Maniak

1223 Kata

             Untuk saat itu, ia lupa puja-puji Wahyu bahwa dirinya menarik. Kini dengan Slamet yang jelas mengajaknya kencan, perlukah ia mengubah pandangannya selama ini?              Tangan Slamet yang tadi dicubit kini menyodorkan uang. Nabila menatap uang itu dan kemudian menatap Slamet. Pria itu mengangguk.              “Iya, ini buat kamu.”              “Bener nih?”              Dengan ekspresif, setelah melihat kanan kiri dan yakin tak ada yang melihat, Slamet menyisip uang ke belahan d**a Nabila melalui V-neck blus yang dikenakan.              “Jangan pulang cepet. Jam 5.30 aku tunggu di tangga turun.”              Saat Slamet pergi, Nabila merasa jantungnya berdetak lebih keras. Tidak berlebihankah apa yang ia lakukan? Tidak terlalu cepatkah apa yang ia kerjakan? Ia tidak bo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN