***
5 tahun berlalu ....
Di dalam sebuah studio berukuran besar, seorang perempuan bertubuh semampai nampak fokus memandangi sebuah manekin yang dibalut gaun brukat berwarna putih.
Tidak sekadar memandangi patung tersebut, perempuan itu tengah mencari celah dari gaun di depannya, karena memang bukan seorang konsumen yang berniat membeli gaun, dia adalah; sang perancang yang sedang memastikan sekali lagi gaun buatannya, sebelum menghubungi sang pemesan.
"Udah pas sih seharusnya, tap—"
"Bu Flora, hp ibu bunyi. Kayanya ada telepon."
Belum selesai dia bicara, sebuah laporan diterima—membuatnya berbalik. Menaikkan sebelah alis dengan tangan kiri berkacak di pinggang, perempuan semampai yang tidak lain adalah Flora, melontarkan sebuah tanya,
"Telepon dari siapa?"
"Saya kurang tahu, Bu, belum dicek," ucap gadis di depannya, yang tidak lain adalah Septi—salah satu karyawan butik yang Flora kelola.
Lima tahun berlalu, Flora bukan lagi mahasiswa S2 tingkat akhir. Dia kini adalah seorang designer terkenal sekaligus pemilik butik besar di kota Jakarta.
Melupakan kejadian buruk di masa lalu, Flora berhasil bangkit setelah didukung penuh oleh kedua orang tuanya. Lulus S2 di usia dua puluh lima tahun, Flora kini adalah perempuan dewasa dengan status; ibu anak satu.
Batal meminta pertanggungjawaban Altariga, lima tahun lalu Flora mengambil keputusan untuk mempertahankan janin di perutnya tanpa seorang pasangan.
Jujur terhadap kedua orang tuanya tentang apa yang terjadi, Flora tidak dihakimi, sehingga dia pun bisa bangkit dan membesarkan anak di kandungannya hingga kini berusia empat tahun lebih.
"Ya udah tolong ambilin ya hp sayanya. Lagi malas turun ke bawah," pinta Flora yang dijawab anggukan Septi.
Selanjutnya—sambil menunggu ponselnya diambil, Flora kembali fokus pada gaun, hingga selang beberapa menit, Septi kembali membawa ponsel berbalut case berwarna maroon.
"Duh, ini kenapa Miss Yuka telepon ya?" tanya Flora, setelah di ponselnya dia mendapati panggilan tidak terjawab dari guru di tempat sang putra bersekolah. "Enggak ada sesuatu terjadi sama Aru, kan?"
Tidak membuang waktu, Flora menghubungi balik guru dari putranya itu. Menunggu selama beberapa detik, panggilan darinya dijawab—membuat Flora lekas menyapa,
"Halo, selamat siang Miss Yuka. Ada apa ya telepon saya? Apa Aru bikin masalah di sekolah?"
"Halo, Bu, selamat siang," sapa Miss Yuka. "Sebelumnya saya minta maaf kalau mengagetkan, tapi iya, Bu, Aru barusaja melakukan sesuatu di sekolah, dan tindakannya cukup serius."
Mendengar ucapan Miss Yuka, Flora mengerutkan kening. "Tindakan apa memangnya, Miss?" tanyanya penasaran. "Tapi itu anak sayanya baik-baik aja, kan? Enggak ada luka atau lecet, kan?"
"Arutalanya baik, Bu, cuman mobil dari tamu kepala sekolah di sini penyok," ucap Miss Yuka—membuat Flora membulatkan mata dengan perasaan yang kaget. "Kata teman-temannya, mobil tersebut dilempar batu oleh Arutala, dan ya ... yang punya pengen ketemu dengan orang tuanya Arutala. Jadi ibu bisa, kan, ke sini?"
Arutala Galtero Alexander.
Dialah buah hati Flora bersama Altariga yang hadir karena ketidaksengajaan keduanya. Meskipun hadir karena sebuah tragedi, Arutala diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga besar Flora, sehingga sampai usianya berada di angka empat tahun lebih, Arutala hidup dengan cukup bahagia.
"Kapan? Sekarang?"
"Iya, Bu," jawab Miss Yuka. "Yang punya mobil soalnya nungguin di ruangan kepala sekolah. Jadi kalau—"
"Saya ke sana sekarang," potong Flora. "Bilangin ke yang punya mobil buat nunggu saya datang. Itu anak saya jangan diapa-apain. Dia pasti enggak sengaja lakuinnya, cuman meskipun gitu saya pasti tanggung jawab."
"Baik, Bu, akan saya sampaikan."
"Oke, terima kasih, Miss. Saya ke sana sekarang."
Tanpa ba bi bu, Flora menyudahi panggilan. Menunda dulu pekerjaannya, dia lekas berpamitan pada Septi untuk pergi ke sekolah Arutala.
Tanpa sopir, Flora mengendarai sedan putihnya sendiri. Sedikit panik bahkan takut sang putra diperlakukan tidak baik, dia membawa mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, sehingga kurang dari setengah jam, dirinya sudah sampai di parkiran luas sekolah tempat Arutala belajar.
"Ini kenapa Aru lemparin mobil orang pake batu sih? Enggak biasanya dia senakal ini," keluh Flora, sambil melangkah turun dari mobil. "Yang punya mobil pasti ngamuk besar di dalam. Ck."
Menjauh dari mobil, Flora melangkah cepat menuju ruang kepala sekolah. Mendaratkan ketukan di pintu yang sedikit terbuka, dia disambut Miss Yuka yang menyapanya dengan ramah seperti biasa.
"Kok enggak ada siapa-siapa?" tanya Flora, setelah tidak mendapati siapa pun di ruang kepala sekolah. "Ke mana yang punya mobil sama anak saya?"
"Arutala ada di kelas, Bu," jawab Miss Yuka. "Rasanya kurang baik untuk dia kalau ada di sini ketika ibu dan sang pemilik mobil berbicara. Jadi saya minta dia belajar seperti biasa. Toh, Arutala sudah mengakui perbuatannya."
"Beneran dia yang rusakin mobilnya?" tanya Flora, sambil melangkah menuju sofa untuk kemudian duduk di sana. "Anak saya perasaan enggak senakal itu deh."
"Arutala jawab iya, Bu, cuman memang dia melakukannya atas perintah kakak kelas dari TK B. Katanya kalau mobil itu dilempar batu, bunyinya akan terdengar berbeda jadi kebanyakan mobil. Jadi Arutala tertarik."
"Ck, nakal banget tuh anak-anak."
Miss Yuka tersenyum, hingga suara ketukan dari pintu, disusul sebuah pertanyaan terdengar—membuatnya mau pun Flora beralih.
"Apa orang tua dari siswa yang merusak mobil saya sudah datang?"
"Saya orang tuanya Arutala, dan say ... kamu?"
Flora refleks membulatkan mata, sementara tubuhnya seketika menegang. Tidak terus duduk, perlahan dia beranjak dari sofa untuk kemudian memandang dengan lebih seksama pria berjas hitam yang kini berdiri di ambang pintu.
Bukan orang asing untuk Flora, pria bermata biru itu adalah Altariga, dan setelah tidak sengaja menikmati malam panas bersama lima tahun lalu, ini adalah kali pertama Flora bertemu kembali dengan pria tersebut.
"Kamu ...."
Flora pikir setelah bercinta dalam keadaan mabuk, Altariga tidak akan mengingatnya. Namun, dari panggilan yang dia dengar setelah sebelumnya Flora memanggil, membuat keyakinan dia ragu.
"Apa laki-laki ini pemilik dari mobil yang dirusakin sama Arutala, Miss?" tanya Flora, pada Miss Yuka.
Demi apa pun, degupan jantungnya kini dua kali lebih cepat dari biasanya. Namun, meskipun begitu, Flora berusaha bersikap tenang.
"Iya, Bu," jawab Miss Yuka—membuat tubuh Flora semakin menegang. "Pak Altariga namanya, apa Ibu mengenal?"
"Sepertinya Bu Flora dan Pak Altariga saling mengenal ya? Apa kalian teman lama?" tanya pria di samping Altariga, yang tidak lain adalah kepala sekolah di tempat Arutala belajar.
"B—bukan," jawab Flora, tiba-tiba saja tergagap. "Saya dan beliau tidak saling mengenal, hanya saj—"
"Saya mengenal Bu Flora," potong Altariga—membuat Flora menatapnya dengan kedua mata membulat. "Dan karena sebelum membahas mobil, saya ingin membahas hal lain, bolehkah saya membawa Bu Flora pergi dari sini sebentar? Ada yang ingin kami bicarakan."
"Maksud anda apa?" tanya Flora. "Saya tidak mengenal anda dan—"
"Kamar VIP 103, di salah satu Bar Paris," ucap Altariga. "Apa anda tidak ingat?"