Chapter 95 - Kenapa Papa Pergi?

1186 Kata
Tiga orang sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Di mall ada banyak orang berbelanja, sekedar melihat-melihat saja ada yang bersama teman, pasangan, dan keluarga mereka. Puas bermain di pusat permainan membuat perut mereka berbunyi keroncongan. "Ly, kita akan di sana aja yok! Di sana tidak terlalu ramai," ajak Xynerva pada kedua temannya. "Baiklah, Xynerva kita makan di sana saja," sahut Lily setuju. Mereka bertiga berjalan masuk ke restoran yang memiliki nama restoran Bintang. Begitu masuk mereka disambut oleh pelayan wanita yang ramah dengan senyuman di wajah. Wanita pelayan itu membawa mereka menuju meja yang kosong yang terletak di pojok kanan. "Nona-nona dan Tuan Muda, kalian ingin memesan apa?" tanya si pelayan wanita ramah setelah memberikan buku menu makanan dan minuman. "Aku pesan nasi ayam goreng dan minumannya jus stroberi," ucap Xynerva. "Aku nasi ikan pindang dan minumannya es jeruk," jawab John. "Dan aku nasi ayam bakar dan untuk minumnya jus apel," sahut Lily. Pelayan wanita mencatat semua pesanan di buku pesanan, kemudian membawa catatan tersebut ke bagian dapur. Tanpa menunggu waktu yang lama, pesanan yang pesan telah diantar ke meja. Aroma masakan yang enak menggoda perut mereka. Uap panas keluar dari masakan tersebut. "Ah, masakannya enak sekali! Harganya juga tergolong murah," komentar Lily menikmati potongan ayam bakar miliknya. "Betul sekali. Biasanya restoran ini ramai, tapi hari ini sepi," sahut John sambil makan ikan pindangnya. "Mungkin karena sekarang banyak orang yang belum pulang dari kerja?" tebak Xynerva, meminum jus stroberinya. Air dingin menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering. Xynerva kemudian mengalihkan pandangan ke sekitarnya untuk melihat interior restoran karena tadi pas masuk baru lihat sedikit. Keningnya berkerut ketika melihat wajah seorang laki-laki yang sepertinya pernah dilihatnya di suatu tempat. Laki-laki itu duduk menghadap ke arahnya dengan jarak satu meja. Pria itu sedang menikmati makanan yang di pesannya. "Bukannya wajah pria itu mirip wajah papa?" ucap Xynerva dalam hati setelah beberapa saat berpikir untuk mengingat. Gadis itu mengambil smartphone dari dalam tas sekolahnya, lalu mencari foto di galeri yang disimpannya. Dia menemukan foto tersebut dan menemukannya, kemudian dia membandingkan wajah pria itu dengan foto yang ada di handphonenya. Wajah itu benar-benar mirip. Di dunia ini tak mungkin ada wajah yang seratus persen mirip 'kan? Biar pun saudara kembar sekali pun pasti masih ada perbedaannya, pikir Xynerva dalam hati. Tanpa menunda lagi, Xynerva bangkit dari posisi duduknya setelah menghabiskan makanannya menghampiri orang yang mirip seperti papanya. "Xynerva, kau mau ke mana?" tanya Lily yang melihat temannya itu berjalan. "Papa!" panggilan seorang anak perempuan membuat pria yang sedang makan itu mencari sumber suara. "Kau siapa? Aku tidak kenal kau," ujar bapak itu terkesan cuek lalu lanjut memakan makanannya lagi. "Papa, ini Xynerva anak papa yang ditinggalkan waktu masih di kandungan mama," ujar Xynerva berusaha menjelaskan sambil menunjukkan foto versi lama di dalam ponselnya pada pria itu. "Hey, nak jangan mengaku-ngaku sebagai anakku! Aku saja tidak kenal siapa kau," sahut bapak itu. Bapak itu melihat sekilas foto yang ditunjukkan anak gadis itu. Ya, foto itu memang mirip dengan dirinya, tapi tidak mungkin itu adalah dia. "Dengar Nak. Aku bukan papamu, kau pasti salah orang," jelas si bapak. Beberapa orang sampai melihat ke arah mereka berdua. "Aku pasti tidak salah, Pa. Aku sudah lama ingin bertemu dengan papa. Tapi kenapa papa tidak mengakuiku?" tanya Xynerva. Hatinya begitu terluka melihat orang yang dia rindukan tidak menginginkannya. "Hei pak. Kenapa kau begitu jahat tidak mengakui putrimu sendiri?" Seorang wanita merasa kasihan melihat Xynerva yang tidak diakui sebagai anak. Dia berjalan menghampiri kedua orang itu. "Jangan berkata sembarangan aku tidak kenal siapa anak ini!" tegasnya untuk kesekian kalinya. Karena tak nyaman dan merasa diganggu. Bapak itu memutuskan untuk menyudahi acara makannya dan membayar kasir. Tidak menyerah Xynerva berjalan mengikuti bapak yang mirip seperti papanya. "Pa, jangan tinggalkan Xynerva lagi!" ucap Xynerva berjalan mengejar. Lily dan John bergerak menyusul Xynerva walau makanan dan minuman yang dipesan mereka belum habis. "Tuan Muda dan Nona, bayar dulu makanan dan minuman yang kalian pesan. Jangan main pergi saja," omel tukang kasir karena Lily dan John sampai lupa untuk membayar tagihan. "Ly, kau kejar Xynerva. Aku yang akan bayar tagihannya," pinta John yang dijawab anggukan setuju Lily. Lily menyusul bergerak menyusul Xynerva yang sudah berjalan jauh. "Pa, tunggu Xynerva!" mohon Xynerva. Beberapa pengunjung melihat ke arah mereka dengan wajah penasaran apa yang sedang terjadi. "Nak, aku bukan papamu! Kau salah orang!" jelas si bapak dengan nada penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan. Wajahnya sedikit sebal dan kesal. Si bapak akhirnya berhenti dan berbalik menghadap Xynerva untuk menjelaskan. "Kalau kau butuh uang katakan saja, tak perlu bersandiwara seperti ini," sambungnya lagi. Karena beberapa hari yang lalu ada seorang anak laki-laki yang mengaku-ngaku seperti anak perempuan itu. Dan kali ini pasti sama. Xynerva merasa terluka dengan ucapan orang yang mirip seperti papanya itu. Air matanya hampir menetes. "Aku tidak bersandiwara, pa. Oh mungkin papa lupa dan tidak mengenalku karena waktu itu aku masih di dalam kandungan mama." "Kau jangan membuatku malu diliatin orang-orang," ujarnya dengan menunjuk Xynerva dengan raut wajah kesal. "Papa, pasti kenal dengan wajah ini," ucap Xynerva membuka foto mamanya yang sedang tersenyum menatap kamera lalu menunjukannya pada si bapak. "Sudah cukup! Kau membuat kesabaranku habis! Jangan bicara omong kosong lagi! Aku tidak mengenal siapa kau dan wanita yang kau katakan mamamu itu!" teriaknya marah. Wajahnya memerah karena emosi. Dia menepis smartphone Xynerva sampai jatuh di atas lantai. "Ambil ini dan pergilah menjauh!" usirnya tangannya mengambil segepok uang merah bernilai pecahan seratus ribu dari saku celana yang dipakainya, lalu meletakkannya ke dalam tangan Xynerva. Kemudian pria itu berjalan menjauhi Xynerva yang tercengang dan tak percaya dengan sikap papanya yang kasar. Tak disadarinya air matanya sudah jatuh dan dia menangis. "Pa, kenapa tidak mengakui mama adalah istri papa. Apa papa sudah benar-benar melupakan kami?" ujarnya menangis sesenggukan. Dia jatuh merosot di atas lantai. Mengambil smartphonenya yang terjatuh yang masih menampilkan foto mamanya. Beberapa orang yang melihat Xynerva menangis sedih di tengah lantai membuat mereka iba. Xynerva menghiraukan seragam sekolahnya yang kotor terkena debu lantai. "Nak, kau kenapa?" ucap seorang wanita yang sekitar berumur lima puluh tahun datang menghampiri Xynerva. "Papaku pergi meninggalkanku, dia tak mengakuiku sebagai anaknya," ucapnya parau. Wanita asing itu mencoba menghapus air mata Xynerva. "Sudah, sudah nak jangan menangis lagi! Seragammu jadi kotor," ucapnya berusaha menenangkannya. Dia memeluk Xynerva erat, dan mengelus rambut panjangnya yang terurai. Ada ya orang tua yang tega meninggalkan anaknya sendiri sampai menangis sesenggukan, apalagi anak ini masih kecil, batin wanita itu merasa iba. Setelah dirasanya tangis Xynerva sedikit reda. Dia membawa gadis itu duduk di salah kursi yang ada. "Nak, bagaimana jika ibu memberikanmu es krim yang enak?" tawarnya berharap Xynerva bisa berhenti menangis. "Tidak bu, Xynerva tidak mau," tolak Xynerva menggeleng, masih dengan air mata yang mengalir di kedua sudut matanya. Wanita yang memiliki nama Deasy itu mengusap kepalanya yang bingung. Haduh, dengan cara apa aku membujuknya? batinnya bingung. "Anak cantik, berhentilah menangis! Kata orang kalau menangis nanti cantiknya hilang lho," bujuknya. Entahlah apakah itu akan berhasil? Terlihat John dan Lily celingukan mencari temannya yang tiba-tiba menghilang. Akhirnya dia tersenyum lega melihat Xynerva bersama seorang wanita yang tidak terlalu tua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN