Kesedihan Yang Mendalam

1155 Kata
Kehidupan Ryan berubah suram. Tak ada lagi tawa riang dalam hidupnya. Sosoknya berubah menjadi pria kaku dan dingin yang hanya gila bekerja. Sesekali dalam dua tahun semenjak perceraian, mantan kekasihnya datang ke kantor, merayu dan mengajaknya kembali merajut kasih. Namun, permintaan wanita berambut ikal itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Ryan. Selain jijik dengan w************n seperti Lena, pikiran pria tampan itu hanya tertuju pada Zaya. Tak sedetik pun bayangan mantan istrinya itu lepas dari benaknya, menyisakan rasa perih yang teramat dalam. “Sudahlah, Ryan! Lupakan Zaya! Mau sampai kapan kamu begini terus?” Arga yang sejak tadi berdiri di depan pintu ruangan sahabatnya dengan memegang beberapa dokumen di tangannya, merasa iba melihat Ryan memandangi foto pernikahannya dengan Zaya di meja kerjanya. Sudah dua tahun foto itu berada di sana dan di saat senggang Ryan selalu memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Pria yang menjabat sebagai sekretaris Ryan itu mendekat lalu meletakkan beberapa dokumen yang harus ditandatangani. “Sebaiknya singkirkan foto ini agar kamu bisa segera move on dan melupakan mantan istri kamu. Buang semua kenangan tentangnya! Dia pasti sudah bahagia di luar kota.” Ryan tak akan menuruti kata-kata sang sekretaris karena hanya foto pernikahan itu yang ia punya. Selama hidup bersama, Ryan bahkan tak pernah mengajak Zaya berfoto dan jalan-jalan. Fokusnya selain bekerja adalah memikirkan Lena. Sepulangnya ke rumah, Zaya menjadi sasaran empuk pelampiasannya akan patah hatinya pada cinta pertamanya itu. Tiap kali Ryan ngat semua kekejamannya yang menjadikan Zaya hanya sebagai alat pemuas plus pelipur lara saja, tiap kali pula hatinya teriris perih. Penyesalan sungguh menyiksa batinnya. Andai diberi kesempatan bertemu lagi, akan ia kejar wanitanya itu sampai dapat. Kali ini, ia akan mengejar cinta wanita itu, meratukannya dan tak akan menyakitinya lagi. Namun, kapan kiranya ia akan bersua lagi? Kenapa hingga dua tahun, Ryan tak kunjung bisa menemukannya? “Jangan paksa aku untuk melupakannya, Ga! Aku tak bisa. Aku harus menemukannya walau harus menunggu lima hingga sepuluh tahun lagi.” “Apa kamu sudah gila? Usia kamu bertambah tua. Sekarang saja kamu sudah berusia 29 tahun. Tahun depan sudah genap 30 tahun. Saatnya kamu cari istri baru yang bisa menemani keseharianmu. Aku yakin Zaya juga sudah menikah sekarang. Jadi kamu menunggu hal yang sia-sia.” Arga sedih melihat sang sahabat terus larut dalam kesedihan dan penyesalan sedang ia tahu kemungkinan untuk bertemu Zaya kembali itu tipis. Andai bertemu lagi, Zaya juga pasti sudah mendapatkan suami baru. Wanita secantik dan selembut Zaya, tak mungkin tidak jadi rebutan laki-laki di luar sana. “Jangan pupus harapanku, Ga! Aku yakin Zaya pasti masih memikirkanku.” Ryan kembali meneteskan air mata. Bagaimana mungkin ia bisa melepas Zaya begitu saja. Tak akan ada wanita yang bisa menggantikan sosok mantan istrinya yang terbilang sempurna. Perasaan bersalah dan penyesalan juga terus menggelayuti hatinya. Kenapa ia sampai menyia-nyiakan Zaya saat masih bersama? Kenapa ia tega menyakiti wanita sebaik Zaya? Ryan berusaha meyakinkan diri kalau Tuhan tak akan mungkin sekejam itu padanya. Ia sudah mengakui kesalahannya dan mengutuk semua perlakuannya pada Zaya. Tak mungkin Tuhan tidak memberi kesempatan untuk menebus semua dosanya pada wanita yang membuatnya nyaris gila tersebut. “Aku harus melakukannya karena ini sudah berjalan dua tahun lebih. Kamu terus menyiksa dirimu kalau begini caranya, Ryan. Cara terbaik menebus kesalahanmu itu adalah dengan tidak mengulanginya pada orang lain. Temukanlah wanita baru dan cintai dia sepenuh hati!” Dengan sangat terpaksa, Arga harus memberi masukan yang cukup keras untuk menyadarkan sahabatnya agar tidak terus-terusan larut dalam perasaan bersalah. Walaupun