Chapter 101 - Rindu Kasih Papa

948 Kata
Pria berumur lima ratus delapan puluh lima tahun itu tidur telentang, kedua matanya yang berwarna ungu menatap langit-langit kamarnya yang berwarna hijau lembut. Aku akan tanyakan soal aku punya anak perempuan lain atau tidak besok hari, batin Samuel memejamkan mata. Tak lama kemudian alam bawah sadar menariknya ke alam mimpi. *** Di sebuah tempat yang indah yang dikelilingi pohon-pohon yang besar berdaun lebat. Pohon itu bukanlah pohon biasa yang akan berbuah buah-buahan melainkan segala jenis permen yang sangat disukai anak-anak bahkan orang dewasa. Beberapa permen warna-warni tampak berjatuhan di atas rerumputan hijau nan lembut. Xynerva menatap ke arah ke langit. Bukan langit biru dengan awan-awan putih yang melayang bebas, tapi permen kapas merah muda yang membuatnya ingin terbang ke atas dan memakannya sampai habis. Tak ingin membuatnya bertambah lapar, dia mengalihkan ke arah depan. Terlihat dua orang yang berbeda sepasang papa dan anak perempuannya. Xynerva melihat sosok pria dewasa yang sedang mendorong ayunan yang ditempati Xynerva kecil. Xynerva kecil tertawa lepas sambil berkata. "Papa dorong lebih keras lagi!" pintanya. "Baiklah, papa akan menuruti permintaan Tuan Putri papa," ujar pria dewasa dengan nada yang lembut. Tangannya bergerak mendorong lebih keras ayunan sehingga membuat Xynerva kecil tertawa senang. Rambut hitam panjang anak perempuan yang berusia sembilan tahun itu berkibar dengan bebas. Di atas kepalanya dihiasi mahkota yang terbuat dari rotan yang dihiasi permen-permen membuatnya tampak imut dan lucu. Puas main ayunan Xynerva kecil turun dari bangku ayunan. Tangan kecilnya digenggam pria dewasa. "Tuan Putri, kita duduk di sana," ujarnya menunjuk salah satu pepohonan yang berada paling dekat dengan mereka yang disetujui Xynerva kecil. "Iya, papa." Papa menyodorkan permen lolipop rasa stroberi yang sudah dibuka bungkusnya. Anak perempuan itu dengan senang hati menerima dan memasukkannya ke dalam mulut. "Terima kasih, Papa." "Sama-sama sayang," ujar pria dewasa mengusap kepala putrinya dengan sayang. Melihat pemandangan papa dan anak yang berwujud Xynerva kecil itu yang penuh kasih sayang membuat bibir Xynerva membentuk senyuman manis. Apalagi saat Xynerva kecil tertawa karena lelucon lucu yang dibuat sang papa. Xynerva merasakan hatinya menghangat dan perasaan senang menyelimuti dirinya. Ini adalah hal yang sudah lama dia diimpikan sejak kecil. Xynerva yang waktu itu masih kecil sangat iri pada teman-teman sekelasnya yang diberikan kejutan oleh papa mereka. Dia begitu penasaran bagaimana rasanya punya seorang papa? Selama ini dia hanya punya sosok mama dan nenek. Dan saat ini dia merasakannya. Apakah ini rasanya kasih sayang dari seorang papa? Xynerva merasa terlindungi, ibarat kata jika panas matahari berada di atas kepala dan menyengat kulit akan ada sosok papa yang menghalangi sinar matahari melukai kulitmu. Xynerva sudah sejak lama menginginkan keluarga yang lengkap yang terdiri dari mama, papa, nenek, dan kakek. Dan juga saudara. Oh, ya kalian tahu Xynerva sudah lama ingin punya saudara, tapi hal itu mustahil dia dapatkan mengingat orang tuanya yang berpisah secara tak langsung. Xynerva tak ingin terbangun dari mimpi yang sangat indah ini. Dia ingin selamanya berada di sana. Dokter Anna Kalisha sudah berulang kali mencoba membangunkan Luna Xynerva yang tengah tersenyum di saat tidur. Selimut yang harusnya menyelimuti tubuhnya sudah jatuh dari ranjang spring bed akibat sang pemilik yang selalu bergerak saat tidur. "Luna? Apa anda tak lapar ini sudah jam 7 pagi?" ucap Dokter Anna. Hingga akhirnya kedua mata cokelat yang indah itu terbuka. Dia perlahan-lahan bangkit dari posisi telentang menjadi duduk. Dia mengingat mimpi indah yang baru dialaminya itu, membuat sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Apa ini tanda aku akan diakui sebagai anak oleh papaku? batin Xynerva menebak. "Luna, lebih baik anda segera membersihkan diri omega sudah menyiapkan air mandi hangat untuk anda mandi," ujar Dokter Anna Kalisha. Kali ini seragam kuning cerah membalut tubuh berisinya. Dan juga "Sekarang sudah jam 7? Aku terlambat!" jerit Xynerva tiba-tiba saat menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi yang membuat Anna terkejut. "Luna, bukankah anda bilang kalau hari ini tidak sekolah karena sekolah ada perbaikan atap yang bocor?" sahut Anna mengingatkan Luna nya itu. Mungkin saja Luna nya itu sedang lupa akibat bangun kesiangan? batin Anna dalam hati. Luna Xynerva mengalihkan pandangan ke dokter Anna. "Sebentar, aku ingat dulu. Ah, ya aku baru inget kalo hari ini tidak sekolah karena pihak mau renovasi atap sekolah yang bocor," ujarnya. Luna Xynerva memutuskan untuk membersihkan diri tanpa dibantu omega wanita. Setelah itu dia memakai kaos polos dan celana panjang hitam, lalu meraih smartphonenya yang berada di meja. "Ma, bisa datang ke sini tidak?" tanya Xynerva setelah tersambung telepon. "Mama bisa ke sana, tapi agak siang. Soalnya mama lagi masak nih," sahut Zeline yang memang sedang masak. "Baiklah, ma. Xynerva tunggu mama di rumah. Ma, jangan lupa masakin aku cumi-cumi sambal ya!" pesan Xynerva pada mamanya. "Siap, sayang! Mama masakin masakan kesukaan kamu," ujar Zeline dengan senyuman di wajahnya. "Aku tutup telponnya dulu, ma. Biar mama fokus masaknya," sahut Xynerva. Kalau sambil masak sambil telponan nanti masakannya jadi gosong. "Oke, sayang." Xynerva menutup sambungan telepon. "Mama, pasti senang mengetahui kabar kalau aku ketemu sama orang yang mirip seperti papa," ujar Xynerva senang. "Aku juga akan tanyakan apakah papa pernah mengunjungi mama lagi." "Aku akan ajak mama menemui papa langsung. Papa pasti saat liat mama pasti ingat." *** Samuel belum berangkat ke kantor. Dia hari ini masuk kantor siang hari. Pria itu sudah membersihkan diri dan memakai kemeja biru tua dan celana dasar hitam. Samuel dan istrinya Fawnia duduk berdampingan, sedangkan Hart dan Birdella duduk di samping ibu dan ayahnya di meja makan. Aroma nikmat masakan terbawa angin yang berembus. Dua pelayan sedang membawa nampan dan meletakkan mangkuk-mangkuk dan piring-piring kosong di atas meja. Setelah selesai meletakkan makanan dua orang pelayan itu mohon pamit. Samuel tampak melamun dan sampai ditegur oleh Fawnia. "Samuel, ada apa denganmu?" tanya Fawnia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN