20. Surat dari Cakra

1108 Kata

Karina sampai di cafe yang Cakra bilang dengan mata masih sedikit bengkak. Dia udah berusaha nutup-nutupin bekas nangis pake concealer, tapi mungkin masih keliatan. Cakra udah duduk di meja pojok, pakai kemeja biru muda yang dilipat sampai siku. Begitu liat Karina, ekspresinya langsung berubah jadi khawatir. "Rin, lo kenapa? Mata lo merah." "Nggak kenapa-kenapa," bohong Karina sambil duduk. "Cuma capek aja." "Bohong. Lo abis nangis ya?" Karina diam. Cakra emang selalu bisa baca ekspresi dia dari dulu. "Ada apa? Cerita dong." "Lo inget cowok yang gue bilang kemarin? Yang punya toko buku?" "Aditya? Kenapa?" "Dia ngilang." "Maksudnya ngilang gimana?" "Ngilang ya ngilang. Toko tutup, telpon nggak diangkat, chat nggak dibales. Gue baru tau dari tetangga kalau dia udah pindah kota."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN