Arga membelalak tak percaya mendengar penuturan Ryan yang mengatakan kalau Zaya telah pergi dari kota itu. Mustahil Zaya bisa melakukan itu
“Tidak mungkin dia pergi, Ryan. Zaya hanya punya kak Nila dan dia tidak punya keluarga lain. Mana mungkin dia bisa pergi jauh. Dia pasti bersembunyi untuk menenangkan diri.”
Ryan menggelengkan kepalanya, berusaha meyakinkan Arga kalau semua yang ia katakan itu benar. “Tidak, Ga. Aku sudah ke rumah kakaknya dan kakaknya mengatakan kalau Zaya pergi ke luar kota yang bahkan kak Nila tidak tahu di mana.”
“Itu pasti hanya kebohongan kak Nila saja.” Arga yakin akan dugaannya. Sebagai kakak, Nila pasti sakit hati pada Ryan sehingga mengatakan sebuah dusta agar sahabatnya tak bisa bersua dengan Zaya lagi.
Ryan menggeleng pelan. Hatinya semakin hancur kala mengetahui fakta kalau ia telah kehilangan Zaya selamanya. “Itu benar, Ga Sudah beberapa hari ini aku memantau di sekitar rumah kak Nila dan memang tidak ada Zaya di sana. Kak Nila tidak berbohong. Zaya memang telah pergi tak tahu ke mana.”
“Astaga, kenapa jadi rumit begini, sih?” Arga jadi ikut frustrasi. Terlihat pria itu menyugar rambutnya. Kegelisahan pun tercetak jelas di wajahnya.
“Aku juga tidak menyangka kalau aku bisa melakukan kebodohan dan aku juga tidak pernah menduga kalau Zaya bisa begitu nekat pergi meninggalkan kota kelahirannya gara-gara sakit hati padaku.”
Ryan tak memedulikan lagi tampilannya di depan Arga. Tak malu atau pun gengsi, Ryan mengadu, meratapi kebodohannya di depan sahabatnya. Tampilannya pun saat ini kacau balau.
Rambutnya bahkan tak rapi lagi karena sejak pagi, ia tak henti-hentinya menyugar rambut serta memijat kepalanya yang sakit dan pusing menduga-duga keberadaan Zaya saat ini.
“Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Rasanya aku tidak mau pulang karena semua kenangan indah, semua perhatian, cinta kasih, serta bayang-bayang wajah cantik Zaya selalu berkelibat di setiap sudut rumah yang kami tempati bersama selama dua tahun. Aku tidak sanggup lagi pulang ke sana.”
Baru seminggu pasca ia menyadari kesalahannya pada Zaya, batinnya benar-benar tersiksa tinggal di rumah megahnya. Suara lembut Zaya terus terngiang-ngiang di telinganya, terutama saat ia mulai memejamkan matanya.
Bantal serta selimut yang Zaya pakai selama ini pun ikut menyiksanya. Tak terhitung lagi berapa tetes air mata yang jatuh berderai saat Ryan naik ke atas ranjang kosong yang selama ini selalu diisi tawa hangat Zaya sesaat mereka bermesraan sebelum sama-sama terlelap ke alam mimpi. Kini, ia tak sanggup lagi berada di sana dan memutuskan untuk pergi.
“Jadi kamu tinggal di mana?” Arga memandangi wajah Ryan yang telah basah karena air mata dengan tatapan heran.
“Aku tinggal di apartemen milikku ketika aku masih berkuliah. Aku tinggal di sana karena tidak ada kenangan Zaya sama sekali di sana. Aku tidak sanggup pulang ke rumah itu lagi. Aku akan pulang ke sana aku sudah bisa bertemu dengan Zaya kembali,” pungkas Ryan penuh penekanan.
Arga prihatin akan nasib yang menimpa sahabatnya. “Apa dia tidak meninggalkan jejak sama sekali?”
Ryan menyeka air matanya. Kepalanya menggeleng lemah. Rasa putus asa menggelayuti jiwanya. “Tidak ada. Aku sudah berusaha mencarinya, tapi tidak bisa menemukannya. Bahkan aku tidak bisa melacak ponselnya.”
Kali ini Arga menghela napas panjang. Ia sontak memikirkan nasib wanita cantik itu. Tanpa sadar, bibirnya berujar. “Kasihan sekali Zaya.”
Mendengar suara lirih Arga, Ryan cukup terkejut. Ia menyeka semua air matanya lalu menepuk lengan sahabatnya. Hatinya kesal. “Eh, aku juga kasihan. Apa kamu tidak kasihan padaku?”
“Aku lebih kasihan pada Zaya. Dia menahan sakit hati karena membayangkan kamu sudah bersenang-senang dengan Lena saat ini. Dia melarikan diri ke luar kota pasti penuh dengan penderitaan.”
Arga mencoba menyelami perasaan Zaya, seorang istri penghibur patah hati sang suami yang kembali CLBK dengan sang kekasih hati. Hati Zaya pasti hancur tak bersisa dan merasa diperalat saja selama ini oleh Ryan. Kalau sudah begini, sepertinya kesempatan untuk bersama kembali itu kecil.
Terbukti, Zaya tak sanggup berada di kota yang sama dengan Ryan lagi. Sekarang PR-nya, ke mana harus mencari Zaya, sedang luar kota itu luas.
“Karena itu aku ingin segera menemukannya. Aku ingin minta maaf dan mengemis ampunan padanya, Ga,” seru Ryan penuh tekad.
Mata Arga menatap sayu sahabatnya yang terlihat sangat kacau. Ia iba pada nasib Ryan, tapi juga merasa kalau ini memang yang terbaik untuk keduanya. “Sepertinya memang sudah terlambat, Ryan. Lepaskanlah Zaya dari hidupmu! Biarkan dia mencari kehidupan yang baru!”
Faktanya, Zaya telah pergi membawa luka hati. Sebaiknya memang Ryan melepaskannya selamanya dan membiarkan luka hati Zaya sembuh dengan sendirinya.
Ryan tak rela sahabatnya berkata demikian. Ia butuh dukungan untuk menemukan Zaya kembali. Sambil menangis pilu, ia memegangi tangan Arga. “Aku tidak ingin dia menemukan penggantiku. Aku ingin meminta maaf setulus-tulusnya dan ingin kembali rujuk dengannya. Tolong aku, Arga!”
Arga tersenyum tipis, merasa sangat miris. Ia tahu persis Zaya pasti akan cepat bertemu pengganti Ryan. “Itu tidak mungkin. Wanita cantik seperti dia akan mudah menemukan jodoh. Itu sudah pasti, Ryan. Kita harus berpikir realistis.”
“Tidak ... itu tidak boleh terjadi. Tolong kerahkan anak buah kita untuk mencarinya! Aku ingin bertemu lagi dengan Zaya,” pekik Ryan frustrasi.
Ia tak rela, sungguh ia tak ingin Zaya menemukan suami yang lain. Pria itu ingin kembali menjadi suami Zaya dan kali ini untuk selamanya.
Sebenarnya, berat mengatakan ini, tapi sepertinya Ryan harus berpikir menggunakan logika dan mulai harus menata hidupnya yang baru, tanpa Zaya.
“Itu akan sulit dilakukan, Ryan. Luar kota itu luas. Bagaimana mungkin kita menemukannya? Be realistic, okey! Tepat ketika dia meninggalkan kamu dan berada di luar kota, saat itu juga jodoh lain sudah menantinya. Kalian juga sudah resmi bercerai. Dia berhak untuk mendapatkan kebahagiaan lain. Lebih baik kamu fokus pada pekerjaan. Banyak tender yang akan masuk bulan ini dan berdoalah kamu mendapatkan jodoh lain sebaik Zaya.”
Ryan kembali menjerit frustrasi. “Aku tidak akan bisa menemukan wanita lain sebaik Zaya. Aku baru menyadari kalau dia adalah wanita sempurna yang tak akan pernah bisa aku temukan di mana pun lagi.”
“Sudah terlambat,” pungkas Arga tegas. Pria itu menatap tajam Ryan lalu membuka pikirannya kalau tak ada yang bisa dilakukan lagi sekarang. Dengan sangat terpaksa Arga mengatakan kenyataan yang cukup kejam itu karena sepertinya jodoh Ryan dan Zaya telah benar-benar berakhir. “Wanita sempurna yang pernah hidup bersamamu selama dua tahun itu pasti akan menemukan jodoh lain di belahan bumi yang tidak kita pijak.”
“Jangan katakan itu! Jangan memupus harapanku!” jerit Ryan lagi.
Lagi, Arga memandangi wajah Ryan dengan tatapan serius. Pria itu menegaskan sebuah logika yang mau tak mau harus diterima oleh sang sahabat. “Aku serius, Ryan. Jangan menyesali pilihan yang sudah kamu ambil karena kesempatan tidak akan datang dua kali! Berusahalah melupakan mantan istri kamu dan doakan dia menemukan lelaki lain yang bisa membuatnya bahagia yang tidak akan memberikan duka seperti yang kamu berikan padanya!”
Bersambung ...