bab 8

1753 Kata
“Minum ini.” Belum paripurna kaos kemeja kerja telepas dari tubuh, Hasan sudah terlebih dulu melemparkan sebuah benda tepat di hadapan Sekar yang sedang menyiapkan makan malam mereka. Mata Sekar mendadak panas, lagi rasa sakit menjalar ke ulu hatinya. Menciptakan ribuan rasa perih, hasil sayatan pria tampan di depannya. Benda di dalam kresek putih bertuliskan nama sebuah apotik merupakan bukti bahwa Hasan tak menginginkan apapun darinya, termasuk sebuah gumpalan daging di dalam rahim wanita yang tersenyum sumir. Benar. Sekar tersenyum sumir. Tak sedikitpun ia boleh memperlihatkan sisi lemahnya kepada lelaki di hadapannya. Hal itu pula yang Hasan benci. Sekar tak mudah ditumbangkan. “Kamu mengerti maksudnya, kan?” Sinis Hasan setelah muak melihat balasan mata Sekar yang menatap benda itu tanpa ekspresi setalah sebelumnya senyum terbentuk di bibir mungilnya. Hasan melemparkan mata malas dan berbalik meninggalkan Sekar. Tanpa Hasan ketahui bahwa Sekar sedang menahan bobot tubuhnya dengan susah payah. Selepas Hasan meninggalkannya. Sekar terduduk. Lututnya tak lagi bisa di ajak untuk meluruskan tungkai. Remangan tubuh menghiasi atmosfer malam ini. Kiranya malam ini akan menjadi malam romantis. Melihat betapa banyak menu yang tersaji di atas meja makan. Dengan polesan yang membuat wajahnya semakin segar, rupanya tak mampu melunakkan batu di hati Hasan. Batu memang tetap akan jadi batu. Meski pepatah mengatakan batu akan terkikis hanya karena tetesan air. Namun, Sekar harus tetap membuka matanya lebar-lebar. Bahwa air itu membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menaklukan batu tersebut. Begitupun dirinya yang tak semudah itu mengubah perasaan Hasan hanya dengan sebuah hidangan dan hiasan. Sekar masih duduk termangu bersama hatinya yang gerimis. Tak lama Hasan keluar dengan kaos putih ketat yang membalut otot-otot tubuhnya. Hasan menenteng kresek ditangan, kali ini bukan kresek kecil lagi. Kresek besar dengan isi yang menyembul besar terlihat di indra penglihatan. Hasan melemparkan benda itu, hampir menyambar wajah Sekar, andai sekar tak segera memundurkan wajahnya beberapa inci. “Pakai itu! Jangan sekali-kali mengenakan baju kurang bahan itu lagi di hadapanku. Mata aku sakit lihatnya. Pakai yang aku belikan buat kamu.” Setelah mengucapkan itu, Hasan menarik satu kursi lalu mendaratkan p****t di atasnya. Sekar membuka isi kresek hitam di depannya. Saat Sekar melihat beda apa di dalamnya, gerimis berubah menjadi badai besar. Harga dirinya tercabik melihat semua pakaian bernuansa panjang. Daster panjang, baju tidur panjang, bahkan beberapa lagi merupakan gamis yang jelas bukan pakaian ala rumahan. Sekar menatap sedih kepada ujung pakaian tidurnya malam ini. Gaun tidur dengan panjang hanya sampai lutut atas, rupanya hanya menjadi jalan penghinaan untuk dirinya malam ini. Susah payah Sekar menyembunyikan kabut dihatinya. Dengan gerakan tanpa ragu Sekar menerima pemberian Hasan. Kali ini ia mendongak ke arah Hasan, memperlihatkan senyuman ke arah Hasan. Meski dalam hati sakit tak terperi ia rasakan Hasan menghentikan kunyahan di mulut. Apa yang Hasan kira rupanya meleset. Padahal syetan yang memberi ide sialan itu sudah menunggu eforia. Namun kolaborasi mereka tak sampai pada gol-nya. Wanita itu justru memperlihatkan senyum. Senyum yang ingin Hasan tebas habis hingga tak perlu lagi muncul di indra penglihatannya. Bagaimana mungkin wanita itu bisa bertahan dalam segala perundangannya. Hasan bertanya-tanya sebenarnya racikan apa yang Sekar miliki sehingga wanita itu memiliki kepribadian sekuat baja. Dicaci, dibabat habis harga dirinya, tapi tak jua tumbang. Di sela-sela heran yang Hasan miliki. Suara ketukan pintu terdengar. Sekar menengadah lalu berniat berdiri hendak membuka pintu. “Duduk!” Wajah Hasan yang sedingin es mampu membekukan Sekar hanya dengan sekali tatapan. Sekar kembali duduk dengan gerak kaku. Belum sempurna ia mendaratkan pantatnya di kursi makan. Hasan kembali memerintah. “Kamu mau keluar dengan pakaian seperti itu? Masuk kamar! Ganti bajumu!” perintah Hasan. Sekar, wanita yang menjadikan titah Hasan adalah sebuah kewajiban yang harus didengarkan, tak perlu sebuah bantahan atau timpalan. Selain itu, kepatuhan adalah hal yang ia yakini menjadi satu-satunya jurus untuk Hasan bisa memasukan namnya di dalam sanubari Hasan. Sekar mengangguk kemudian berjalan menuju kamar dan mengganti pakaiannya. Sedang Hasan berdiri membuka pintu Hasan sudah siap mengeraskan rahangnya apabila yang datang adalah kumbang liar yang siap menyesap kembang di rumahnya. Namun ternyata orang di balik kayu persegi panjang berukuran 2 meter itu tak lain adalah Ibunya. Dengan pakaian serba marun, wanita paruh baya itu melenggang masuk. “Mana menantu Mama?” “Mama tak mengabari dulu mau datang?” “Untuk apa? Ups, Mama lupa kalian pengantin baru. Apa Mama mengganggu proses pembuatan cucu untuk Mama?” Goda Marni. Yang sayangnya godaan itu membuat perut Hasan mulas Cih kalimat macam apa itu? Hasan tak menanggapi, memilih melenggang masuk ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Marni mengedarkan netra mencari keberadaan Sekar. Namun, tatapannya tak sengaja menabrak satu benda di atas meja televisi di dalam ruang keluarga. Benda itu seakan melambai minta didatangi. Perlahan ia majukan langkah ke arah benda yang dicurigainya. “Apa ini?” tanya Marni sembari mengacungkan benda tersebut. Ia tersentak saat benda tersebut ternyata sebuah pil pencegah kehamilan. Rianti jelas tau apa fungsi dr pil itu, ia tak akan lupa pil bagaimana orang di masa lalunya pernah memaksa ia membuka mulut untuk menelan pil sialan, itu! Kilatan masa lalu tersebut kini menari-nari di benaknya. Astaga. Sekar baru saja keluar dari kamar. Pandangannya menunduk memperhatikan daster yang ia kenakan. Daster yang baru saja Hasan berikan untuknya. Langkah Sekar terhenti. Suara pertanyaan dari suara seseorang yang ia kenal berhasil mengalihkan perhatiannya. Betapa ia sangat terkejut saat melihat Marni sedang mengacungkan benda yang belum sempat ia bawa masuk ke laci meja rias di kamarnya. Hasan yang melihat benda apa yang dipertanyakan, beralih menatap Sekar dengan hujaman anak panah. “Ada yang bisa jelaskan ini ke Mama kenapa pil ini bisa ada di sini?!” Tatapan Marni beribu tanya, juga terselip kecewa andai kedua manusia itu memang benar-benar berusaha menunda kehamilan. Atau mungkin... apa yang ia alami dulu terjadi pula pada Sekar? Ya Tuhan, jika itu terjadi ia tak akan bisa memaafkan itu. Marni menatap kecewa pada Hasan. Menyadari hal itu Sekar bersuara."I-itu Sekar baru beli tadi di apotik, Ma” Sekar berucap membelah ketegangan di antara ke tiga orang tersebut. Sekar maju menjadi perisai untuk Hasan. Apa lagi? Jika bukan untuk menyelamatkan harga diri suaminya. Seolah Sekar sudah tau apa yang sedang Marni pikirkan. Hasan menatap Sekar dingin. Tatapan yang tak bisa Sekar artikan. Melepas pandangan mereka yang terpaut beberapa detik, Hasan berlalu meninggalkan Ibu dan Istrinya. Sekar maju. Ia tahu, bersiap menghadapi berbagai pertanyaan yang sudah pasti akan Marni lontarkan. “Kenapa harus menunda?” “Sekar masih muda Ma. Belum siap punya anak," jawab Sekar bohong. “Lalu apa fungsinya pernikahan. Sekar, tujuan pernikahan itu supaya punya keturunan." “Ma—maf Ma." Sekar menundukkan pandangan ke bawah lantai. Ingin rasanya ia berhambur ke tubuh mertuanya mengatakan bahwa dia tidak baik-baik saja. Marni memicingkan matanya. "Bicaramu sudah, Sekar?” selidik Marni. Sekar mengangguk. Penampilan Sekar mencuri perhatian Marni, daster batik berlengan panjang. “Kamu mengenakan pakaian itu setiap malam?” Sekar bingung hendak menjawab apa, ia mengigit pelan bibir bawahnya. Marni menghembuskan napas kasar. Kemudian berkata “Tidurlah. Mama akan bicara dengan Hasan” *** Bulan merangkak naik, cahaya temaram berbaur bersama asap rokok dalam sela-sela jari lelaki yang duduk termangu menghadap pohon mangga di depannya. “Sejak kapan kamu merokok?” Suara Marni yang tiba-tiba membuat perhatiannya teralihkan. Hasan segera menurunkan rokoknya, mematikannya dengan menekan ujung yang menyala tepat di atas meja. “Mama belum tidur?” ucapnya mengalihkan pembicaraan. “Ada yang belum selesai, Hasan?” Hasan menggeleng, “Semua sesuai dengan apa yang Mama pinta.” Kalimat yang Hasan ucapkan tak ayal nya hanya sebuah sindiran. “Melati memang cantik. Tapi jika dibandingkan di antara keduanya. Melati bak mangga yang besar dan menggoda air lidah. Sedang sekar hanya mangga kecil yang masih menghijau. Namun, tahukah kamu Hasan. Sekar itu mangga keraton. Meski kecil rasanya manis dan bisa dicicipi. Sedangkan Melati besar dengan penampilan menggoda, tp asam tak enak dimakan. Kamu tahu rasa manis yang sekar miliki dari mana? Dari akhlaknya.” Hasan mencibik geli. Perumpamaan yang Ibunya berikan terdengar sangat menggelikan. "Dari mana Mama tahu tentang Melati? Mama cuma pernah ngelihatnya dari foto juga biodata yang pernah Mana minta. Kalau Mama melakukan sebuah penilaian, nggak adil jika Mama melakukannya sebelum bertemu langsung dengan orangnya." Bela Hasan terhadap Melati. "Buat apa? Nggak perlu, Mama sudah tau. Dia bukan wanita baik-baik." Hasan mengeratkan urat leher, andai tak ingat siapa wanita di hadapannya mungkin dia sudah berubah menjadi harimau yang menerkam wanita paruh baya itu. Karena Melati adalah cinta matinya. Telinganya akan otomatis memanas jika mendengar nama Melati diolok-olok. “Ada hal yang kita lupakan, Ma. Cinta juga diperlukan dalam rumah tangga. Tanpa cinta tak ada pilar kokoh yang berpijak." Setelah mengatakan hal tersebut Hasan menghirup napas dalam, memejamkan matanya, membuka slide demi slide wajah wanita yang ia cintai. “Cinta itu omong kosong, Hasan. Ada yang lebih utama dari cinta yaitu tanggung jawab dan pengabdian.” Hasan membuka mata, menoleh pada sosok wanita yang berdiri di sampingnya. “Seperti Mama?" Hasan terdiam sejenak, melihat ekspresi apa yang Ibunya berikan setelah ia mendadak menodongnya dengan pertanyaan demikian. Marni termenung, menatap pilu kepada anak semata wayangnya. "Lantas apa itu bisa membuat pertengkaran kalian surut setiap harinya? Cinta dan pengorbanan?!” sarkas Hasan. pertanyaan Hasan bagai pedang tajam yang menusuk tepat di bagian jantung Marni. “Kamu mengetahuinya?” tanya Marni dengan mata terbelalak. “Menurut, Mama? Kalian sering menunggu aku tidur supaya bisa saling melempar ego. Sayangnya aku terlalu cerdik melihat wajah-wajah tegang kalian di meja makan waktu makan malam” “Apa Mama juga yang mengajarkan Sekar untuk menjadi jelmaan Mama? Bertahan tanpa pilar penyangga?” “Hasan. Cinta itu semu. Dia bisa berubah, kita hanya bisa berusaha.” Hasan kembali memejamkan mata, merasakan gerak udara malam yang menampar kulit wajahnya. Ingin rasanya Hasan terbahak. Jika cinta bisa berubah dan tumbuh, bukankah itu hanya bualan saja? Mengingat kedua orang tuanya tak juga bisa saling mencintai bahkan di ujung hayatnya. “Hasan, belajarlah mencintai Sekar, seperti Sekar yang sedang belajar mengabdikan dirinya padamu.” Marni masih begitu giat berusaha agar Hasan bisa melihat betapa berhaknya Sekar menerima cinta darinya Hasan tak menjawab, hanya ada suara jangkrik yang bersahutan di tengah keheningan. Hasan takut jika ia mengeluarkan kembali unek-uneknya, yang ada akan banyak ucapan yang justru menyakiti ibunya. Dalam hari kecil Hasan, ia sangat bersuka atas segela yang terjadi pada keluarganya di masa lalu. Bahkan ia masih mengingat betul bagaimana ibunya duduk berjongkok saat satu asbak hendak menyambar pelipisnya, dan Hasan, anak lelaki itu hanya bisa bersembunyi melihat tragedi ironi itu di setiap malamnya. Marni memainkan buku-buku jarinya, ia hendak membuka kembali mulutnya, tapi urung karena belum waktunya semua tabir itu terbuka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN