Beberapa jam yang lalu.
“Sayang, apa kau akan selalu sibuk seperti ini?” tanya Angela yang baru membuka pintu ruang kerja Davian. Entah lelaki itu terlalu fokus atau pikirannya masih tertuju pada Indira sampai-sampai tidak sadar akan keberadaan Angela, sang tunangan.
“Eh—“ Davian terkejut mendapati Angela yang berdiri di depan pintu yang sudah tertutup dengan kedua tangannya yang sudah terlipat di depan d**a. “Sejak kapan kamu datang, Angela?”
Sudah enam bulan Davian dan Angela bertunangan, selama itu pula keduanya juga saling mengenal satu sama lain. Pertunangan keduanya terjadi karena rencana mama mereka yang sudah berteman cukup lama, alasannya agar silaturahmi keduanya bisa berlangsung lebih lama. Davian sendiri awalnya menolak karena dia tidak menyukai atau pun mencintai Angela. Hati lelaki itu tidak terketuk sama sekali oleh pesona Angela yang dikenal sebagai seorang model. Tapi Davian sendiri tak ingin menyakiti hati mama Gisella jadi lelaki itu menyetujui pertunangan mereka dan berpura-pura mencinta Angela.
Perlahan namun pasti, Davian berusaha mencintai Angela dengan segala kekurangan dan kelebihannya selama enam bulan tapi tetap saja tidak bisa. Malah yang ada ilfil dengan wanita itu karena ketahuan sedang melakukan adegan panas dengan seorang lelaki dari direktur di salah satu perusahaan majalah.
“Aku baru saja datang, aku merindukanmu, Davian,” kata Angela sambil berjalan menghampiri Davian yang masih duduk di singgah sana miliknya.
Davian sendiri sebenarnya sangat malas menanggapi Angela apalagi setelah hari itu. Entah kenapa Davian malah senang bersama Indira daripada Angela. Hanya saja sekarang Davian bingung dengan sikap Indira yang seakan dingin dan acuh padanya.
“Dav, apa kau tidak merindukanku?” tanya Angela yang saat ini sudah duduk di pinggir meja kerja Davian. Tangannya dengan sensual meraba d**a bidang lelaki itu dengan manik matanya yang menggoda.
“Aku juga merindukanmu, Angela. Tapi kau tahu ‘kan, aku begini karena permintaan papaku,” jawab Davian yang tak kalah manja sambil menarik tengkuk Angela agar lebih mendekat ke arahnya hingga bibir keduanya saling menempel. Di saat itulah, Davian mulai melumat lembut bibir Angela. Lelaki itu dengan sengaja melakukannya untuk memanas-manasi Indira yang sebentar lagi akan masuk membawakan teh Chamomile pesanan Angela seperti biasa.
“Permi—“
Dan benar saja, anak panah yang baru saja diluncurkan oleh Davian tepat mengenai sasarannya. Lelaki itu dengan jelas melihat ekspresi wajah terkejut dari Indira atas perbuatannya dengan Angela. Davian tersenyum puas setelah dirinya dan Angela sudah berjauhan. Dan yang membuat Davian semakin senang adalah ketika melihat raut wajah Indira yang merah padam keluar dari ruangannya.
“Sayang, ayo kita lanjutkan lagi kegiatan kita ya tertunda,” ajak Angela dengan nada menggoda.
“Kita hentikan saja ya, Angela. Aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini,” tolak Davian sambil berjalan meninggalkan Angela. Wanita itu pun mengikutinya dari belakang dan memeluk lengan Davian.
“Oke, aku akan berhenti tapi nanti siang kita makan bersama ya,” tawar Angela sebagai ganti atas percumbuan mereka yang baru setengah jalan.
“Jangan siang ini, aku ada pertemuan dengan klienku yang datang dari Italia,” tolak Davian lagi yang kini duduk di pinggir meja bagian depan. Keduanya pun kini saling berhadapan hingga Davian melihat wajah Angela yang cemberut karena penolakannya secara berturut-turut.
“Apa kau tak bisa sekali saja meluangkan waktumu untukku? Sudah lima hari kita tidak bertemu karena kesibukan kita berdua,” lirihnya sambil menyandarkan tubuhnya tepat di d**a bidang Davian.
“Maafkan aku karena saat ini aku benar-benar sibuk, oh ya apakah kamu tidak ada jadwal pemotretan hari ini?” tanya Davian mengalihkan pembicaraan dan berharap wanita itu segera pergi.
“Ah iya, kau benar. Aku ada jadwal pemotretan dengan Erick setengah jam lagi,” jawab Angela ketika mengingat kembali jadwalnya.
“Ya sudah, aku antar kamu sampai ke lobi ya,” tawar Davian yang kembali ingin memanasi Indira.
“Oke, dengan senang hati, Sayang,” kata Angela mengambil tasnya lalu memeluk lengan Davian. Saat keluar dari ruangannya, Davian tidak melihat Indira di meja kerjanya tapi lelaki itu memberikan pesan kepada Raya, salah satu timnya agar disampaikan kepada Indira. Setelah itu keduanya melenggang pergi menuju lobi kantor.
“Wah, lihat siapa yang datang?” tanya Revan saat melihat Davian yang baru masuk ke ruangannya. Lelaki itu bangkit dari kursi dan menghampiri sahabatnya tersebut yang sudah duduk di sofa.
“Sepertinya kamu mulai nyaman bekerja di sini ya, ruangan ber- Ac, sekretaris cantik dan seksi, dan—“
“Kau datang ke sini bukan untuk memuji tempat kerja baruku, ‘kan? Pasti ada hal lain? Iya, ‘kan?” tebak Revan.
“Kau benar, oh ya apa kau punya minuman yang bisa membuat pikiranku tenang?” tanya Davian.
“Maksudmu? Minuman beralkohol seperti—“
“Apa pun itu, cepat keluarkan!” titah Davian.
“Mana mungkin aku menyimpan minuman seperti itu di kantor,” dusta Revan karena ia takut kalau Davian akan memecatnya.
“Kau mau aku pecat dari kantor karena menyembunyikan minuman itu?”
“Baiklah, aku akan mengeluarkan minuman itu tapi jangan laporkan hal ini kepada Pak Bagaskoro ya.” Revan menyerah karena Davian pasti hafal akan kelakuannya tapi lelaki itu juga meninta Davian agar tidak melaporkan tindakannya tersebut kepada bos besarnya.
“Tenang, sebentar lagi aku yang akan jadi Bosnya,” jawab Davian dengan bangga.
“Benarkah? Apa kau sudah berhasil menyelesaikan misimu?” tanya Revan tak percaya. Mata lelaki itu berbinar karena jika Davian benar-benar menjadi seorang pewaris di perusahaan Pramana pasti dirinya juga akan kecipratan hal baik contohnya seperti jawabannya mungkin yang akan naik.
“Tak bisakah kamu segera membawakan minuman itu atau aku akan berubah pikiran?” tanya Davian yang tidak sabaran dengan pergerakan Revan yang lambat.
“Ya tunggu, aku akan menyiapkan minuman yang spesial untuk merayakan misimu yang sudah berhasil,” kata Revan yang bersemangat sembari bangkit dari sofa dan beralih ke arah kulkas mini di mana minuman yang Davian inginkan ada di sana.
“Wah ternyata banyak juga ya simpananmu itu,” goda Davian setelah melirik kulkas mini milik Revan. Tidak salah memang Davian datang ke ruang Revan yang nyaman dengan segala fasilitas serta minuman beralkohol sebagai pelengkapnya.
“Ini hanya persediaan saja ketika aku sedang pusing mengerjakan laporan keuangan serta pusing dengan Nara,” jawab Revan sambil beralih mendekat ke arah Davian dengan membawa dua gelas seloki serta satu botol Tequila.
“Nara? Kau masih berhubungan dengan wanita matre itu?” tanya Davian untuk meyakinkan kembali. Revan mengangguk setelah duduk kembali di sofa.
“Kau tahu, ‘kan, kalau hatiku sudah terpatri untuknya,” lirih Revan yang memang sudah cinta mati dengan wanita yang dianggap matre oleh Davian. Bagaimana tidak? Davian selalu hafal dengan semua cerita Revan tentang wanita itu, termasuk barang apa saja yang ia belikan untuk Nara. Davian juga hafal bagaimana Revan selalu mengeluh tentang Nara yang sering menghilang tanpa kabar dan akan datang saat wanita itu membutuhkan sesuatu dari Revan. Davian sendiri juga sudah mengingatkan Revan untuk tidak terlalu royal dengan Nara yang notabenenya hanya memanfaatkan sahabatnya tersebut. Tapi Revan sudah kepalang cinta mati hingga telinganya seakan tuli saat mendengar saran Davian.