“Memang sehabis ini rencana kamu sama Indira apa? Bukannya misi kamu sekarang udah beres ya?” tanya Revan kepada Davian yang duduk di hadapannya. Entah misi apa yang dimaksud oleh Revan hal itu tentu memicu sebuah tanya di pikiran Indira hingga ia membatalkan niatnya untuk mengetuk pintu terlebih namanya pun dibawa-bawa ke dalam obrolan mereka.
“Misi aku memang udah selesai buat ngedeketin dia plus dapet bonus merawanin itu cewek, bokap juga udah mulai percaya sama kinerjaku tapi sekarang aku sendiri jadi bingung,” jawab Davian yang tidak menyadari kalau obrolan mereka beberapa saat lalu di dengar oleh Indira.
“So, apa kamu mau tinggalin Indira setelah semuanya berhasil kamu raih?” tanya Revan sambil menuangkan Tequila dari botol ke gelas Sloki miliknya dan Davian.
“Tidak semudah itu, Van,” jawab Davian sambil menegak habis Tequila miliknya hingga habis. Revan yang mendengarnya terkejut sambil menoleh ke arah Davian.
“Maksudnya apa? Apa karena pak Bagaskoro belum memberikan semua aset termasuk perusahaan ini secara resmi kepadamu?” tebak Revan.
“Salah satunya memang itu tapi ada hal lain yang membuat hatiku mengganjal yaitu Indira,” jawab Davian yang hampir membuat Revan tersedak kala mendengar pernyataan tersebut.
“Apa kau sudah mulai jatuh cinta dengan wanita itu?” Revan mengernyitkan dahinya bukan karena rasa Tequila yang di telannya tapi tebakannya terhadap perasaan Davian.
“Aku tidak tahu ini pasti atau tidak tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta dengannya,” jawab Davian yang terdengar santai namun bunyinya terdengar nyaring di telinga Revan.
“Apalagi setelah semalam aku dan dia berada di atas ranjang yang sama, perasaanku seakan membumbung tinggi kepadanya hingga aku tidak ragu jika harus melakukannya lagi,” tambah Davian lagi sambil membayangkan wajah Indira yang cantik saat berada di dekapnya.
“Apa kau sedang mabuk? Lalu bagaimana dengan Angela?” tanya Revan yang masih sepenuhnya waras.
“Secara sadar aku tegaskan kalau memang aku sudah jatuh cinta dengan Indira, Van. Dan soal Angela mungkin aku akan meminta mama untuk membatalkan pertunangan ini apalagi wanita itu tidak bisa menikah dalam waktu dekat.”
“Kau benar-benar gila, Davian.” Revan menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya kalau kedekatan Davian dengan Indira akan semakin jauh. Revan kembali menenggak minumannya dan kali ini membuang kepalanya terasa pusing.
“Ya aku memang sudah tergila-gila dengan Indira, Van. Dia itu paket komplit yang mampu membuatku jatuh cinta tapi—“ Davian menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat lesu kala mengingat bagaimana sikap Indira yang kembali dingin kepada dirinya seperti pertama kali lelaki itu menginjakkan kakinya di kantor sang papa.
“Ada apa? Kenapa kau bersedih, bodoh? Seharusnya kau merasa senang,” tanya Revan yang mulai mabuk.
“Setelah kejadian semalam, Indira terlihat seperti menjauhiku.”
“Aku tahu, aku tahu penyebabnya,” kata Revan yang bersemangat. Davian menoleh ke arah sahabatnya tersebut. Davian masih dalam keadaan stabil walau sudah minum beberapa gelas karena lelaki itu memang terkenal jago dalam hal minum-minuman keras.
“Apa?”
“Mungkin Indira tidak puas dengan Service yang kau berikan, atau mungkin milikmu itu tidak menarik,” jawab Revan lalu tertawa dengan sangat keras. Sudah dapat dipastikan sekarang Revan tengah mabuk berat hingga cara bicaranya sudah melantur.
