Chapter 23 - Ke Dunia Manusia

1234 Kata
Hari minggu adalah salah satu hari kesukaan para siswa. Termasuk Nerissa Xynerva salah satunya. Gadis itu sedang berada di halaman belakang rumah yang dipenuhi pohon-pohon yang menjadi tempat berlindung dari teriknya sinar matahari. Suasana sepi dan damai sangat cocok sebagai tempat latihan mengerjakan soal-soal matematika setelah kamarnya. Sementara itu Zeline dan Khansa sedang berada di toko perlengkapan sekolah tepatnya menjaga toko. Sesekali Xynerva meneguk air dingin yang telah siapkannya untuk menghilangkan dahaga. Xynerva menutup buku latihan dan buku cetaknya setelah menyelesaikan soal-soal yang ada. Merenggangkan tubuh sebentar, kemudian mengambil benda pipih canggih. Dia menekan salah satu aplikasi dan menonton drama china kesukaannya. Fahar mengambil posisi duduk tepat di samping gadis yang sedang fokus menonton drama china di handphonenya, tidak menyadari kehadiran pria itu. "Keren sekali! Adegan actionnya! Dia bisa loncat-loncat, melompat, menyerang musuh, dan berputar dengan baik!" seru Xynerva heboh sendiri. Fahar yang melihatnya tertawa geli tingkah laku gadis ceria itu. Apalagi Xynerva sampai ikut mempraktekkan salah satu gerakan yang ditontonnya itu. Mendengar tawa seseorang membuat Xynerva sadar di halaman itu, dia tidak sendirian. Menoleh ke kanan dan mendapati Fahar tertawa geli. Fahar mengerti darimana gadis cantik itu bisa mendapatkan ide untuk menyerang musuh memakai katapel dan pistol air ternyata dari benda yang bisa menyimpan gambar dan suara secara bersamaan. "Eh, Fahar! Kau sejak kapan berada di sini?" tanya Xynerva mempause film di handphonenya, lalu mengalihkan pandangan pada Fahar. Fahar mengambil daun kering yang tergeletak di tanah berumput. "Sejak sebelum kau mempraktekkan gerakan-gerakan itu," ujarnya. "Oh, Fahar bukankah kau harus istirahat? 'Kan lukamu belum seratus persen sembuh." "Lukanya memang belum pulih seutuhnya, tapi aku bosan berada di dalam kamar terus-menerus. Dan juga tante dan nenek bilang aku harus menjagamu." Semenjak kejadian p*********n itu Zeline dan Khansa berpesan agar Xynerva dan Fahar lebih berhati-hati. Jika saja ada orang yang menjaga toko pasti kedua wanita itu juga akan menjaga Xynerva. "Kurasa itu tidak perlu, Fahar. Kau lebih baik istirahat. Lihat, di sini tidak ada orang yang akan menyakitiku. Di sini juga sepi." Xynerva menunjukkan halaman yang sepi dan damai. Di tempat gadis itu tinggal jarang warga yang lewat. Fahar menggeleng, tidak setuju. "Tidak apa-apa. Aku juga ingin menikmati pemandangan yang ada." "Baiklah, kalau kau tidak mau." "Fahar, aku ingin tahu siapa orang-orang yang menyerang kita kemaren itu Aku rasa kau tahu karena aku dengar salah satu orang itu mengatakan jika leluhur kalian berteman?" tanya Xynerva dengan raut wajah ingin tahu. "Natasha, kau 'kan sudah tahu makhluk yang menghuni dunia tidak hanya manusia, tapi ada makhluk-makhluk yang lain. Mengenai orang-orang yang menyerang kita itu, mereka sekelompok vampir." Fahar mengambil napas sebelum melanjutkan. "Entah siapa orang yang memerintahkan mereka untuk menangkapmu Natasha. Satu hal yang pasti orang yang ingin menculikmu adalah orang yang punya pengaruh besar," jelas Fahar serius. "Mengapa mereka mau mengincarku ya? Aku tidak punya banyak uang ataupun harta yang berharga, jika mereka ingin menculikku, lalu meminta tebusan yang mahal sangat jelas ibu dan nenekku bukan orang yang kaya." Xynerva meletakkan tangan di dagu, berpikir. "Natasha, mereka bukan orang yang ingin mengincar uang dan harta seperti perampok atau pencuri. Mereka menangkapmu demi tujuan yang lain yang tentunya lebih besar dari uang. Orang besar yang melindungi mereka akan mendapatkan manfaat jika berhasil menculikmu." Penjelasan Fahar membuat Xynerva kaget sekaligus bingung. Siapa yang akan diuntungkan dari hal itu? "Oh, aku mengerti. Aku akan melawan mereka dengan kemampuanku. Mereka pikir mereka itu siapa? Berani menculikku?" Xynerva berdiri, meletakkan tangan di pinggang. "Iya, kau tidak perlu takut. Aku akan menjagamu sampai napas terakhirku. Aku suka dengan keberanianmu Natasha," puji Fahar yang dibalas senyuman Xynerva. "Aku yakin kau pasti belum pernah menonton drama china. Mari kita tonton sama-sama," ajak Xynerva. Mereka menghabiskan beberapa