bab 9

1352 Kata
Tepat tengah malam, saat dirinya mengira dua wanita di dalam rumah itu telah tertidur pulas. Di saat bersamaan habisnya benda yang menghasilkan asap tersebut. Hasan menyeret langkah masuk ke dalam rumah. Derap Hasan pelan. Hasan memasuki kamar. Ia mengira bahwa Sekar telah tertidur pulas. Nyatanya wanita itu justru sedang berdiri menatap bintang-bintang di antara dua pintu jendela yang terbuka. Hasan terdiam sejenak. Menatap punggung Sekar dengan ekspresi yang entah apa. Sekar yabg mendengar suara gesekan suara pintu yang terbuka membuat Sekar menoleh. Membalikan tubuhnya, dan melihat Hasan masuk dengan tatapan yang sama, yaitu... Dingin dan tak terjamah. “Mas A—aku." Sekar mendekat, hendak menjelaskan kepada Hasan tentang ketidak sengajaan yang terjadi tadi. Rasa bersalah menyergap Sekar. Sungguh, bukan sengaja, wanita itu memang belum sempat menyimpan pil penunda kehamilan di nakas kamarnya. Yang sialnya hal itu justru terlihat oleh Marni. Sekarang apa yang Hasan pikirkan? Sekar sang pengadu? Bagus sekali. Setelah menyandang gelar penjebak sekarang ia harus menyadang gelar wanita pengadu pula. “Duduklah,” ucap Hasan lembut. Tak ada tatapan kebencian.Yang ada adalah tatapan yang belum mampu Sekar artikan. Hampir saja jiwa Sekar meloncat dari dalam raga. Jika biasanya Hasan tak segan menyemburkan ucapan penuh anak panah yang menyakitkan. Berbalik, pria itu justru menepuk-nepuk sisi ranjang agar Sekar duduk. Bak kerbau di cocok hidungnya, Sekar tergagap menerima pinta suaminya. Sekar mendekat, dengan gerak kaku serta tak yakin Sekar duduk di samping Hasan. Pandangan mereka bertemu. Ada apa ini? Sekar bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah setan dalam tubuh Hasan telah minggat setelah diberi wejangan oleh ibundanya. Semudah itukah? Hingga air dari bacaan surat Yasin tak perlu dibasuhkan pada wajah pria di hadapannya. “Sekar. Apa kamu nggak cape?” tanya Hasan dengan suara lembutnya. Sekar menelan saliva, pertanyaan Hasan terdengar ambigu. Hasan menarik lembut tangan Sekar. “Aku minta maaf, Sekar,” ucap Hasan terlihat tulus. Apa ini? Beberapa kali Sekar mengedipkan mata, takut-takut semua hanya delusi. Hasan benar-benar telah berubah? Bolehkan Sekar melambung tinggi? Pria yang kesehariannya meriksak dirinya kini mengatakan permintaan maaf. Malaikat mana gerangan yang menempel pada tubuh suaminya yang tampan itu. Hati Sekar berbunga-bunga. Hamparan papan berduri yang biasa ia pijak akan jadi kebun bunga yang harumnya semerbak? Ah Tuhan, sungguh, ini membuat rona merah di wajah Sekar semakin tak bisa disembunyikan. “Sekar aku tak bisa memberikan perasaan lebih melebihi perasaan kaka kepada adiknya.” Patah. Hilang sudah sayap yang baru saja sempat membawa tubuh Sekar terbang. Hilang sudah kebun dengan bunga mawar dengan berbagai warna. Bodoh. Wanita itu seharusnya tahu bahwa tak semudah itu mengubah batu di hati Hasan. Bahkan batangan emas menjadi perhiasan saja butuh waktu untuk peleburan. Apalagi hati Hasan yang sudah jelas begitu rumit untuk ditaklukan. “Kalau kamu minta mengakhiri, dengan senang hati aku akan segera mengabulkannya. Mari berhenti menyakiti hati kita masing-masing, Sekar,” lanjutnya berujar. Bukan hanya terjatuh dari sayap yang hilang dari atas awan. Kini tubuh Sekar di hantam teruruntuhan bumi yang tiba-tiba saja ambruk di atas tubuhnya. Lebam di hatinya belum sembuh, kini Hasan sudah kembali menyiraminya dengan air garam. Sakit? Tentu saja sakit. Dikala harapan sempat terbesit, tapi semuanya hanyalah kesiaan belaka. Yang Hasan inginkan hanya perpisahan. Bukan dari mulutnya,tapi dari mulut milik Sekar. Sekar merutuki dirinya yang begitu mudahnya hanyut dalam perasaan dan harapan. Mengikis rasa sakit, sekuat tenaga ia gigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. “Hentikan Sekar! Itu bisa melukaimu." Hal yang paling Hasan benci akhir-akhir ini adalah melihat Sekar yang mengigit bibir bawahnya. Itu sangat mengganggu Hasan. Sekar tergugu. Dibawah pendar lampu kamar, di depan lelaki yang ia harapkan tumbuh rasa, Sekar kalah. Sekar menangis tersedu. Susah payah kabut-kabut di jiwanya ia sembunyikan sejauh ini. Hanya dengan satu malam dan satu Hujaman air mata itu deras seketika. “Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini? Pernikahan ini menyempitkan jalanmu. Sama aku juga. Oke aku nggak akan lagi membahas masalah malam itu, asalkan kamu mau melepas semua mantra yang mengikat kita.” Sepasang tangan kekar milik hasan menyentuh kedua bahu Sekar yang bergetar. “Itu ijab, Mas. Bukan mantra!” tegas Sekar tak suka Hasan mengatakan ijab suci sebagai mantra. Perih terasa ketika sesuatu yang ia agungkan itu hanya dipandang sebagai sebuah mantra oleh Hasan. Bukankah terlihat bagaimana kontrasnya dua manusia itu. “Apapun itu, terserah! Coba pikir kedepan. Apa yang kamu mau? Hm?” Hasan menaikan dagu Sekar, “Kamu ingin mengembangkan bakat melukismu, bukan begitu? Aku akan menyekolahkanmu ke sekolah seni terbagus. Aku akan mendukung penuh cita-citamu. Kita hanya perlu keluar dari sangkar sialan, ini! Kita harus terbang Sekar sekar. Kamu terbang bersama cita-citamu dan—" “Mas terbang bersama Melati,” sambung Sekar dengan suara gemetar. Ucapan Sekar memukul telak Hasan. Ia bungkam. Bibirnya terkunci sesaat. Hasan menatap lekat pada manik mata pemilik hati yang sedang dirundung kecewa. Kembali Hasan mengusap lembut bahu menantu kesayangan Marni tersebut. “Sekar, tentangku itu nggak perlu kamu pikirkan. Pikirkan saja tentangmu. Tentang bakatmu, lukisanmu, dan galeri impianmu.” Dengan senyum tersungging Hasan mencoba merayu Sekar agar mau meminta perpisahan kepadanya. Hanya dengan sebuah iming-iming, semoga Sekar bersedia. Namun, Hasan lupa bahwa Sekar bukan anak kecil lagi yang ia lihat 10 tahun lalu. Sekar bukan gadis yang sama dengan gadis yang menenteng buku-buku berat di tangannya. Sekar kini adalah menjelma menjadi wanita dewasa. Sekuat tenaga Sekar menggelengkan kepala. Hasan mendengus kecewa,Sekar memang tak mudah ditaklukan. “Sekar dengarkan aku!” Hasan sedikit meremas bahu Sekar hingga Sekar meringis, “Kamu tak usah menjadi sama dengan Mamaku. Berkaca dari Mama, sampai akhir hayat Bapakku, dia tak pernah secuil pun memberi cinta kepada Mama. Bagaimana jika aku pun begitu? Mengabaikanmu sampai rambut kita memutih. Tidakkah itu hanya menyiksa kita? Lupakan sekar... Lupakan apa yang selalu Mama bicarakan kepadamu tentang tanggung jawab dan kewajiban. Itu hanya omong kosong belaka. Hubungan butuh cinta, Sekar.” "Jika itu masalahnya. Kenapa Mas nggak coba buat mencintai aku" "Itu mustahil. Sepuluh tahun, bagiku kamu hanya Sekar kecilku. Dan jelas di hati ini sudah ada nama wanita lain yang terpatri." Sekar tepekur, lelehan di mata cukup menggambarkan begitu terpukulnya dia. Bagaimana tidak? Hasan begitu memaksanya untuk mengambil jalan perpisahan. Yang sebenarnya adalah cara dirinya untuk terlepas dalam pernikahan. Teganya Hasan menggunakan atas dasar nama ‘Kita’ untuk memprovokasi Sekar agar mengikuti ide gilanya. Hati Sekar terkoyak. Dia memang pernah bermimpi punya panggung galeri megah, semua lukisan yang berjejer adalah karyanya, semua orang bisa menikmati dengan decak kagum. Namun, bukan berarti Sekar harus membeli impian itu dengan pernikahan. Itu bukan perbandingan yang sama. Surga itu mahal, dan hanya orang yang mau membelinya yang bisa mendapatkannya. Bertahan memang mampu menumbuhkan banyak duri di sekujur tubuhnya, tapi jika itu yg harus dia lakukan untuk mendapatkan surganya, kenapa tidak? Bodoh? Memang. Sekar wanita bodoh yang berprinsip. Sekar melepaskan tautan jemari Hasan di bahu. Ia memilih berbaring di ranjang, mengabaikan Hasan. Sekar menekuk kaki seperti bayi di dalam rahim, tentunya dengan air mata yang bercucuran membasahi bantal. Melihat itu Hasan sedikit tersentuh, mengingat begitu kejamnya dia pada Sekar. Apa pertanda Hasan akan berubah pikiran? Tentu saja tidak! Setan yang masuk bersama aliran darahnya sedang mengolok-olok Hasan, memprovokasi lelaki bertubuh atletis tersebut. Tak salah jika kini air wajah Hasan kembali dingin memandang punggung kecil milik Sekar. *** Di sisi lain, Marni sedang berusaha mengenyahkan mimpi buruknya. Peluh berceceran di dahi wanita yang matanya masih terkatup rapat. “Jangan Mas... Tolong jangan tinggalkan aku.” “Mas.” “Mas....” Marni terbangun dengan arah tangan keatas meraih udara, matanya terbuka lebar, degup jantung berpacu cepat, napasnya tersengal. Lagi, mimpi sialan itu datang tanpa permisi, menghantui sang pemilik daksa. Mimpi mengejar seseorang yang memilih menendangnya dibanding merengkuh tubuh kecil wanita yang sedang bersimpuh dengan peluh dan air mata. Puluhan tahun berlalu, kiranya semua kenangan buruk itu kan sirna tertelan waktu. Salah! Kejadian itu rupanya menempel lekat di dalam alam bawah sadar Marni. Semakin Marni ingin melepas tautan tentakel menyedihkan itu, semakin sulit rupanya untuk terbebas dari jerat masa lalu itu. Nyatanya, semua kepedihan itu tak serta merta menghilang jika wanita keras kepala itu masih menyimpan cinta, dendam dan sebuah rahasia yang tak diketahui banyak pasang mata dan telinga. Marni tergugu dalam gulita. Sendiri merasakan siksaan malam tiada akhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN