Sudah tiga hari Alpha Mallory mencari keberadaan Luna Nerva di sekitar lokasi tempat pertarungan kemaren. Berharap pencariannya membuahkan hasil. Walaupun begitu Alpha Mallory tetap semangat untuk mencari sang belahan hati.
"Tuan mau pesan apa?" tanya seorang pelayan wanita ramah. Seragam merah muda membalut tubuhnya. Bando yang senada menghiasi rambut pendek sebahunya.
Alpha Lory membaca sekilas daftar menu makanan dan minuman yang disediakan oleh restoran.
"Cappucino satu dan satu porsi asam manis udang," ucap Alpha Mallory, pelayan wanita itu segera mencatat pesanan pelanggan di dalam buku pesanan.
Tanpa menunggu waktu yang lama, pesanan pria itu cepat disajikan di atas meja.
Lory menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Hampir semua meja telah diisi oleh pelanggan, ada yang bersama kekasih, keluarga dan teman. Sepertinya hanya Alpha Mallory yang sendirian. Memikirkan hal itu membuatnya merasa sedih.
Lory, aku yakin sebentar lagi kita akan bersama dengan mate kita, mindlink Jayce berusaha memberikan semangat pada sisi humannya itu.
Iya, aku sangat berharap soal itu. Aku ingin sekali bisa mengajaknya jalan-jalan bersama, balas Alpha Mallory melalui mindlink.
Aroma harum dari masakan yang tersaji tercium di indra penciuman. Lory mengambil sepasang sumpit, menyumpitkan sepotong udang ke dalam mulut mengunyahnya perlahan.
Makanan ini salah satu masakan kesukaan Luna Nerva, batin Alpha Mallory.
Tidak lama kemudian Alpha Mallory mencium aroma harum buah mangga yang matang tercium. Lory masih ingat ini adalah aroma khas tubuh sang mate.
Hari ini hari keberuntungannya. Pria berusia dua ratus tiga tahun itu menyapukan pandangan ke arah pintu masuk, terlihat dua orang gadis dan dua orang pria berjalan masuk.
Xynerva, Fahar, Lily, dan John mengambil tempat meja yang kosong yang bersebrangan dengan meja Alpha Mallory.
"Seperti biasa kita hanya merayakan ulang tahunmu dengan sedikit orang," ujar Lily membuka obrolan.
"Aku lebih suka hanya kalian saja yang datang, tidak perlu orang lain ikut menghadiri," sahut John mengambil buku menu makanan dan minuman yang tergeletak di atas meja. Setiap meja disediakan buku menu makanan dan minuman.
Restoran Seribu Bunga terkenal dengan ciri khasnya. Ada beragam jenis bunga yang menghiasi dinding restoran. Alunan lagu biola mengalun dengan lembut. Serta jangan lupakan suara gemericik air terjun buatan menambah keindahan restoran seribu bunga.
"Tapi di tahun ini sahabat kita bertambah satu," balas Xynerva tersenyum menatap ke arah Fahar yang sejak tadi diam saja. Di tempatnya tinggal tidak ada restoran seperti restoran seribu bunga.
"Kau benar sekali, kita sekarang berempat." Lily menyahut setuju.
"Selamat sore Nona Muda dan Tuan Muda kalian ingin pesan apa?" tanya seorang pelayan wanita dengan raut wajah yang ramah. Ini salah satu ciri khas restoran seribu bunga, semua pelayan yang melayani ramah tamah dan baik. Di tangannya membawa buku catatan pesanan.
"Aku seperti biasa pesan seporsi udang goreng dan spagethi. Untuk minumnya jus mangga," ujar Xynerva setelah melihat daftar menu makanan dan minuman.
"Aku pancake stroberi dan es jeruk," sahut Lily.
"Ayam kecap dan jus buah mangga," ucap John.
Dan yang paling terakhir menyebutkan pesanan, Fahar. "Aku samakan saja dengan Natasha, seporsi udang goreng, spagethi, dan jus mangga."
"Baiklah, pesanannya akan tiba sebentar lagi." Pelayan wanita mencatat semua pesanan di dalam buku khusus.
Dari tempatnya duduk Alpha Mallory mendengar semua pesanan mereka berempat.
"Luna Nerva makanan yang dia pesan tetaplah udang," ujar Alpha Mallory tersenyum yang menambah derajat ketampanannya.
"Ketika dia pulang ke rumah nanti, aku akan meminta Winda membuatkan berbagai masakan berbahan udang."
Makanan dan minuman yang dipesan telah disajikan oleh pelayan di atas meja.
"Happy birthday to you! Happy birthday to you! Happy birthday to you! Selamat ulang tahun kami ucapkan, selamat panjang umur, kita 'kan do'akan, selamat sejahtera sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia!" Xynerva, Fahar, dan Lily menyanyikan lagu selamat ulang tahun secara bersamaan. Satu hari yang lalu Fahar berusaha keras untuk menghafalkan lagu tersebut dan Fahar berhasil menghafalkannya dengan baik.
Nyanyian tersebut membuat pengunjung lain mengalihkan pandangan ke arah Xynerva dan teman-temannya.
"Terima kasih teman-teman!" balas John dengan tersenyum bahagia.
"Sekarang John potong kuenya," ujar Xynerva sembari menyodorkan pisau plastik pada John.
"Eh, tapi sebelum itu kau harus memohon sebuah keinginan baru memotong kuenya," sahut Lily.
John berdoa, lalu memotong kue pancake stroberi menjadi beberapa potongan kemudian menyuapi teman-temannya satu per satu.
Setelah acara ulang tahun yang sederhana dilanjutkan dengan mereka berbicara tentang banyak hal yang menarik.
"Xynerva, aku mendengar dari Bibi Zeline kalian berdua diserang oleh sekelompok orang jahat?" Lily bertanya dengan raut wajah penasaran. Saat kejadian tersebut, Lily sedang berada di desa menjenguk neneknya yang sedang sakit.
Xynerva mengangguk mengiakan. "Iya betul beberapa hari yang lalu, aku dan Fahar diserang sekelompok orang yang tidak dikenal saat kami pulang dari perpustakaan daerah."
"Diserang sekelompok orang yang tidak dikenal? Kenapa mereka menyerang kalian berdua?" John juga ikut penasaran.
"Menurut tebakanku jika tidak salah, mereka ingin menculik Natasha," sahut Fahar.
Ekpresi wajah John dan Lily jadi takut dan khawatir. "Itu tidak bisa dibiarkan. Apa tujuan mereka ingin menculik sahabat kita?" John bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya.
Suasana restoran cukup ramai oleh pembicaraan pelanggan. Pelanggan-pelanggan yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.
"Kurasa mereka ingin menjualku?" tebak Xynerva secara sembarang.
"Apa ibu dan nenek mengetahui soal itu?" tanya Lily.
"Iya, mereka sudah tahu."
"Tapi kalian tidak perlu takut ataupun cemas aku pasti tidak akan membiarkan mereka menangkapku dengan mudah." Xynerva berkata dengan pedenya.
Luna Nerva kau berani sekali, puji Alpha Mallory dalam hati.
Ah, aku jadi ingat dengan Luna Issey. Keberanian dua wanita itu sama, sahut Jayce dari pikiran Lory.
Luna Issey adalah ibu kandung Alpha Mallory. Saat ini kedua orang tuanya sedang liburan di negara Daria. Kata mereka ingin mengingat kembali masa-masa muda dulu. Alpha Lory adalah anak tunggal.
"Aku percaya kau pasti bisa Xynerva. Namun kita juga harus waspada," sahut John. John dan Lily tidak bisa bela diri.
***
Rumah Xynerva berada di ujung tepatnya terletak di dekat hutan. Keadaan sepi dan tenang. Rumah tetangga di sekitar rumah Xynerva saat ini sedang kosong.
Mereka berempat berjalan menyusuri jalan yang belum diaspal, masih berupa tanah. Kepala Rukun Tetangga atau disingkat RT sudah beberapa kali mengirim surat pada bupati supaya jalan cepat diaspal, tapi belum ada tanggapan juga. Di sepanjang jalan pohon-pohon menghiasi. Perumahan Shiary termasuk perumahan yang penduduknya masih sangat jarang, paling tiga atau empat orang saja yang menghuni.
Sejak Xynerva dan teman-temannya melangkah keluar dari restoran, Alpha Mallory diam-diam mengikutinya. Pria itu ingin tahu dimana letak rumah kekasih hatinya tersebut. Dia juga merasa cemburu saat melihat Luna Nerva begitu akrab dengan pria lain. Luna Nerva hanya miliknya seorang, bukan milik orang lain!
Semilir angin sejuk menerbangkan rambut sekaligus membawa kedamaian di hati.
"Ada orang yang mengikuti kita," ucap Fahar berbalik, matanya bergerak mencari siapa orang yang mengikuti mereka. Ketiga temannya yang lain ikut mencari. Lory segera bersembunyi di balik pohon besar.
Ratusan anak panah ditembakkan ke arah mereka berempat. Membuat Lily dan John panik.