Bab 1 - Broken Winter
Thalia baru saja mendapat kabar melalui email pribadinya mengenai jadwal penerbangan menuju tempat kerja barunya.
"Damn! Akhirnya aku akan meninggalkan tempat toxic ini." Thalia menyunggingkan senyum kemenangan.
Gadis itu melonjak senang. Betapa tidak, ia sudah menunggu momen ini sejak enam bulan lalu. Saat lingkungan kerja terasa seperti di kandang binatang buas.
Wael Ibrahim, lelaki yang menjadi alasan Thalia dirundung habis-habisan oleh lingkungan kerjanya. Lelaki yang setahun terakhir menjalin hubungan dengannya, ternyata menyimpan rahasia besar. Pada Musim panas, lelaki itu ijin cuti. Tanpa Thalia duga, ternyata si brengseek itu tidak hanya cuti kerja, lelaki itu diam-diam melakukan pernikahan.
Thalia mengetahui kenyataan itu setelah melihat postingan di media sosial dan menjadi perbincangan hangat di kalangan staff. Semua mata tertuju padanya, seolah menghakimi bahwa selama ini ia hanya dijadikan tumbal pelampiasan lelaki Arab itu.
Tanpa basa-basi Thalia segera berkirim pesan pada Wael.
[Kenapa kamu tidak jujur, Wael? Kalau kamu bukan sekedar cuti, tetapi ada hal besar yang kamu tutupi.]
[Thalia, ini semua terjadi begitu saja, tanpa terencana. Ibuku yang memintaku segera melangsungkan pernikahan. Percayalah aku sayang kamu.]
[Tanpa terencana? Apakah sebelum kita dekat, kamu sudah terlebih dulu bertunangan?]
[Thalia, aku hanya tidak ingin kehilanganmu.]
[Kamu egois!]
[Itu karena aku sayang kamu, Thalia.]
[Apakah setelah kebohongan ini, aku masih harus mempercayaimu?]
[Aku tidak akan meninggalkanmu, bertahanlah denganku.]
[Itu tidak mungkin. Kamu sudah menjadi suami orang lain. We're done.]
[Kamu yakin bisa hidup tenang tanpa aku? Tidak ada yang mempercayaimu selain aku, Thalia]
"Apa katanya? Tidak akan meninggalkanku? Dan memintaku bertahan? Pathetic liar! Masih ingin bermain-main di belakang istrinya! Terserah tapi tidak denganku!"
Lihat! Betapa egois dan manipulatif lelaki itu, bukan?
Pesan terakhir Wael, sama sekali tidak Thalia pedulikan. Kali ini ia tidak ingin lagi hanyut dalam pusaran manipulatifnya, ketika sering kali Thalia memergoki lelaki itu menggoda staff perempuan lain.
Saat bersama lelaki itu, Thalia sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk berteman dengan siapa pun, terutama staff laki-laki. Bahkan dengan staff perempuan pun dibatasi. Dengan sikap dan kata-katanya yang selalu berhasil merasuki pikiran Thalia, Wael mengintimidasi secara halus tentang ketakutan, tentang kehilangan yang menyakitkan.
Sekarang terjadi juga, kan!
Hufft! Betapa bodoohnya selama itu Thalia tidak tahu jika Wael sudah bertunangan. Dan sejak kabar pernikahan itu, setiap kali Thalia masuk kerja, sindiran pedas kerap dilontarkan beberapa karyawan lain. Semua seperti memberikan penghakiman, ada yang menilainya sok alim karena selama ini selalu membatasi diri dengan yang lain, ternyata sebermasalah itu. Prasangka buruk selalu melekat padanya setiap kali ia beramah tamah, terutama dengan teman sekerja laki-laki. Mereka menilai betapa Thalia selalu mencari celah untuk berhubungan dengan seseorang yang baru. Tidak ada satupun yang memahami posisi Thalia jika dirinya hanyalah korban love bombing seorang Wael.
Thalia mantap untuk menyudahi semuanya dan move on! Meski masih dalam keadaan shock, hancur, sakit hati. Semua rasa bercampur aduk membuat pikirannya carut marut.
Lebih gila lagi, setelah selesai cuti lelaki itu kembali dengan membawa serta sang istri dan ternyata sudah resmi menjadi staff baru di tempat yang sama. Kurang brengseek apa lelaki egois itu, alih-alih memberikan perlindungan kepada Thalia dari kecaman publik yang tak paham situasi Thalia, ia malah dengan sengaja menyiram bensin yang membuat gadis itu makin "dibakar" habis-habisan. Hanya karena tidak bisa mencegah Thalia memutuskan hubungan dengannya.
Sontak seluruh karyawan heboh, makin mencemooh Thalia. Langit negeri emir serasa menghantam dan mengenggelamkannya ke dasar bumi. Dinding asrama yang berslogan "Home away from home" menjadi begitu mencekam dan tidak lagi nyaman disebut rumah. Setiap lorong yang dilaluinya seperti menyuarakan pekikan tawa ejekan. Setiap pandangan seperti memiliki tombol sinis otomatis jika berpapasan dengannya.
Tekanan mentalnya kian merosot, ia tidak mungkin bertahan terus bekerja di tempat yang sudah menjadi racun. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu, dan mati konyol.
Bahkan di bulan terakhir ia bekerja setelah melayangkan surat pengunduran diri, tim sekerjanya berencana melakukan outing. Acara rutin setiap periode tertentu sebagai reward yang diberikan untuk staff. Namun, Thalia tidak dilibatkan sama sekali perihal tersebut. Ia tak keberatan, toh, sebentar lagi ia tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang toxic ini.
Tepat enam bulan, setelah dua musim berlalu berlalu, di awal musim dingin Thalia mendapat kabar baik itu. Ia tak peduli di mana pun, apa pun posisinya, yang penting ia harus pindah dari tempat itu. For good!
Benar-benar awal musim dingin yang hancur dengan kepingan yang sulit diurai.
Barang-barangnya sudah dikemas rapi, tanpa tersisa satupun. Surat clearance pengunduran diri sudah diselesaikan. Tidak ada acara farewell party dari tim, tidak ada satupun yang melihatnya pergi. Tapi tidak apa-apa, hari ini adalah hari terakhir ia menyaksikan matahari pagi di negeri emir, dan mantap melangkah menuju cerita baru.
***
"Erbil, I am coming!"
Di sudut Kota Erbil, Penerbangan Internasional yang Thalia tumpangi baru saja mendarat. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tanah Kurdistan. Hidden gem yang tidak banyak diketahui orang. Negara ini kecil, terletak di sebelah utara Iraq. Berbatasan langsung dengan Turki dan Syria. Tak heran cuacanya sangat sejuk apalagi di musim dingin seperti sekarang ini.
Gadis itu langsung menuju tempat penjemputan yang sudah diarahkan pihak hotel saat interview. Ia melekatkan pandangan ke luar jendela, masih tampak padang rumput luas yang mendominasi di sisi kiri dan kanan. Serbuk-serbuk salju meninggalkan jejak di ujung pohon dan di ruas jalan. Sepertinya hujan salju turun tadi malam. Pemandangan yang sangat berbeda dengan tempat sebelumnya.
Mobil yang mereka tumpangi tiba di sebuah keramaian. Di area ini sudah mulai tampak gedung menjulang tinggi, cluster perumahan dan pertokoan. Ruas jalan yang begitu lebar, taman tepi jalan yang indah, bangunan dan tatanan kota lebih mirip dengan kota di Eropa. Beberapa nama toko dan perkantoran ditulis dalam Bahasa Italia, Turki dan Kurdish, Bahasa warga Erbil.
Setelah lima belas menit, mobil itu berhenti di depan sebuah gedung yang menyerupai komplek perumahan.
"Nona, welcome to Elegant Hill Vila. ini tempat singgahmu. Segera urus daftar hadir dan menyerahkan dokumen yang diperlukan ke kantor Miss Erindi." Pak Abu, sang driver mengantar Thalia ke Vila yang akan menjadi tempat singgah barunya di sini.
"Baik. Terima kasih."
Gegas Thalia menemui Miss Erindi--Kepala bagian karyawan yang mengurus Vila--untuk menyerahkan dokumen dan mengisi data karyawan, serta menerima nomer ponsel baru.
Langkahnya riang, ia serasa menemukan dunia baru tanpa ada yang akan menghakimi kehidupannya di sini.
Duk!
Tiba-tiba kepalanya membentur sesuatu. Setelah sadar, ia ternyata menabrak seseorang berperawakan tinggi kurus, wajahnya tirus, menatap sejurus ke arahnya yang lebih pendek.
"Maaf." Suara Thalia hampir tak terdengar.
Tak langsung menjawab, pemilik tubuh kurus itu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Thalia sempat menengadah membalas tatapan si mata cokelat kekuningan.
"Lain kali hati-hati." Hanya itu yang keluar dari mulut lelaki berwajah tirus itu.
Suaranya datar tanpa ekspresi. Thalia hanya bengong dan membiarkan lelaki itu berlalu.
"Semoga ini bukan awal yang buruk." Thalia bergumam seraya melanjutkan langkah menuju kamar. Ia sangat trauma dengan tatapan datar dan terkesan dingin. Teringat kembali perlakuan rekan kerja di tempat sebelumnya.
"Sepertinya itu isyarat sekaligus peringatan. Ya, aku harus hati-hati. Jangan sampai mengulangi kesalahan serupa."
[Miss Diandra, besok datang ke hotel jam sembilan pagi untuk pengenalan kerja devisi. Langsung bertemu supervisor Sonny. Jika ada kendala silakan menghubungi nomor Sonny +96466565719xx. Terima kasih. Lewis - Room service Manager]
Thalia membaca pesan dari manager barunya di sini.
[Baik, Pak Lewis.]
Setelah membalas pesan sang manager, tangannya menggeser layar ponsel dan membuka aplikasi biru. Matanya mengembun, dadanya kembali sesak, ketika dilihatnya postingan baru dari akun Wael yang memajang foto dengan timnya di tempat lama sedang melakukan outing. Tanpa dirinya.
"Ternyata mereka selalu menunda jadwal, rupanya menunggu aku pergi dulu." Thalia tersenyum kecut. Ia benar-benar sadar jika keberadaannya memang tidak pernah dipertimbangkan selama bekerja dengan tim sialan itu.
Lalu dengan satu 'klik' ia menutup semua cerita tentang masa lalu yang buruk itu.
Unfriend! Block!
[Halo, good afternoon. This is your supervisor. Besok akan ada pengenalan dan orientasi. Usahakan datang tepat waktu. Terima kasih.]
Pikirannya yang tengah terpusat pada aplikasi biru, kini beralih pada pesan yang baru saja diterimanya dari nomor tak dikenal, +96466585910xx. Tentu saja belum ada daftar nama, karena ia baru di sini.
[Baik. Dengan supervisor Sonny, ya? Tadi Pak Lewis sudah memberitahu.]
Detik kemudian ia tersadar, setelah meneliti kembali nomor tersebut. Ternyata tidak sama dengan nomor Sonny yang diberikan Pak Lewis. Pesan itu tidak berbalas dan membiarkan Thalia menggantung pikirannya.
"We'll see tomorrow." Thalia terlalu lelah, ingin segera rebah.
***