Bab 3. Hadiah Reuni

1868 Kata
"Tuan, ada pria yang mengobrol sama nyonya. Tatapannya ke nyonya mencurigakan." Ares tidak menyahut. Ia langsung bangkit, meraih jas yang disampirkan di kepala kursi, mengenakannya sambil melangkah cepat keluar dari ruangannya. "Ke tempat nyonya!" perintah Ares pada sopirnya yang sudah menunggu di depan pintu lobi perusahaan. Ia sudah menghubunginya beberapa saat sebelumnya, memerintahkannya untuk mempersiapkan mobil. Ares tidak pergi sendiri. Ada sebuah mobil lainnya yang mengikuti di belakang. Dua orang pengawal pribadinya berada di mobil tersebut. Seolah diberkati Dewi Keberuntungan jalan utama lengang saat mobil Ares melintas. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat ataupun berpapasan. Tiga puluh menit kemudian, Ares sudah tiba di hotel tempat diadakannya reuni sekolah Nana. Tanpa menunggu mobil berhenti sepenuhnya, Ares langsung turun begitu saja. Diikuti dua orang pengawal pribadinya, ia memasuki hotel dengan langkah lebar. Di depan pintu aula yang digunakan sebagai tempat reuni, Ares berhenti. Mata tajamnya langsung menemukan sosok sang istri. Seperti yang dikatakan pengawal yang ditugaskan menjaga Nana diam-diam, istrinya tengah mengobrol dengan seorang pria. Meskipun ada seorang wanita juga bersama mereka, Ares tetap tidak menyukainya. Tidak boleh ada seorang pun pria yang mendekati istrinya, kecuali dirinya. Langkah kaki Ares ringan menuju ke arah Nana. Ia tiba di sisinya bertepatan dengan pria yang mengobrol dengan istrinya ingin menyentuh tangan Nana. Ares menarik Nana mundur sampai membentur dadanya. Tersenyum pada istrinya itu yang menatapnya dengan mata melebar. Nana pasti tidak percaya melihatnya di sini, berdiri tepat di belakangnya, tanpa jarak. "Ares? Hon, kok, di sini?" tanya Nana kaget. Matanya berkedip beberapa kali menatap suaminya yang tiba-tiba saja sudah ada di aula ini. "Kebetulan lewat," jawab Ares asal, berbisik di telinga Nana. "Masa?" Mata Nana memicing. Tentu saja dia tidak percaya. Tidak mungkin Ares melewati hotel ini, jalan ke kantornya dan rumah mereka berbeda arah. Lagi pula, bukankah Ares ada pertemuan penting? Kenapa tiba-tiba bisa berada di tempat ini? Tidak ada jawaban dari Ares. Nana malah mendapat sikutan dari samping kanannya. Dia menoleh hanya untuk melihat Calista yang tersenyum lebar. "Siapa, Na?" tanya Carlista menunjuk Ares dengan menggerakkan dagunya. Pertanyaan itu cukup keras untuk dapat didengar Ares. Pernikahannya dan Nana dilangsungkan saat mereka masih di negara Paman Sam sehingga tidak ada satu pun teman-teman dari sekolah mereka yang diundang. Wajar jika perempuan yang kelihatannya cerewet bertanya, ia memakluminya. Yang mengganggu Ares adalah pria yang berdiri di depan istrinya. Pria itu terus menatap Nana nyaris tak berkedip, seolah ingin menelan istrinya hidup-hidup. Tatapan yang paling dibencinya. Seandainya saja bisa, ingin dicongkelnya bola mata itu. Nana adalah istrinya. Hanya dirinya yang boleh menatapnya dengan tatapan kurang ajar seperti itu. "Suami Nana." Ares yang menjawab pertanyaan Carlista, tanpa menatap perempuan itu. Tatapannya lurus tertuju pada Rendra yang memicingkan mata. Hanya satu detik, tetapi masih dapat tertangkap indra penglihatannya yang tajam. "Eh, beneran?" tanya Carlista kaget. Matanya menatap Nana dan Ares bergantian, tak percaya dengan apa yang dikatakan pria tampan bak Dewa Yunani di samping Nana. "Lo udah nikah, Na?" Nana mengangguk, merangkul lengan Ares. "Carlis, ini Ares, suami aku," katanya melirik Ares sekilas. "Hon, dia Carlista, sahabat aku dari kecil. Kita satu kelas terus sampai SMA." Rendra yang mendengarnya, menahan napas. Tangan kirinya yang bebas, mengepal di sisi tubuhnya. Penantiannya selama sepuluh tahun ternyata sia-sia. Perempuan yang dicintainya sudah menikah dengan pria arogan yang tengah memeluk pinggangnya. "Oh, iya, hampir lupa!" Nana meringis. "Dia Rendra, teman SMA aku." "Mantan pacar Nana lebih tepatnya," kata Rendra penuh penekanan. Mata Nana melebar, terkejut mendengar perkataan Rendra. Dia tak ingin Ares salah paham dan berujung mendiamkannya. "Hon ...." Nana menggelengkan kepala. Dia ingin menjelaskan, tetapi tidak ada satu pun kata yang terucap dari mulutnya. Lidahnya kelu, tidak dapat digerakkan. "Kita pulang sekarang, Hon!" Ares mencengkeram lembut pinggang Nana. "Kamu masih ada urusan penting yang lain. Lupa?" tanyanya dengan nada suara rendah nyaris berbisik. Nana menahan napas. Tiga tahun menikah dengan Ares, tujuh tahun sebagai sepasang kekasih, dia sudah sangat hafal sikap dan sifat suaminya. Ares marah. Nana mengangukkan kepala. "Iya, ayo, pulang!" katanya tersenyum, meskipun kaku. Lalu menoleh pada Carlista yang memicingkan mata menatap Rendra. "Carlis, aku duluan! Ntar aku chat." Nana melambaikan tangan pada Carlista sebelum Ares menariknya, membawanya meninggalkan aula. "Hon, aku...." Nana menahan tangan Ares yang ingin membukakan pintu mobil untuknya. Ares terus diam saja sejak mereka meninggalkan aula sampai di lobi hotel. "Aku nggak marah sama kamu, Hon, tenang aja!" potong Ares, membingkai pipi Nana dengan sebelah tangannya. Sopir sudah menunggu mereka di dalam mobil, bersiap di belakang setir dengan mesin mobil yang menyala. "Kita pulang sekarang biar kamu bisa istirahat." Kalimat itu bernada rendah, tetapi penuh penekanan. Seolah Ares memerintah dan mengancamnya. Nana menatap area lekat-lekat sebelum memasuki mobil dan duduk di jok belakang, berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Iya, Ares marah. Semua sudah terlihat dari wajah tampannya yang mengeras. Ares mencengkeram pinggangnya saat mendengar Rendra menyebut jika mereka adalah mantan kekasih. Apakah Ares cemburu pada Rendra yang sekarang tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya? Selama hampir sepuluh tahun ini sejak mereka dekat, Nana hanya pernah melihat Ares cemburu satu kali, dan dia sudah berjanji di dalam hati untuk tidak akan mengulanginya lagi. Ares tidak hanya mendiamkannya, tetapi juga membuat pria yang mengobrol dengannya dikeluarkan dari kampus. Ares memang memiliki kekuatan sebesar itu, dapat melumpuhkan orang yang tidak disukainya hanya dengan menjentikkan jari saja. Apa yang dilakukan Ares dulu masih terbilang kecil dan masih berperasaan karena teman kampus mereka dulu tidak menantangnya. Rendra sudah sangat salah membuat Ares cemburu dan marah, apalagi sampai menantangnya seperti tadi. Nana khawatir, suaminya akan melakukan sesuatu yang lebih menyeramkan Seperti dua tahun yang lalu. "Hon, maaf!" Nana meletakkan kepala di bahu Ares, merangkul lengannya erat. "Aku...." "Bukan salah kamu!" potong Ares dingin. Nana memejamkan mata. Ares benar-benar marah. Entah apa yang akan dilakukannya padanya nanti, semoga saja Ares tidak mengurungnya seperti dulu. Sayangnya, harapan Nana tidak terkabul. Begitu tiba di rumah mereka, Ares langsung menariknya keluar dari mobil, mencengkeram tangannya dengan kuat. "Ares, sakit!" Nana merintih tertahan. Ares terlalu kuat mencengkeram pergelangan tangannya seakan ingin meremukkan tukangnya. Namun, Ares mengabaikan. Indra pendengarannya seakan tuli, tidak dapat menangkap suara apa pun. Termasuk, suara perempuan yang dicintainya sekalipun. Inilah yang Nana takutkan, Ares yang mengabaikannya. Tidak peduli dengan kesakitannya. Ares bahkan terlihat senang melihatnya menderita. "Ares, sakit, lepas!" Nana menggerakkan tangannya yang berada di cengkeraman Ares, berusaha melepaskan. Tidak ada tanggapan dari Ares. Justru cengkeramannya semakin menguat. Ia tidak melepaskan sebelum ia dan Nana tiba di kamar tidur mereka. Ares melepaskan tangannya, setelah mendudukkan Nana di tempat tidur. Ia berjongkok di depannya dengan satu lutut menyentuh lantai. "Kamu ingat apa yang aku bilang pas ada cowok yang coba deketin kamu?" tanya Ares sambil meraih tangan Nana dan menggenggamnya. Genggaman yang semakin lama semakin kuat sampai membuat Nana meringis lirih tanpa sadar. Ares sepertinya benar-benar ingin meremukkan tulangnya. "Aku nggak suka punyaku dideketin pria lain, nggak suka kamu ketawa sama pria lain." Jeda. Ares melepaskan genggaman kuatnya mendengar ringisan Nana. Ia kemudian mengecup punggung tangan yang tadi diremasnya. "Kamu istri aku, Na, punya aku. Nggak ada yang boleh deket-deket kamu selain aku. Nggak boleh ada yang bikin kamu ketawa, kecuali aku." Nana mengangguk takut-takut, gerakannya kaku. Tentu saja dia mengingat semuanya, termasuk perubahan Ares yang sangat kontras dari pria yang memujanya menjadi pria obsesif. "Good girl!" Ares tersenyum, mengusap puncak kepala Nana, lantas bangkit. "Tetap di sini, istirahat. Jangan ke mana-mana! Jangan keluar kamar, kecuali aku panggil!" Itu perintah, bukan permintaan. Nana mengangguk lagi, kali ini lebih cepat. Dia ingin sendiri, lebih aman. Ares tidak lagi berkata satu patah kata pun. Ia langsung memutar tubuh, meninggalkan kamarnya dan Nana. Tak lupa, ia menguncinya dari luar dan memerintahkan dua orang pengawal untuk berjaga di depan pintu kamar yang terkunci. "Jangan sampai nyonya keluar, kecuali saya yang memerintahkan!" perintah Ares dingin. Kedua pria berpakaian serba hitam lengkap dengan earpiece dan clip-on yang terpasang di kerah jas mereka, mengangguk bersamaan. "Pergi sekarang!" perintah Ares pada dua orang pria lainnya yang sudah menunggunya di depan tangga. *** Dua hari Nana menghabiskan waktunya hanya di dalam kamar tidur seorang diri, tanpa Ares. Dua hari, suaminya tidak ada kabar. Entah Ares ke mana, membuatnya khawatir saja. Ares juga menyita ponselnya sehingga dia tidak bisa menghubunginya. Bertanya kepada pelayan yang mengantarkan makanan setiap waktu malah tiba pun percuma. Sama seperti bertanya pada dua orang pengawal yang terus berjaga di depan pintu kamar, percuma. Tidak ada satu pun dari mereka semua yang mau menjawabnya. Dua orang pria itu selalu menjawab bos mereka sibuk, saat dia bertanya. Hanya itu saja, tidak mau memberitahukan kesibukan Ares secara mendetail. Tak ada Ares, tak ada ponsel, tak ada siapa pun yang bisa diajak mengobrol, rasanya sangat membosankan. Waktu terasa berjalan sangat lambat seperti siput. Di hari ketiga, saat Nana sudah bersiap untuk menjalani hari seperti dua hari sebelumnya, dia dikejutkan dengan kedatangan Ares. Pria yang paling dirindukannya itu membawa sebuket bunga mawar merah muda kesukaannya, juga sekotak cokelat. Meskipun begitu ingin memeluk Ares, setengah mati Nana menahan diri. Dia takut Ares akan kembali menyakitinya seperti dua hari yang lalu. Meskipun membawa dua benda yang sudah mereka sepakati sebagai permintaan maaf, tetap saja Nana takut. Dia masih belum tahu apakah emosi suaminya sudah kembali stabil atau belum. "Hon, maaf!" Ares memeluk Nana erat. Ia kembali menjadi seperti seekor anak kucing yang menggemaskan dan manja. "Aku ngurung kamu di sini biar kamu nggak ke mana-mana selama aku sibuk," katanya tersenyum. Nana menundukkan kepala. Ares meminta maaf, tetapi nada suaranya tidak terdengar seperti seseorang yang menyesal. Nada suara itu terdengar gembira, seperti seorang bocah yang berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. "Kamu udah sarapan, kan?" tanya Ares membingkai pipi Nana dengan kedua tangannya. "Mau keluar nggak, Hon? Ikut aku ke satu tempat." Nana menatap Ares dengan sepasang alis berkerut. "Ke mana?" tanyanya dengan suara yang masih terdengar bergetar. Ares memeluknya. "Rahasia," bisiknya tepat di depan telinga Nana sebelum mengulum daun telinga itu beberapa saat. "Ares!" Nana memekik kaget. Refleks mendorong Ares menjauh, tetapi tidak berhasil. Pelukan Ares terlalu erat untuk dapat dilepaskannya. Ares tersenyum. "Mau ikut?" Ia mengulangi pertanyaannya. Seperti biasa, pertanyaan itu hanya sekedar basa-basi. Apa pun jawaban Nana, mereka tetap akan pergi juga. Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan di pinggir kota. Bangunan yang cukup mewah dan terawat untuk sebuah tempat yang tidak ditinggali. "Ayo, kita masuk!" Ares menggenggam tangan Nana, membawanya memasuki bangunan yang lebih mirip sebuah gudang. Tidak terlalu banyak peraturan di dalam bangunan. Yang mencolok adalah sebuah kursi kebesaran berukir yang diletakkan di tengah ruangan. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Nana, melainkan banyaknya pria berpakaian setelan serba hitam. Aksesoris mereka sama, earpiece dan clip-on yang merupakan akar komunikasi. "Bawa orang itu ke sini!" Nana melirik Ares yang tengah memerintah siapa Yang pasti, dua orang pria berpakaian hitam segera meninggalkan ruangan utama. Kedua pria itu kembali beberapa menit kemudian, dan mereka tidak hanya berdua. Masih ada seorang pria lainnya bersama mereka. Entah siapa pria yang kedua tangannya terikat ke belakang itu, Nana tidak mengenalinya. Kepalanya ditutup dengan tudung berwarna hitam. "Buka tudung kepalanya!" perintah Ares. Nana menahan napas, genggamannya pada tangan Ares menguat. Hampir saja dia menjerit saat tudung penutup kepala orang itu dibuka. Rendra. "Suka hadiah reuni dari aku, Hon?" tanya Ares tersenyum manis. Senyum yang terlihat mengerikan di mata Nana sampai-sampai membuatnya kehilangan suara untuk menjawab pertanyaan Ares.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN