Fahar tidak pernah berhenti berusaha untuk membangunkan Xynerva dari alam mimpi. Selama itu pula Ghea juga dikurung. Di alam nyata semua orang yang melihat akan menganggap kedua orang itu sedang membaca buku, itu untuk manusia biasa yang melihat. Jika yang melihat bukanlah manusia, mereka akan tahu sebenarnya dua orang itu sedang terjebak di tempat lain.
"Kau mau dilepaskan atau tidak, penyihir?" Fahar bertanya melirik sekilas Ghea yang tampak diam saja tidak memberontak seperti sebelumnya.
Kelopak mata wanita itu terbuka. "Tentu saja aku ingin dibebaskan."
"Beri aku petunjuk soal alam ilusi yang kau buat ini! Jangan katakan kau tidak tahu menahu soal itu!" tegas Fahar.
"Sebentar, aku ingat-ingat dulu." Ghea memasang pose berpikir.
"Jalan kedua adalah tetesan air sungai yang ada di alam ilusi," ujar wanita berambut hijau itu beberapa saat kemudian.
Ghea, seorang penyihir wanita. Dia sudah banyak menjebak para manusia dengan sihir ilusi, menciptakan seolah apa yang dilihat dan dirasakan seakan-akan nyata. Kebanyakan manusia tidak bisa mewujudkan semua keinginannya, sehingga mereka tidak bisa keluar. Sementara itu tubuh mereka yang asli perlahan-lahan akan hilang. Awalnya Ghea mengira akan menambah dua orang manusia lagi di alam ilusi miliknya, tapi dia kali ini salah mengambil lawan. Ghea berpindah-pindah tempat menciptakan alam ilusi.
"Kau harus berjanji untuk melepaskanku setelah gadis itu kembali sadar?"
"Aku, Fahar. Siluman burung emas merah dua belas bulu berjanji padamu akan melepaskanmu setelah semua urusan selesai."
Dengan terpaksa Ghea memunculkan botol kecil keramik yang berisi air sungai penawar ilusi, lalu menyodorkannya pada Fahar.
Fahar membuka tutup botol, meneteskan sedikit airnya ke atas telapak tangan Xynerva. Tanpa menunggu waktu lama gadis itu tersadar. "Aku bukankah bersama mama dan papaku?" ujarnya dengan raut wajah bingung.
"Natasha, apa yang kau lihat itu tadi. Semua itu hanyalah keinginan dan harapan yang belum terjadi. Dan wanita ini yang telah menjebakmu." Fahar menunjuk Ghea yang menampilkan wajah tanpa dosanya.
"Wanita tua, kenapa kau tega sekali menjebak kami ke dalam khayalan?" tanya Xynerva marah.
"Siapa yang kau bilang wanita tua?" protes Ghea tidak terima.
"Kau lah siapa lagi?" Tunjuk Xynerva.
Benda apa yang mengikat badannya itu? Bentuknya seperti tali, tapi warnanya berbeda, batin Xynerva menatap tali energi spiritual yang mengikat Ghea.
"Aku bukan wanita tua. Baiklah, lupakan soal itu." Ghea mengembuskan napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Fahar, kau harus melepaskanku," ucapnya mengalihkan pandangan pada pria yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aku yakin kau pasti telah banyak menjebak para manusia. Kau harus membebaskan mereka juga," jawab Fahar.
"Kau!" Ghea menolak.
"Baiklah, aku akan pergi. Tinggallah kau di alam ilusimu sendiri." Fahar mengajak Natasha untuk berjalan membuka pintu.
"Tunggu! Jangan pergi! Ya, aku setuju akan membebaskan mereka," jawab Ghea pada akhirnya mengalah.
Ghea membebaskan semua manusia yang terjebak di alam ilusi. Para manusia itu segera dikirim kembali ke dunia nyata.
***
"Natasha, sebenarnya apa yang kau lihat saat di alam ilusi itu?" Fahar bertanya saat mereka berada dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Kedua orang tua yang lengkap. Aku di dalam mimpi sangat bahagia, kami bertiga bermain perang bola salju. Aku juga melihat semasa orang tuaku masih muda, dan melihat waktu mama mengandungku." Xynerva tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya.
Fahar mengerti mengapa banyak orang-orang yang terjebak di alam ilusi karena di sana semua orang mendapatkan kebahagiaan. Masuk akal saat pria itu mencoba membangunkan Natasha dan memberi tahunya jika itu ilusi, Natasha tidak kunjung terbangun dan sadar.
"Natasha, aku yakin suatu saat nanti kau akan berkumpul kembali dengan ayahmu secara nyata bukan khayalan." Fahar tersenyum memberikan semangat, tangannya menyentuh bahu gadis itu.
"Ya, aku juga berharap itu terjadi sejak lama." Xynerva tersenyum membalas senyuman Fahar, lalu menatap langit yang sudah berubah warna menjadi oranye. Burung-burung terbang melintas. Semua toko di pinggir jalan sudah tutup. Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Tidak ada orang yang berada di luar selain mereka berdua. Suasana sepi dan tenang.
"Fahar, terima kasih karena telah menolongku," ujar Xynerva melirik sekilas Fahar yang berjalan di sampingnya.
Fahar mengangguk. "Sama-sama, Natasha. Aku senang bisa menolongmu." Laki-laki berusia delapan belas tahun itu merasakan ada yang berjalan mengikuti mereka. "Natasha, apa kau merasakan ada yang aneh?" tanyanya.
Xynerva memasang wajah serius. Dahinya mengernyit. "Aku tidak merasakan apapun selain suasana yang sepi," ujarnya jujur.
Fahar mengajak supaya Xynerva berjalan lebih cepat dari yang sebelumnya. Langkah mereka terhenti saat lima orang berpakaian serba hitam melompat dan menghalangi jalan mereka.
"Kalian ini kurang kerjaan menghalangi jalan orang! Kalau memang tidak ada kerjaan main mobil-mobilan saja di rumah!" Xynerva berteriak dengan nada dan raut wajah kesal sembari menunjuk satu per satu orang-orang itu tanpa rasa takut. Oh, ayolah perutnya sudah lapar. Gadis itu ingin cepat pulang dan menyantap makan malamnya.
Fahar dalam hati merasa kagum dengan ketidak takutan Natasha saat ini. Gadis itu malah berteriak marah.
"Sungguh berani kau gadis kecil berkata begitu! Kalian berdua tidak tahu siapa kami?" tanya salah seorang dari mereka berlima yang berdiri di tengah.
"Kalian itu orang yang kurang kerjaan! Kalian berlima pergilah jangan ganggu kami!" balas Xynerva dengan nada yang sama.
Fahar mencoba mengingat tentang siapa orang-orang yang dengan berani menghalangi jalan mereka. Pria itu bisa merasakan mereka berlima bukanlah manusia. "Kalian ada urusan apa?" tanyanya dengan nada tidak bersahabat.
"Sepertinya siluman burung emas merah sudah mulai berteman dengan kaum manusia ya? Sungguh menggelikan," ujar pria yang memiliki t**i lalat di dagunya dengan nada mengejek.
Dia tahu identitas asliku? Padahal aku sudah menutupinya dengan sebaik mungkin, batin Fahar mencoba mencerna.
Mereka sepertinya bukan orang yang diutus untuk mencelakaiku. Mereka ingin mencelakai Natasha dilihat dari pandangan mereka yang fokus ke gadis itu, pikir Fahar.
"Serahkan gadis kecil itu pada kami. Maka masalah ini akan cepat selesai. Kau juga bisa pergi tanpa perlu terluka." Pria bertahi lalat di dagu itu berjalan menghampiri Fahar yang berdiri di depan Xynerva melindunginya.
"Jangan pikir aku akan menyerahkan Natasha pada kalian!" Fahar menjawab dengan tegas.
Kenapa mereka menginginkan aku? Aku tidak pernah ingat kalau punya utang atau masalah dengan mereka, batin Xynerva heran, mengintip mengamati satu per satu penampilan wajah orang yang tampak misterius itu. Bayangkan saja tubuh mereka dibalut oleh pakaian hitam dan jubah hitam. Bahkan wajah saja ditutupi oleh topeng hitam. Bagian betis dilapisi pelindung kaki yang tampak keras. Cuma mata dan sebagian wajah saja yang terlihat. Mereka berlima sekilas seperti pembunuh bayaran.
Jangan-jangan mereka ingin membunuh kami, pikir Xynerva menduga-duga.
"Baiklah, aku akan tawarkan penawaran yang lebih menarik. Aku akan memberikan sepuluh batang emas padamu sebagai harga jual dari gadis itu. Jangan membuatku lupa bahwa leluhur kita berteman baik."
"Hei, aku ini bukan barang! Dasar orang sinting! Seenak kepalamu saja kau berkata begitu!" Xynerva tentu saja marah, dia bukanlah benda yang bisa dijual belikan. Dia adalah makhluk bernyawa.
"Gadis kecil, kenapa kau cerewet sekali? Aku baru pertama kali melihat seorang wanita yang tidak takut sepertimu." Entah itu pujian atau hinaan, Xynerva tidak ingin tahu. Dia hanya ingin pulang ke rumah untuk mengisi perutnya yang keroncongan.