Tak Ingin Jauh

1190 Kata
“Pasti hari ini kantor terasa sangat sepi karena tidak ada kamu di kantor,” keluh Davian ketika Indira tengah merapihkan beberapa peralatan makan bekas sarapan mereka. Indira tersenyum mendengar perkataan Davian barusan. “Di kantor masih ada karyawanmu yang lain termasuk Bima yang selalu ada untukmu kapanpun kamu mau dan kamu butuhkan, Sayang. Jadi, aku yakin pasti kamu tidak akan merasa kesepian nanti,” balas Indira yang menyemangati Davian. Davian bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekat ke arah Indira yang saat ini sedang mencuci beberapa peralatan makan. Setelah dirasa sudah dekat, Davian memeluk tubuh Indira dari belakang lalu menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu. “Mereka tidak sama sepertimu, maksudku mereka itu tidak sespesial dirimu,” kata Davian yang belum mau merubah posisinya saat ini yang ada malah lelaki itu semakin merapatkan dekapannya tersebut. “Rasanya aku tidak ingin jauh darimu walau hanya sebentar saja,” tambah Davian lagi yang membuat Indira tersenyum karena wanita itu merasa senang mendapati sikap manja Davian yang tidak ingin jauh dari dirinya sama seperti yang dirasakan Indira. Pertengkaran kemarin seakan membuat hubungan keduanya semakin merekat satu sama lain sehingga untuk berpisah walau sebentar saja rasa sudah sangat membuat keduanya tersiksa. “Aku juga tidak ingin jauh darimu tapi kita masih punya banyak kesempatan untuk bertemu apalagi sekarang jaman sudah semakin canggih jadi kita masih bisa berkomunikasi dengan saling bertatapan langsung,” jelas Indira sambil mengeringkan tangannya setelah selesai membersihkan semua peralatan makannya. Kini Indira melepaskan pelukan Davian, lalu memutar tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan lelaki yang dicintainya. Jarak di antara keduanya kini terasa sangat dekat sekali sampai keduanya bisa merasakan hembusan napas orang yang berada dihadapannya. Tatapan mata mereka seakan sedang mengisyaratkan sesuatu. Perlahan namun pasti Davian mulai mendekatkan bibirnya lalu dengan lembut melumat bibir Indira yang terasa manis dan selalu menjadi candu selama beberapa bulan ini. Indira memjamkan matanya dan membalas cumbuan itu dengan kedua tangannya yang melingkar di leher Davian. Beberapa menit kemudian pangutan itu terlepas karena keduanya sudah kehabisan napas. Indira dan Davian sama-sama tersenyum dengan mata mereka yang masih memandang satu sama lain. Andai hal ini terjadi pada malam hari, ah tidak saat Davian tengah senggang mungkin hal ini akan berakhir di sesi berikutnya seperti tebakan kalian. Tapi nyatanya Davian harus menghentikan aksinya karena semua tugas kantornya sudah menumpuk di singgah sananya. “Aku mencintaimu, Davian Bagas Pramana.” “Aku juga sangat-sangat mencintaimu, Indira Kinanti.” Davian kembali tersenyum menatap wajah cantik Indira yang tak pernah bosan dipandangi olehnya. “Aaarrgghhttt... menyebalkan sekali rasanya aku harus berpisah denganmu sekarang,” keluh Davian lagi yang kali ini mengatakannya sambil terkekeh. “Apakah aku harus bersiap untuk menemanimu di kantor?” goda Indira yang berhasil membuat kedua mata Davian membulat dengan sempurna. “Tidak, aku hanya bercanda sebaiknya kau tetep di rumah dan jangan pergi kemana pun sampai kamu benar-benar sehat. Ingat untuk istirahat yang cukup dan juga makan yang banyak,” pesan Davian yang tidak ingin Indira berubag pikiran karena ucapanya barusan. Jika sampai hal itu terjadi Davian benar-benar tidak akan memaafkan dirinya sendiri. “Baiklah tapi kau juga harus ingat, Dav.” Davian mengangkat kedua aliasnya karena bingung tiba-tiba saja Indira menujukkan raut wajah serius. “Jangan melakukan hal aneh dengan wanita lain terutama Angela apalagi seperti yang kamu lakukan saat aku ada di kantor, kalau tidak aku akan meni—“ “Percayalah, aku tidak akan melakukan itu lagi karena aku hanya milikmu dan aku benar-benar mencintaimu, Indira,” potong Davian yang tidak ingin Indira terlalu khawatir dengan kesalahan yang sudah diperbuatnya kemarin karena lelaki itu ingin sekali Indira percaya kepada dirinya lagi kalau hal itu tak akan lagi dilakukan olehnya. “Baiklah aku akan berusaha percaya dengan semua ucapanmu ini jadi sekarang bekerjalah dengan giat dan hasilkan banyak uang untuk menikahiku,” kata Indira yang di akhiri dengan sebuah canda setelah tangannya selesai merapihkan kembali pakaian Davian dan di ahiri dengan menepukkan kedua tangannya di d**a lelaki itu. “Tanpa bekerja keras, aku sudah mendapatkan banyak uang, Sayang. Kau tahu ‘kan kalau aku ini anak tunggal dan seluruh harta warisan dari orang tuaku akan jatuh kepadaku,” jawab Davian yang tredengar sangat santai dengan membanggakan harta kekayaan dari kedua orang tuanya. “Apa kau yakin orang tuamu akan mewarisi seluruh harta itu kepadamu?” tanya Indira sambil mendorong tubuh Davian untuk menjauh dari dirinya, tentunya hal itu dilakukannya sambil tersenyum mengejek. Kini wanita itu beralih memasukkan beberapa kotak makanan yang sudah di siapkannya untuk Bima dan supir Davian yang saat ini berada di basemen. “Tentu, karena aku sudah berhasil menakhlukkan serta mendapatkan hati sekretaris kesayangan kedua orang tuaku,” jawab Davian yang berhasil membuat pipi Indira memerah bak kepiting rebus tersebut. “Ya kau benar, Sayang.” “Oh ya, apa yang sedang kau lakukan? Mengapa sisa sarapan tadi kamu letakkan ke dalam kantung?” tanya Davian yang baru menyadari kegiatan yang sedang dilakukan oleh Indira. “Ah ini, aku menyiapkan sarapan juga untuk Bima dan supirmu karena aku yakin pasti mereka belum sarapan,” jawab Indira. “Wah aku benar-benar merasa sangat beruntung mendapatkanmu, Sayang. Selain baik dan juga pintar dalam mengurus segala urusanku di kantor, kau ini seperti seorang malaikat. Tunggu, apakah kau memang benar-benar seorang malaikat?” puji Davian yang berhasil membuat Indira hampir melayang ke udara. “Ya, aku memang seorang malaikat yang akan mencabut nyawamu jika kau mengkhianatiku apalgai berbohong padaku,” balas Indira yang membuat keduanya terkekeh bersama. Setelah itu Indira mengantarkan Davian sampai ke pintu utama apartemennya. “Aku berangkat ke kantor sekarang ya, kalau ada hal apa pun kamu bisa menghubungiku atau Bima,” pamit Davian yang dijawab anggukan oleh Indira. Keduanya tampak terlihat seperti sepasang pengantin baru yang harmonis dan membuat kaum jomblo merasa iri. Sekitar pukul sembilan Davian sudah sampai di kantornya dan seperti biasa pesona Davian sebagai seorang bos besar di perusahaan ternama mulai terlihat. Apalagi ketika Raya dan beberapa kepala karyawan dari setiap divisi perusahaan menyambut kedatangan Davian serta memberikan hormat dengan membungkukkan badan mereka kompak. “Selamat pagi, Pak Davian,” sapa Raya yang saat ini menggantikan tugas Indira sementara. Tentu ini hal yang mendebarkan bagi wanita itu karena untuk kedua kalinya Raya mengisi kekosongan Indira di kantor. “Pagi,” balas Davian singkat lalu lelaki itu mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan Pramana Group diikuti karyawan lainnya. “Oh ya Pak Davian, maaf sebelumnya tapi saya ingin memberitahukan kalau Ibu Angela sejak beberapa menit yang lalu sudah sampai di kantor dan kini berada di ruangan bapak,” kata Raya di tengah langkah kakinya menyamai langkah kaki Davian yang terkesan buru-buru itu. “Apa? Angela sudah ada di sini? Sepagi ini?” tanya Davian setelah menghentikan langkahnya secara mendadak hingga beberapa karyawan yang mengikuti dirinya termasuk Raya hampir saling bersentuhan. “Ya Pak, tadinya saya mau menghubungi bapak tapi Ibu Angela bilang tidak usah,” jawab Raya. Davian membuang napas kasar karena lelaki itu baru mengingat sesuatu tentang alasan kedatangan Angela ke kantornya apalagi sepagi ini. Davian kembali melangkahkan kakinya untuk segera sampai ke ruangannya. Walau rasanya sangat malas bertemu wanita itu tapi tetap saja Davian tidak bisa menghindari Angela karena beberapa dokumen sudah menunggu di ruangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN