MENTARI DI HATI LANGIT 10.
**
Karena desakan dari Mira dan Ibu. Langit terpaksa pulang juga. Dia akan melihat ibunya sesuai kemauan Mira. Tetapi langit meyakinkan dirinya sesuai dengan perkataan meraka kalau dia tidak akan terlalu mendengarkan ucapan ibunya bila ucapan itu membuat dia pusing saja.
Sampai sekarang langit juga belum mendapatkan kabar dari Mentari. Kini dia harus menghadapi persoalan lagi. Ibunya seperti anak kecil minta hal yang tidak-tidak tetapi langit harus tetap pada pendirian.
Langit mengajukan mobilnya itu membelah jalan raya untuk sampai ke rumah ibunya. Setelah sampai di rumah sang ibu langit memarkirkan mobilnya itu rumah yang terlihat kokoh dengan cat berwarna hijau bercampur pink. Rumah mereka memang benar-benar mewah tetapi dibalik kemewaan rumah tersebut langit terasa sedih karena Tari dulu diperlakukan tidak adil.
"Assalamualaikum, Bu."
Langit masuk ke rumah. Dia berjalan perlahan untuk melihat ibunya. Beberapa saat setelah mengucapkan salam terdengar derap langkah kaki dari kedua adiknya. Mereka melangkah cepat Mira dan juga Intan. Kedua adiknya segera menghampiri Langit.
"Mas Langit, akhirnya pulang juga. ibu sangat khawatir. Setelah pergi kamu jadi agak kurusan, Mas."
Langit hanya tersenyum nyetir menanggapi ucapan Intan dia tidak menggubris. Langit kemudian berlalu untuk melihat ibunya. Apakah benar yang dikatakan oleh adiknya kalau ibunya itu sakit parah tetapi mengapa harus keluar dari rumah sakit. Apakah hanya berbohong? Jika sakit yang kondisinya lumayan parah seharusnya ibunya dirawat di rumah sakit saja.
Ketika masuk ke dalam kamar tersebut. Sang ibu terlihat terbaring di atas tempat tidurnya. Rumah mereka begitu berantakan. Langit mengela nafas panjang. Kenapa lah kedua saudaranya ini tidak pernah berubah?
Bukan hanya itu kamar Ibu benar-benar kotor dan tidak pernah dibersihkan selama Mentari tak ada. Jika ada Mentari, maka kamar Ibu pasti sangat rapi namun ketika Mentari tidak ada rumah ini menjadi berantakan dan kotor sekali. Alangkah Langit bersedih melihat pengorbanan besar dari istrinya untuk melayani keluarganya.
Langit benar-benar merasa bersalah kepada istrinya itu bagaimana cara dia untuk menebus kesalahannya sekarang. Mentari saja sudah tidak tahu keberadaannya di mana. Lalu sudah mencari istrinya kemarin. Namun, istrinya belum juga ditemukan.
"Bagaimana kabar Ibu? Apakah ibu sakit?" tanya Langit melihat sang Ibu berbaring lemah.
"Iya, sakitnya sangat menderita ketika kamu pergi. Kenapa kamu harus pergi meninggalkan ibu?"
"Aku harus melakukannya agar aku bisa berumah tangga dengan aman, nyaman Bu. Aku sangat mencintai Mentari jadi izinkan aku untuk keluar dari rumah ini dan membangun keluarga mandiri jangan halang-halangi, Bu."
"Mentari dan mentari kamu selalu mengingat nama itu Apakah ibu dan adik-adikmu tidak berarti lagi. Sudah berapa kali Ibu mengatakan kepadamu kalau istri hanya orang lain, Nak. Istri bukanlah bagian dari keluarga kita dan Mentari hanya orang lain yang kamu ambil. Sudah seharusnya kamu menomorsatukan Ibu. Tidak perlu kamu terlalu ambil pusing dengan Mentari. Apalagi sekarang kalian bercerai. Tentu saja dia akan terus menjadi orang lain untukmu."
Ibu menyambung perkataan Langit dengan sangat yakin. Apalagi dia mengatakannya secara menggebu-gebu. Langit sudah begitu tahu dengan watak ibunya pasti dia hanya berpura-pura saja agar langit mendengarkannya dan datang kemari.
"Benar yang dikatakan Ibu Mas kalau Mentari itu hanya orang lain yang tidak sengaja kamu pungut. Dia harus tinggal di rumah ini." Mira justru menyambung.
"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Pantas saja kamu diceraikan oleh suamimu. Kamu punya watak yang tidak bagus terhadap ibu mertuamu dan sekarang kamu harus membesarkan anakmu sendiri tanpa bantuan suami yang peduli padamu. Apakah kamu begitu senang diperlakukan tidak baik oleh suamimu?"
Mira terdiam ketika langit mengatakan itu kepadanya. Apa yang dikatakan Langit itu benar. Dia sakit hati kepada sang suami yang berselingkuh apalagi Ibu mertuanya yang cerewet sekali ketika berada di rumah.
"Kamu, Mas. Kenapa berkata seperti itu?"
"Apa yang aku katakan adalah benar. Makanya kamu jangan suka menyakiti hati orang lain. Aku nggak suka mendengarnya. Mulai sekarang aku tidak ingin kalian menjadi duri dalam Rumah tanggaku karena aku sangat mencintai Mentari."
"Langit. Mentari itu sudah mati dan sekarang kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari dia kalau kamu tidak mau menikah dengan Vivian maka kamu bisa menikah dengan orang lain yang jauh lebih cantik daripada Mentari."
Ibu menyambung perkataan dari Langit. Langit menjadi gundah gulana. Kenapa orang tuanya dan juga adik-adiknya tidak pernah berubah. Apa yang akan Langit lakukan untuk mereka bisa menerima pernikahannya dengan Mentari?
"Jadi Ibu sebenarnya tidak sakit, 'kan? Apa yang menyebabkan Ibu menyuruhku datang ke sini. Apa Ibu inginkan lagi dariku. Bukankah sudah kukatakan Aku ingin mandiri. Aku ingin tinggal sendiri dan mengurus Rumah tanggaku sendiri sampai aku menemukan Mentari."
Langit hendak pergi dari kamar ibunya itu karena merasa kesal dengan sikap dari keluarganya. Jadi hanya karena ini Ibunya menyuruhnya datang untuk selalu menjodohkannya dengan perempuan lain yang Langit sendiri tidak bisa mencintai orang lain karena merasa bersalah dengan Mentari.
Semakin sang istri pergi semakin Langit mencintai istrinya. Dia ingin Mentari kembali lagi padanya langit akan meminta maaf dan berjanji untuk menjadi suami yang setia kepada istrinya.
"Langit, Jangan pergi, Nak. Ibu mohon padamu. Ibu mohon padamu pertimbangkanlah lagi untuk melihat calon istri yang Ibu berikan untukmu. Ibu yakin dia akan menjadi orang yang terbaik untukmu karena orang tuanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Ibu minta maaf jika kamu tidak berkenan menikah dengan Vivian karena bentuk tubuhnya mungkin tidak kamu sukai. Tetapi lihatlah dulu calon istri yang akan Ibu pilihkan untukmu."
Langit menghentakkan tangan ibunya. Dia sudah merasa kesel. Bukankah tadi dia mengatakan tidak akan mau menikah lagi dengan perempuan pilihan ibunya tetapi Ibunya tetap memaksanya.
Tanpa berkata apa-apa lagi Langit langsung pergi begitu saja dari ibunya dan keluarganya. Dia sudah tidak peduli lagi apa yang mereka katakan bahkan saat itu ibunya memanggil-manggil dia dengan suara yang cukup keras. Tapi langit mengabaikannya.
Apa yang dilakukan Langit tentu saja dikejar oleh kedua adiknya. Mira dan Intan tidak ingin abangnya itu pergi dari rumah. Mereka tetap ingin merasakan kenyamanan yang diberikan oleh Langit.
"Mas Kenapa kamu begitu kasar dengan ibu? Padahal ibu sudah sangat baik padamu hendak memberikan calon istri yang terbaik untukmu agar kamu bisa melupakan Mentari. Kamu juga sudah menceraikan Mentari dan mungkin kalian memang tidak cocok."
"Diam kamu, Mira. Perkataanku barusan padamu justru tidak sama sekali merasuk dalam hatimu tetapi kamu tetap menyalahkan Mentari. Padahal seharusnya disalahkan adalah dirimu sendiri dan juga kalian semua yang ada di sini. Sampai Mentari belum ditemukan aku tidak bisa menerima perempuan lain jika pun dia dalam keadaan tidak selamat maka aku ingin melihat jasadnya. Melihat sendiri mentari yang selama ini sudah sangat menderita tinggal di sini."
Langit kemudian melajukan mobilnya tidak menggaris lagi permintaan dari kedua adiknya itu. Gawai langit bergetar matanya membola karena ada panggilan dari Halim mungkin ada kabar dari Mentari sehingga membuat Langit bersemangat untuk menerima panggilan dari Abang iparnya itu. Mungkinkah Mentari sudah ditemukan?