*** Satu jam di perjalanan, Altariga akhirnya sampai kembali di kediamannya. Memberhentikan mobil di depan teras seperti biasa, dia cukup terkejut setelah sosok Gisella terlihat menunggu di salah satu kursi yang tersedia di sana. Tidak berpenampilan rapi seperti dirinya, perempuan itu sudah memakai piyama, dan karena wajah seriusnya, Altariga sedikit degdegan. Bukan karena takut pada Gisella, Altariga hanya tidak siap melihat raut wajah kecewa sang istri, karena meskipun belum sepenuhnya mencintai perempuan itu, dia memiliki prinsip yaitu; tidak membuat Gisella kecewa atau sakit hati seperti di tahun pertama pernikahan mereka. "Mas, akhirnya kamu pulang," sapa Gisella, yang langsung beranjak dari kursinya. "Gimana pertemuan kamu sama Flora? Membuahkan hasil yang baik, kan?" "Boro-boro

