“Indira....” panggil Davian sambil mengangkat tubuh Indira dan memindahnya ke atas sofa. Saat itu Davian bisa merasakan kalau suhu tubuh Indira sangat panas hingga lelaki itu memutuskan untuk memanggil dokter pribadi yang bekerja untuk keluarganya.
Sambil menunggu dokter datang, Davian memindahkan tubuh Indira ke kamar dan mengambil handuk serta air untuk mengompres kepala Indira.
“In, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?” tanya Davian dengan perasaan khawatir dan cemas. Lelaki itu merasa semakin bersalah setelah melihat kondisi Indira yang seperti ini.
“Aku benar-benar mencintaimu, Indira,” lirih Davian sambil menggenggam erat tangan Indira yang masih menutup matanya tersebut. Kata-kata itu seharusnya Davian katakan dengan mesra ketika keduanya sedang berada di kondisi yang stabil atau mungkin di suasana yang romantis.
Sekitar dua puluh menit kemudian, dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Indira. Perasaan khawatir dan cemas masih hinggap di hati Davian sampai dokter mengatakan kalau Indira hanya sedang stres hingga asam lambungnya kambuh serta pingsan.
“Benarkah Indira seperti itu Dokter? Tidak ada penyakit lain yang dialaminya?” tanya Davian kembali meyakinkan kondisi Indira. Bukannya tidak percaya hanya saja dia tidak ingin melihat Indira seperti itu lagi.
“Benar Pak Davian, saya sarankan untuk mengatur pola makan Nona Indira lebih baik lagi dan usahakan agar Nona Indira tak berpikir hal berat apa pun untuk saat ini,” jawab dokter yang kali ini membuat Davian benar-benar bisa bernapas lega.
“Saya akan tuliskan resep obat yang akan dikonsumsi Nona Indira agar keadaannya bisa kembali pulih,” ijin sang dokter yang dijawab anggukan oleh Davian. Lelaki itu meraih ponselnya untuk segera memanggil Bima, asisten pribadinya yang tadi ia suruh menunggu di lobi apartemen Indira.
“Bima, segera naik ke atas sekarang,” perintah Davian dengan singkat, padat dan cukup jelas. Setelah mendapatkan respons dari Bima, Davian langsung mengakhiri panggilan tersebut.
“Permisi Pak Davian, ini resep dokter yang bisa anda tebus di apotek,” kata dokter sambil memberikan selembar kertas.
“Terima kasih, Dok. Tapi, kapan Indira bisa sadar ya?” tanya Davian sambil melihat Indira yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup.
“Saya tidak bisa pastikan kapan Nona Indira akan sadar tapi Pak Davian bisa mencobanya dengan memberikan minyak angin agar bisa dihirup oleh Nona Indira,” saran dokter Angga.
“Baiklah nanti akan saya coba, kalau begitu saya akan mengantar anda,” kata Davian sambil berjalan ke arah pintu yang berada keluar.
“Permisi, Pak Davian,” kata Bima yang baru saja tiba saat Davian dan dokter Angga sudah berada tepat di depan pintu apartemen Indira.
“Bima, tolong antarkan Dokter Angga kembali pulang sekalian tebus resep obat milik Indira,” titah Davian kepada Bima sambil memberikan selembar kertas yang sempat diberikan oleh dokter Angga tadi.
“Baik, Pak.”
“Kalau begitu saya pulang sekarang, Pak Davian,” pamit dokter Angga.
“Ya, Dok, terima kasih sekali lagi,” balas Davian lalu keduanya pun pergi setelah itu Davian masuk ke dalam dan menghampiri Indira yang terlihat sudah sadarkan diri. Davian langsung berlari mendekat ke arah Indira dan duduk di tepi tempat tidur.
“Indira, apa yang kamu rasakan saat ini?” tanya Davian dengan tangannya yang ingin menyentuh wajah Indira namun ditepis oleh wanita itu.
“Jangan sentuh aku,” kata Indira dengan suaranya yang lemah. Wanita itu memijat pelipisnya karena kepalanya terasa sangat pusing.
“Sebaiknya kamu makan dulu ya karena Dokter bilang asam lambung kamu kambuh,” saran Davian sambil beranjak bangkit dari tempat tidur Indira. Lelaki itu segera mengambil makanan yang sempat dipesan oleh Indira dan kembali memanaskan makanan yang sudah dingin tersebut.
Davian tidak mempermasalahkan sikap Indira yang kini mungkin sudah membencinya. Karena lelaki itu merasa pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.
Setelah selesai Davian kembali pergi ke kamar Indira dengan nampan berisi makanan dan juga minuman.
“Makan dulu ya biar perut kamu terisi,” kata Davian yang sudah kembali duduk di tepi tempat duduk. Namun Indira masih bergeming dengan pandangannya yang teralih kan ke sisi lain. Wanita itu seakan tidak ingin menatap wajahnya lagi.
“Indira, aku mohon untuk kali ini ya turuti perkataanku demi kesehatanmu,” pinta Davian memelas.
“Apa pedulimu dengan kesehatanku? Bukankah aku ini hanya sebuah boneka bagimu!” ucap Indira sinis dengan tatapan tajamnya yang seakan ingin mencabik-cabik Davian akibat rasa kesalnya.
Davian mengambil napas panjang dan membuangnya secara perlahan. Wajahnya tertunduk dengan hatinya yang kini terasa nelangsa akibat ucapan pedas Indira.
“Kau boleh membenciku karena kesalahanku tapi untuk saat ini tolong pikirkan kesehatanmu untuk dirimu sendiri,” kata Davian yang berusaha menatap wajah Indira namun wanita itu sudah membuang muka.
“Baiklah, aku akan pergi biar kamu bisa makan dan beristirahat dengan tenang.”
Davian memutuskan untuk keluar dari kamar Indira karena laki-laki tidak ingin berdebat lagi dengan wanita yang dicintainya. Bukan karena kuping Davian yang mulai panas dengan perkataan Indira hanya saja laki-laki itu ingin memberikan waktu untuk Indira agar merasa lebih tenang. Davian juga berharap jika Indira mau memakan makanan yang sudah dia panaskan sebelumnya.
Davian memutuskan untuk duduk di ruang tengah apartemen Indira sambil menonton televisi. Tapi tak lama Bima menelefon kalau ia sudah sampai di apartemen Indira dengan membawa obat yang sudah dibelinya di apotek.
“Pak Davian, ini obat yang sudah saya tebus di apotek,” kata Bima sambil memberikan kantung obat tersebut kepada Davian.
“Baiklah terima kasih, Bima. Oh ya, setelah ini kau pulanglah,” suruh Davian sambil meraih kantung itu.
“Lalu Pak Davian nanti bagaimana?”
“Aku sepertinya akan menginap di sini sampai keadaan Indira membaik jadi kau bisa pulang.”
“Baik, Pak Davian.”
“Oh ya, ingat jangan sampai siapa pun tahu tentang hubunganku dengan Indira termasuk kedua orang tuaku,” kata Davian kembali memperingati Bima agar rahasia hubungannya dengan Indira tetap aman.
“Baik, Pak Davian.”
Davian menutup pintu lalu berjalan menuju kamar Indira tanpa permisi. Davian tersenyum ketika melihat Indira yang kepergok sedang menikmati makannya dengan lahap.
“Apa kau tidak punya sopan santun?” tanya Indira dengan wajahnya yang seketika berubah menjadi marah.
“Maaf, aku lupa mengetuk pintu tadi. Oh ya, ini obat yang harus kamu minum setelah makan jadi jangan lupa diminum ya,” kata Davian sambil meletakkan kantung obat di meja kecil sebelah tempat tidur Indira.
“Aku akan keluar sekarang jadi lanjutkan saja makanmu,” pamit Davian sambil berjalan keluar kamar Indira.
Kini di hati Indira timbul rasa bersalah kepada Davian karena lelaki itu begitu tulus dan baik membantunya. Tapi di sisi lain apa yang dilakukan Davian tidak sebanding dengan sakit di hatinya. Indira jadi bingung sendiri harus bagaimana memperlakukan Davian sekarang. Kalau boleh jujur, Indira saat ini sangat rindu ingin dimanja oleh Davian apalagi jika sedang sakit seperti ini.