Sebelum memasuki ruang kerjanya, Davian sempat mengambil napas panjang lalu membuangnya. Hal itu biasa Davian lakukan sebelum memulai sandiwaranya di depan Angela menggunakan topeng miliknya.
“Angela, kau ada di sini?” tanya Davian setelah berhasil membuka pintu ruang kerjanya lalu kembali menutupnya. Davian tersenyum ke arah Angela tanpa sebuah beban walau dalam hatinya sendiri ini adalah sebuah beban.
“Apa kau tidak merasa kalau kau sudah melupakan sesuatu?” tanya Angela yang bangkit dari kursi kebesaran milik Davian lalu berjalan mendekat ke arah sofa di mana Davian sedang duduk saat ini.
Davian menggelengkan kepalanya dengan dahinya yang berkerut, seolah menujukkan kalau ia memang tidak tahu apa yang dimaksud oleh Angela. “Memangnya apa yang sudah aku lupakan?”
“Kemarin kau berjanji akan datang ke apartemenku tapi sampai larut malam kau tidak juga datang, selain itu ponselmu selalu dalam keadaan mati. Apa kau sengaja melakukan hal itu?” tanya Angela yang kini sudah duduk di samping Davian.
“Maafkan aku, Angela, karena kemarin aku sangat sibuk sampai melupakan janjiku,” jawab Davian dengan raut wajahnya yang memelas. Sungguh Davian sangat mahir sekali dalam bersandiwara, jika dia terlahir sebagai aktor pasti sudah banyak piala penghargaan yang didapatnya saat ini.
“Entahlah, rasanya ingin sekali marah kepadamu tapi aku rasa kamu tidak akan peduli jika aku marah,” rajuk Angela dengan kedua tangannya yang sudah dilipat di depan d**a. Tubuh wanita itu kini sudah membelakangi Davian dengan bibirnya yang mengerucut ke depan sekitar lima senti.
“Kata siapa aku tidak peduli kepadamu? Tentu aku akan sangat sedih jika kamu marah kepadaku,” Rayu Davian sambil memeluk tubuh Angela dari belakang dengan kepalanya yang sudah mendarat di bahu Angela sehingga wajah mereka terlihat tampak sejajar.
“Benarkah itu?”
“Tentu karena aku sangat mencintaimu,” kata Davian yang berusaha meyakinkan Angela agar wanita itu percaya kepadanya walau hal itu terdengar menjijikkan bagi dirinya saat ini. Dan benar saja saat Davian mengatakan hal itu, wajah Angela memerah lalu wanita itu dalam sekejap tersenyum ke arahnya.
“Baiklah kali ini aku akan memafaatkanmu tapi bisakah siang ini kamu menemaniku ke butik untuk mencari pakaian yang akan aku gunakan ke salah satu acara penghargaan?” ajak Angela sambil meraih lengan Davian dan memeluknya.
“Kau lihat itu...” jari telunjuk Davian mengarah tepat ke atas meja kerjanya dengan tumpukan map setinggi gunung di sana. Angela tersenyum kecut ketika mengetahui maksud Davian yang lagi dan lagi akan menolak permintaannya.
“Oke aku tidak akan memintamu ikut karena aku tahu kau pasti akan menolaknya lagi,” seru Angela seraya bangkit dari sofa dengan wajahnya yang terlihat seperti benang kusut.
“Maafkan aku, Sayang. Tapi jika kau berkenan pakailah kartu kreditku untuk berbelanja pakaian bagus di sana,” kata Davian sambil mengeluarkan dompet dari kantung sakunya lalu mengambil satu buah kartu kredit miliknya.
Mata Angela tampak berbinar karena pasalnya kartu kredit yang ditunjukkan Davian hanya dimiliki oleh lima orang terkaya di negerinya dan orang itu termasuk Davian serta keluarganya. Kartu itu tampak istimewa karena nominalnya tak terbatas hingga siapa pun bisa berbelanja sepuasnya dan yang paling penting adalah pelayanan prioritas yang diberikan.
“Kau tidak perlu repot-repot memberikan aku kartu itu karena uangku masih cukup untuk membeli beberapa setel pakaian,” tolak Angela dengan maksud tertentu.
Davian berdiri lalu meraih salah satu tangan Angela dan meletakkan kartu miliknya tepat di tangan Angela. “Pakailah kartu ini untuk berbelanja, makan atau hal apa pun yang membuatmu bahagia, anggap ini hadiah sebagai permintaan maafku yang selalu menolak ajakanmu.”
“Baiklah jika kamu memaksa tapi lain kamu harus pergi menemaniku, Sayang.” Angela memeluk Davian erat karena senang telah mendapatkan hadiah yang sangat menguntungkan dirinya.
“Kalau begitu aku akan segera pergi sekarang, Sayang,” pamit Angela sambil tersenyum lebar setelah melepaskan pelukannya. Wanita itu kembali beralih ke meja kerja Davian untuk mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan ruang kerja Davian.
Davian membuang napas lega karena Angela sudah keluar dari ruangannya, lelaki itu berjalan menuju kursi kebesarannya. Menghadapi Angela rasanya sudah menguras banyak energi di tubuhnya apalagi harus berpura-pura mencintai wanita itu rasanya susah dijelaskan. Sekarang Davian harus berurusan dengan beberapa tumpukan map yang ada di hadapannya, biasanya lelaki itu akan ditemani Indira tapi rasanya hari ini berbeda. Hari ini terasa sepi tanpa kehadiran Indira, semangatnya pun luntur tanpa wanita itu.
“Apa yang sedang Indira lakukan saat ini?” gumam Davian sambil meraih ponselnya dan mencari kontak Indira. Lelaki itu berniat untuk menghubungi Indira melalui panggilan video dengan tujuan untuk mengisi kembali semangatnya.
“Davian, ada apa kamu menghubungiku? Apa kau memerlukan sesuatu?” tanya Indira ketika panggilan video mereka telah terhubung. Terlihat dengan jelas wajah cantik Indira yang masih menggunakan pakaian tidurnya saat ini.
“Aku sangat membutuhkan kamu, Sayang,” jawab Davian sambil tersenyum.
“Ayolah jangan bercanda Dav, masih banyak pekerjaan yang harus kau urus jadi kita akhiri saja ya panggilan ini agar kau bisa fokus dengan pekerjaanmu,” kata Indira yang tidak ingin mengganggu Davian sedang bekerja saat ini.
“Tunggu, aku mohon jangan akhiri panggilan ini karena aku benar-benar membutuhkanmu untuk mengisi energiku,” tahan Davian agar Indira tidak mengakhiri panggilan video mereka.
“Mengisi energi?” tanya Indira dengan dahinya yang berkerut. Davian pun menganggukkan kepalanya.
“Baiklah apakah ini sudah cukup?”
“Belum aku baru memulainya,” jawab Davian santai sambil memposisikan ponselnya agar tetep dalam keadaan vertikal dan menghadapa ke arahnya. Lalu tangannya bergerak mengambil tumpukan teratas di antara beberapa map dan membukanya.
“Apa dengan begini tidak menganggu pekerjaanmu?” Indira melihat Davian yang tengah memulai pekerjaannya. Lelaki itu terlihat semakin tampan saat menunjukkan wajah seriusnya di depan kamera.
“Tidak sama sekali tidak malah aku menjadi semakin bersemangat dalam mengerjakan tugasku, oh ya kenapa kamu masih menggunakan pakaian tidurmu? Apakah kau akan kembali tidur?” jawab Davian sambil memberikan pertanyaan kepada Indira.
“Ya karena setelah minum obat tadi aku merasa sangat mengantuk,” jawab Indira dengan kedua matanya yang terasa berat dan ingin terpejam. Wanita itu pun kembali merebahkan tubuhnya miring agar layar ponselnya bisa tetap menghadap ke arahnya.
“Kalau begitu tidurlah tapi jangan tutup teleponnya karena aku masih ingin melihatmu,” jawab Davian yang sekilas menoleh ke arah ponselnya. Indira pun menganggukkan kepalanya lalu mencari bantal lain agar dapat menyanggah ponsel miliknya.
“Apa kau Indira? Kalau keadaan kantor terasa sangat sepi tanpamu, rasanya aku ingin ada di sampingmu sepanjang waktu,” kata Davian mengungkapkan isi hatinya.
“Walau saat ini aku tidak ada di kantor tapi aku masih tetap bisa menemanimu, Dav, jadi jangan beralasan untuk tidak mengerjakan tugasmu hari ini,” kata Indira yang terdengar sedang memerintah Davian agar tidak mangkir dari tugasnya.
“Baiklah Nyonya Davian, saya akan tetap duduk manis di sini untuk mengerjakan semua tugas kantor sesuai perintah,” canda Davian yang membuat keduanya terkekeh bersama. Obrolan tersebut pun berlanjut sampai hanya suara Davian yang dominan berbicara di panggilan video tersebut.
“Sayang, mengapa kau tidak merespons obrolan kita?” tanya Davian dengan pandangan yang beralih ke arah ponsel. Saat itu Davian tersenyum melihat Indira yang sudah tertidur pulas, wajahnya tampak menggemaskan bagi lelaki itu.
“Selamat beristirahat Sayang, semoga kau segera pulih agar bisa secepatnya menemani aku di sini,” kata Davian lalu mengakhiri panggilan video tersebut dan melanjutkan pekerjaannya.