Chapter 25 - Pertempuran II

1149 Kata
Fahar menarik pedang dari balik sarung. Dia bergerak melindungi teman-temannya, menangkis anak-anak panah yang jika lengah saja akan menusuk daging dan kulit. Gerakan Fahar tidak terlalu leluasa karena lukanya belum benar-benar sembuh ditambah lagi serangan secara mendadak ini. "Tangkap mereka!" seru seorang pria berbadan paling besar. Bersamaan dengan itu terdengar hentakan kaki secara bersamaan. Sekelompok pria berjubah dan bertopeng terbang dan melompat dari tempat persembunyian di balik batang-batang pohon besar berdaun lebat, menghalangi jalan mereka untuk pulang. "Mereka lebih banyak dari yang sebelumnya!" ujar Xynerva menatap satu per satu lawan tanpa rasa takut. "Mereka yang menyerang kalian?" tanya Lily menoleh sekilas yang dibalas anggukan Xynerva yang berdiri tepat di samping kanannya. Melihat pedang yang tajam membuat nyali Lily menciut, gadis itu bersembunyi di balik punggung John diikuti tawa mencemooh pria-pria berjubah. Fahar menggenggam kuat pedangnya, mengayunkan benda tajam itu pada penyerangnya. Menusukkan pedang tepat di ulu hati penyerangnya. Darah segar mengalir saat Fahar mencabut pedangnya. Ini terlalu banyak. Sulit untuk mendapatkan kemenangan, batin Fahar di sela-sela pertarungan dengan penyerangnya. Fahar cukup sadar dengan kemampuannya itu, tapi Fahar tidak boleh menunjukkan rasa ketakutannya tersebut. John dan Lily yang tidak bisa bela diri, berusaha keras menghindar saat pedang-pedang penyerang mengincar nyawa mereka. "Beginikah kau perlakukan seorang gadis yang bahkan tidak bisa bela diri?" ucap Lily bergeser ke kanan. Penyerangnya yang berpakaian serba hitam tidak menjawab pertanyaannya. Xynerva menarik pistol mainan menembakkan pada beberapa penyerang yang berusaha menangkapnya. Kali ini penyerangnya tampaknya lebih pintar dari yang sebelumnya karena sudah mendapatkan pengalaman dari p*********n beberapa hari yang lalu. Bahkan pistol mainan di genggaman tangan Xynerva terlepas dan berhasil direbut serta dihancurkan berkeping-keping oleh penjahat. Membuat Xynerva tak bisa berkata apa-apa lagi. "Menyerahlah, dan kami akan membebaskan teman-temanmu," ucap pemimpin altar yang masih duduk dengan tenang di atas kuda hitamnya menonton jalannya pertarungan yang tidak seimbang. Pria itu yakin sekali sebentar lagi mereka akan dengan mudah menangkap gadis tengil itu. Terutama tiga dari empat hanyalah seorang manusia biasa. Xynerva tidak perlu repot-repot melihat siapa orang yang tengah memberikan penawaran yang tidak akan mau diterimanya itu. "Sudah kukatakan tidak akan! Aku bukan barang!" teriaknya geram. Mengapa orang-orang gila itu muncul kembali? batin Xynerva tak habis pikir. Lima orang penyerang menyerang Fahar secara bersamaan membuat pria itu tersudut. Pria muda itu menahan rasa sakit dan nyeri yang mendera badan, luka lama kini terbuka kembali dan berdarah. Cairan merah merembes keluar membasahi kain kasa pembalut lukanya. Logam mulia berhasil melukai pundak kiri Fahar. Xynerva yang melihatnya langsung mengambil pedang salah satu milik penjahat yang mati. Pria-pria berpakaian serba hitam itu mengelilingi, tertawa mencemooh karena sifat keras kepala mereka yang tidak mau menyerah juga. Dengan penuh ketekatan Fahar mendorong pedang-pedang yang sempat menguncinya. Fahar berhasil menumbangkan tiga orang penjahat. Tidak tinggal diam, Lily dan John mengikuti apa yang dilakukan Xynerva, mengambil pedang yang tergeletak di atas tanah. Ketiga orang itu mengayunkan pedang yang digenggam secara sembarangan. Karena perbedaan kekuatan membuat mereka sulit untuk melumpuhkan lawan. Tubuh Lily didorong dan ditendang hingga mencium tanah. Gadis berambut pirang itu jatuh tersungkur, seluruh tubuhnya sakit terutama bagian d**a. "Lily!" teriak John dan Xynerva hampir bersamaan. Membuat konsentrasi John terpecah dan membuat penyerang berhasil menendang dadanya sehingga dia menabrak pohon di belakangnya. Kepala John berdenyut nyeri dan kepalanya pusing. Kemudian dia memuntahkan seteguk darah segar. Matanya berkunang-kunang. Pedang ditangannya terlepas begitu saja. Xynerva mengedarkan pandangannya dan mendapati sebuah pedang tajam teracung di leher Fahar. Fahar tetap saja memberikan tatapan jangan menyerahkan diri demi mereka, harus tetap berjuang. "Sudah kubilang lebih baik kalian menyerah dari awal. Sehingga tidak perlu ada yang terluka." Pemimpin altar masih berada di atas kudanya, menatap Xynerva dengan pandangan meremehkan. Sebagian wajah pria itu tertutup topeng dan pakaian serba hitam membalut tubuhnya. "Buang-buang tenaga saja! Kalian tentu saja tidak bisa mengalahkan kami!" Penjahat yang lain ikut menyahut dengan nada sombong dan angkuh. Xynerva masih menggenggam erat pedang yang sudah berlumuran darah kotor penjahat. Xynerva yang terkenal sebagai siswa yang cerdas dalam pelajaran dan tidak pernah memegang senjata tajam, kini harus berjuang mempertahankan hidupnya. Sekarang harus bagaimana? Apa aku harus menyerahkan diri? Tapi itu tidak mungkin! Bagaimana jika nanti mereka menjualku? Aku tidak bisa bertemu lagi dengan mama dan nenekku, batin Xynerva penuh dengan pertimbangan. Dan juga kami sudah berjuang sampai saat ini, tidak mungkin kami menyerah begitu saja? pikirnya berusaha berpikir dengan jernih. Jeritan kesakitan membuat Xynerva tersadar dari lamunannya. Dia menyapukan pandangan ke segala penjuru. Dari mana datangnya anak-anak panah itu? Apa ibu dan neneknya yang menolong mereka? Ah, tapi itu tidak mungkin! Ibu dan nenek tidak pernah terlihat memegang senjata, batinnya. Puluhan anak panah melayang, menembus kulit dan daging vampir campuran. Penjahat-penjahat itu jatuh roboh ke atas tanah yang kotor. Karena serangan anak-anak panah yang tiba-tiba mengalihkan perhatian penyandera Fahar dan memberikan kesempatan pada pria itu. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang tercipta, Fahar menusuk pedangnya tepat di jantung penjahat hingga jatuh roboh di atas tanah. Serangan anak panah itu tepat sasaran? Namun siapa yang membantu kami? batin Fahar. Sebagian penjahat yang tersisa segera membentuk formasi, menangkis serangan anak-anak panah. Puluhan pria berzirah dengan membawa pedang tajam menyergap para penjahat. Terjadi pertempuran yang hebat. Suara benda tipis saling beradu menjadi melody yang menghancurkan kedamaian yang biasa tercipta di perumahan Shiary. Xynerva bergerak membawa Lily ke pinggir, jauh dari tempat peperangan. Menyenderkan teman perempuannya itu di batang pohon. "Lily? Bagaimana keadaanmu? Yang mana yang sakit?" tanya Xynerva pada Lily yang tampak kelelahan. Pakaian yang mereka pakai berantakan, tercampur darah, dan tanah. Rambut yang sebelumnya ditata rapi kini berantakan. Lily tersenyum lemah, kedua netra hijaunya menatap gadis di hadapannya. "Kita selamat dari orang-orang itu?" tanyanya dengan suara lirih. Xynerva mengangguk. "Iya, Ly. Ada sekelompok orang yang datang membantu kita." Lily memuntahkan seteguk darah segar, serangan penjahat membuat organ dalamnya terluka. Xynerva panik. "Lily, kau kenapa?" "Tidak apa-apa. Dimana John dan Fahar?" Lily masih sempat bertanya keadaan teman-temannya yang lain di sisa-sisa kesadarannya. "Fahar sedang membawa John ke sini, Lily. Aku akan membawamu ke rumah untuk diobati," jawab Xynerva, kemudian tak lama Lily jatuh tak sadarkan diri. Para warrior yang memakai zirah perang berlambang pack Quirin dengan mudah mengalahkan para penjahat yang tersisa. Sementara itu pemimpin altar merasa posisi tidak menguntungkan, pria itu memilih memacu kudanya melarikan diri dan meninggalkan para anggota kelompoknya. "Sudah, biarkan saja dia pergi!" perintah Alpha Mallory yang dipatuhi para warrior yang hendak mengejar pemimpin altar. *** "Alpha, dua orang penjahat yang masih hidup membunuh diri mereka sendiri dengan cara mengigit lidah sampai mati," lapor Beta Darren. Alpha Lory bisa mendengar nada bicara kesal bawahannya tersebut. "Mereka begitu setia pada pemimpinnya. Sampai rela mati, tidak ingin membuka mulut." Alpha Mallory cukup terkesan pada kesetiaan para vampir campuran yang menyerang matenya. "Darren, bereskan semua mayat-mayat vampir campuran!" perintah Alpha Mallory dengan nada tegas. "Baik, Alpha akan saya laksanakan." Beta Pertama mundur beberapa langkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN