanpa membaca lanjutannya. Jangan mengungkit masa lalu. Dia berhenti sejenak. Jarinya mengetuk meja sekali, lalu dua kali. Menerima bahwa perasaan bisa muncul kembali adalah hal wajar. Gavin menghela napas, kali ini lebih panjang. Jantungnya berdebar lagi, seolah tubuhnya lebih jujur daripada pikirannya sendiri. Dia menggulir layar, membaca sekilas tanpa benar-benar menyerap semuanya. Sebagian terdengar masuk akal, sebagian lainnya terasa mustahil. Dia menutup tab itu dengan cepat, seakan takut seseorang akan memergokinya, padahal sekali lagi, hanya ada dirinya sendiri. Rasa malu itu kembali muncul, bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam, kesadaran bahwa pertemuan besok bukan sekadar formalitas. Gavin menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia boleh menguasai ruang rapat, angka, dan negosiasi. Namun menghadapi masa lalu, itu medan yang sama sekali berbeda. Dan entah mengapa, fakta itu membuatnya makin tak siap. Gavin akhirnya mematikan komputernya dengan satu tarikan napas yang berat. Dia mengambil jasnya, mematikan lampu, dan meninggalkan kantor. *** Keesokan paginya, Gavin melangkah memasuki gedung kantor dengan langkah yang sama mantapnya seperti hari-hari lain. Jasnya rapi, ekspresinya tenang, bahunya tegak. Di mata orang-orang, dia tetap Gavin A. Vale, pria yang kehadirannya selalu membuat suasana sedikit lebih tertib. Beberapa staf menyapanya dengan anggukan hormat. Ada yang tersenyum, ada pula yang buru-buru merapikan sikap. Gavin membalas seperlunya, tanpa basa-basi, tanpa ketertarikan untuk memperpanjang interaksi. Di lingkungan ini, dia dikenal jelas—profesional, dingin, dan sulit didekati. Dan dia membiarkan reputasi itu tetap utuh. Dia melangkah menuju lift, menekan tombol, lalu masuk saat pintu terbuka. Ruangan itu masih lengang. Gavin berdiri menghadap ke depan, pikirannya tertata rapi, setidaknya di permukaan. Pintu lift mulai menutup. “Permisi—tunggu!” Suara itu terdengar terburu-buru. Pintu lift kembali terbuka, dan seseorang melangkah masuk dengan napas yang belum sepenuhnya teratur. Gavin menoleh. Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, dunia di sekitarnya terasa berhenti bergerak. Alea. Rambutnya terikat sederhana, beberapa helai terlepas membingkai wajahnya. Pakaian kerjanya rapi. Tak ada riasan berlebihan, tak ada usaha mencolok untuk menarik perhatian. Namun tetap saja, kehadirannya terasa. Ada sesuatu pada cara dia berdiri, cara dia menggenggam tas di tangannya, yang langsung menarik ingatan Gavin pada versi Alea yang dulu. Lift yang bergerak perlahan ke atas mendadak terasa sempit. Tak ada apa pun di antara mereka selain jarak satu meter, dan tatapan yang terlalu lama untuk dianggap kebetulan. “Gavin .…” Suara itu membuat alisnya mengernyit. Cara Alea menyebut namanya—pelan, hampir ragu—menarik kembali emosi lama yang selama ini dia tahan. Dinding yang dia bangun bertahun-tahun runtuh dalam satu detik. Dia mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. Bersikaplah tenang dan profesional. Kalimat itu melintas di benak Gavin, tips dari layar komputer semalam. Dia menarik napas, menegakkan bahu, mencoba menjadi pria yang selalu berhasil mengendalikan keadaan. Jangan mengungkit masa lalu. Dia menatap wajah Alea, membayangkan kalau wanita ini hanyalah pegawai biasa. Menerima bahwa perasaan bisa muncul kembali adalah hal wajar. Dadanya langsung berdebar lebih keras dari yang dia izinkan. "Gavin?" Suara Alea kembali terdengar. Dan di detik itu, semua tips itu terasa tak berguna.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook