"Beneran aku dibolehin, kan, Hon?" tanya Nana sekali lagi, untuk memastikan, sambil tangannya terus bergerak memasangkan dasi Ares. Dia tak ingin didiamkan hanya karena salah paham.
Ares mengangguk. "Boleh, Hon, tapi ingat jangan sampai kamu kecapekan," jawabnya mengacak rambut Nana yang dicepol asal. Anak-anak rambut yang berjatuhan di bahunya membuatnya terlihat sexy.
Ah, ingin rasanya Ares mengulangi aktivitas panas mereka tadi malam. Sayangnya, ia ada rapat penting dengan para pemegang saham di perusahaannya pagi ini. Ia tidak ingin terlambat, tak akan ia memberi para tua bangka itu celah untuk melengserkannya.
Perusahaan itu milik kakeknya, yang diwariskan kepada Mama, kemudian kepadanya. Para orang tua itu tidak memiliki wewenang untuk mendepaknya dari perusahaan keluarganya.
"Kamu pergi sama sopir aja, ya, aku nggak bisa nganterin."
Nana mengangguk. Dia mengerti kesibukan suaminya. Di usia Ares yang masih sangat muda, memimpin sebuah perusahaan besar beserta cabangnya merupakan tanggung jawab yang sangat besar.
Nana juga tahu, suaminya banyak mendapatkan tekanan dari para pemegang saham dan dewan direksi yang menginginkan pimpinan perusahaan yang lebih tua. Mereka menutup mata, seolah tidak melihat kerja keras suaminya dalam memajukan perusahaan.
"Kalo udah sampai sana telepon aku!" kata Ares penuh penekanan, meskipun tidak memerintah.
Ia perlu memberikannya pada Nana agar tidak lupa. Sering kali Nana tidak menghubunginya, tidak memberi tahu di mana berada, membuatnya khawatir, takut istrinya kenapa-kenapa.
Jika terjadi sesuatu kepada istrinya, Jika istrinya terluka sedikit saja, ia bisa menghancurkan dunia.
"Nggak boleh lupa, ntar aku khawatir!"
Nana mengerucutkan bibir mendengar nada penuh tekanan dalam setiap kalimat yang diucapkan Ares. Hanya sedetik, di detik berikutnya bibirnya kembali melengkungkan senyum. Dia tahu, Ares melakukan semua untuk kebaikannya.
Ares memang posesif dan tidak suka dibantah. Namun, dia tidak pernah mempermasalahkannya. Daripada itu, dia selalu menikmati setiap perhatian yang diberikan pria yang menikahinya tidak tahun yang lalu itu.
"Iya, Suamiku!" Nana ikut-ikutan memberikan tekanan saat menyebutkan kata terakhir. "Bawel banget, sih, kamu, Hon? Jangan khawatir, dong. Aku bisa jaga diri, kok!" Pipinya menggembung sebagai protes.
"Bawel kayak gini juga kamu sayang!" Ares mencubit pipi Nana, gemas. "Ingat, telepon aku kalo udah sampai tempat reuni!" katanya mencengkeram pinggul Nana. "Satu lagi, yang paling penting."
Alis Nana bertaut. Masih ada lagi? Astaga!
Ares mendekatkan mulut ke telinga Nana, membisikinya. "Jangan deket-deket sama cowok, aku nggak suka. Awas aja kalo aku tau kamu deketan sama cowok teman sekolah kamu!" ancamnya dengan nada rendah dan dingin.
Mata Nana melebar sempurna. Ares mengancamnya? Apa maksudnya? Lalu, nada suara itu dia baru pertama kali mendengarnya. Terlalu dingin sampai-sampai membuatnya menggigil tanpa sadar.
"Hon!" Nana mendorong Ares, refleks. "Ka—kamu kenapa ngomongnya kayak gitu?"
"Kayak gitu gimana?" tanya Ares tersenyum. Ia sudah kembali ke mode bucin. "Perasaan biasa-biasa aja."
Bibir mungil Nana mengerucut, tangannya terangkat memukul d**a Ares pelan "Kayak tadi itu, aku takut!" rengeknya.
"Nggak apa-apa, ah, ngapain juga takut?" Ares memeluk Nana, mencium puncak kepalanya beberapa kali untuk menenangkan. Ia tidak sengaja berkata seperti itu tadi Ketakutan akan kehilangan Nana, takut Nana akan tergoda dengan pria lain membuatnya nyaris kehilangan kendali. "Aku nggak bakalan ngapa-ngapain kamu, Hon!"
Nana mendongak, menatap Ares yang menundukkan kepala agar dapat menatapnya. Tinggi badan mereka berbeda jauh. Ares lebih dari enam kaki, sementara dirinya jauh di bawah itu. Jika dia berdiri tegak, tingginya hanya mencapai d**a Ares saja.
"Aku tau, Hon!" Nana tersenyum. Kedua tangannya terangkat, membingkai pipi Ares. "Kamu paling sayang sama aku, paling perhatian makanya kamu cerewet!" katanya terkekeh geli. "I love you too, Suamiku!"
Nana berjingkat, mengecup bibir Ares sekilas. Itu yang diinginkannya, tetapi Ares justru membalas dengan lumatan liar. Ciuman sekilas berubah menjadi ciuman panas.
"Hon, udah!" Nana menahan d**a Ares yang ingin menggendongnya. "Kamu harus ke kantor," katanya terengah.
Dia harus cepat menghentikan suaminya, atau mereka tidak akan ke mana-mana, hanya menghabiskan waktu di rumah. Di dalam kamar, di atas ranjang mereka. Nana sudah hafal bagaimana suaminya, bila ciumannya menggebu seperti tadi, itu artinya Ares menginginkannya.
"Kok, malah diingetin, sih, Hon?" Ares menggerutu, tangan merapikan dasi yang tadi sempat ia longgarkan. "Aku ke kantor dulu!" pamitnya mengembuskan napas dari mulut.
Seperti biasa, Nana selalu mengantarkan Ares sampai di teras mereka. Dia melambaikan tangan, memberikan ciuman jarak jauh kepada suaminya yang berada di dalam mobilnya. Kembali ke dalam rumah setelah mobil yang membawa Ares menghilang dari pandangannya.
Nana menyalakan layar ponselnya untuk mengecek jam. Matanya melebar melihat angka delapan yang tertera di sana. Reuni akan dimulai dua jam lagi dan dia masih belum siap-siap, bahkan mandi saja belum.
Dengan langkah lebar Nana menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Jangan sampai terlambat, atau dia akan menjadi bahan olok-olokan teman-teman sekolahnya yang jahil.
***
"Nana!"
Nana menoleh ke arah seruan itu, lalu berlari kecil menghampiri seorang perempuan yang melambaikan tangan dengan heboh memanggilnya.
"Nana, lo dateng!" Carlista Anjani memeluk Nana sambil kakinya tidak berhenti mengentak gembira. "Gue kira lo nggak dateng lagi kayak reuni kita kemaren-kemaren," katanya seraya mengurai pelukan, tetapi tangan tidak melepaskan tangan Nana.
Carlista dan Nana bersahabat sejak mereka memasuki sekolah seragam putih biru. Selalu berada di kelas yang sama dan duduk selalu berdua, persahabatan mereka terus berlanjut sampai lulus putih abu-abu.
Mereka berdua berpisah setelah itu. Nana melanjutkan keluar negeri setelah berhasil mendapatkan beasiswa dari kampus idamannya, sedangkan Carlista lebih memilih untuk tetap di tanah air.
Mereka tidak pernah lagi bertemu setelah itu. Nana tidak pernah datang setiap kali sekolah mereka mengadakan reuni. Panitia reuni tidak bisa mengundang Nana karena tidak tahu di mana dia tinggal sekarang.
Sebulan yang lalu, rencana reuni mereka diposting di media sosial sekolah beserta undangannya. Di undangan tersebut juga dituliskan seluruh nama-nama siswa di angkatan mereka setiap kelasnya. Sepertinya, Nana melihat postingan tersebut sehingga kali ini datang.
"Liat di ...." Nana menyebutkan nama salah satu media sosial berbasis foto dan video.
"Pantas!" Carlista tersenyum gembira. "Udah gue duga lo pasti liat di sana. Bagus, kan, ide gue?" tanyanya bangga.
"Ide kamu?" ulang Nana menatap sahabatnya dengan mata memicing tak percaya.
Carlista mengangguk. "Iya, dong, kan, gue salah satu panitua!" jawabnya tertawa. "Gue ngusulin kayak gitu biar yang alamatnya nggak tau sampai sekarang bisa datang juga. Contohnya lo!"
Nana mengangukkan kepala beberapa kali, dalam hati memuji ide brilian Carlista. "Kamu emang hebat dari dulu!" pujinya mengangkat dua ibu jari untuk Carlista. "By the way, Carlis, kamu masih ngenalin aku, padahal kita udah lama banget nggak ketemu. Aku terharu, seneng banget!"
Nana memeluk Carlista lagi dengan erat. Melepaskannya setelah Carlista merengek tidak bisa bernapas.
"Jelas gue masih ngenalin lo, lo tuh nggak berubah, Na, masih tetap kayak dulu aja!" Carlista mencubit pipi Nana, gemas. "Padahal, udah mau kepala tiga, tapi masih kayak anak SMA!"
Nana memicingkan mata menatap Carlista. "Kamu muji diri kamu sendiri, ya?" tanyanya curiga. "Aku ngenalin kamu gegara kamu nggak tambah tua, tetap kayak Carlista sebelum kita pisah dulu."
"Heh, masa?" Carlista membingkai pipinya dramatis. "Beneran gue nggak tambah tua, Na? Berarti ujui coba gue yang nelan firmakin ketimbang pake skincare berhasil, dong!"
Nana memutar bola mata, mulutnya berdecak tanpa suara. Kebiasaan buruk Carlista yang selalu bercanda kembali. Dia pikir, setelah sepuluh tahun tidak bertemu, Carlista akan sedikit lebih dewasa dan membuang semua kebiasaan buruknya.
Ternyata, sahabatnya masih sama, benar-benar tidak berubah sama sekali. Hanya cangkangnya saja yang terlihat berbeda, di dalamnya Carlista tetap seperti dulu.
"Kalo ada orang nggak kenal sama kamu denger yang kamu bilang tadi, bisa-bisa mereka nganggap kamu serius, Carlis!" Nana membelalakkan mata.
Carlista tertawa. "Hidup itu jangan terlalu serius, bestie, ntar lo cepat tua!" ledeknya menunjuk hidung Nana, lantas menariknya melihat seorang pria yang melangkah ke arah mereka.
Pria itu, Rendra Wiratama adalah mantan kekasih Nana saat masih sekolah dulu. Pewaris Wiratama Grup yang terkenal itu. Tampan, masih sendiri sampai sekarang seolah masih menunggu seseorang.
"Na, liat!" Carlista menyenggol lengan Nana, meminta perhatiannya. "Siapa yang nyamperin kita?" tanyanya dengan nada seru yang tertahan.
Nana mengerutkan alis. "Hah? Siapa?" Dia balas bertanya, tidak mengerti dengan pertanyaan Carlista.
Nana tadi sibuk dengan ponselnya. Dia baru saja ingat untuk memberi tahu Ares jika sudah tiba di lokasi reuni.
"Itu, pangeran sekolah kita dulu!" Carlista merangkul lengan Nana. Jarak Rendra yang semakin dekat membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Aroma ketampanan pria itu yang seperti pangeran dari negeri dongeng membuat udara di sekitar mereka menipis. "Mantan cowok lo, Rendra!"
"Eh?" Nana mengedipkan mata beberapa kali. Dia baru ingat pernah memiliki kekasih saat masih sekolah dulu. Selama ini, dia melupakannya gara-gara Ares yang sudah berhasil membuatnya seperti seseorang yang lupa ingatan.
Carlista memicingkan mata menatap Nana. "Jangan hilang kalo lo amnesia sampai-sampai lupa sama mantan. Emang, sih, tempatnya mantan itu di tong sampah, tapi kalo mantannya modelan Rendra, kok, rasa-rasanya sayang banget, ya!" katanya dengan wajah menekuk.
Nana tak sempat menanggapi, pria yang dimaksud Carlista sudah berdiri di depan mereka, menatap mereka dengan senyum di bibirnya. Benarkah pria itu menatapnya dan Carlista, atau hanya menatapnya saja?
"Ashana Berryl, masih ingat aku nggak?"
Nana tersenyum canggung mendengar pertanyaan itu, menggaruk tengkuknya yang tentu saja tidak gatal. Dia benar-benar lupa dengan pria di depannya ini, tidak mengingat jika mereka pernah menjadi sepasang kekasih.
Seingatnya, mereka semua hanya berteman, tidak lebih. Ternyata, waktu sepuluh tahun dan Ares bisa membuatnya menjadi lupa ingatan.
"Rendra Wiratama, bener, kan?" tanya Nana. Dia khawatir salah mengenali. Waakh pria di depannya berubah, terlihat lebih dewasa dari terakhir mereka bertemu sepuluh tahun yang lalu.
Senyum Rendra kembali menghiasi bibir sexy-nya yang merah pucat. "Syukurlah kamu masih ingat," katanya mengembuskan napas lega. Benar-benar lega.
"Gue juga masih ingat sama lo," kata Carlista. "Lo ngejar-ngejar Nana setahun penuh, baru di tahun berikutnya dia nerima lo jadi cowoknya."
"Kamu?" Rendra mengerutkan alisnya menatap Carlista. "Kamu, cewek yang terus nempel sama Nana kayak lintah itu, kan?"
Carlista dengan bangga mengangukkan kepala, alih-alih kesal karena Rendra dengan jelas mengejeknya. Tidak ada alasan untuk merasa seperti itu, semua yang dikatakan Rendra memang benar. Dia memang selalu menempeli Nana semasa sekolah mereka, sekarang juga.
Nana memalingkan muka, menyembunyikan tawa melihat perubahan wajah Rendra. Dia ingat sekarang, Carlista selalu menjadi pengawalnya setiap kali Rendra mengajaknya keluar dulu. Tak peduli disebut orang ketiga, Carlista tetap percaya diri mengikuti mereka.
Hubungan Carlista dan Rendra tidak akur gara-gara masalh itu. Carlista tidak pernah membiarkan mereka pergi hanya berdua saja. Menurutnya, Rendra memiliki niat yang tidak baik di samping perasaan tulusnya itu.
"Kamu apa kabar, Na? Lama nggak ketemu, kamu baik-baik aja, kan?" tanya Rendra. Tatapannya tak pernah lepas dari perempuan yang dulu pernah mengisi hatinya.
Tidak hanya dulu, sampai sekarang posisi Nana di hatinya tidak tergantikan. Kesendiriannya bukan tanpa alasan. Ia menunggu gadis yang sudah memutuskan hubungan asmara mereka sepuluh tahun yang lalu, dan berniat merajutnya ulang bila mereka bertemu lagi.
Rendra selalu menghadiri acara reuni yang diadakan sekolahnya. Ia berharap dapat bertemu Nana kembali. Harapan yang baru terkabul setelah sepuluh tahun.
"Aku baik-baik aja," jawab Nana tersenyum manis. "Kamu sendiri gimana, baik-baik aja, kan?" Dia balas bertanya sekedar berbasa-basi.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata di sudut ruangan tengah mengawasi mereka. Seorang pria berpakaian serba hitam, lengkap dengan kacamata hitam menutupi wajahnya. Pria tersebut menundukkan kepala, berbicara melalui mikrofon lavalier yang terpasang di kerah kemejanya.
"Tuan, ada pria yang mengobrol dengan Nyonya. Tatapannya pada nyonya mencurigakan."