Menghilangkan Jejak Angela

1079 Kata
Pukul sembilan Indira membuka kedua matanya dan berniat untuk mengambil minum di dapur. Kondisinya saat ini terasa sudah jauh membaik berbeda dengan tadi sore dan semua itu tentunya berkat Davian. Indira tidak tahu apa yang terjadi dengan Davian setelah laki-laki itu mengantarkan obat ke kamarnya. “Davian? Dia belum pulang?” gumam Indira setelah melihat televisi di ruang tengah masih dalam keadaan menyala dan Davian tertidur di sofa dengan pakaian kantornya. Di meja terlihat beberapa sampah bekas makanan yang mungkin sempat dipesan Davian untuk makan malam. Indira melangkahkan kakinya lebih dekat ke arah sofa lalu sedikit berjongkok dan memandangi wajah tampan Davian. Wajah Davian terlihat sangat menggemas ketika sedang tidur. “Aku sangat menyayangimu, Davian, tapi mengapa kamu hanya menganggap hubungan kita sebatas misi kamu untuk mendapatkan warisan dari Pak Bagaskoro?” Tangan Indira mendekat ke arah wajah Davian yang sudah sejajar dengan dirinya. Dengan lembut tangannya mengelus wajah lelaki yang sudah membuat dirinya terpesona akan parasnya yang rupawan. Akankah Indira mampu melupakan wajah yang dulunya selalu membuatnya tersenyum. Tanpa sadar air mata Indira menetes dan mengalir membasahi pipinya. “Davian, kenapa kamu membuatku bingung akan sikapmu yang mudah berubah? Apakah yang kau lakukan hari ini karena rasa kasihan saja?” Davian yang mendengar suara isak tangis Indira, perlahan membuka kedua matanya dan benar saja sosok Indira langsung tertangkap oleh kedua matanya. Davian langsung merubah posisinya menjadi duduk. Kedua tangannya memegang bahu Indira untuk membantu wanita itu bangkit lalu duduk di sampingnya. “Apa ada yang sakit sampai kamu menangis?” tanya Davian yang khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Indira. Indira langsung memeluk tubuh Davian dan tangisnya semakin menjadi kala berada di dekapan lelaki yang dicintainya. Hal itu tentu membuat Davian merasa bingung tapi untuk saat ini hal yang terbaik yang lelaki itu bisa lakukan adalah membalas pelukan Indira dan mengelus punggungnya sampai wanitanya merasa tenang. Beberapa menit pun berlalu tangis Indira kini sudah mereda hingga suasana hening mulai menghampiri keduanya. Indira bingung kenapa dia bisa seemosional itu tadi tapi sekarang perasaannya sudah terasa sangat lega dan juga nyaman karena berada di pelukan Davian. “Apa sekarang sudah jauh membaik?” tanya Davian memberanikan diri untuk memecahkan keheningan di antara keduanya. Indira menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan kecil. “Kau sudah makan malam, Dav?” kini giliran Indira yang bertanya kepada Davian. “Sudah tadi aku memesan makanan lewat aplikasi Online tapi aku lupa memesan pakaian untuk ganti jadi aku akan menggunakan pakaian ini sampai besok,” jawab Davian seakan sedang bercerita kepada Indira seperti biasanya tanpa ada masalah di antar keduanya. “Kenapa kamu enggak pulang aja? Kenapa masih di sini? Kalau begitu ‘kan kamu bisa ganti baju,” kata Indira sambil melepaskan peluknya dan menatap Davian. Lelaki itu tersenyum karena sifat Indira yang sedikit bawel sudah kembali. “Kenapa kamu tersenyum?” “Aku kangen sama sikap kamu yang seperti ini, In.” Davian mendekatkan tangannya ke wajah Indira lalu mengusapnya dengan lembut. Seketika Indira sadar maksud Davian lalu menjauhkan diri dari Davian. “Jangan kamu kira aku sudah memaafkan kamu, Dav.” “Maaf tapi boleh aku menjelaskan semuanya sekarang?” kata Davian lembut yang membuat Indira kembali luluh. Wanita itu menganggukkan kepalanya secara perlahan. Davian meraih tangan Indira dan menggenggam tangannya. “Aku mengakui kalau niat awalku mendekati kamu untuk membuatmu jatuh cinta lalu meminta kamu mengatakan pada papa jika aku pantas mewarisi seluruh harta warisan beliau termasuk perusahaan Pramana Group.” Davian menundukkan kepalanya karena memang lelaki itu mengakui kesalahan yang sudah diperbuatnya. Ia merasa malu walau untuk menatap wajah Indira sebentar. “Tapi selama aku mengenalmu dan mengetahui banyak tentang dirimu, aku merasa nyaman dan mulai jatuh cinta kepadamu, Indira.” Davian mengangkat kepalanya dan menatap kedua manik mata indah milik Indira. Tatapan matanya menunjukkan sebuah ketulusan yang bisa dirasakan oleh siapa pun termasuk Indira. “Kali ini aku mengatakannya jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, tidak ada sekali niat buruk saat aku mengatakan kalau aku mencintaimu walau perkenalan kita terbilang sangat singkat,” tambah Davian yang berusaha meyakinkan kembali Indira agar mau memaafkannya dan kembali memperbaiki hubungan mereka yang baru seumur jagung tersebut. “Tapi bagaimana bisa kamu meletakkan namaku dan Angela di dalam hatimu secara bersamaan? Apalagi tadi siang kau dan Angela sudah—“ Satu hal yang tak pernah Indira tahu tentang hati Davian yang sebenarnya saat keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih di belakang Angela. Jika ditanyakan kepada Davian, lelaki itu selalu mangkir untuk menjawabnya. “Aku sama sekali tidak mencintainya apalagi menaruh sedikit perasaanku padanya sejak awal dan soal kejadian tadi siang aku minta maaf karena aku hanya ingin membalas perlakuanmu kepadaku,” jawab Davian jujur tanpa menutupi hal apa pun lagi dari Indira. Davian ingin memulai hubungannya dengan Indira dengan sebuah kejujuran. “Perlakuanku?” tanya Indira yang seakan lupa dengan apa yang sudah dilakukannya pagi tadi. “Ya sikapmu yang dingin dan cuek seakan tidak peduli denganku,” jawab Davian dengan bibirnya yang mengerucut ke depan. Hal itu tentu saja membuat Indira terkekeh geli karena Davian terlihat seperti anak kecil dimatanya. “Apakah lucu bagimu melakukannya kepadaku? Apakah tidak tahu? Kalau hal itu membuatku pusing dan ingin meledak,” kata Davian tidak terima dengan respons yang diberikan oleh Indira. Kini wajahnya berada dekat tepat di hadapan Indira agar wanita itu bisa melihat ekspresinya yang sedang kesal. “Apa ini sudah membuatmu memaafkan semua sikapku tadi pagi?” tanya Indira setelah wanita itu mendaratkan satu kecupan tanpa lumatan di bibir manis Davian. Davian merasa sangat terkejut karena Indira sudah mulai nakal dengan menggodanya seperti tadi. Tapi lelaki itu merasa senang karena dengan begini Indira pasti sudah memaafkan dirinya. “Kenapa hanya sebuah kecupan? Kenapa tidak—“ ucapan Davian terhenti kala jari telunjuk Indira menempel di bibirnya. “Jangan bicara apa pun karena aku masih marah denganmu lagi pula tadi aku hanya menghilangkan jejak Angela di bibirmu,” seru Indira dengan perasaan kesalnya ketika mengingat bagaimana kedua insan tersebut sengaja melakukan hal itu di kantor. “Kalau seperti itu rasanya jejak Angela tidak bisa hilang dari bibirku karena rasanya sangat—“ ucapan Davian terhenti kalau Indira menyerangnya lebih dulu hingga tubuhnya jatuh ke sofa dengan posisi Indira di atasnya. Wanita itu mulai memberikan sebuah lumatan yang lebih untuk menghapus jejak cumbuan Davian dengan Angela. Jangan ditanya soal Davian, lelaki itu malah tersenyum puas disela lumatan mereka hingga beberapa menit kemudian keduanya hampir kehabisan napas lalu menyudahi cumbuan tersebut. “Apa dengan begini jejak Angela sudah hilang?” tanya Indira dengan tatapan sinisnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN