Xynerva melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya yang lumayan ramai disambut dengan suara kedua temannya.
"Xynerva, kau sudah sembuh?" tanya Lily dengan senyuman di wajahnya. Dia tampak senang sekali melihat kedatangan Xynerva.
"Iya, aku sudah sembuh," balas Xynerva sembari meletakkan tasnya di atas kursinya, kemudian duduk diikuti dengan kedua temannya.
"Aku senang akhirnya kau bisa masuk sekolah lagi," ujar John.
"Ya, aku juga. Aku pasti sudah banyak ketinggalan materi pelajaran di sekolah," ujarnya sedih.
"Jangan khawatir! Catatan punyaku lengkap, kau bisa menyalinnya." Lily mengambil tiga buku catatannya dari dalam tas dan memberikan pada Xynerva.
Xynerva mengambil dan membuka buku catatan sejarah milik Lily kemudian membacanya dari halaman terakhir dia sekolah.
"Ya ampun, catatannya banyak sekali," ujarnya mengeluh dan menggelengkan kepala. Bayangkan catatan yang harus dicatat sebanyak dua puluh lembar. Belum lagi catatan yang lain.
Lily memasang senyuman. "Ya, begitulah Xynerva. Ini 'kan catatannya sudah dua minggu. Oh, ya Xynerva ada beberapa tugas yang harus kau kumpulkan ke guru," ujarnya.
"Tugas yang mana saja?" tanya Xynerva pada Lily.
"Tugas matematika, sejarah, biologi, kimia, fisika," sahut Lily.
"Apa? Banyak sekali!" ucap Xynerva dengan raut wajah shock. Dia sampai berdiri dari kursinya.
John tertawa geli melihat reaksi berlebihan temannya itu. "Biasa saja kali, Xynerva. Kau 'kan pintar jadi pasti tidak susah mengerjakan tugas itu. Kalo kami baru shock karena kami kurang pintar," ujarnya.
Berselang beberapa saat kemudian ibu guru berjalan masuk. Wanita cantik yang sudah tidak mudah lagi itu duduk di kursinya. Dia mulai mempresensi satu per satu anak didiknya.
"Nerissa, sudah sehat Nak?" tanya Bu Patmi Veronica guru mata pelajaran fisika.
Xynerva mengangguk mengiakan. "Iya, Bu. Nerissa sudah sembuh," ujarnya dengan senyuman di wajahnya.
Kemudian pelajaran pun dimulai.
***
Setelah pulang dari sekolah dia berencana untuk jalan-jalan bersama kedua sahabatnya. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil milik John. Xynerva mengambil smartphone dari dalam tas sekolahnya, kemudian membuka aplikasi hijau, dia mengirim pesan pada sopir sekaligus warrior.
Dari Nerissa Xynerva Zanitha
Jen, jemput aku jam tiga sore nanti. Aku jalan-jalan dengan teman-teman ku. Tidak perlu khawatir.
Balasan Jenny
Luna, anda mau pergi ke mana? Anda tidak boleh berkeliaran di luar. Di luar tidak aman Luna. Saya takut ada para penjahat yang akan melukai Anda.
"Masa jalan-jalan dikit tidak boleh?" ujarnya sebal. Tangannya bergerak memblokir kontak Jenny.
"Kenapa Xynerva?" tanya Lily karena wajah Xynerva ditekuk.
"Ini, aku tidak boleh jalan-jalan sama penjagaku," sahutnya mengerucutkan bibirnya lucu.
"Kalau dipikir-pikir memang bikin kesel kalo tidak diizinin," sahut Lily setuju.
"Sudah biarkan aja Xynerva. Kita tetap akan ke pusat perbelanjaan," sahut John. Sementara itu matanya masih fokus menatap jalanan yang padat oleh kendaraan.
"Kau tahu Xynerva selama dua minggu ini aku dengan John tidak jalan-jalan baru hari ini kami jalan-jalan denganmu," ucap Lily.
"Benarkah? Kita akan jalan-jalan sepuasnya," sahut Xynerva.