Tsauna mendapati Dirta yang berjalan menjauh darinya. Katanya... Dirta sengaja pulang ke Surabaya hanya untuk menemuinya.
Rasa bahagia itu berubah menjadi kecewa saat harapan tidak berbanding lurus dengan kenyataan.
Tsauna membuka matanya. Ternyata semua hanya mimpi buruk. Melihat sekeliling kamar nya tidak ada siapa-siapa, gadis itu terisak. Rasa takut menyeruak begitu saja. Bagaimana jika mimpinya itu menjadi kenyataan?
Tidak... dia tidak siap menerima kenyataan yang sepahit itu. Dirta adalah miliknya. Tidak mungkin Dirta tega meninggalkannya.
Menjelang subuh Tsauna belum bisa tidur lagi. Mimpi yang seakan menghantui itu terus berputar di kepalanya.
Tsauna ingin menceritakannya kepada Bela. Tetapi... masih jam empat pagi.
Suara-suara di luar membuat Tsauna penasaran. Dilihatnya Firda sedang menata kue kering ke dalam toples. Jangan bilang Ibu nya begadang semalaman hanya untuk membuat kue tersebut?
"Ibu tidak tidur?" Firda merasakan pelukan putrinya dari belakang.
"Pesanan seratus toples nya harus selesai jam tujuh pagi. Nanti belum pesanan yang lainnya. Ibu kehabisan waktu jika tidur sebentar saja."
Tsauna minta maaf dalam hati. Tidak bisa membantu Ibunya. Hanya sibuk memikirkan sesuatu yang tidak penting. Ada Ibu di depan mata Tsauna, kenapa Tsauna lebih memperhatikan orang lain yang jauh di sana?
"Apa yang bisa Tsauna bantu?"
"Sudah subuh, kamu sholat sana. Nanti bantu Ibu masukkan toples nya ke dalam kardus. Kardusnya ada di sana!" Tunjuk Firda ke tumpukan kardus yang ada di sebelah aquarium.
"Iya, Tsauna sholat dulu."
Gadis itu melepas pelukannya. Gerakan tangan Firda terhenti mengingat sesuatu yang tadi di dengar nya. Dia tahu putrinya bermimpi buruk, sampai teriak-teriak mengigau tidak karuan.
Tetapi Firda menahan nya. Agar putrinya tidak bertambah lemah dan mudah dikasihani. Mereka sudah hidup bertiga ditinggal kepala keluarga. Ditinggal Dirta, bukanlah akhir dari segalanya. Putrinya harus kuat agar bisa bertahan hidup.
Pesanan kue kering itu sampai ke tangan pelanggan dengan sempurna.
Kue dengan aneka rasa dan bentuk nya yang beragam. Ada lebih satu toples jadi Tsauna membawanya ke sekolah.
Membukanya di depan Bela. "Cicipi siapa tahu rasanya ada yang kurang" Kata Tsauna.
"Aku coba ya? kalau rasanya enak nanti aku pesan buat di rumah" Kata Bela sebelum mengunyah kue tersebut.
Tsauna menunggu dengan sabar. Sebelum Bela memberikan jempolnya. "Enak."
"Lidah kamu kan tidak pasaran, jadi kalau kamu bilang itu enak berarti memang enak" Tsauna tersenyum.
Senyum yang bisa Bela lihat sampai ke matanya. Untuk sebentar Bela merasa lega. Waktu yang tepat tidak ya untuk membicarakan Aufar, di depan Tsauna?
Tsauna teringat akan mimpinya semalam. Hanya Bela yang bisa mendengarkannya tanpa memandang nya rendah.
"Bel, aku... mau cerita nih sama kamu."
"Cerita aja Tsau kayak sama siapa aja sih kamu?" Kata Bela sambil mencomot kue di toples.
"Lebih tepatnya curhat deh kayak nya. Jangan bosan ya sama cerita aku ke kamu."
"Tsau... jangan gitu ah! aku tidak suka kalau kamu bicara seperti itu. Mau kamu ceritanya seharian juga aku dengarkan dengan senang hati. Jangan merasa tidak enak sama aku. Karena kalau kamu bersikap seperti itu ke aku, nanti aku juga bakalan kayak gitu juga. Kamu tidak mau kan kalau aku bersikap seperti itu ke kamu?"
Tsauna tentu tidak mau. "Jadi sekarang cepat cerita sebelum kue di toples habis aku makan" Bela menarik bibirnya.
"Aku mimpi buruk Bel, semalam. Aku tidak tahu ini pertanda apa tapi perasaan aku tidak enak. Dalam mimpi ku... kak Dirta datang niatnya mau ketemu aku. Tapi pas lihat aku sama kak Mauris dianya malah pergi Bel. Aku panggil tidak mau lihat ke aku, dia pergi begitu aja. Aku takut Bel... aku takut, bagaimana kalau kak Dirta kenapa-napa?"
"Tsau... tidak akan terjadi apa-apa sama kak Dirta. Mimpi itu cuma bunga tidur tidak lebih dari itu. Kamu mungkin terlalu berharap biar kak Dirta pulang kan?"
Tsauna mengangguk. Angannya memang tentang kepulangan Dirta dan menemuinya.
"Sudah kamu coba telepon dia?"
"Sudah, tadi malam waktu aku bangun dari mimpi itu aku langsung telepon dia. Tapi tidak diangkat, telepon nya mati."
Penyemangat Tsauna sekarang sudah mulai menjauh. Sulit sekali untuk bangkit kembali. Dari banyak nya orang di sekolah itu, bagaimana mungkin hanya Dirta yang bisa membuatnya nyaman?
Dilihatnya teman-teman yang lain berada di lorong-lorong kelas. Tidak sedikit yang mencuri pandang kepadanya. Tidak sedikit juga yang ingin mendekatinya. Tetapi kenapa hanya Dirta?
Tsauna tersenyum sendiri menggelengkan kepalanya. Sekelibat bayangan Dirta hadir di pandangannya. Jangan-jangan dirinya sudah mulai gila!
"Kamu baik kan Tsau?" Tanya Bela khawatir melihat tingkah Tsauna. Soalnya banyak orang menjadi tidak waras karena cinta.
"Barusan ada bayangan kak Dirta lewat di sana" Tunjuk nya ke arah ruang kepala sekolah. Mana mungkin orang yang lama tidak memberinya kabar bisa tiba-tiba berada disana?
Lalu seorang teman sekolah Tsauna mendekati tempat keduanya duduk. Katanya Tsauna dipanggil oleh kepala sekolah ke ruangannya. Tentu Tsauna dan Bela kaget. Karena dipanggil oleh kepala sekolah berarti ada sesuatu yang penting.
"Ada apa ya Mei?" Tanya Tsauna kepada Meimei, si pembawa berita.
"Mana aku tahu" Sahut Meimei meninggalkan mereka berdua.
"Udah Tsau cepat temui kepala sekolah takutnya ada yang penting" Ujar Bela menasehati.
Benar juga. Maka Tsauna meninggalkan Bela menuju ruang kepala sekolah.
Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, pak kepala sekolah menyilahkan Tsauna duduk. Disana sudah ada seseorang berkemeja kotak-kotak berwarna merah.
Dari belakang Tsauna tidak tahu dia siapa. Tetapi begitu bokongnya hampir menyentuh bantalan sofa, Tsauna menoleh. Betapa kagetnya hingga dia tidak bisa berkata apapun. Tsauna tidak berhalusinasi. Yang duduk di sampingnya itu benar-benar Dirta.
"Mengapa ada disini?" Gumam Tsauna.
Pak kepala sekolah meminta Tsauna untuk duduk. "Baik, Pak" Ucap Tsauna, menoleh ke samping sekali lagi. Wajah itu tidak berubah.
"Tsauna, Dirta kesini meminta izin sama saya untuk menemui kamu. Dia minta izin supaya kamu diperbolehkan meninggalkan kelas jam pertama." Kata Pak kepala sekolah.
"Tapi untuk apa?" Heran Tsauna menoleh kepada Dirta.
"Ada hal penting yang harus Dirta bicarakan sama kamu katanya" Terang Pak kepala sekolah.
.......
Dirta
Aku menerima usul Bima untuk menemui bidadariku. Akan aku utarakan semua alasan yang selama ini menyiksaku untuk tidak mendekatinya.
Ketika menghampiri bidadariku itu, tidak sengaja bertemu dengan Aufar. Orang yang ingin aku tendang dari bumi ini.
Mauris yang memintaku menjauhi adik nya.
Mauris yang tidak ingin sahabat nya menjadi pacara adiknya.
Jadi malam itu aku memutuskan pulang ke Surabaya. Merelakan uang tabungan yang sudah aku kumpulkan belakangan ini, untuk membeli tiket pesawat agar bisa pulang ke Surabaya.
Aku pulang ke rumah sebentar sekedar mengistirahatkan badan yang letih. Lalu mendatangi Tsauna di sekolah dipagi harinya.
"Untuk apa pulang ke rumah?" Dia heran ketika aku mengajaknya pulang ke rumahnya. Mata sipit beriris coklat itu selalu membuat ku rindu.
Kami dalam perjalanan mengendarai taxi online, ke rumah Tsauna.
Aku tidak tahan untuk tidak mendaratkan kecupan singkat di pipinya. Dan dia menahan dadaku.
Dia masih sama. Gadis lugu dengan kepribadian baik.
"Akan aku pinang kamu di depan tante Fida" Ucap ku membuatnya menganga.
Aku serius ingin mengikatnya. Agar tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya dari ku. Tidak sekali lagi aku kehilangannya.
"Tahukah kamu Tsauna... kalau aku sangat merindukan mu? menahan perasaan ini sampai ingin mati. Kamu tahu?"
Mata beriris coklat itu memandangku lekat. Mata yang berkaca-kaca saat memandang ku. Sepertinya Bima benar, Tsauna merasakan hal yang sama.
"Tapi kenapa kak Dirta tidak pernah menghubungiku? kak Dirta menjauhiku. Dan sekarang... kakak mau meminangku di depan Ibu ku? apakah ini semua lelucon?"
Suaranya yang lemah lembut dan mendayu itu laksana angin sore yang sejuk membuai siapapun yang mendengarnya.
Aku bisa merasakan dari nada suaranya, betapa dia kecewa kepada ku. Tapi itu membuktikan betapa dia sangat merindukan aku.
"Aku tidak mau" Ucap nya.
"Apa kamu tidak menyukai ku?" Aku meraih tangannya.
"Tidak. Tapi aku Cinta sama kakak. Kita berhenti saja kak, jika kakak terpaksa menemuiku disini. Jangan mengasihani ku lagi. Aku tidak apa-apa... ."
"Apa karena Aufar membuat mu nyaman?!"
Jujur saja aku marah melihat Aufar mendekati Tsauna. Luapan emosi ini serasa membakar d**a, hingga aku sulit untuk bernafas.
Tidak. Sepertinya aku salah bicara. Tsauna mengerenyit tidak suka lantas menepis tangan ku.
"Maaf, bukan maksudku" Kata ku merasa bersalah.
"Kakak tahu? Ibu akan marah jika tahu aku bolos sekolah" Ucap nya.
"Kamu tidak suka aku pulang?" Tanya ku penasaran. Dia diam saja.
Sudah aku siapkan cincin untuk melamarnya. Sederhana dan dari hasil tabunganku sendiri.
"Maaf Pak, kita putar balik saja" Ucap Tsauna kepada supir taxi. Dia menolak aku pinang?
"Kamu menolak ku?"
"Aku hanya tidak ingin di depan Ibu ku. Pahamilah kak... apa kata Ibu, jika kakak mengutarakan niat ini? sementara kita masih sama-sama menuntut ilmu. Aku takut... Ibu malah akan meragukan kakak dan melarangku berhubungan dengan kakak."
Artinya dia hanya takut jauh dari ku kan? artinya perasaan ku terbalas dan dia menerima cinta ku.
"Jadi... kita sekarang pacaran?" Pancing ku.
"Ok" Jawab nya simpel.
Aku kembalikan Tsauna ke sekolah sebelum jam pelajaran kedua dimulai. Aku harus segera kembali ke Jakarta karena ada kuliah siang. Setelah berterimakasih ke kepala sekolah, aku mengantar Tsauna sampai di depan kelasnya.
Kami saling diam sambil berpandangan. Tangan kami tertaut seakan tidak ingin terpisahkan. Di seberang ada sepasang mata yang memperhatikan kami dengan pandangan tidak suka. Sengaja aku memperpendek jarak dengan gadis pujaanku ini. Membelai pipinya.
"Kakak hati-hati di jalan ya" Ucap nya. Aku pandang mata beriris coklat itu seakan tidak rela jika tidak melihat nya setiap waktu.
"Kalau ada yang bikin kamu kesal, bilang ke aku." Pesan ku sambil melirik seseorang yang sedang mengintip keintiman aku dan Tsauna.
"Semuanya baik sama aku" Kata nya seakan aku tidak tahu apa yang terjadi. Dari dulu aku tahu banyak yang iri kepada bidadari tak bersayap ini.
"Masuk gih. Aku pergi sekarang" Aku mundur perlahan sebelum berbalik jalan menjauh. Aku kembali ke Jakarta dengan misi yang berhasil.
.........
Author POV
Tsauna bersenandung ditemani kedua ikan emas milik nya. Ikan yang dia namai Tsauna dan Dirta itu kian hari bertambah gemuk saja.
Mungkin karena pemiliknya merawat dengan sepenuh hati. Memberinya makan tepat waktu dan mengganti airnya agar tetap bersih.
Firda kaget bukan main ketika masuk ke dalam rumah, ternyata sudah dalam keadaan bersih dan rapih.
Dilihatnya Tsauna sedang memberi makan ikan Mas nya di aquarium.
"Girang sekali kayak nya" Ucap Firda di samping putrinya, ikut melihat ikan yang asik makan.
Tsauna menutup toples tempat makan ikan Mas nya. "Jadi Tsauna harus sedih gitu?"
"Tidak sih, cuma... Ibu ingin tahu nih alasan kamu bisa sebahagia ini. Kenapa, kenapa coba? bicara sama Ibu."
"Tapi... Tsauna tidak mau cerita, gimana dong?" Tawa Tsauna menular ke Ibu nya.
Tsauna masih ingin merahasiakan hubungan nya dengan Dirta dari siapapun.
Rahasia tentang hubungannya dengan Dirta memang masih tertutup rapi. Tapi mengenai dirinya yang dikejar-kejar Aufar, hampir seisi rumah Brama tahu.
"Jadi perempuan ini yang belakangan ini ganggu konsentrasi kamu, Aufar?" Brama meletakkan foto-foto hasil pengintaian nya di depan Aufar.
"Nggak Pa. Itu kemarin Aufar mau pesan kue, kan nggak lama lagi ada acara arisan di rumah. Kebetulan pas Aufar cari nggak ada orang di rumahnya. Kata tetangganya lagi ke toko kue, makanya Aufar susul."
Brama tidak langsung percaya.
"Kan biasanya Mama kamu yang urus."
"Ya... Mama kasihan Pa, capek urus rumah sama urus yang lainnya" Kata Aufar.
Padahal Mamanya tinggal duduk saja kalau di rumah, kan sudah ada asisten rumah tangga.
"Kasihan sama siapa? Mama?"
Aufar menepuk jidatnya. Karena orang yang dia jadikan alasan kebohongan tiba-tiba datang.
Aida duduk di samping suaminya dan terkejut ketika melihat foto gadis cantik di atas meja.
"Foto siapa?" Dia menuntut jawaban kepada putranya.
"Teman sekolah" Jawab Aufar.
Aida manggut-manggut, dia sedang menilai gadis seperti apa yang ada di foto itu.
"Tapi nggak ada pacar-pacar an loh ya?" Ucap Aida. Dia mau putranya lulus dengan baik, fokus sekolah sampai kuliah.