jam dengan menonton drama china. *** Toko-toko di pinggir jalan buka. Kendaraan roda empat dan roda dua berlalu lintas tanpa henti. Terlihat beberapa pejalan kaki berjalan di trotoar. "Alpha, kami kemaren terlibat pertarungan dengan para vampir di sini," ujar Clara menunjuk halaman di depan toko yang kebetulan sedang tutup. Alpha Lory berjalan di halaman yang dimaksud mate dari Gabriel. Pria itu berjongkok menyentuh rumput-rumput hijau yang tampak tergores. Aku mencium aroma bekas s**u, darah kering, aroma vampir dan aroma Luna Xynerva, mindlink Jayce, serigala Alpha Mallory. Aku yakin gadis yang dilihat dan dikatakan Clara dan Gabriel benar-benar mate kita yang menghilang, mindlink Jayce yang disetujui Alpha Mallory. Aroma siluman?/Jangan-jangan siluman itu yang membawa Luna Nerva? Batin Alpha Mallory menduga. Ekpresi wajahnya geram dan juga kesal. "Kalian berdua bisa melanjutkan pekerjaan kalian. Gadis yang kalian lihat itu benar Luna." Clara dan Gabriel juga ikut senang karena Alpha Mallory sebentar lagi akan bertemu dengan belahan jiwanya. "Kami berdua ikut bahagia, Alpha. Alpha boleh saya katakan sesuatu mengenai Luna?" tanya Clara meminta izin. Setelah mendapatkan persetujuan dari sang Alpha. "Luna tampaknya gadis yang pemberani dan tidak takut. Saya melihat dia menembakkan pistol berisi s**u pada sekelompok vampir yang menyerang temannya sampai vampir-vampir itu mengeluh dan pergerakannya sedikit lambat." Tidak banyak gadis yang ditemui Clara seberani itu dan juga tatapannya yang tidak gentar. Alpha Lory tersenyum tipis. "Ya, dia adalah gadis yang pemberani dan juga ceria." "Saya juga kagum pada keberanian Luna," tambah Gabriel. *** Clara dan Gabriel membantu mencarikan sewa rumah yang dekat dengan Jalan Harapan Mulia No. 8 sesuai keinginan Alpha Mallory. Pria berusia dua ratus tiga tahun itu akan tinggal di rumah barunya untuk beberapa hari ke depan. Rumah yang disewa lengkap dengan isinya. Lory sedang memasukkan beberapa pakaian santai dan formal yang baru saja dibeli di pusat perbelanjaan terdekat ke dalam lemari pakaian. Beberapa hari ke depan saya tidak berada di pack. Saya ingin kau untuk sementara waktu mengurus urusan internal dan eksternal pack sampai saya kembali, mindlink Alpha Mallory pada Darren yang sedang menikmati makanan kesukaannya. Saya akan melakukan semua sesuai dengan perintah Alpha. Apa saya perlu mengirimkan sekelompok warrior untuk menjaga Anda di sana, Alpha? jawab Darren dengan nada serius. Pinta sekelompok warrior yang akan datang ke tempatku untuk menyamar sebagai manusia agar tidak menimbulkan kehebohan dan masalah nantinya, mindlink Alpha. Baik, Alpha sesuai dengan keinginan Anda, balas Darren. Alpha Lory memutuskan mindlink dengan Darren. "Seharusnya letak rumah Luna Nerva tidak jauh dari sini." "Aku pasti akan segera menemukanmu, Sayang. Dan akan membuat perhitungan dengan siluman yang berani menculik Lunaku." Alpha Lory mengganti seragam kantornya dengan kaos biru lengan pendek yang menampilkan tubuhnya yang mulus. Dipadu dengan celana dasar hitam dan sepatu santai. Rambutnya yang pendek disisir rapi. *** Pria tampan bermata abu-abu yang memiliki kharisma berhasil menarik perhatian gadis-gadis yang lewat. Bahkan ada seorang gadis yang terjatuh di selokan karena berjalan sambil memandangi wajah Alpha Mallory. Lory sedang berjalan di taman kota Arisia. Berharap bisa menemukan Luna Nerva yang mungkin saja sedang jalan-jalan. "Tuan sedang sendirian saja? Biar Vina temenin." Seorang gadis muda mencoba menggoda Alpha Mallory. Wanita itu memegang lengannya dan mengelusnya. Pakaian yang membalut tubuhnya kekurangan bahan dan riasan wajah yang tebal dan menor. "Lepaskan tanganmu dariku!" ucap Lory dengan nada tegas, menyingkirkan tangan nakal wanita itu. "Tuan, Vinna akan melayani dengan baik." Vinna, wanita itu terkenal suka menggoda para pria. Vinna belum juga menyerah sekalipun Lory sudah menatapnya dengan wajah dingin dan datar. "Pergilah!" usir Lory. Satpam yang bertugas menjaga ketenganan membawa wanita yang bernama Vinna pergi menjauh. Lory menghela napas lega. Wanita itu benar-benar lancang menyentuh kita, mindlink Jayce sebal. Aku hampir saja kehilangan kendali jika saja satpam tidak datang, ucap Lory.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN