Sekar memberikan selembar kertas berisikan alamat yang akan dituju kepada sopir taxy. Setelah menyerahkan seutuhnya pencarian alamat pada sang supir, ia sendiri memilih menyandarkan punggung pada penyangga kursi mobil. Sekar menghadap ke samping jalan, ia kemudian menyandarkan kepalanya untuk beristirahat sejenak. Beristirahat? Jelas saja. Wanita itu membutuhkan stok tenaga yang cukup mengingat ia akan menghadapi peperangan sebentar lagi. Sarapan yang banyak untuk amunisinya hari ini rasanya belum lah cukup. Peperangan? Hah, Wanita hamil itu menghela napasnya panjang. Sepanjang perjalanan ia merutuki nasibnya sendiri. Apakah ia termasuk orang yang jahat karena saat ini mulai ada buih-buih kebencian pada Marni, selaku seseorang yang membuat palung masalah ini? Hidupnya rumit ha

