6. Aku Keluar

1132 Kata
Mentari Dihati langit6 "Bu, aku sepertinya tidak bisa membantumu. Ibu pikirkanlah sendiri cara menghadapi masalah Ibu, jangan korbankan orang lain seperti ini," ucapku dengan wajah datar. Ibu seketika menjadi gusar, dia kebingungan bagaimana cara membayar hutang yang banyak. Aku sama sekali gak habis pikir, bagaimana Ibu bisa se-egois ini. "Langit, tega sekali kamu bersikap seperti itu sama Ibu. Jahat sekali kamu, kamu mau rumah ini disita Bank. Ini cuma peninggalan Ayahmu!" kata Ibu sedikit membentak. Hatiku mencelos kepermukaan. "Sebelum Ibu berhutang harusnya Ibu pikirkan bagaimana membayar dikemudian hari. Bukankah Ibu tahu sendiri kalau rumah ini peninggalan Ayah. Mengapa Ibu menjadikan rumah ini sebagai tebusan bila gak bisa membayar hutang!" suaraku meninggi, Ibu mulai melow. "Huhuhu ..." kali ini dia histeris dan menangis. Namun, air matanya seperti kepura-puraan buatku. "Udahlah, Bu. Jangan korbankan aku buat kepentingan Ibu. Aku sudah memberi apa yang Ibu mau. Sekarang mataku sudah terbuka lebar. Aku ingin bahagia, Bu. Aku mau bahagia, dan kebahagiaan ku bersama Tari." "Jangan kamu sebut namanya lagi. Ibu benci sama dia, sekarang kamu gak patuh lagi sama Ibu karena perempuan mandul itu." Ibu tak senang, dia kembali menyalahkan Tari. "Aku gak habis pikir, Bu. Mengapa Ibu salahkan Tari. Mengapa Ibu memberi dia obat supaya dia tidak subur? Tega sekali Ibu bersikap seperti itu sama dia. Bu, maafkan aku. Sebaiknya aku keluar saja dari rumah ini. Aku sudah capek sekali menuruti segala mau Ibu," kataku beranjak berniat menuju lemari, Ibu terhenyak begitupun dengan kedua adikku. "Mas, apa maksudmu?" tanya Mira. "Kau tak dengar, aku lebih baik pergi saja. Mengapa ini tidak kulakukan sejak dulu. Aku bertahan bersama Tari disini, namun ternyata dia diperlakukan semena-mena." "Kenapa kamu jadi nyalahkan Ibu, Ibu sama sekali gak terima diginiin, Langit. Ibu butuh kamu. Kenapa kamu jadi durhaka sama Ibu?!" Ibu berupaya menahan ku, tapi tekad ku sudah bulat, Ibu dan adik-adikku selama ini sudah sangat sering dimanja seperti ini. Sekarang giliran mereka selesaikan masalahnya sendiri. "Bu, tentu saja. Ibu tahu berdosa besar memisahkan istri dari suami dan sekarang aku sedang dalam dosa karena membiarkan Tari luntang lantung entah dimana. Aku gak ngerti bagaimana lagi membahagiakan Ibu jika Ibu masih sebut aku durhaka. Sayangilah anak sepenuh hati, Bu. Jangan seperti ini. Ibu pikir orang tua gak berdosa bersikap semaunya terhadap anak. Maafkan aku, Bu. Tetapi sikap Ibu sudah diluar batas," ucapku sambil memasukkan pakaianku kedalam tas beserta barang berhargaku. Saat aku hendak mengambil kasar pakaianku. Tak sengaja aku melihat sebuah buku. Mataku membola dan secara cepat ku simpan. Beberapa daster lusuh Tari juga kubawa untuk pengobat rinduku sudah berbuat aniaya padanya. Daster lusuh yang aku cium saat merindukannya. "Jangan pergi, Langit. Bagaimana hutang Ibu bila kamu lepas tangan seperti itu!" Ibu histeris. "Bu, belajarlah dari kesalahan kalau bukan hanya kita yang mau didengarkan. Cobalah sekali dengarkan keluh kesah orang lain. Bagaimana selama ini Tari Ibu perlakukan secara tidak baik. Bukalah Nurani, Ibu," ucapku melihatnya yang sudah menangis meraung. "Tari, Tari dan Tari. Ya sudah pergi sana kalau kamu lebih pilih dia dari Ibu!" akhirnya Ibu kalap. "Maafkan aku, Bu. Aku tidak pilih siapapun dan Tari juga udah pergi entah dimana. Kuharap Ibu paham perasaanku." Aku berlalu dengan tas di tanganku dan ransel yang kupakai. Diujung pintu Mira dan Intan mengejar saat aku hendak masuk kedalam mobil. "Mas, bagaimana nasib ku bila kamu pergi. Nasib Bian anakku, bagaimana?" kata Mira dengan helaan napas dan tangisnya karena selama ini akulah yang membiayai dia dan mengabaikan Tari. "Pernah kamu berpikir, bagaimana nasib Tari. Aku biayai kamu. Namun, mengapa kalian terus ngiangkan kalau Tari hanya orang lain. Aku merasa berdosa kalau istri itu bukanlah orang lain. Dia belahan jiwaku, yang diciptakan Allah untuk jadi pasanganku. Namun aku sudah menyianyiakannya. Maaf, Mira selama ini aku terus memberimu dan anakmu uang. Kau harus tegar dan mulailah usaha," ucapku membuka mobilku dan hendak pergi. "Mas, uangnya ... Anu ... Habis. Mas," katanya menghentikan langkahku tanpa dosa. "Mas, kuliahku juga bagaimana. Aku gak bisa dong kalau gak ada Mas Langit," ucap Intan pula menimpali. Dia tahun ini masuk kuliah dan semakin membuat aku gusar. Mengapa aku seperti dimanfaatkan. "Kalian sudah dewasa dan harus selesaikan masalah sendiri. Jangan menjadi beban buat siapapun. Selama ini aku selalu memanjakan kalian dan sekarang berpikirlah dewasa," kataku secepatnya masuk ke mobil dan melajukan nya. Aku tahu mereka kesal bukan main sekarang. Namun, aku merasa bagai sapi perah. Berapapun uang yang kuberi habis tak bersisa padahal Ibu, Mira dan Intan setiap bulan menerima lebih dari 15 juta. Sementara Tari, aku mengabaikannya. Untuk memenuhi keinginan Ibu nya yang juga cerewet dia rela bekerja banting tulang di toko Jeng Farah. Maafkan aku Tari. ** "Ada yang mau berbicara sama Pak Langit," kata karyawan kantor memberi tahuku. Pas sekali sedang jam istirahat. Aku mengernyitkan dahi ku. "Terima kasih, saya kesana sebentar," ucapku berlalu hendak menemui orang yang mencari ku. Aku berjalan ke lobby dan sampai di sana kulihat wajah ditekuk dari Halim, abang ipar ku. Aku mendesah karena dia pasti bertanya perihal Tari yang sampai sekarang belum bisa kutemukan. "Aku mau bicara dan penting," katanya menatap tajam sorot mataku. . . Kami tiba disebuah tempat, tempat yang cukup nyaman buatku dan Bang Halim buat berbicara. "Mana adikku, Langit? Apa usahamu untuk mencarinya? Apa!" katanya dengan garang padaku. "Maaf, Bang. Aku sudah berusaha. Aku juga gak tahu. Maafkan aku." Dia geram dan secara cepat mengambil kerah bajuku. Kali ini dia memukul ku. Wajahku terasa nyeri di hantam oleh Bang Halim. Namun, aku tak membalas karena aku tahu aku yang salah. "Kau tahu, pukulan ini tak akan bisa mengembalikannya. Namun, inilah perasaan seorang keluarga yang kehilangan keluarganya. Adikku sudah kau cerai dan pasti kau anggap dia bukan keluargamu lagi sehingga kau lepas tangan." Bang Halim mengerang frustasi begitupun aku yang jelas karena salahku Tari pergi. "Maafkan aku, Bang." Hanya itu kata yang terucap dari bibir ini dan tanganku sibuk memegang pipi yang nyeri akibat dipukul. "Apa salah Tari padamu? Mengapa dia tak pulang ke rumah Ibu?" dia bertanya padaku dengan suara bergetar. "Bang, Hmm. Kau pasti tahu bagaimana Ibumu sehingga Tari gak pulang kesana," ucapku dengan takut-takut. "Haiiih ..." Bang Halim berteriak, dia kesal. "Kau tahu, Ibuku itu memperlakukan istriku dengan tidak baik sekarang Tari jadi korbannya diperlakukan keluarga suaminya juga dengan tidak baik dan kau juga sama menganiaya adikku. Aku juga banyak salah sama istriku. Namun aku sudah berusaha tegas agar Ibu tidak lagi semena-mena. Sekarang Ibuku shock berat karena Tari pergi. Aku berharap dia berubah. Dan untukmu, jika adikku bukanlah istri yang baik. Tolong ceraikan dengan baik pula." Bang Halim tertunduk dan menangis, ada rasa sakit yang dirasakannya. Tak sangka nasibnya sama denganku. Namun, dia bisa tegas pada Ibunya. "Bang, Maafkan aku. Aku akan berusaha mencari Tari, Bang. Aku janji," ucapku, dia hanya mendesah. Sejurus kemudian gawainya bergetar. Dia mengernyit dan menerima panggilan. "Halo. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam Bang Halim." "Tari!" Ucapan Bang Halim membuatku terhenyak. Benarkah itu istriku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN