Didalam kegelapan malam, Inggit terus berlari. Sesekali, dia akan menengok ke belakang hanya untuk memastikan bahwa dirinya sudah menciptakan jarak sejauh mungkin dari si pembunuh yang mengejarnya. Di tangan pembunuh itu terdapat sebuah pisau yang sangat menakutkan. Inggit ingin berteriak keras, agar semua orang bisa mendengar jeritan frustasinya, namun suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Gadis itu mulai kehabisan napas. Kakinya sudah tidak mampu digunakan untuk berlari lebih jauh lagi. Tadi, dia terpisah dari Kiki dan Gina saat akan mencari dua panitia yang dikabarkan menghilang. Lalu, ketika dia ingin mencari kedua rekannya tersebut, dia malah bertemu dengan si pembunuh berdarah dingin itu. Pembunuh yang sudah menghabisi dua nyawa mahasiswa di kampusnya. Pembunuh yang kemungkinan be

