“Benarkah kau mencintaiku, Davian?” gumam Indira sambil membelai wajah Davian yang masih memejamkan kedua matanya. Sebuah senyuman kini terpampang jelas di wajah Indira ketika wanita itu mengingat bagaimana Davian menungkapkan isi hatinya kepada Indira.
“Apa dengan begini jejak Angela sudah hilang?” tanya Indira dengan tatapan sinisnya.
“Bukan hanya itu saja tapi kamu sudah membuatku semakin jatuh cinta kepada dirimu,” jawab Davian yang kali ini mendorong tengkuk Indira agar lebih mendekat ke arahnya, lalu dengan lembut lelaki itu mulai melumat bibir wanita yang dicintainya. Kini dengan jelas dan tegas Davian sudah mematri nama Indira di relung hatinya.
“Aku sangat mencintaimu, Indira. Jadi aku mohon jangan pernah berniat pergi dari hidupku,” pinta Davian setelah keduanya berciuman selama beberapa menit. Detak jantung Indira pun berdetak lebih kencang dari biasanya, wanita itu merasa sangat senang karena pada akhirnya ia bisa merasakan dicintai oleh seorang laki-laki dengan tulus. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan seperti kisahnya yang sudah-sudah.
“Aku juga sangat mencintaimu, Davian.” Indira memeluk tubuh Davian seerat mungkin seakan tidak ingin kehilangan sosok lelaki yang sangat dicintainya tersebut. Davian juga melakukan hal yang sama seperti yang Indira lakukan. Sudah cukup baginya untuk merasakan bagaimana Indira yang marah akan sikap buruknya.
“Aku harap setelah ini kamu mau menungguku dengan sabar ya, aku janji akan mengakhiri hubunganku dengan Angela.”
Kini tekad Davian sudah bulat untuk mengakhiri hubungannya dengan Angela dan niatnya setelah itu, ia ingin memulai hidup baru dengan Indira dengan menikahi wanita tersebut. Walau ini tidak mudah tapi Davian akan perjuangkan cintainya dengan Indira.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Davian yang terusik dengan belaian lembut yang diberikan Indira tepat di wajahnya. Semalam keduanya memutuskan untuk kembali beristirahat di kamar Indira karena pagi ini Davian ada meeting penting.
“Selamat pagi, Davian. Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?” tanya Indira yang juga tersenyum. Tangan Indira membelai setiap helai rambut Davian yang terlihat berantakan.
“Tentu, rasanya aku ingin selalu tidur di sebelahmu tapi pagi ini aku harus kembali bangun dan menunaikan rutinitasku,” jawab Davian dengan tangannya menyentuh tangan Indira yang masih bertenger di wajahnya.
“Ah iya benar, kalau begitu sekarang kamu mandi ya biar aku yang siapkan sarapan.”
Indira menarik tangannya dari wajah Davian lalu memutuskan untuk merubah posisinya yang tadinya tidur menjadi duduk. Tapi Davian lebih dulu menariknya hingga wanita itu jatuh tepat di dekapan Davian.
“Seperti ini sebentar saja ya,” pinta Davian sambil memeluk tubuh Indira lalu memejamkan kedua matanya sebentar. Indira mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Davian.
“Apa kau tidak takut nanti terlambat?”
“Takut sih tapi rasanya sayang jika aku melewatkanya,” kata Davian sambil terkekeh. Spontan Indira langsung mendaratkan sebuah pukulan ringan di d**a bidang Davian.
“Aww....” rintih Davian yang pura-pura merasa kesakitan karena ulah Indira. Wanita itu tertawa sembari bangkit dan duduk diikuti oleh Davian.
“Enggak usah pura-pura kesakitan deh, aku mukul kamu tadi itu pelan ya,” ucap Indira.
“Iya sih tapi kan aku mau diperhatiin sama kamu,” balas Davian dengan mode manjanya lalu lelaki meletakkan kepalanya di bahu Indira.
“Dav, kalau kamu begini nanti kamu benar-benar bisa terlambat ke kantor,” kata Indira sambil membelai wajah lelaki itu lembut.
“Iya, aku akan mandi sekarang tapi hari ini bagaimana keadaanmu?” Davian mengangkat kepalanya lalu menatap Indira.
“Sudah jauh lebih baik tapi kadang kalau berdiri terlalu lama perutku masih sakit dan napasku terasa sedikit sesak jadi aku ijin tidak masuk kantor dulu ya,” jawab Indira sambil meminta ijin kepada Davian agar dirinya tidak masuk kantor.
“Baiklah kalau begitu kamu istirahat saja di apartemen nanti sore setelah pulang dari kantor, aku akan datang lagi ke sini,” kata Davian yang tidak keberatan jika Indira tidak masuk kantor hari ini. Mungkin nanti lelai itu akan meminta Raya menggantikan tugas Indira selama wanita itu tidak masuk kantor.
“Maaf ya tapi nanti aku bakalan kasih tahu Raya untuk menggantikan aku dan memberitahu hal apa yang kamu butuhkan untuk meeting kali ini,” kata Indira yang tidak ingin melepaskan tanggung jawabnya selama tidak masuk kantor.
“Iya, Sayang. Kalau begitu aku mandi sekarang ya,” pamit Davian yang langsung turun dari tempat tidur. Indira pun juga ikut turun dari tempat tidurnya.
“Kamu mau kemana?” tanya Davian yang melihat Indira melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
“Mau ke dapur bikin sarapan buat kamu,” jawab Indira dengan tangannya yang sibuk mengikat rambutnya.
“Tidak usah repot, Sayang. Kamu pesan saja ya lewat aplikasi online buat sarapan kita berdua,” kata Davian yang tidak ingin Indira terlalu lelah walau itu hanya menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Indira.
“Baiklah kalau begitu, terus kamu mau minum apa?” Indira menuruti perkataan Davian dan tidak ingin berdebat walau nantinya ia akan mencari alasan lain untuk membuat sarapan untuk mereka berdua.
“Aku mau minum kopi s**u,” jawab Davian.
“Oke nanti aku buatin,” kata Indira.
“Sayang....”
“Iya, Dav. Apa kamu perlu sesuatu?”
“Emmm aku pesan susunya yang langsung dari pabriknya ya, pokoknya yang spesial,” jawab Davian yang terdengar ambigu bagi Indira. Karena bukannya semua s**u dikirim langsung dari pabriknya ya?
“Maksudnya?” tanya Indira dengan dahinya yang berkerut.
“Yang itu loh....” jawab Davian sambil menunjuk ke arah d**a Indira hingga wanita itu kini memahami maksudnya.
“Davian! Apa kamu mau aku pukul pakai sendal ya?” kata Indira yang sudah bersiap melepaskan sendal tidurnya. Lalu Davian berlari ke arah kamar mandi sambil tertawa. Sungguh baru kali ini lelaki itu mendapati Davian dengan otak kotornya.
“Aku hanya bercanda Sayang,” teriak Davian dari kamar mandi.
“Lihat saja nanti kopimu aku kasih s**u kucing,” balas Indira lalu wanita itu pun segera meninggalkan kamar tidurnya. Ada rasa kesal sekaligus lucu hingga wajahnya bersemu merah karena merasa malu saat Davian mengatakan hal itu.
Jujur saja sampai saat ini Indira masih merasa malu jika mengingat bagaimana malam itu terjadi, malam dimana Indira dan Davian saling menujukkan tubuh polos mereka masing-masing. Hal yang tidak seharusnya mereka lalukan sebelum menikah tapi atas dasar suka sama suka dan sama-sama mau keduanya melakukan hal itu. Sampai detik ini pun Indira masih saja merinding jika mengingat malam itu tapi semuanya sudah terjadi.
Yang jelas saat ini Indira berharap hubungannya bersama Davian akan berakhir bahagia nantinya. Bersyukur jika hubungan keduanya mendapat restu dari kedua orang tua Davian. Dan saat ini Indira harus lebih bersabar dan menguatkan hati untuk tetap menunggu hari ini akan tiba nantinya.