Jalan raya yang semula tenang kini berubah berisik karena benda tajam yang saling beradu. Arena halaman toko berubah menjadi tempat pertarungan. Pertarungan antara Fahar dan lima orang pria asing berjubah tidaklah adil secara hitungan.
Fahar menatap dingin kelima lawannya yang kini mengelilinginya. Lima orang pria berpakaian serba hitam menyerangnya dari berbagai sisi. Pria itu menangkis dan menyerang lawannya.
Siapa orang dibalik p*********n ini? batin Fahar.
Napasnya memburu, jantungnya berdetak dengan kencang. Keringat peluh membanjiri tubuhnya. Lama kelamaan Fahar juga kewalahan menangkis lima serangan secara sekaligus.
Fahar meringis ketika pedang dari salah satu musuh berhasil menyabet bahunya, dari sela luka darah segar merembes.
"Sudah aku bilang dari awal, tapi kau dengan sombong menolak penawaran baikku," ucap pria yang paling besar.
Setiap gerakan yang dilakukan Fahar memperparah luka yang diterimanya, tapi pria itu tidak peduli. Yang dia pikirkan hanyalah cara menyelamatkan Natasha.
"Tidak akan! Kalian harus melangkahiku dulu sebelum bisa membawa Natasha dariku!" ucap Fahar dengan raut wajah dingin.
Di balik pohon tempat persembunyian, Xynerva meringis merasa tidak tega karena Fahar terluka karena melindungi dirinya. Meletakkan beberapa buku edisi soal matematika di atas tanah.
Aku tidak boleh hanya melihat saja, bagaimana pun keadaannya aku harus membantu Fahar, pikir Xynerva.
Salah satu penyerang melukai punggung Fahar. Rupanya pedang yang mereka gunakan ternyata beracun. Fahar jatuh tersungkur di atas halaman berumput. Cairan merah menetes di atas rumput hijau.
Mereka berlima benar-benar kejam, batin Xynerva kesal.
Xynerva mengambil beberapa kerikil yang tergeletak bebas di atas tanah, mengambil katapel dari balik celana yang dipakainya. Gadis itu satu per satu meletakkan kerikil di atas katapel, lalu menarik tali katapelnya.
Serangan kecil dari Xynerva mengenai dahi kelima pria itu, cukup mengalihkan perhatian mereka dari Fahar. Sehingga Fahar bisa perlahan bangkit berdiri.
"Siapa yang berani menyerang secara diam-diam?" Pria yang memiliki t**i lalat di dagunya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Xynerva segera kembali bersembunyi di balik pohon. Fahar menyadari orang yang membantunya itu adalah Natasha.
Jangan pikir seorang gadis kecil tidak bisa melawan, batin Xynerva dengan pedenya. Xynerva berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
Fahar menatap Xynerva dengan pandangan meminta gadis itu untuk bersembunyi saja, tapi Xynerva tentu saja menolak.
Pistol mainan yang berisi s**u ditembakkan Xynerva pada satu per satu badan pria berjubah. Sehingga beberapa orang mengeluh karena lengket.
"Ternyata kau gadis kecil!" ucap pria paling besar menatap gadis kecil yang berdiri dengan tidak takut. Xynerva balik menatap tajam.
Fahar bergerak melindungi, menarik Xynerva untuk bersembunyi di balik punggung tegapnya.
"Kau masih saja ingin melindunginya? Tanpa memedulikan dirimu sendiri?" Pria itu menatap Fahar dengan wajah meremehkan.
Dua orang pria berhasil ditumbangkan oleh Fahar tersisa tiga orang pria. Pria yang berbadan paling besar menatap geram melihat teman seperjuangannya kehilangan nyawa.
Xynerva dan Fahar bekerja sama dengan baik. Sebelah tangan Fahar memegang tangan Xynerva. Fahar menyerang memakai pedang dan Xynerva menembakkan pistol air s**u.
Pertarungan ini benar-benar tidak adil, keluh Xynerva dalam hati.
Isi pistol mainanku habis pula, batin gadis berambut hitam panjang itu.
Xynerva ditarik mundur ke belakang saat benda tajam hampir melukai lehernya.
Dua orang yang tidak sengaja lewat melihat pertarungan tersebut bergerak ikut membantu.
Pertarungan yang terjadi cukup seimbang, kecuali Xynerva yang sudah kepusingan meladeni penyerangnya.
Dasar penakut, ejek Xynerva melihat tiga orang pria berjubah melarikan diri.
"Terima kasih atas bantuan kalian berdua," ujar Xynerva menatap dua orang yang berdiri di dekatnya yang sedang menyarungkan pedang.
Clara mengangguk mengiakan. "Tidak masalah kami tadi kebetulan lewat jadi sekalian membantu," ujarnya lalu tersenyum.
Kemudian Xynerva mengajak berbicara di bawah pohon yang rimbun.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuan kalian," ujar Fahar tulus. Jika tidak ada bantuan dari kedua orang itu maka dipastikan akan kalah.
"Iya, sama-sama. Lukamu harus segera diobati sebelum bertambah parah."
Gabriel mengambil sebotol obat dari dalam celana yang dipakainya lalu menyodorkannya pada Fahar.
"Ini bubuk obat bisa langsung pakai," ujar Gabriel yang dibalas anggukan Fahar.
"Terima kasih."
***
Sesampainya di rumah, Zeline dan Khansa kaget melihat keadaan Fahar yang cukup mengenaskan.
"Apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa Fahar bisa sampai terluka begini?" tanya Zeline dengan raut wajah khawatir.
"Itu Ma. Kami di jalan diserang oleh orang yang tidak dikenal. Untung saja ada dua orang yang kebetulan lewat ikut membantu kami, kalau tidak entahlah apa yang akan terjadi pada kami," jelas Xynerva jujur, tanpa ada yang ditutupi.
"Xynerva dan Fahar apa kalian pernah melakukan kesalahan? Sampai membuat orang ingin balas dendam?" Kali ini Khansa yang bertanya.
"Aku tidak ada musuh tante dan nenek," jawab Fahar.
"Sama aku juga. Mereka itu pakai jubah hitam dan topeng hitam menutupi wajah mereka. Cuma kelihatan mata dan sebagian wajah saja," sahut Xynerva.
"Baiklah, Xynerva kembalilah ke kamarmu istirahat. Fahar biar Mama yang obati dia."
"Baiklah, Ma. Aku ke kamar dulu." Xynerva berjalan masuk ke kamarnya membawa beberapa buku cetak edisi matematika.
***
"Kalian gagal menangkap seorang gadis manusia biasa?" Pertanyaan itu diucapkan dengan nada membentak dan diikuti cangkir yang dilemparkan pecah berkeping-keping.
"Ampun pemimpin!" Ketiga orang pria serempak bersujud di lantai memohon ampunan.
Pemimpin mengambil napas mencoba mengurangi emosi di dalam dirinya.
"Kami sebenarnya sedikit lagi bisa mendapatkan gadis itu pemimpin. Kami tidak menduga dua orang yang lain membantu mereka sehingga kami tidak punya pilihan selain melarikan diri."
"Pergilah! Sebelum saya berubah pikiran! Selama tiga hari ini kalian tidak perlu menangkapnya. " Pemimpin mengibaskan tangannya ke atas, ketiga orang pria itu membungkuk hormat, berjalan mundur ke belakang dan meninggalkan tempat itu.
Ruangan yang suram itu hanya ada beberapa benda yang yang menyeramkan yang dipasang di dinding.
"Tampaknya saya harus merencanakan rencana yang baru. Saya harus bergerak lebih cepat."
***
Fahar menahan rasa sakit ketika Xynerva menaburkan luka di punggungnya dengan bubuk obat.
"Fahar, apakah rasanya sakit?" Xynerva bertanya seraya membalut luka di punggung pria muda itu dengan pelan.
"Tidak apa-apa, Natasha," jawab Fahar berusaha tersenyum.
Xynerva membantu memakaikan kembali pakaian pria itu dengan hati-hati takut menambah rasa sakitnya.
Maafkan aku Fahar karena aku kau terluka, batin Xynerva.
***
Clara dan Gabriel segera menghadap ke ruangan Alpha Mallory. Lory sedang melihat lukisan gambar seorang gadis yang sedang tersenyum.
"Alpha saya datang membawa informasi mengenai Luna Nerva."
Alpha Mallory mengalihkan pandangannya menatap kedua orang pria dan wanita.
"Katakan!" pinta Lory.
"Kami melihat seorang gadis yang mirip dengan Luna Nerva, tapi kami tidak berani menyimpulkan gadis itu adalah Luna yang Anda cari," ujar Clara hati-hati. Takutnya salah bicara bisa membuat Alpha Mallory Osmond Quirin marah dan menghukum mereka.
"Dimana kalian melihat gadis yang mirip dengan Luna Nerva?" tanya Lory. Lory merasa semangat karena mendapatkan berita tersebut.
"Di Jalan Harapan Mulia No. 8. Saat itu kami tak sengaja melihat mereka berdua diserang oleh sekelompok vampir. Jadi, kami datang membantu," ujar Gabriel.
"Sekelompok vampir? Kemungkinan besar mereka adalah suruhan orang itu. Kalian bawa aku ke sana."
"Aku ingin melihatnya secara langsung," sambung Alpha Lory.