Indira langsung berlari menuju kamar mandi menyalakan kran Shower yang kini membasahi tubuhnya dengan pakaian kantor lengkap yang masih menempel. Tangisnya kembali pecah ketika percakapan Davian dan Revan kembali berdengung di telinganya. Hatinya terasa perih kala kenangan antara keduanya yang berjalan selama tiga bulan sebagai sepasang insan yang di mabuk cinta tersebut di putar di pikiran serta hatinya. Kenangan yang nyatanya hanya sebuah kepalsuan belaka.
“Indira, kau bodoh! Sangat bodoh!” maki Indira kepada dirinya sendiri sambil memukul dadanya yang terasa sesak. Air matanya tak berhenti mengalir bersama air yang mengalir.
Indira tidak menyesali cintanya kepada Davian hanya saja wanita itu menyesal karena sudah memberikan sepenuh hatinya kepada orang yang salah. Dan fatalnya adalah Indira rela memberikan tubuhnya kepada Davian sebelum wanita itu mengetahui semua kebenarannya.
“Aku tak ingin hidup lagi seperti ini! Apa ini sebuah karma atas apa yang sudah aku lakukan?” tanya Indira kepada dirinya. Wanita itu duduk di lantai kamar mandi memeluk kedua kakinya yang berada tepat di depan dadanya. Indira membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya dengan tangis terisak.
Apa yang diucapkan Indira tadi bisa saja benar, jika apa yang dirasakannya saat ini adalah sebuah karma karena sudah bermain api dengan tunangan orang lain. Selama ini Indira tidak benar-benar menikmati statusnya sebagai kekasih Davian karena hatinya selalu merasa bersalah sudah melakukan hal tersebut, tapi wanita itu tidak bisa melepaskan sosok Davian.
Namun kini tekat Indira sudah bulat, wanita itu akan melepaskan laki-laki yang sudah memanfaatkan dirinya demi keuntungan pribadinya. Tak ada perasaan ragu untuk menghapus segala kenangan serta rasa cintanya kepada Davian.
“Ya aku akan menjauhi Davian, aku tidak akan mau diperdaya seperti ini lagi olehnya,” kata Indira sambil menghapus sisa air matanya lalu wanita itu bangkit untuk membersihkan dirinya. Walau ini tak mudah tapi akan Indira lakukan karena rasakannya akan semakin sakit jika kebenaran lainnya terungkap.
Pukul setengah tujuh, bel apartemen Indira berbunyi tapi suaranya terdengar seperti ingin memecahkan gendang telinganya saja karena bel tersebut dipencet berkali-kali seperti orang kesetanan.
“Orang gila mana yang berani menekan bel apartemenku seperti itu!” gerutu Indira sambil memijat kepalanya yang terasa pening karena belum makan malam.
“Tunggu, apa itu Davian?” tebak Indira setelah memegang gagang pintu apartemennya. Wanita itu ingat kalau ia baru saja mengganti Password kunci apartemen miliknya agar Davian tidak dengan seenaknya masuk ke dalam seperti biasanya.
Wanita itu melirik dari lubang pintu dan benar saja sosok Davian tengah berdiri di sana dengan wajahnya yang terlihat kusut serta pakaiannya yang sudah berantakan. Indira sudah mengira kalau laki-laki itu akan datang ke sini setelah sejak siang tadi panggilan dari Davian diabaikan olehnya.
“Kau masih saja berani datang ke sini, Dav!” sergah Indira di balik pintu dengan tangannya yang terkepal. Ingin sekali wanita itu meninju wajah tampan Davian tapi saat ini wanita itu merasa sedang sangat lemah.
“Indira buka pintunya, aku tahu kamu ada di dalam,” teriak Davian sambil memukul pintu apartemen miliknya. Walau begitu Indira tetap enggan membukakan pintu untuk Davian.
Beberapa menit berlalu tapi Indira masih bergeming di balik pintu dengan membelakanginya. Bel apartemennya kembali berbunyi hingga wanita itu berbalik dan melihat seorang pengantar makanan datang lewat lubang pintu. Wanita itu segera membuka pintu tapi pengantar makanan tersebut berubah menjadi sosok Davian yang di kiranya sudah pergi. Dengan cepat Indira berusaha menutup pintu namun Davian lebih cepat menahannya dengan kaki laki-laki itu.
“Kenapa kamu seperti ini Indira? Kenapa kamu bersikap seolah-olah ingin menjauhiku?” tanya Davian dengan tangannya yang ikut menahan pintu apartemen Indira.
“Pulanglah, Dav! Aku sedang tidak ingin diganggu siapa pun!” titah Indira dengan air matanya yang mengalir.
“Aku tidak akan pulang sebelum kamu menjelaskan semuanya kepadaku,” kata Davian yang masih belum menyerah untuk mengetahui alasan dari sikap Indira yang berubah drastis dalam satu malam. Dan hal itu semakin parah ketika berkali-kali Davian menghubunginya lewat pesan maupun telepon. Apalagi saat ini Indira enggan membiarkannya masuk ke dalam apartemen wanita itu.
“Jauhi aku, Dav! Kita akhiri saja hubungan ini,” kata Indira dengan tegas setelah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal ini.
Davian yang terkejut saat mendengarnya langsung mendorong pintu hingga terbuka sepenuhnya. Laki-laki itu sekarang bisa melihat Indira dengan jelas yang sedang menangis.
“Apa maksudmu dengan mengakhiri hubungan kita?” tanya Davian setelah kembali menutup pintu apartemen Indira.
“Ya berakhir, kita kembali seperti dulu layaknya seorang bos dan sekretaris,” jelas Indira yang enggan menatap Davian.
Davian lantas menjatuhkan kantung makanan yang diambilnya dari pengantar makanan dan mendorong tubuh Indira hingga tersudut ke tembok.
“Apa kau sudah tidak mencintai aku lagi, In?” tanya Davian yang berharap kalau Indira masih mencintainya.
“Aku... Aku....”
“Katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi!” bentak Davian.
Indira tersentak karena untuk pertama kalinya lelaki itu membentaknya. “Buat apa kamu menanyakan perasaanku kalau kamu sendiri mendekatiku hanya untuk memanfaatkanku, Dav!” sorotan mata Indira berubah menjadi sangat tajam seakan menusuk hingga ke relung hati Davian.
“Da... Dari mana kau—“ Davian terkejut karena Indira mengetahui alasannya mendekati wanita itu. Pegangan tangannya pada bahu Indira merenggang.
“Kenapa? Kamu kaget karena aku tahu misi kamu untuk mendekati itu karena apa?” tanya Indira kepada Davian yang membeku bagaikan es.
“Aku kira kamu benar-benar tulus mencintaiku, Dav! Tapi nyatanya semua itu palsu! Palsu, Dav!” amarah Indira meluap bak bom waktu yang sudah saatnya meledak. Tangisnya kembali pecah dengan segala emosinya.
“Aku bisa jelaskan semuanya, In. Aku mohon kasih aku waktu untuk semua itu ya,” Davian memohon agar Indira mau memberinya kesempatan untuknya bicara dan menjelaskan semua yang mungkin belum sempat di dengar oleh Indira. Kini Davian tahu dari mana Indira mengetahui misinya tersebut. Lelaki itu teringat ucapan Reva yang mengatakan kalau Indira sempat pergi ke ruangan Revan tadi sebelum jam makan siang.
“Bicara apa lagi? Apa kamu mau merayu aku lagi dengan kata-kata manismu itu dan kembali memanfaatkan aku?” tanya Indira yang seakan sudah muak dengan semua hal tentang Davian. Davian pembohong! Davian penipu!
“Kau harus mengetahui yang sebenarnya kalau aku—“
“Aku tidak ingin mendengar hal apa pun dari mulut mu!” Indira menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Air matanya kembali mengalir membuat Davian merasa semakin bersalah.
“In, aku mohon berikan aku saru kesempatan saja.”
“Aku mohon pergilah, Dav, keberadaanmu di sini hanya akan membuatku merasa sakit,” pinta Indira dengan memohon yang mau tak mau dituruti oleh Davian. Dengan berat hati lelaki itu pun meraih pegangan pintu apartemen Indira namun kembali berbalik ke arah Indira yang sudah jatuh ke lantai.