“Apa yang membuatmu begitu bahagia, La?” tanya Narisa heran karena sejak wanita itu kembali dari perusahaan yang memesan roti di toko In Luv, wanita itu terus tersenyum.
Jelas hal itu membuat Narisa sangat penasaran karena setahunya belakangan ini, Ela malah cenderung menjadi pendiam dan mudah emosi dalam sekejap. Pulang-pulang dengan senyum malah membuat Narisa curiga kalau Ela tak sengaja bertemu pria tampan di perusahaan itu dan mereka menjadi dekat lewat chat atau apapun yang menjadi jalan komunikasi.
“La, kau membuatku menjadi takut dengan senyum menjijikkan seperti itu” tegurnya kesal karena diabaikan.
Ela memutar tubuhnya dan menatap Narisa dengan mata berbinar “Aku tidak perlu mengkhawatirkan biaya persalinan anakku nantinya”
“Kenapa?” tanya Narisa bingung, namun setelahnya terlintas pikiran negatif di kepalanya “Kau ingin menggugurkan anak itu? Kau mau jadi ibu yang jahat?”
Ela menatap Narisa heran lalu memukul kepala wanita itu “Kau gila. Aku mana berani menghilangkannya sementara di luar sana ada banyak orang yang menginginkannya” desisnya.
“Jadi?”
“Aku sudah mendapatkan sebuah kepastian. Sebentar lagi aku akan mempunyai restoran dan mengelolanya sendiri sampai uangnya menjadi tabungan untuk anakku lahir”
“Kau dapat uang dari mana hingga bisa membeli bangunan? Kau tahu kan kalau uang pajak bangunan, uang listrik, uang air, dan segala macamnya itu mahal” tanya Narisa khawatir dan menjelaskan konsekuensi dari keinginan Ela untuk membuka restoran.
“Aku sudah memiliki bangunannya, pekerjanya dan tinggal mengelola hasilnya” bangga Ela dengan mengedipkan mata kepada Narisa.
“Sebenarnya apa maksudmu Elasca?” Narisa mulai frustasi karena ia dan Ela sedang berpikir pada jalanan yang tak seiring.
“Aku sudah menemukan orang yang menghamiliku dan kami membuat kesepakatan”
“Kesepakatan apa?”
“Dia akan menikahiku kalau anak ini terbukti adalah anaknya dan jika tak ada hambatan lainnya, tapi dia memintaku untuk melayaninya selama menunggu menjadi istrinya. Jelas kan kalau aku tak mau hal seperti itu, hingga pada akhirnya aku menawarinya untuk mendapatkan keuntungan bersama”
“Kau menjual tubuhmu dan dia membayarnya?” duga Narisa tepat.
Ela mengangguk “Ya, dia membayarku dengan restoran itu dan aku akan memuaskannya kapanpun ia mau” jawab Ela santai seolah itu bukan masalah yang besar baginya.
Narisa memegang kepalanya dengan kasar dan menatap Ela dengan gemas. Ia ingin menjambak rambut Ela dan meghantamkannya ke dinding supaya wanita itu sadar akan kesepakatan bodoh itu. Bagaimana kalau pria itu menipunya? Bagaimana kalau pria itu hanya ingin memanfaatkan tubuh sahabatnya saja? Ia terlalu fokus memikirkan semua itu.
“Kau benar-benar gila La. Apa kau tidak berpikir kalau ia akan menipumu? Apa kau tidak berpikir kalau ini hanya caranya untuk memanfaatkanmu? Kau bahkan tidak mengenalnya sama sekali, tapi bisa mempercayainya begitu saja” omel Narisa.
“Aku sudah tahu kalau dia benar-benar orang kaya dan dia akan segera mengurus surat kepemilikan restoran itu. Aku jamin kalau dia bukan pembohong. Dia bahkan tidak tahu caranya berbohong” ujar Ela mengingat bahwa Adkey tak pernah memikirkan perasaannya saat berbicara.
Pria itu selalu mengungkapkan apapun yang ia mau dan pikirkan, itu sudah cukup membuktikan kalau Adkey bukan penipu seperti yang Narisa duga. Pria itu terlalu jujur untuk menjadi pembohong. Ia bahkan tak tahu caranya berbicara manis dan sedikit membuat orang lain senang atas kebohongannya.
“Lalu, kau yakin ingin menjual tubuhmu dengan cara itu?”
Ela mengangguk dan memegang kedua lengan Narisa untuk menghilangkan kekhawatiran itu “Kau tidak perlu memikirkan itu Nar, kau tahu sendiri kalau aku bukan wanita suci yang harus menjaga keperawananku lagi. Aku sudah pernah melakukan dengannya dan sekarang sedang mengandung anaknya, jadi tak ada salahnya kalau aku melakukan dengannya berulang kali” jelasnya.
Narisa menghela nafas kasar dan mengangguk “Baiklah, aku mengerti keputusanmu”
***
“Tumben kau pulang” desis Alan terkejut saat ia memasuki ruang makan dan menemukan Adkey sedang memeriksa apakah ada makanan yang tersisa di jam yang cukup larut seperti saat ini.
“Kau sendiri kenapa tak pulang-pulang ke rumahmu sendiri?” balasnya kepada kakak pertamanya itu.
“Aku sedang ingin di sini, lagi pula selagi kau dan Alva tak berada di sini dan membuat banyak keributan. Ibu tidak mungkin banyak mengomel padaku karena aku sudah menikah”
“Tapi belum mempunyai anak” Adkey mencebikkan bibirnya, lalu meneguk minumnya sejenak. Ia memutuskan untuk tak makan malam saja.
“Untuk saat ini, Ibu maupun Ayah masih belum mempermasalahkan itu, jadi menurutku tak masalah” balas Alan santai. Ia mengambil minum sebagai tujuan awalnya ke ruang makan, lalu meneguknya.
“Apa Alva belum juga kembali?’ tanya Adkey penasaran dengan keadaan kakak keduanya itu.
Alan mengangkat bahunya tak acuh “Kau bisa lihat sendiri, mana yang akan mengalah lebih dulu”
“Lagi pula, apa yang sebenarnya Ayah pikirkan hingga merencanakan hal sekonyol ini” herannya.
“Entahlah. Oh ya, mengenai itu, aku rasa mereka akan membahasnya besok karena aku sempat mendengar kalau mereka harus membahasnya denganmu juga”
“Untuk apa aku ikut?” tanya Adkey bingung.
Alan mengangkat bahunya lagi, lalu tanpa kata meninggalkan Adkey yang termenung mendengar ucapan Alan.
Karena memutuskan untuk tak makan malam, maka Adkey lebih memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tadinya ia ingin kembali ke rumah neneknya, tapi mengingat pertengkaran terakhir kali dengan adiknya membuat niatnya urung dan memutuskan menginap di rumah keluarganya.
Ia mengangkat ponselnya dan mengecek beberapa pemberitahuan yang muncul di layar kunci. Saat membuka aplikasi chat, Adkey teringat dengan nomor yang beberapa hari ini terasingkan karena tak pernah ia kirimi pesan. Ia tersenyum mengingat perjanjiannya siang tadi dan itu cukup menghibur hatinya yang sudah membutuhkan penghangat ranjang.
Elasca. Ia merapalkan nama itu dalam hatinya dan terkekeh geli dengan pemikiran matrealistis wanita itu yang memanfaatkan tubuh dan kehamilannya untuk mendapatkan uang dan perhatian Adkey.
Ia mengetik beberapa kata setelah membuka kolom chat dengan Ela dan mengirimkannya tanpa perlu berpikir panjang.
Adkey : Kapan aku bisa menikmati tubuhmu?
Tadi siang, Adkey sama sekali tak ingat untuk menanyakan itu. Sebagai pemain, ia tak mungkin bisa menahan diri lebih lama. Ini bahkan sudah menjadi rekor terlamanya untuk tak menyentuh wanita di atas ranjangnya.
Seteleh merasakan getar ponselnya, Adkey langsung membukanya dan menemukan nama Ela di sana.
Elasca : Kau bisa menentukan waktu yang kau inginkan
Adkey : Besok. Aku ingin besok
Elasca : Secepat itu? Aku masih hamil dua bulan lebih beberapa hari
Adkey mengernyit heran saat membaca balasan pesan dari Ela, hingga jarinya tergerak begitu saja untuk menanyakan maksud wanita itu mengatakan kehamilan padanya.
Adkey : Lalu apa masalahnya?
Ela : Dokter bilang untuk tidak melakukan hubungan intim sampai trimester pertama selesai. Atau, kalau kau tetap ingin melakukannya, bisa membuatnya jadi lebih pelan. Sebenarnya penganjuran yang baik adalah trimestes kedua
Adkey : Kau tidak sedang membohongiku kan?
Ela : Kau bisa menanyakannya pada dokter kalau tidak percaya
Adkey : Baiklah, besok kita mengecek kandunganmu ke dokter
Ela : Benarkah?
Adkey : Kenapa? Kau takut ketahuan berbohong?
Ela : Tidak. Aku hanya merasa kalau kita memang harus memeriksakannya. Tapi, untuk biaya periksanya, bukan aku yang menanggungnya kan?
Adkey mengernyit heran “Apa dia semiskin itu hingga mengkhawatirkan biaya periksanya?” gumamnya pada diri sendiri. Dengan banyak pemikiran yang memenuhi kepalanya, akhirnya ia malah melamun dan tak membalas pesan Ela.
***
“Selamat pagi” sapa Adkey setelah ia memasuki ruang makan dan menemukan keluarganya sudah berkumpul di sana, kecuali Alva yang entah di mana saat ini dan Eloy yang berada di rumah nenek mereka.
“Pagi” jawab Emma dan Alan.
Antonio yang sudah menyantap makanannya lebih dulu, berdeham cukup kuat sebelum akhirnya berbicara “Kau harus kembali ke Kanada” titahnya sambil menatap Adkey.
Adkey menunjuk dirinya sendiri “Aku?” tanyanya kepada sang ayah dan Antonio mengangguk.
“Kau lebih baik mengurus yang di sana dibandingkan di sini” jelas Antonio.
“Apa aku melakukan kesalahan sampai aku diusir?” tanya Adkey cukup menyadari pengusiran itu.
“Ad, kami tidak mengusirmu” jelas Emma.
Adkey mengangguk mengerti sambil menunjuk-nunjuk tangannya ke atas “Ah, aku lupa kalau seharusnya aku memang mengurus perusahaan cabang saja” ujarnya dengan kekehan geli.
“Ya. Perusahaan di sini biar Alan dan aku yang mengambil alih” jelas Antonio.
“Baiklah, aku akan mengurus keberangkatanku secepatnya. Tidak perlu mengkhawatirkanku” jelas Adkey. Ia cukup mengerti alasan ayahnya melakukan semua ini, guna melindungi perusahaan yang tak mampu ia pertanggungjawabkan. Mengurus perusahaan kecil saja ia masih tak mampu, apalagi perusahaan sebesar yang Alva kendalikan.
“Tidak perlu terburu-buru Ad” ujar ibunya cukup sedih.
“Justru kau harus segera kembali supaya ada penanggungjawab di sana” jelas ayahnya cepat, tanpa menghiraukan tatapan protes Emma.
“Tidak apa-apa Ibu, aku juga sudah cukup merindukan Kanada” jelas Adkey jujur. Ia memang merindukan Kanada karena selama ini juga ia besar di sana dan cukup asing dengan kota besar tempat Alva bertumbuh dengan baik.
Antonio menatap Adkey “Jangan menimbulkan masalah karena Alan tak mungkin bisa ke sana kemari untuk menyelesaikan semuanya, selagi Alva belum kembali”
***
Ela melirik jamnya berulang kali dan tak menemui tanda-tanda bahwa Adkey akan menepati ucapannya. Sepertinya pria itu sedang ada kesibukkan hingga tak sempat untuk mengiriminya pesan guna membatalkan janji mereka yang akan memeriksakan kandungannya. Emh, harusnya Ela mengerti bahwa Adkey cukup sibuk dengan banyak pekerjaannya.
“La, tidak jadi berangkat?” tanya Narisa saat masih mendapat Ela yang menunggu di rumah. Narisa baru saja kembali dari toko dan membiarkan pekerjanya untuk menjaga lebih dulu selagi ia tinggal.
Ela menghembuskan nafas kecil “Sepertinya dia ada kesibukan” jawabnya lemah.
“Jangan bersedih seperti itu. Kalian masih bisa memeriksanya lain waktu” saran Narisa.
“Baiklah. Lebih baik kau mandi sana” titah Ela.
“Iya, aku memang pulang untuk menyegarkan diri. Badanku terasa sangat bau keringat dan ini sangat tak nyaman. Oh ya, aku membawakan pizza untuk kita, lebih baik kau makan lebih dulu. Hitung-hitung memberikan keponakanku makanan yang enak sesekali”
“Terima kasih Narisa” syukur Ela. Ia beruntung atas kebaikan hati Narisa yang sangat perhatian padanya.
Ela menyalakan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Adkey. Rasanya ia masih butuh kepastian untuk menunggu atau tidak, dibandingkan kebingungan sendiri karena mengharapka kedatangan Adkey untuk mengantarkannya ke dokter kandungan.
To Adkey : Apakah kau sibuk sampai tidak jadi datang? Aku hanya ingin memastikan saja.
Sebelum sempat Ela menyentuh Pizza yang dibawa oleh Narisa, sebuah notifikasi yang membuat ponselnya bergetar jauh lebih menarik perhatian Ela hingga wanita itu melihat adanya balasan dari Adkey atas pesan-pesannya yang sudah ia kirimi.
From Adkey : Bisakah kita menunda hal itu?
To Akdey : Baiklah. Kau bisa mengatur waktunya sesukamu.
From Adkey : La, aku butuh seorang wanita saat ini.
Ela menatap pesan terakhir itu berulang kali. Apa ia bisa mengizinkan Adkey menggunakan dirinya sebelum ada jaminan yang pasti? Adkey bahkan belum mengurus kepemilikan restoran itu menjadi miliknya, jadi bisa saja ada perubahan rencana dan Adkey membatalkan niatnya untuk memberikan restoran milik pria itu.
To Adkey : Di mana kau saat ini?
From Adkey : Apartemen X
Ela memutuskan untuk mengunjungi alamat yang telah dikirim pria itu, meski cukup berat baginya untuk melakukan hal itu. Ia berpamitan pada Narisa sebentar, kemudian meninggalkan rumah dengan langkah yang agak berat.
***
Adkey memainkan game di ponselnya “Ah, sial, ini buruk” komentar pria itu terhadap layar canggihnya.
“Apa kau harus berada di sini hanya untuk bermain game saja?” dengkus Alva kesal.
“Aku butuh sedikit tempat yang cukup ramai untuk pelampiasan kekesalanku” jelas Adkey “Setidaknya, supaya aku tidak bunuh diri” tambahnya lagi.
“Kau tidak sekonyol itu untuk berani bunuh diri. Pergi lah Ad, aku paling benci jika orang lain yang menempati tempat tinggalku walau hanya beberapa detik saja”
“Al, sebentar lagi Ela akan datang. Setidaknya biarkan aku menunggu”
Alva menatap Adkey dengan selidik “Apa dia adalah salah satu jalangmu yang hamil itu?”
Adkey meringis kecil kemudian mengangguk “Aku tidak pernah berpikir akan menghamili seorang wanita”
“Kau yakin itu anakmu?” tanya Alva terasa jelas meragukan kehamilan itu sebagai hasil perbuatan Adkey.
“Tidak apa kalau itu bukan anakku. Ela sudah cukup menjadi alasan bahwa aku tertarik padanya untuk bisa melakukan hubungan intim hanya dengan satu wanita”
Alva mengangguk “Ya, setidaknya kau memang harus menghentikan kegiatan berganti pasangan setiap waktu”
“Bagaimana hubunganmu dengan calon kakak ipar?’ tanya Adkey penasaran.
“Entahlah, aku hanya merasa bahwa hubungan ini bukan hubungan orang dewasa pada umumnya”
“Kenapa? Apa kalian tidak melakukan hubungan intim?”
Alva mengangkat bahunya dengan ringisan kecil “Aku hanya bisa melakukannya di kamar mandi dengan tanganku sendiri” kekehnya.
“Ada alasan untuk semua itu” ujar Adkey sembari menepuk bahu kakak kembarnya.
“Ya, Hilda memiliki janji dengan ayahnya mengenai itu. Aku akan tahu kalau sudah menikah dengannya” jelas Alva “Oh ya, aku harus menemui atasanku sekarang. Dia ingin membahas pekerjaan malam ini”
“Baiklah, aku akan menjaga apartemenmu”
“Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan itu? Sebaiknya kau pulang”
“Aku akan di sini bersama Ela”
Alva memilih mengabaikan hal itu dan segera keluar dari apartemen kecilnya. Ia terkejut saat melihat Ela yang tersenyum canggung padanya, sedang berada di depan pintu dan hendak mengetuk.
“Al-va?” ujarnya ragu.
Alva tersenyum saat Ela berhasil membedakan dirinya dengan sang adik. Pria itu menatap penampilan Ela dari atas sampai ke bawan dan itu cukup membuat ketidaknyamanan untuk Ela.
“Hai La. Aku akan pergi sebentar, sementara Adkey ada di dalam” ujarnya sembari membuka pintu apartemennya untuk Ela masuk.
“Iya. Terima kasih” angguk Ela sembari menahan pintu begitu Alva menjauh darinya.
Ia masuk dan melihat keadaan apartemen yang cukup berantakan. Adkey sedang berbaring telungkup di atas ranjang dan sedang memainkan ponselnya dengan asyik.
“Adkey” serunya pelan.
Adkey menoleh dan terkejut menyadari keberadaan Ela. Ia segera bangkit dan melepaskan ponsel dari tangannya “Apa kau bertemu Alva dan dia membukakanmu pintu?” tanyanya.
“Iya” angguk Ela “Apa ini apartemen Alva?” tanyanya sembari melihat sekitarnya. Rasanya sangat tak mungkin jika keluarga Wikler yang mempunyai begitu banyak kekayaan, tapi Alva tinggal di apartemen sekecil ini.
Adkey menggelengkan kepalanya, lalu menopang tubuhnya dengan menahan tangannya di ranjang sambil memperhatikan cara Ela menatap tempat itu “Ini apartemen kami. Sebenarnya aku dan Alva adalah anak angkat keluarga Wikler, jadi kami sama sekali tidak memiliki kekayaan hingga harus tinggal di apartemen sekecil ini”
Ela menatap Adkey tak percaya “Lalu bagaimana tentang restoran itu? Apa aku tidak jadi memilikinya karena itu bukan milikmu?” tanyanya terus terang. Adkey menyembunyikan senyum sinisnya saat Ela mempertanyakan hal itu.
“Tidak, itu tetap milikmu. Itu adalah hasil kerja kerasku, tetapi aku tidak memiliki apapun lagi selain itu”
“Berarti kita tidak jadi memeriksakan keadaan kandunganku?” tanya Ela ragu.
“Kita akan memeriksakannya sebelum aku berangkat ke Kanada”
“Kau akan ke Kanada?”
“Iya” angguk Adkey.
“Untuk apa?”
“Ada banyak hal yang harus aku selesaikan di sana dan mungkin tidak kembali sampai beberapa bulan ke depan”
Ela menganggukkan kepalanya “Hati-hati dengan perjalananmu”