Hasan bersumpah sepanjang bulan merangkak naik adalah siksaan baginya, berada dalam situasi satu kamar dengan Sekar bukanlah situasi yang mudah. Susah payah ia menahan perasaan yang entah apa ia rasa. Meskipun Hasan pernah menyentuh setiap inci tubuh Sekar, tetap saja tak melebur rasa tak nyaman malam ini. Terutama saat secara tak sengaja wajah Sekar berbalik ke arah di mana Hasan sedang mengamati si surai legam itu dari belakang. Ada gelegar rasa aneh.
Jatuh cinta?
Tentu tidak. Melati masih terpatri kuat di dalam hatinya. Hanya saja Hasan merasa aneh harus tidur bersama wanita yang biasa ia gosok kepalanya saat sepuluh tahun lalu, tepatnya saat Sekar belum mengenakan hijab. Dan kini bukan hanya bisa mengacak rambut gadis kecilnya, bahkan bisa lebih andai Hasan mau. Namun, ia memilih enggan. Karena baginya Sekar tetap lah adiknya, dan Melati tetaplah yg berada di sana, di hatinya. Semuanya masih sama. Tak ada yang berubah. Hanya statusnya saja yang berbeda. Peduli apa dengan status. Bagi Hasan hal itu hanya sebuah status dia tas buku kecil yang dibubuhkan tanda tangannya di atas foto yang tersemat dalam lembaran.
Hasan mengamati wanita bermata sembab itu, Hasan tahu bahwa punggung Sekar bergetar cukup lama. Ada sedikit rasa bersalah melihat Sekar yang tertidur pulas malam ini. Mata Hasan menelisik satu demi satu yang ada pada wajah bersih tersebut. Hingga pada satu sudut yaitu... Bibir, Hasan menelan saliva dan memilih mengalihkan pandangannya.
***
Bodoh? Sekar sudah menyadari satu kata itu akan mengikuti namanya selama menjadi nyonya Hasan Baharudin. Namun, tetap perceraian bukanlah pilihannya. Semalam Hasan sudah memberikan pilihan, menukarkan ikatan suci dengan hal duniawi amatlah keji. Hasan pikir Sekar adalah wanita yang bisa dibeli. Nyatanya wanita itu bahkan kembali bangkit, merakit kedua lututnya setelah semalam sepasang tungkainya seolah patah dari tubuhnya.
“Mas, bangun.” Telapak tangan lembut menepuk pipi Hasan yang masih menutup kelopaknya
“Hm....” Hasan bergumam diikuti gerak kecil. Sejenak Sekar terpana. Wajah Hasan saat tidur terlihat sangat menggemaskan. Seperti hilang Hasan yang ia kenal sebagai algojo yang tak segan menghunus jantungnya dengan ucapan-ucapan telaknya. Sekar menggelengkan kepalanya, menyadari bahwa ia sudah terlalu lama memandang wajah suaminya. Suaminya? Miris sekali. Bahkan Hasan tak sama sekali menganggapnya sebagai istri. Semakin lama berada intens berdua dengan Hasan berakibat buruk pada jantungnya. Sekar segera mengakhiri tatapan penuh damba dengan segera membangunkan Hasan.
“Bangun, Mas suda siang,” ajak Sekar kembali. Dengan berat, Hasan membuka mata itu sedikit demi sedikit hingga terjaga. Setelah mampu mengenyahkan membuka matanya seratus persen Hasan tertegun melihat Seka berada di dekanya. Tidak! Ini bahkan sangat dekat hingga Hasan bisa melihat bagaimana catiknya wajah Sekar.
“Ka-kamu mau apa?” Hasan beringsut dari bangunnya setelah beberapa saat padangannya terpaku pada manik indahh Sekar. Hasan duduk dan memundurkan tubuh hingga menabrak dipan ranjang karena kegugupan. Barang beberapa detik ia menyadari respon bodoh yang ia tampilkan.
Sekar bingung dengan apa yang salah. Hasan bergerak mundur seolah baru bertemu setan. Sekar meneliti pada tubuhnya. Tak ada yang salah. Tubuhnya berpenampilan seperti biasa. Kaos dengan celana pajang membungkus tuhnya. Apa pakaian seperti ini membuat Sekar tampak aneh? Setan tak menggunakan mukena, pikirnya.
“Mas, ada apa?” tanya Sekar. Ia takut memang ada yang salah dengan dirinya.
“Ngapain bangunin pagi-pagi. Kamu nggak lihat aku masih tidur.” Hasan mendengkus kesal. Sejujurnya dengkusan itu hanya carany untuk menutupi hatinya yan berdebar.
berdebar? Iya jelas saja berdebar. Hasan lelaki normal yang apabila di hadapkan pada wanita dangan rambut basah pasti membangunkan yang tertidur di dalam sana. Tolong catat! Ini buka cinta. Semua lelaki bisa berhasrat tanpa cinta.
Hasan menggosok kasar wajahnya. Lupakan tidur sampai matahari merangkak tinggi karena setelah semua keterpakuan tadi ia teringat bahwa Ibunya menginap di sini. Hasan bangkit menuju kamar mandi di dalam kamar, tapi saat Hasan melangkah secara tak sengaja Sekar pun sama hendak melangkah bersamaan sehingga mereka tidak sengaja bertabrakan. Hampir saja Sekar terjerembap ke bawah sana andai tangan Hasan tak segera meraih pinggangnya. Persekian detik Sekar terhipnotis dengan jarak intens yang tercipta. Ekspresi terpesona terpancar jelas di manik indah wanita itu. Menyadari itu Hasan lantas melepakan tautan tangan di pinggang Sekar. Hasan tak ingin Sekar semakin larut dalam perasaan yang mungkin akan ia patahkan asanya.
Hasan melangkahkan kaki, berlalu melewati Sekar yang beridiri tertegun seraya mengigit bibirnya. Seperti biasa, bukan Hasan namanya jika tidak memulai hari dengan ucapan penuh genderang. “Sekar,jangan perlihatkan tatapan seperti itu lagi. Apalagi dengan kebiasaanmu yang mengigit bibir. Jangan kamu kira aku akan tergoda dengan apa yang kamu lakukan.” Setelah mengeluarkan ucapan setajam anak panah, lelaki itu melanggang masuk ke dalam kamar mandi. Ia tak sama sekali peduli pada Sekar yang masih berdiri mematung di sana.
***
Prang
Suara sendok beradu dengan meja berdasar kaca. Mata Hasan berkibar mengeluarkan kekecewaan. Ini masih pagi buta. Bahkan nasi belum menjadi santapannya untuk mengisi kalorinya guna menghadapi peliknya urusan hidupnya semenjak pernikahannya dengan Sekar. Namun Marni seolah sengaja ingin membabat energi Hasan di pagi hari.
“Hasan nggak bisa,” kilah Hasan.
“Mama sudah tua untuk menunggu cucu. Memangnya kamu tega Mama meninggal dalam keadaan belum melihat cucu Mama?.” Hasan memejamkan matanya, menahan kemarahan yang berusaha ia redam. Lagi, dan lagi ibunya itu mengulangi hal yang sama. Atas dasar tanggung jawab, atas dasar umur ia yang sudah tua. Kedua hal itu seolah sengaja Marni katakan untuk menjadi amunisi agar Hasan mengikuti semua pintanya.
“Mama nggak mau tau. Mama minta cucu Hasan! Mama sudah tua. Hidup Mama tidak untuk menunggu kamu menunda kehamilan Sekar.” Marni berkelakar tidak kalah sengitnya. Sekar tak tahu harus melakukan apa. Kedua manusia di depannya memiliki watak yang serupa. Keras dan tak bisa dibantah.
“Hidup Hasan selama ini Mama atur. Apa Hasan boleh punya pilihan hidup sendiri?” protes Hasan. Dia sudah dewasa, tapi Marni memperlakukannya seolah-olah Hasan anak kecil yang bisa ia atur.
“Bagian mana yang Mama atur. Pernikahanmu? Itu karena ulah kalian. Tidur diranjang berduaan. Lantas salah kalau Mama suruh anak Mama bertanggung jawab? Jangan menjadi pengecut seperti ayahmu!” Kali ini Marni benar-benar hilang kesabaran. Air matanya Luruh. Ia berdiri meninggalkan meja makan dengan makanan di piring yang masih utuh.