Arga akui kalau Ryan sangat hebat karena dalam keadaan patah hati pun, sahabatnya itu masih bisa tetap menjalankan perusahaan dengan baik. Ryan melampiaskan dan mengalihkan rasa sedihnya dengan gila bekerja. Namun, sebagai seorang sahabat, Arga tetap saja ikut tersiksa melihat Ryan hancur pelan-pelan dari dalam. Sebagai sahabat satu-satunya yang dekat dengannya, Arga sungguh tidak tega. Apalagi Ryan sekarang tak mempunyai siapa-siapa lagi. Sang papa telah meninggal setelah setahun pernikahannya dengan Zaya. Karena itu pula, Arga selalu mendorong sahabatnya untuk segera menikah lagi. “Aku tak bisa mencintai wanita lain lagi. Asal kamu tahu, rasa cinta yang aku rasakan pada Zaya jauh lebih besar dibanding perasaan yang kurasakan pada Lena. Aku terlalu bodoh baru menyadarinya sekarang. Aku harus menemukan Zaya biar bagaimana pun caranya.” Ryan teguh dengan pendiriannya. Ia memiliki keyakinan akan bertemu lagi dengan Zaya. Andai tidak bertemu pun, ia tetap tak akan mencari penggantinya karena ia tak akan pernah bisa mencintai wanita lain selain mantan istrinya tersebut. Ryan lebih memilih hidup sendirian sampai mati andai ia tak bisa mendapatkan Zaya kembali dalam pelukannya. “Kamu tak akan mungkin menemukannya? Luar kota itu luas. Kita bahkan tak tahu di kota mana Zaya berada. Buka pikiranmu, Ryan! Yang kamu rasakan pada Zaya itu bukanlah cinta. Semua rasa yang menyiksamu selama dua tahun itu hanyalah rasa bersalah. Kamu melakukan kesalahan dengan membuang Zaya begitu saja demi wanita masa lalumu. Itulah yang menyiksamu, Ryan. Sadarlah, bangkit dari keterpurukan dan bukalah hubungan dengan sosok yang baru! Arga hanya ingin melihat sahabatnya kembali seperti dulu. Sungguh, ia tak sanggup lagi rasanya melihat air mata yang selalu menetes dari mata sahabat karibnya itu lagi. “Tidak, semua dugaan kamu tidak benar. Aku sangat yakin mencintai mantan istriku. Aku selalu merindukannya, Ga. Tiap malam sebelum tidur, hanya wajah Zaya yang menari di pelupuk mata. Setiap aku bangun tidur, aku mendengar suaranya membangunkanku dan memintaku mandi lalu sarapan. Aku juga teringat saat dia memijat bahuku saat aku pulang kemalaman. Aku—” Ryan tak sanggup melanjutkan perkataannya karena air matanya telah tumpah ruah membasahi pipi. Dua tahun berpisah, bahkan ia sampai pindah ke apartemen, tak sedikit pun membuatnya melupakan setiap kenangan bersama Zaya. Nyatanya, pindah rumah pun, bayangan Zaya terus mengikutinya. Artinya, bukan hanya karena rumah itu saja, faktanya Zaya telah hidup dalam hatinya sehingga ke mana pun ia berada, bayangannya tak bisa lepas dari ingatan. Ryan berusaha mengatur emosinya lalu melanjutkan perkataannya. “Apa kamu tahu betapa kerasnya aku berdoa agar Zaya tak menemukan lelaki lain? Aku tak sanggup membayangkan dia menikah dengan pria lain. Aku tak rela wanita sebaik dia dimiliki orang lain. Apa itu tak cukup membuktikan kalau aku mencintainya?” ujar Ryan menatap serius Arga, berniat meyakinkan sang sahabat kalau yang ia rasakan itu bukan hanya rasa bersalah saja. “Aku hanya terlambat menyadari perasaanku padanya. Itu yang aku sesali, Arga.” Pria berpenampilan kelimis itu tak bisa berkata-kata lagi. Arga berusaha memosisikan dirinya sebagai Ryan dan ia tahu bagaimana menderitanya sahabatnya itu. “Baiklah, sejak kapan aku bisa memaksa kamu, Ryan.” Arga mengalah dan akan membiarkan Ryan melakukan apa saja yang menurutnya tepat. Pria itu menyodorkan dokumen yang ia bawa lalu meminta Ryan segera menandatanganinya. “Sign dulu dokumen ini! Agenda kita siang nanti meeting di sebuah kafe dengan calon klien baru kita. Satu jam lagi kita harus pergi ke lokasi pembangunan resort.” Ryan menghapus air mata yang sejak tadi membasahi pipi lalu menandatangani dokumen di depannya, mengesampingkan masalah pribadinya untuk sementara. “Kita berangkat ke lokasi sekarang saja, Arga.” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN