"Kita sudah sampai Natasha." Fahar berujar seraya menurunkan Natasha dengan hati-hati dari gendongannya.
Fahar kemudian mengalihkan pandangan ke sekelilingnya. Di depan ada bangunan besar dan tinggi bercat putih. Beberapa pelayan sedang membersihkan daun-daun yang berserakan.
"Ini istana milik siapa?" tanya Fahar masih terus menatap bangunan tersebut.
Natasha yang sedang duduk di kursi menjawab dengan nada santai. "Itu istana milik kita, sayang."
Istana punyaku? Tempat tinggalku bukanlah bangunan ini, batin Fahar menolak.
Fahar ingat dia belum pernah melihat bangunan yang memiliki atap kerucut tersebut. Jika dihitung memakai angka, dia pertama kali melihatnya. Jadi, mana mungkin bangunan mewah itu adalah miliknya.
"Kenapa? Tidak percaya? Kau pikir aku berbohong?" tanya gadis itu menatap Fahar lekat.
Fahar diam saja tidak menjawab. Pandangan matanya teralihkan saat sebuah suara menyapanya. "Istana ini adalah milik Tuan. Anda tidak mungkin melupakannya 'kan?" Wanita yang berstatus sebagai pelayan itu ikut menjawab.
Tiba-tiba ingatan ketika gadis yang disukainya mengajaknya ke perpustakaan daerah untuk meminjam beberapa buku terlintas di pikirannya, lalu keinginannya untuk membebaskan Natasha dari alam mimpi juga muncul. Pria itu tersadar.
Ini dunia mimpi jebakan wanita berambut hijau itu! batin Fahar dengan raut wajah serius.
Kenapa aku bisa ikut terpengaruh oleh mantra sihirnya? Aku harus segera menyelamatkan Natasha sebelum terperosok terlalu dalam.
"Kau bukanlah Natasha!" Tunjuk Fahar pada wanita yang menatapnya dengan tatapan cinta. Dia mengucapkannya dengan nada membentak dan marah.
"Kau tega sekali padaku, sayang. Aku tidak suka dibentak." Wanita itu membelai wajah Fahar, nada bicaranya membuat pria itu jijik. Fahar mengibaskan tangan wanita itu.
Setelah berkutat dan berusaha akhirnya Fahar terlepas dari dunia mimpi. Pria itu menemukan Natasha masih terpengaruh sihir ilusi.
Fahar menggoyangkan bahu Natasha. "Natasha sadarlah! Itu adalah sihir ilusi," ujar pria itu.
"Kau cepat sekali terbebas dari sihir ilusiku. Kenapa kau keluar bukankah di alam mimpi itu menyenangkan?" Ghea sekali lagi berusaha mempengaruhi Fahar.
"Lepaskan Natasha!" perintah Fahar. Ghea hanya tertawa sebagai jawaban.
Fahar menggerakkan tangan, kemudian membaca mantra. Tidak lama kemudian energi spiritual muncul. Dia melemparkan energi spiritual tersebut pada wanita itu yang dengan mudahnya menghindar.
Fahar mengeluarkan pedangnya dari dalam penyimpanannya dan bergerak memainkan benda tajam itu menyerang Ghea yang terus saja menghindar.
"Kita bisa bicarakan baik-baik, Fahar," mohon wanita berambut hijau itu.
Fahar melemparkan energi spiritualnya. Ghea menjerit kaget saat rambut hijau kesayangannya terbakar api.
"Jangan lempar lagi! Oh, rambut kesayanganku." Ghea menatap sedih helaian rambutnya yang terluka. Aroma angus menguar di udara.
"Baiklah, aku akan menghentikannya." Fahar mengembalikan pedangnya ke tempat yang semula. Sebagai gantinya pria itu mengikat Ghea dengan tali energi spiritual supaya wanita itu tidak kabur.
"Aku tidak bisa mengeluarkan gadis itu, kecuali dia sendiri yang mencari jalan keluar," jelas Ghea.
"Apa maksudmu?" tanya Fahar tidak mengerti.
"Gadis itu harus menemukan titik keluarnya," ucap Ghea berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.
"Aku sudah memberi tahu apa yang aku ketahui, jadi tolong lepaskan aku Fahar," pinta Ghea dengan nada memohon.
Fahar tidak langsung menjawab. Dia sedang menimbang-nimbang apakah dia harus melepaskan wanita itu atau tidak?
"Oh, tentu saja tidak. Aku bukan orang bodoh yang mudah kau bodohi. Begitu aku melepaskan tali yang mengikatmu kau pasti akan kabur." Benar, itulah yang dipikirkan oleh wanita berusia tiga puluh tahun itu.
"Tentu saja tidak, aku bukan orang yang tidak menepati janjiku." Ghea mengeluarkan energi spiritualnya mengarahkannya pada tali yang mengikat, tapi gagal. Kekuatan itu lebih kuat.
Fahar diam saja. Siluman burung emas merah dua belas bulu itu melangkah menghampiri Natasha.
"Natasha, kau bisa dengar aku?" tanya Fahar yang tidak mendapatkan jawaban.
Alam mimpi Xynerva
Xynerva ditarik ke tempat yang lain. Hari ini bertepatan musim gugur berganti menjadi musim salju. Gadis itu bisa melihat dari jendela hotel transparan. Tangan mungilnya merasakan hawa dingin ketika menyentuh kaca transparan itu.
Butiran-butiran bola putih turun tanpa beraturan. Jalan-jalan hitam berganti warna menjadi putih. Taman-taman hijau berganti putih. Pohon-pohon hijau berganti putih. Semuanya serba putih seputih kapas.
"Xynerva?" Panggil seseorang dengan nada lembut. Xynerva menoleh dan menatap orang yang memanggilnya tersebut.
"Iya, Ma." Zeline berjalan mendekat ke arahnya sembari membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan dua roti berselai kacang almond. Meletakkannya di atas meja kecil.
"Ma, aku mau jalan-jalan boleh 'kan?" tanya gadis itu semangat menunjuk ke arah jalanan yang sudah dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang.
"Tentu, kita akan jalan-jalan sayang," jawab Zeline lembut.
"Ayo sekarang kita berangkat!" ujar Xynerva bersemangat.
"Tapi Xynerva belum makan. Ayo makan dulu, Nak. Barulah setelah itu kita berangkat." Xynerva memakan roti berselai almond dengan nikmat, lalu meminum teh hangatnya.
"Ayo kita berangkat sekarang!" seru Xynerva dengan semangat.
"Kau harus menggunakan mantel agar kau tak kedinginan." Zeline memasangkan mantel hijau tosca di tubuh Xynerva, sedangkan wanita itu menggunakan mantel berwarna coklat muda. Setelah itu mereka turun ke lantai dasar.
Zeline mengajak Xynerva duduk di salah satu bangku taman hotel. Letak taman ini berhadapan langsung dengan jalan raya. Di taman hotel ini banyak orang-orang yang duduk atau sekedar untuk bersantai sambil meminum secangkir teh hangat. Semua orang tampak bahagia.
Xynerva melihat jalan-jalan putih dipenuhi kendaraan yang berlalu lintas. Banyak orang tua dan anak-anak kecil berjalan di zebra cross di sisi kanan kiri jalan.
Aku sejak tadi tidak melihat burung-burung mungkin saja mereka sedang berlindung di sarang kecil mereka, menghangatkan tubuh, batin Xynerva.
Keheningan beberapa saat melanda, gadis itu memikirkan suatu rencana. Xynerva tersenyum penuh aksi. Dia siap menjalankan aksinya.
Xynerva mengubah posisi menjadi jongkok, mengambil bongkahan salju lembut, dan membentuknya menjadi bola-bola kecil.
Zeline sedang melamun, menatap lurus ke depan. Xynerva melemparkan ketiga bola salju secara berturut tepat di wajah sang ibu. Rasa dingin dan sejuk menyentuh kulit putih wajah Zeline, membuat wanita itu tersadar.
Xynerva tertawa terbahak-bahak. Zeline tidak marah, dia justru mengangkat tangannya membersihkan butiran salju di wajahnya. Wanita itu berdiri mendekat ke arah Xynerva dengan senyuman di bibirnya.
"Baiklah, mumpung kita berada di sini. Kita akan bermain perang salju." Zeline berkata dengan raut wajah senang.
"Ini wilayah Mama dan ini wilayahmu." Zeline mengambil ranting yang tergeletak, menggariskan tanah untuk membagi wilayah permainan.
"Satu, dua, tiga mulai!" Balin bertugas sebagai wasit.
Walaupun sudah tua Zeline tetap semangat dan lincah melemparkan bola-bola salju ke arah Xynerva yang menghindar dengan baik.
"Aku harus membentuk benteng perlindungan." Xynerva membentuk tembok benteng dari salju.
Permainan perang bola salju berlangsung dengan sangat menyenangkan dan gembira.
"Aku senang sekali bisa melihat kita berkumpul. Aku sudah lama menginginkan keluarga yang lengkap," ucap Xynerva setelah mereka telah menyelesaikan permainan perang bola salju.
Zeline dan Balin tersenyum hangat dan lembut. "Kami juga sayang." Balin mengusap kepala Xynerva itu dengan penuh kelembutan.
"Ke depannya kita akan terus bersama. Tidak ada yang akan memisahkan kita lagi." Kali ini Zeline yang menjawab.
Senyuman di wajah Xynerva tidak pernah luntur. Gadis itu terlalu larut dalam kebahagiaan yang tidak nyata, tidak menyadari bahwa semua itu hanyalah ilusi bukanlah real.
Sementara itu Fahar terus menerus memanggil Natasha.
"Sudahlah biarkanlah dia tetap berada di alam mimpi. Semua yang gadis itu lihat semua keinginan yang belum tercapai di dunia nyata," ucap Ghea.
***