MENTARI DI HATI LANGIT 9.
**
Langit berupaya keras untuk bekerja. Dia berkonsentrasi agar pekerjaannya tersebut selesai di kantor dan atasan tidak marah kepadanya. Langit bisa bernapas lega karena jam pekerjaan kantor sudah selesai dan dia telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Pulang, Bro."
Raka menghampiri Langit ke ruang kerjanya karena dia tahu Langit sedang bersedih. Saat ini banyak sekali pikiran yang mengganggunya sebab istrinya belum ditemukan.
"Ya. Sayangnya aku tidak pulang lagi ke rumah orang tuaku. Aku sudah tidak tinggal di sana lagi. Sekarang aku ngontrak rumah sendiri."
Langit menjeda. Dia teringat akan Mentari yang selalu ingin mengontrak rumah dan mereka berpisah tidak tinggal serumah lagi dengan ibu mertua dan para iparnya. Tapi Langit selalu tidak mau karena dia mendengarkan perkataan ibunya agar tidak meninggalkan rumah.
Sepenuhnya ibulah yang menguasai Langit. Langit mau tidak mau mendengarkan perkataan wanita paruh baya yang menjadi Ibunya. Akibat itulah Langit menjadi tidak terlalu memperhatikan Mentari. Hingga perceraian ini sepenuhnya kesalahan dia sebenarnya.
"Kamu kabur dari rumah keluargamu? Apa ibumu nggak marah? Bukankah setahu aku kamu itu patuh sekali kepada dia. Kenapa kamu mau meninggalkan rumah itu setelah istrimu pergi? Maaf, Langit. Aku bukan mau mencampuri urusanmu. Pasti istrimu sudah ingin sekali mengontrak rumah tapi kamu tidak pernah mengabulkanmu."
Langit menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan oleh Raka ada benarnya. Selama ini Mentari selalu saja merengek ingin mengontrak rumah. Langit tetap mendengarkan perkataan ibu dan adik-adiknya.
"Ya. Semua ini benar adanya. Apa yang kamu katakan benar. Kamu memang bisa melihat kesalahan pada diriku. Aku yang bersalah dalam hal ini dan aku yang membuat Mentari pergi dariku. Aku hanya bisa bersyukur kalau jasad yang ditemukan itu bukan jasad istri. Walaupun masih menjadi pertanyaan Kenapa istriku memberikan pakaiannya kepada wanita yang jasadnya ditemukan itu. Sebelum aku berbicara lebih lanjut kepadanya. Dia sudah mematikan panggilan teleponnya. Aku tidak bisa bertanya kepadanya."
Raka kemudian menepuk pundak Langit. Dia berkali-kali memberikan saran kepada temannya itu untuk berubah. Semoga saja dengan kejadian ini Langit menjadi pria dewasa yang tidak lagi selalu mendengarkan perkataan ibunya. Bila itu tidak baik untuk istrinya karena sejatinya istri dan ibu mertua tidak bisa disatukan. Sebaiknya dipisah bila tidak ingin terjadi pertengkaran. Apalagi orang tua dari Langit Itu orang tua toxic yang selalu ingin mengatur rumah tangga anaknya. Mengatur kehidupan pribadi anaknya. Dan menganggap mereka terikat selalu kepadanya.
"Aku berharap dari kejadian ini kamu bisa belajar, Bro. Untuk menjadi lelaki yang lebih bertanggung jawab dan kamu bersyukur kalau istrimu masih hidup berarti kamu punya kesempatan untuk memperbaiki dirimu."
"Terima kasih, Raka. Karena kamu sudah mau mendengarkan ceritaku. Cerita yang begitu banyak pilunya karena kebodohan dan kesalahanku sendiri."
Kemudian langit dan Raka meninggalkan kantor mereka. Mereka sudah selesai bekerja meskipun Langit merasa tidak bersemangat. Namun, dia harus menjalani hari-hari ini dengan tegar. Harus mencari cara bagaimana menemukan istrinya.
Langit kemudian menaiki mobilnya. Biasanya dia akan pulang terlambat ketika Mentari masih di rumah dulu. Langit biasanya pulang jam delapan malam ataupun jam sembilan malam karena dia biasa bekerja lembur ataupun makan bersama teman-temannya. Bahkan menghadiri acara bersama teman-temannya tanpa menghiraukan istrinya.
Beberapa tahun menikah dengan Mentari. Mereka memang tidak memiliki anak. Hal itulah yang membuat Langit mencari kebahagiaannya sendiri di luar sana tanpa peduli perasaan istrinya. Sekarang seakan-akan dia menyesal setelah Tari tiada barulah terasa sakitnya.
Langit kemudian menyandarkan dirinya di jok mobil. Dia upaya agar rasa sakit hati yang dirasakannya sirna sejenak meskipun dia tidak bisa menghilangkannya karena selalu terbayang kesalahan yang dilakukannya kepada Mentari.
Gawai Langit bergetar. Beberapa kali sudah bergetar dan itu panggilan dari ibunya. Langit memang sengaja mengabaikannya karena dia merasa bosan ibunya selalu saja menyuruhnya untuk kembali ke rumah. Namun, Langit tidak mau melakukannya. Tidak mau lagi termakan rayuan ibunya yang seakan menipu dirinya.
Akhirnya dengan berat hati lelaki itu kemudian mengangkat gawainya juga karena dari tadi sudah bergetar. Langit menghela napas panjang. Sepertinya dia harus bersikap tegas kepada ibunya. Dia harus menunjukkan kalau dia itu adalah pemimpin dan tidak bisa diatur Ibu lagi.
Jika masalah uang. Baiklah, langit akan memberikannya kepada ibunya dengan cara terbaik seperti yang selama ini dilakukannya. Tetapi dia juga punya istri yang tidak bisa diabaikan. Istri yang membutuhkan nafkah darinya.
Apalagi ibunya adalah seorang pensiunan yang memiliki gaji tetap ketika ayahnya sudah tiada. Namun, tetap saja kurang karena begitu banyak acara-acara sosialita yang dilakukan oleh ibunya sehingga membuat dia selalu merasa kekurangan.
"Assalamualaikum," kata Langit.
"Waalaikumsalam, Mas. Ini Mira."
Mira adiknya yang mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa Mira Kenapa menghubungi Mas?"
"Mas. Sekarang kamu tinggal di mana pulanglah mas karena Ibu merindukanmu. Dia juga selalu kepikiran Tentang dirimu. Dia menyebut-nyebut namamu. Ibu benar-benar merindukanmu dan aku merasa kasihan melihatnya."
"Aku harus mencari Mentari karena aku berdosa kepadanya. Aku sudah mengusirnya. Padahal seharusnya dia masih tinggal di rumah. Perempuan yang diceraikan masih boleh tinggal di rumah suami selama 3 bulan sampai masa iddahnya berakhir. Aku malah mengusirnya dan membiarkan dia pergi. Dalam hal ini aku sudah berdosa terhadapnya. Aku minta kamu pengertian kepada aku, Mira."
"Aduh, Mas. Kamu ini ngomong apa sih. Lagian aku dulu waktu cerai sama suami aku juga nggak ada begitu-begituan."
Mira malah membela dirinya. Dia merasa abangnya itu sudah terlalu mendramatisir. Padahal hanya berpisah dengan Mentari saja dia juga bisa mendapatkan banyak wanita yang lebih baik dari Mentari. Tidak perlu memikirkan perempuan mandul tersebut.
"Kamu harus lebih banyak belajar agama, Mira. Kamu harus pergi ke majelis-majelis agama dan mendengarkan ceramah-ceramah agama supaya hati kamu itu lebih dilembutkan. Aku tahu kalian membohongi aku selama ini. Ketika Mentari keluar dari rumah. Rumah bagaikan kapal pecah. Lagian Ibu juga memberikan obat ketidaksuburan untuk Mentari. Dia mandul karena kalian dan kalian masih terus mengatakannya. Ingat apa yang kalian lakukan itu bisa berbalik ke diri kalian juga."
"Udahlah, Mas. Pusing aku mendengarkan ucapanmu. Kamu dari kemarin membela Mentari terus. Apa nggak ada lagi yang bisa menarik perhatianmu selain Mentari dan mencari keberadaannya. Ibu sedang membutuhkanmu. Dia sakit sedang dirawat di Rumah Sakit jadi kamu harus datang segera. Ibu menyuruhku untuk menghubungimu. Jadi kamu selesai bekerja datang segera ke rumah."
"Ke rumah? Kata kamu ibu masuk Rumah Sakit."
"Iya, udah pulang ke Rumah. Lagian ibu nggak betah di Rumah Sakit. Nggak ada yang jaga. Udahlah kamu nggak usah basa-basi lagi, Mas. Sekarang kamu datang aja karena Ibu ingin membicarakan sesuatu pada kamu. Dia akan marah kalau kamu nggak datang."
Panggilan dari Mira dimatikan. Langit menghela nafas panjang. Mira selalu tidak pernah sopan dengan orang yang lebih tua. Mungkin Langit harus mentatar adiknya itu agar sikapnya jauh lebih sopan dan tidak meremehkan orang lain. Langit harus datang untuk menjumpai Ibunya dan memberitahu lagi kepada ibunya agar merelakan dirinya ngontrak di Rumah Sendiri tanpa harus berada di rumah mereka, yang membuat Langit sangat stress berada di sana.