“s**t! Aku lupa kalau sebentar lagi harus bertemu klien, ini gara-gara kau, Revan!” umpat Davian yang tidak sadar kalau kesalahan sepenuhnya ada di dirinya yang tiba-tiba saja datang ke ruangan Revan, lalu mengajaknya minum.
“Hey, kau mau ke mana? Kita baru saja mulai bersenang-senang,” tanya Revan ketika Davian beranjak dari sofa. Namun Davian tidak menggubris Revan yang sudah mabuk malah lelaki itu berjalan keluar dari ruangan Revan.
“Kenapa Indira tidak menghubungi aku? Apa ini caranya untuk bersikap profesional?” desis Davian yang merasa kesal dengan sikap Indira yang masa bodo terhadap dirinya. Biasanya jika ada pertemuan penting, wanita itu akan menghubungi dirinya dan mengingatkan kembali pertemuannya dengan beberapa klien atau hal apa pun terkait jadwal Davian.
“Reva, tolong segera perbaiki kekacauan di ruangan Revan sekarang, dan ingat jangan biarkan siapa pun menemui Revan sampai lelaki itu sadar sepenuhnya,” titah Davian sebelum ia kembali ke ruangannya.
“Baik, Pak.”
“Oh ya, apa Indira sudah mengantarkan laporan keuangan untuk Revan?” tanya Davian.
“Sudah Pak, barusan beberapa menit yang lalu Mbak Indira ke sini dan memberikan map ini hanya saja saya belum—“
“Apa?” Davian terkejut kenapa Indira tidak langsung mengantar laporan tersebut ke ruangan Revan dan malah pergi.
“Iya tadi Mbak Indira sempat mau mengantarkan map ini ke ruangan Pak Revan tapi tidak jadi karena mendapat telefon dari tim divisi produksi katanya ada masalah penting di sana,” jelas Reva sedetail mungkin agar tidak kena amuk Davian apalagi setelah melihat raut wajah menyeramkan lelaki itu.
“Baiklah, kalau begitu terima kasih.” Davian langsung pergi karena waktunya untuk pergi menemui klien terus berjalan dan tak mungkin terhenti.
“Raya, kenapa kamu ada di sini? Di mana Indira?” tanya Davian yang baru saja sampai di depan meja sekretarisnya tersebut.
“Mbak Indira ijin pulang untuk berobat karena sedang tidak enak badan, Pak,” jawab Raya.
“Indira sakit? Kenapa dia tidak menghubungi saya untuk minta ijin pulang?” tanya Davian yang tentu saja tidak diketahui oleh Raya hingga wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Lalu bagaimana pertemuan kita dengan klien? Seharusnya kamu ingatkan saya untuk segera bersiap dan menyiapkan semuanya,” sergah Davian yang merasa pusing karena jika Indira tidak ada pasti semua pekerjaan akan berantakan.
“Maaf, Pak, tadi sebelum pulang Mbak Indira sudah menitipkan dokumen yang akan dibawa saat menemui klien dan—“
“Kalau begitu suruh sopir menyiapkan mobil sekarang,” potong Davian sebelum lelaki itu masuk ke dalam ruangannya.
Sebelum menemui klien, Davian ingin mengganti pakaiannya yang tentu bau alkohol saat ini. Lelaki itu juga mengambil obat pereda mabuk di kulkas miliknya yang selalu disiapkannya.
“Indira, kenapa kamu tidak bilang kalau sedang sakit? Sekarang aku kerepotan sendiri karena tidak ada kamu,” keluh Davian yang terburu-buru memakai pakaian miliknya. Entah bagaimana penampilannya saat ini sudah pasti tidak seperti saat ada Indira di sampingnya. Hari ini Davian merasa kacau tanpa Indira. Tapi jika Davian sadar, semua ini terjadi karena dirinya yang mencari masalah dengan Indira. Mulai dari sikapnya dengan Angela yang sudah melukai hatinya sampai sebuah fakta yang semakin melukai hati wanita yang sudah mulai membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Apakah setelah ini Davian bisa membuat Indira percaya kepadanya kalau lelaki itu memang sudah jatuh cinta kepada sosok Indira?