Mereka melewati perbukitan yang cukup terjal dan jalan yang berkelok-kelok. Medan yang dilalui cukup sulit. Pohon-pohon liar dan tanaman-tanaman liar tumbuh dengan subur. Pasukan pack membawa bendera pack Quirin berlambang QR dengan latar biru cerah. Para warrior membawa senjata pedang dan perisai, tidak lupa memakai zirah perang.
Sudah sampai tengah hari mengendarai kuda. Alpha Lory menghentikan laju kuda dan turun dari punggung kuda putih. Dia melihat para bawahannya yang tampak kelelahan dan memerlukan istirahat.
"Para warrior kita beristirahat terlebih dahulu di sini!" perintah Alpha Lory yang disambut dengan anggukan patuh para warrior. Sebenarnya para warrior ingin berkata secara langsung tentang hal itu, tapi tidak berani. Beruntung Alpha Lory memahami hal itu.
Para warrior segera mengambil tempat masing-masing dengan tertib. Empat orang omega wanita membagikan makanan dan minuman pada para warrior secara adil dan merata.
"Perjalanan kali ini lumayan lancar, tapi aku masih tak yakin jika tak ada yang berniat mencelakai Alpha, " ujar Beta Darren sambil menikmati sepotong roti s**u. Dia duduk di dekat sangat Alpha yang duduk tenang menikmati makanannya.
"Itu sudah biasa, Beta Darren, " ucap Alpha Lory. Walaupun dia saat ini berada di sini, pikirannya melayang memikirkan keadaan sang Luna.
Suara gemerisik dan ranting yang terinjak terdengar di indra pendengaran Alpha Lory. Beta Darren segera berteriak memerintahkan para warrior untuk melindungi sang pemimpin dari orang jahat.
Tak menunggu waktu lama sekelompok proa berpakaian serba hitam melompat dari balik semak-semak. Para omega segera bersembunyi di tempat yang aman. Suara pedang saling beradu memainkan irama yang khas.
Sungguh bodoh penyerang tersebut memilih lawan yang salah. Walaupun jumlah pasukan warrior yang dibawa Alpha Lory tergolong sedikit, tapi semuanya merupakan petarung tingkat tinggi. Ibarat kata satu warrior setara dengan sepuluh warrior biasa.