10

2229 Kata
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Ela saat mereka sudah berada di mobil setelah selesai memeriksakan kandungan Ela dan menebus vitamin ke apotek untuk membantu perkembangan nutrisi ibu dan janin. Adkey menoleh saat mereka terhenti karena lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah “Aku hanya merasa terlalu malas untuk ke Kanada” jawabnya lemah. Ia tak begitu bersemangat ke Kanada karena rasanya ia lebih kesepian saat di sana. Apalagi nenek Adkey yang di Kanada (Ibu dari Ayahnya) juga sudah tiada lagi sejak dua tahun lalu. “Apa yang akan kau lakukan di sana sampai menghabiskan waktu berbulan-bulan?” tanya Ela penasaran. Adkey memijat pelipisnya dengan senyum kecut “Karena sejak awal, aku memang tinggal di sana dan ini hanyalah kunjungan singkat” “Bukankah orang tuamu ada di sini?” tanya Ela heran. “Ya, mereka ada di sini dan ini memang tempat bagi mereka, bukan untukku” “Lalu, bagaimana caraku untuk memberikan tubuhku supaya restoranmu bisa menjadi milikku?” Jujur saja, Ela malu untuk menanyakan hal bodoh itu, tapi demi kelangsungan hidupnya dan calon bayi yang akan lahir dari perutnya, ia akan mengorbankan harga dirinya. Ia hanya berharap bahwa suatu saat nanti, anaknya tidak akan merasa malu karena memiliki ibu yang murahan seperti dirinya. Adkey menatap Ela begitu mobil yang ia kemudikan tiba di depan rumah wanita itu, kemudian mengusap dagunya sebagai pertanda bahwa ia mempertimbangkan jawaban akan pertanyaan Ela, lalu tersenyum miring dengan tatapan meneliti wanita itu “Bagaimana kalau kau ikut aku?” “Apa?” tanya Ela tak percaya. “Iya, kurasa itu adalah cara yang paling tepat supaya pertukaran kita setimbang” Ela menggelengkan kepalanya “Aku tidak bisa meninggalkan Narisa. Aku sudah banyak merepotkannya dan belum bisa membalas apa yang ia berikan padaku” “Siapa itu Narisa?” tanya Adkey dengan kening berkerut menunjukkan kebingungannya. “Dia teman serumahku dan pemiliki toko roti In Luv” “Ah, begitu. Ya sudah, berarti aku harus pergi sendiri” angguk Adkey pasrah. “Aku harus keluar” ujar Ela setelah menyadari dirinya sudah tiba di depan rumah. Ia merasa bersalah terhadap Adkey, tetapi akan lebih merasa bersalah jika dirinya meninggalkan Narisa yang sudah banyak membantunya. Ia tidak ingin menjadi kacang yang lupa kulitnya. Sudah cukup selama ini ia merepotkan Narisa dan saat ini adalah waktunya untuk membantu wanita itu menjaga toko roti, meski tetap tidak seberapa dari apa yang telah Narisa lakukan padanya. “Ela” Adkey menarik tangan wanita itu saat Ela akan membuka pintu mobilnya. Ela memutar tubuhnya dan menatap Adkey dengan bingung. Adkey merapatkan tubuhnya dan mengecup bibir Ela dengan tiba-tiba. Ela masih termangu, tetapi kemudian mampu mengendalikan diri hingga ia memejamkan mata dan membalas ciuman Adkey yang menggebu. Tangan pria itu terus mendesak tubuhnya agar mereka semakin rapat dan kepalanya terus bergerak miring ke kanan dan ke kiri untuk mengakses tiap ruang dalam mulut Ela. Setelah merasa kehilangan banyak oksigen, akhirnya keduanya saling menjauh dan Ela langsung menghirup banyak-banyak oksigen, sementara Adkey tersenyum kecil sambil menatap wajah Ela yang memerah. Ada rasa puas setelah meraup bibir itu, meskipun ada hasrat yang lebih menggebu untuk membawa Ela ke atas ranjangnya. Ela menatap Adkey “Hati-hati untuk keberangkatanmu” pesannya singkat. Adkey mengangguk singkat karena setelahnya Ela langsung membuka pintu mobil dan keluar untuk menuju rumahnya. *** “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Eloy ketika melihat Adkey berada di dalam kamarnya. Ia baru saja mandi dan menemukan Adkey berbaring telungkup di atas ranjangnya sambil memainkan ponselnya. Eloy langsung menarik ponselnya dari tangan Adkey dan menyembunyikan di balik punggungnya sembari menatap pria itu dengan tajam “Aku sudah dewasa, jadi tidak semua hal bisa kau periksa sesukamu” Adkey mengangguk sembari menatap Eloy dengan tatapan penuh arti “Kau pasti menyembunyikan hal m***m yang ada di ponselmu kan? Tidak apa-apa. Aku mengerti karena kau sudah dewasa” “Aku bukan gadis seperti itu” sanggah Eloy dengan cepat. Gadis itu segera meletakkan ponselnya di meja rias, lalu ia sendiri duduk di depan cermin dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Adkey berdiri dan segera merampas handuk dari tangan Eloy. Gadis itu langsung membulatkan matanya tajam, tetapi kemudian mulai tenang saat Adkey mendekat padanya dan menggantikan tugasnya mengelap rambut. “Aku minta maaf atas yang terjadi kemarin. Aku akan segera terbang ke Kanada” “Kenapa? Bukankah saat ini Ayah membutuhkanmu menjadi pengganti Alva untuk mengurus perusahaan?” tanya Eloy. “Kantor di Kanada lebih membutuhkanku” “Benarkah? Tapi kau baru beberapa minggu di sini” “Ini bukan masalah yang besar, tidak perlu memperpanjangnya. Aku akan kembali setelah urusan di sana selesai. Kau kembali lah ke rumah. Jangan hanya bermain seperti saat ini” “Iya, aku akan kembali setelah waktunya tepat. Aku tidak ingin terus dipaksakan untuk melakukan sesuatu” balas Eloy. “Bantu nenek selama kau ada di sini. Ingatannya semakin menurun dan dia tidak boleh pergi kemanapun sendirian” “Baiklah, akan kulakukan” “Boleh aku meminta tolong satu hal padamu?” Eloy hanya menanggapi dengan mengangkat sebelah alisnya dari cermin. “Jangan memberitahu Ayah ataupun Ibu, tentang Ela” “Apa mereka sudah mengetahuinya?” “Mereka masih mengetahui tentang kehamilannya, tetapi tidak dengan wajahnya” “Sepertinya bukan hal yang sulit untuk mereka mengetahui wajah Ela” ujar Eloy dengan wajah menyepelekan. Adkey mengangguk dengan lesu “Sayangnya mereka tidak pernah tertarik dengan apapun yang berkaitan denganku” tanggapnya cepat “Intinya, aku hanya ingin kau tidak membahas apapun mengenai wanita itu pada mereka” “Baiklah” angguk Eloy pasrah. *** Ini sudah sebulan sejak kepergian Adkey, Ela sama sekali tidak mendapatkan kabar apapun dari pria itu selain sekedar bertanya rutinitas yang dilakukan satu sama lain, sampai tadi, Ela merasa sangat terkejut dengan pertanyaan dari Adkey. Adkey : Apa pengacaraku sudah menghubungimu? Ela sama sekali tak mengetahui ada beberapa panggilan dan email yang singgah di ponselnya yang ternyata dari pengacara Adkey. Ia segera membukanya dan melihat foto berkas pemindahan kepemilikan restoran dan ajakan untuk bertemu secara langsung. Ela sampai mengigit bibirnya dengan keterkejutan yang tak bisa ia kendalikan karena rasa senang. Tanpa membalas pesan dari Adkey maupun pengacara pria itu, Ela menyerukan nama Narisa berulang kali dengan suara yang cukup nyaring dan membuat Narisa menggerutu karena panggilan itu. "Narisaaaaaa" teriak Ela bersemangat. Narisa dengan helaan nafas kecil, keluar dari kamarnya dan menghampiri Ela yang duduk di atas karpet sambil menonton televisi, tapi kini sedang fokus pada ponselnya. "Ada apa? Kau kesetanan?" Ela terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya "Aku akan segera memiliki restoran. Ada pengacara yang menghubungi ku dan mengatakan akan menemui ku untuk menandatangani berkas kepemilikan restoran itu" "Berarti calon suamimu serius tentang itu?" tanya Narisa sumringah. "Dia bukan calon suamiku Narisa, meskipun aku berharap dia akan menjadi suamiku nantinya" protes Ela memperbaiki fakta tentang ucapan Narisa yang menyebutkan Adkey adalah calon suaminya. "Ah, berarti berkas yang sibuk kau isi atas permintaannya itu adalah berkas untuk memindahkan kepemilikan restoran. Woah, sebentar lagi kau akan jadi orang kaya" "Tidak secepat itu, Narisa. Astaga. Kau selalu saja berlebihan seperti ini" desis Ela sambil menggelengkan kepalanya. "Nanti kalau aku ada uang, akan kubuka toko roti In Luv di samping restoranmu, supaya rotiku bisa jadi hidangan selingan atau oleh-oleh untuk dibawa pulang" ujar Narisa setelah berpikir banyak hal. "Dasar" kekeh Ela sambil menggelengkan kepala, “Memangnya siapa yang akan membeli kue setelah kekenyangan” "Oh ya, tapi bukankah dia akan melakukan itu denganmu jika kau menerima restorannya?" tanya Narisa. Ela mengangguk "Menurutmu, tidak mungkin kan kalau dia memberiku secara gratis?" "Ya tentu saja tidak. Sepertinya dia akan menggunakan mu untuk waktu yang lama melihat bagaimana dia sampai memberikan restoran" "Kurasa seperti itu. Tapi, beberapa hari belakangan ini, dia tidak menelponku. Aku jadi sedikit khawatir" Narisa menatap Ela dengan hela nafas kasar "La, apa dia pria yang baik?" Ela tampak berpikir untuk sejenak, karena tak bisa langsung memberikan jawaban. Ia kemudian menatap Narisa dan mengangguk "Aku rasa seperti itu. Atau lebih tepatnya, aku berharap seperti itu" "Aku harap yang terbaik untukmu dan keponakanku" Ela sempat terpirkir dengan apa yang Adkey pernah tawarkan dulu, tetapi akhirnya dia menggelengkan kepala karena ragu dengan pemikirannya sendiri. "Kau kenapa?" tanya Narisa heran. "Sebenarnya Adkey pernah mengajakku ke Kanada, tapi aku menolaknya karena aku akan meninggalkanmu jika begitu." "Oh astaga, Ela, kau berpikir aku ini anak kecil?" desis Narisa sambil berkacak pinggang. "Tidak sama sekali, tetapi rasanya berlebihan jika aku meninggalkanmu untuk seseorang yang baru ku kenal." "Kalau dia calon suamimu, aku tidak masalah. Lagi pula kita juga akan berpisah pada akhirnya karena menikah." jelas Narisa tak ambil pusing. Memang akhirnya akan seperti itu kan. "Ya, aku rasa memang begitu, tetapi rasanya juga akan asing jika aku hanya tinggal dengan Adkey." "Ya sudahlah, itu tergantung keputusanmu." *** Di sisi lain, Adkey sedang memandangi anak kecil yang kebetulan ia lihat berbelanja dengan ibunya, sementara ia juga mengisi trolinya untuk keperluan bulanan. Ia butuh makanan sehat untuk dirinya sendiri karena tak ada yang akan khawatir padanya jika ia sampai sakit. Melihat ibu dan anak itu membuatnya teringat dengan Ela dan kandungan wanita itu. Terkadang Adkey masih bertanya dalam hatinya, apakah benar bahwa Ela memang mengandung anaknya? Ia memutuskan untuk mempercepat kegiatan berbelanjanya, lalu segera keluar begitu kasir menghitung barang yang ia beli dan memasukkannya ke dalam kantong belanjaan. Ia menghampiri mobilnya dan masuk begitu meletakkan belanjaan di kursi belakang. Saat mengecek ponsel, Adkey mengernyit melihat pesan dari Ela. Wanita itu belum pernah mengirim chat lebih dulu padanya, selalu ia yang menyapa lebih dulu, baru wanita itu akan ikut dalam percakapan singkat mereka. Entah itu rasa gengsi atau bukan, tetapi menurut Adkey, wanita itu mungkin memang malu untuk menghubunginya lebih dulu. Ia membuka pesan itu dan melihat beberapa kalimat yang membuatnya tersenyum tipis. Elasca : Apa kau baik-baik saja? Aku hanya merasa resah tanpa tahu alasannya, jadi aku menanyakan itu padamu. Oh ya, kemarin aku memeriksakan kandungan. Aku tidak tahu apakah kau penasaran tentang anak ini atau tidak, tapi aku ingin memberitahukan kabarnya. Dokter bilang dia sangat sehat dan aktif. Aku sudah bisa merasakan tendangannya dan itu sedikit mengganggu tidurku saat malam. Sebenarnya aku ragu itu tendangan atau bukan, intinya aku sudah merasakan adanya mahluk hidup di perutku. Tanpa membalas pesan itu, Adkey meletakkan ponselnya dan mengemudikan mobilnya untuk melintasi jalanan yang cukup lengang. Begitu tiba di rumah, ia masuk dan langsung membongkar barang belanjaannya. Ia melihat mie instan dan langsung mengeluarkannya untuk menjadi santapannya siang ini. Perutnya begitu lapar dan hanya mie yang bisa dibuat dengan mudah. Tidak mudah hidup sendiri dengan ketidaktahuan dalam hal memasak, tetapi Adkey mengerti bahwa makanan instan memang tersedia karena orang-orang sepertinya. Ia bukan tipe orang yang pemilih dalam makanan, mau sehat atau tidak, asalkan rasanya enak, pasti ia makan. Tak berselang lama ia menyelesaikan makannya, sebuah panggilan masuk dan membuatnya menghentikan aktivitas yang sedang ia lakukan, lalu mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari temannya. “Hm” jawabnya singkat. “Aku sedang di Kanada dan tentu saja aku membutuhkan teman di sini, jadi datanglah sebelum kujemput” “Oh ayolah Drew, itu menjijikkan. Kalau orang lain mendengar hal itu, mereka mungkin akan berpikir kalau kau sedang mengajak wanitamu” Andrew tertawa renyah, “Kau kan tahu kalau aku menyukaimu, jadi tidak perlu berpura-pura seperti itu” “Kau di mana?” “Tempat biasa Adkey Deo Wikler. Kenapa hal seperti itu masih dipertanyakan. Hanya club ini yang aman untuk kau datangi, bukan?” “Baiklah, aku akan berangkat” pasrah Adkey meski rasanya ia sedang malas untuk keluar dari apartemen. *** Andrew menyambut kedatangan Adkey dengan senyum miring sambil mengangkat gelasnya yang terisi dengan alkohol. Sejak tadi, ia sudah meneguk minumnya sambil memperhatikan arah pintu masuk untuk menyambut Adkey. Adkey mengambil posisi duduk di samping temannya itu dan ikut memesan alkohol untuknya. “Apa hanya di Kanada saja kau bisa sebebas ini?” tanya Adkey kesal. Setiap kali Andrew ke Kanada, pasti akan mengganggunya hanya untuk ditemani minum saja. Pria itu selalu saja mabuk-mabukkan setiap di Kanada, tetapi saat di Eropa tidak seperti itu. Andrew meneguk kembali isi gelasnya lalu mengecap dalam-dalam rasa yang mengalir ke tenggorokannya dan menghela nafas, “Kau tahu kan kalau aku bisa mati di tangan Ayahku kalau sampai ia tahu aku pemabuk seperti ini dan nantinya akan merusak nama baiknya” “Jadi, sekarang masalah apa lagi? Masih wanita?” tanya Adkey penasaran. Andrew sudah bercerita mengenai wanita yang bekerja di restorannya sebanyak dua kali. Andrew menatap Adkey selidik, kemudian tertawa bangga karena semudah itu Adkey menebak kegalauannya, “Aku masih belum bisa mengutarakan perasaan ini padanya dan itu membuat tekanan tersendiri. Aku mulai frustasi dengan diriku sendiri.” “Sebenarnya sudah sejauh apa hubunganmu dengannya? Jangan bilang kalau kalian bahkan belum pernah berciuman?” duga Adkey dengan tatapan mengejek. Andrew berdecak kesal, “Aku bahkan sudah membawanya ke atas ranjang, hanya saja hubungan kami masih tidak jelas dan sepertinya dia tidak menyukaiku” jawabnya dengan mengangkat kedua bahunya tak yakin. “Wow, aku masih tidak menduga kalau kau akhirnya melakukan hubungan sejauh itu” kekeh Adkey dengan seringai bangga. Selama ini ia tahu kalau Andrew sangat bersih dari wanita-wanita yang rela mengangkangkan kaki padanya. “Itu hal yang biasa, tidak perlu berlebihan” “Ngomong-ngomong soal itu, aku masih belum mengetahui siapa nama wanita itu” “Kau tidak perlu mengetahuinya karena kau tidak mengenalnya” tanggap Andrew yakin. Adkey itu sangat pemilih dalam mengenal orang lain. “Lama kelamaan aku pasti akan tahu juga kan siapa wanita itu. Kalau kau menikah dengannya, aku pasti datang dan mengetahui namanya. Itu sama saja sekarang ataupun nanti” “Baiklah” angguk Andrew pasrah, lalu menatap Adkey dengan gerakan s*****l lidah yang menjilat bibirnya saat mengingat wanita yang ia sukai, “Namanya Ela.” Senyum yang tadinya terbit di wajah Adkey karena melihat wajah berbinar Andrew, akhirnya melayang entah kemana karena mendengar nama yang sangat tidak asing baginya. Ia bahkan sudah mengetahui dan terbiasa dengan nama itu belakangan ini. “Namanya Ela?” tanyanya sekali lagi untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar. Andrew memutar bola matanya malas, “Apa kau mulai tuli di usia dini? Nama gadis itu adalah Ela, lebih tepatnya Elasca Janner”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN