7. Apakah Ini Kamu, Tari?

1070 Kata
MENTARI DI HATI LANGIT 7. ** PoV Author. Langit terhenyak karena ada panggilan dari Mentari. Apa dia begitu rindu sampai angin segar bagikan berhembus ketika Halim mengatakan kalau panggilan itu adalah panggilan dari Mentari. Langit tak kuasa menahan rindunya karena selama ini dia merasa bodoh sudah menyia-nyiakan istri sebaik Mentari. Dia ingin melihat mentari lagi dia ingin Mentari ada lagi di sisinya. "Tari ..." "Apa kabar, Bang Halim?" "Ini kamu, adikku. Ini kamu? Kamu di mana? Pulanglah. Kami semua merindukanmu. Abang sangat merindukanmu begitupun dengan ibu. Dia menangis se-jadi-jadinya. Bahkan dia menyesali perbuatannya. Dia minta maaf sama kamu karena udah nyakitin kamu. Jadi aku mohon sama kamu. Kamu pulang lah." "Bang, Tari menghubungi karena hanya ingin mengabarkan kalau Tari baik-baik aja. Mentari hanya tidak ingin Abang dan ibu gak kepikiran terus memikirkan diri Tari. Aku baik dan kalian gak perlu khawatir. Pokoknya, hanya itu yang ingin aku sampaikan karena aku nggak mau kalian terlalu khawatir terhadap ku." "Bagaimana Abang gak khawatir. Kamu sekarang di mana juga Abang gak tahu. Tari, Ibu sayang kamu. Abang sayang kamu. Masih banyak orang-orang yang menyayangi kamu. Meskipun keluarga suami kamu menjahati kamu. Kamu nggak usah pikirkan itu. Masih banyak laki-laki yang mencintai kamu karena kamu cantik dan kamu bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik daripada Langit. Kamu nggak usah pikirkan dia." Langit mengacak rambut nya ketika Halim mengatakan itu. Dia begitu merindukan Tari. Tapi abang iparnya itu malah menjelek-jelekkan dirinya. Langit seakan lupa kalau dia sudah menceraikan Mentari saat Mentari dia usir dari rumahnya tanpa perasaan Langit merasa bersalah karena melakukan kekejian kepada istrinya sendiri. Saat itu dia tidak mengantarkannya dan bahkan membiarkan dia pergi. Lebih menuruti perkataan ibunya. Dia sama sekali tidak punya pendirian. Pantas saja Tari pergi darinya karena Tari pasti sangat membencinya. Diusir begitu saja tanpa kasih sayang. Padahal sudah banyak berkorban untuk keluarga Langit. Berkorban untuk ibu bahkan untuk adik-adiknya. Namun, sama sekali Langit tidak peduli kepadanya. Bahkan, lebih mementingkan keluarganya. Tidak menafkahi secara layak Mentari selama ini. Pantas rasanya Mentari pergi mencari kebahagiannya sendiri. Namun, Langit lebih memilih menceraikan istrinya dan tidak peduli sama sekali dengan perasaannya. Pantas saja Mentari sangat membencinya. Jadi sebenarnya dia pantas mendapatkan ini dia merasa pantas mendapatkan ini. Namun, Langit masih sangat mencintai Mentari. Langit nggak bisa kehilangan istrinya itu. Langit masih ingin terus bersama istrinya. "Tari. Ini aku, Sayang. Ini langit." Karena rasa rindu yang begitu besar, Akhirnya dia mengambil gawai Halim. Langit merebutnya kemudian dia ingin berbicara dengan Mentari karena ini adalah sebuah kesempatan untuk berbicara dengan istrinya. Meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. "Tari. Tolong jangan tutup dulu panggilannya. Mas langit ingin berbicara sama kamu. Ini penting aku mohon sama kamu. Kamu mau berbicara sama aku karena ini sangat penting." Hening beberapa saat karena Mentari tidak menyahut ketika Langit mengatakan itu adalah dirinya. Mungkin rasa sakit sudah menghantam Mentari sampai di palung hati yang paling terdalam. Langit begitu saja menyakitinya tanpa memikirkan perasaannya. Pantas saja Mentari meninggalkannya karena sudah nggak tahan lagi hidup dalam keluarga toxic di mana suami bahkan gak peduli sama dia sedikitpun. Halim mendengkus kesal karena Langit merebut begitu saja gawai dari dirinya. Langit benar-benar menyebalkan. Padahal dia sama sekali belum berbicara dengan adiknya. Adiknya hanya memberitahu kabarnya dan Halim belum bercerita panjang lebar padanya. Tetapi dia sudah mengambil gawainya begitu saja. Ingin Halim marah-marah lagi dan memukul Langit. Halim mencoba berpikir lebih skeptis karena mungkin saja Langit ingin berbicara dengan istrinya masalah penting. Maka dia membiarkan saja terlebih dahulu mereka saling berbicara satu sama lain. "Tari, jawab Mas Langit. Mas Langit mengaku salah dan bersalah benar-benar sama kamu. Tolong maafkan Mas Langit. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan aku. Mas Langit saat itu tidak berpikir panjang hanya mendengarkan perkataan Ibu saja untuk menceraikanmu. Tidak punya pendirian sama sekali dan mungkin pantas hukuman ini kamu berikan. Tapi masalahnya aku nggak sanggup menerima hukuman ini. Hukuman ini terlalu berat untukku. Aku terlalu kehilangan kamu." "Cukuplah, Mas gombalan kamu. Aku nggak butuh gombalan seperti itu. Ingat ya, Mas. Kita sudah bercerai dan kamu dengan tega mengusir aku dari rumah. Kamu bahkan lebih memilih ibu kamu daripada aku. Sekarang aku mencoba menata hidupku. Mencoba tanpa kamu dan aku bisa. Kamu lupakan saja aku. Aku akan berusaha mengirimkan surat perceraian kita." "Tari. Aku gak mau cerai sama kamu. Kamu sekarang di mana pulanglah, Tari. Mas langit sangat mencintai kamu dan tidak mau bercerai dari kamu." "Tapi, Kamu sendiri yang udah menolak aku. Kamu mengusir aku dari rumah dan apa itu belum cukup untuk menyakiti aku cukuplah, Mas. Kamu bahagiakan saja orang tuamu kamu dan bahagiakan saja adik-adik kandungmu. Jika kamu belum sanggup untuk punya istri maka kamu sebaiknya jangan melakukannya. Untung saja kita tidak punya anak sekarang kamu sudah menceraikan aku. Apa kamu mau menjilat ludah kamu sendiri." "Akan aku lakukan, Tari. Akan aku lakukan jika itu membuat kamu bisa kembali padaku. Aku baru ingat aku memang menceraikan kamu tetapi aku juga punya hak untuk rujuk. Karena dalam agama kita suami boleh menceraikan dan suami punya hak rujuk." "Benar, Mas. Tapi istri masih berhak tinggal di rumah suami sama suami menceraikannya. Ini kamu ngusir aku, Kamu sadar nggak sih kamu udah berdosa. Dalam hal ini kamu ingin memakai hukum agama kita untuk membela dirimu tetapi kamu lupa dalam hal lain kamu mengabaikannya." "Iya, Tari. Mas salah. Sekarang juga Mas akan jemput mentari. Mas Langit sangat sayang sama Mentari jadi Mentari gak usah ragu." Halim merasa jengah karena dari tadi Langit selalu saja membela dirinya. Bahkan mereka sudah bercerai langit masih tetap ingin bersama adiknya. Untuk apa dia melakukannya. Hanya untuk menyakiti Mentari. Hanya untuk menyakiti hati adiknya. Hal tersebut hanya akan membuat adiknya terluka saja. Halim kemudian mengambil gawai itu dari Langit. Sudah cukuplah, sepertinya dia berbicara dengan Tari. Halim akan bertanya kepada Mentari di mana dia sekarang. Maka Halim saja yang akan menjemputnya. Halim akan terus meyakinkan ibunya kalau harus berubah agar Tari mau pulang ke Rumah. "Sini, Langit. Aku juga mau berbicara dengan tari." Langit sedikit tersentak ketika Halim yang mengambil kasar gawainya. Dia belum mendapat jawaban atas apa yang ditanyakannya kepada istrinya tetapi Abang ipar itu sudah mengambil saja ponsel miliknya, membuat Langit sedikit kesal dan ingin merebutnya kembali karena belum selesai berbicara dengan istrinya. "Halo, Tari ... Tari ..." Ketika Halim ingin berbicara lebih lanjut. Tari bahkan sudah mematikan panggilannya. Halim memandang Langit sengit karena dia belum tahu di mana adiknya dan Tari sudah mematikan sambungan telepon itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN