Di atas ranjang pesakitan Marni menceritakan semuanya pada Hasan. Semuanya... tanpa celah, tanpa kebohongan satu pun. Tidak sama persis seperti saat bercerita kepada Sekar, tapi secara garis besar keseluruhannya sama. Mulut Marni terus bergerak menceritakan segalanya meski kerongkongan terasa perih terasa. Sesekali ia menelan salivanya. Raut wajah sendu terlukis jelas di wajahnya. Sedangkan Hasan hanya duduk termangu seraya terus menerus menarik nafas panjang agar kobaran api dalam diri tak mencuat keluar. Hasan marah, tapi dia menyadari betul bahwa wanita yang sedang menceritakan alkisah itu adalah ibunya. Semarah apa pun serta sebesar apa pun kecewa yang mencuat ke permukaan, tak lantas menjadi pembenaran ia harus melakukan hal yang tak semestinya pada ibunya Selesai sudah semuanya.

