Chapter 26 - Kebaikan Hati

1119 Kata
Setelah selesai berganti pakaian yang bersih, Xynerva berjalan menghadap Alpha Mallory yang berada di ruang tamu. Sementara itu Lily dan John sedang berada di dalam kamar tamu untuk beristirahat karena luka yang diderita mereka. "Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Alpha Mallory menatap dari atas sampai bawah belahan jiwanya dengan pandangan khawatir. Betapa Lory sangat merindukan wajah cantik sang mate. "Aku tidak apa-apa," jawab Xynerva santai, lalu dia menuangkan teh di dalam cangkir dan mempersilakan Alpha Mallory untuk meminumnya. "Sayang, kau kemana saja? Aku mencarimu berhari-hari hingga berhasil menemukanmu." Lory meletakkan cangkir yang sudah kosong di atas meja. Iya, tidak perlu kau katakan itu. Aku juga tahu kau mencariku, entahlah aku tidak tahu mengapa kau terlihat begitu khawatir? batin Xynerva berpikir. "Tentu saja pulang ke rumahku, tidak mungkin aku pulang ke rumah tetangga," jawab Xynerva dengan wajah polos yang tanpa sadar membuat pria yang tengah duduk menatapnya itu tersenyum. Xynerva menutup matanya, telapak tangannya terasa sakit akibat menggenggam pedang terlalu kuat atau mungkin karena tidak terbiasa. Dia menatap telapak tangannya yang memerah dan juga sedikit lecet. Alpha Lory mengambil tangan Luna Xynerva dan menatapnya. Wajahnya seketika berubah menjadi khawatir. Dia menyentuh telapak tangan Xynerva. Gadis itu meringis kesakitan dan menarik tangannya dari genggaman sang Alpha. "Jangan disentuh!" ujar Xynerva. Lory, obati luka Luna Xynerva. Jangan sampai dia kesakitan lagi! mindlink Jayce dari dalam pikiran Alpha Mallory. Baiklah, aku mengerti. Untung saja aku selalu siap membawa obat, jawab Alpha Mallory. Alpha Lory mengambil sebotol obat herbal dari dalam celana hitam yang dipakainya. "Aku akan mengobati lukamu, Sayang," ujarnya penuh dengan perhatian. Luna Nerva tidak menolak pria tampan bermata abu-abu itu mengambil posisi duduk tepat di sampingnya. Alpha Lory mengolesi obat berbentuk salep di atas telapak tangan matenya itu. Rasa dingin dari salep itu membuat rasa sakit sedikit berkurang. "Terima kasih, Mall atas semua bantuanmu. Kami berhutang budi pada kalian," ucap Xynerva setelah Alpha Mallory selesai memberi salep. Alpha Lory tersenyum lembut. "Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Ini sudah tugasku untuk menjaga." Puluhan warrior berjaga di sekeliling rumah sederhana keluarga Xynerva untuk berjaga-jaga, takutnya pemimpin altar akan membawa pasukan vampir untuk menyerang yang kedua kalinya. Aku sudah salah menyangka dengan Mall. Awalnya aku pikir dia pria penculik yang jahat, rupanya tidak. Dia membantu kami dari penjahat-penjahat yang sesungguhnya. Jika saja mereka datang tidak tepat waktu, entahlah bagaimana jadinya kami sekarang. Mungkin saja kami telah tinggal nama saja, pikir Xynerva di dalam hati. "Mall, aku lihat obat yang kau oleskan di telapak tanganku sangat manjur. Rasa sakitnya sudah delapan puluh persen menghilang." Xynerva mengambil napas sebelum melanjutkan kalimat selanjutnya. "Jika kau tidak keberatan bisakah kau juga obati ketiga temanku yang lain?" ucap Xynerva menatap Alpha Mallory yang sudah duduk berseberangan. "Mereka terluka karena aku," tambah Xynerva beberapa saat kemudian. "Tentu saja boleh, Sayang. Aku akan meminta dokter keluargaku untuk mengobati ketiga temanmu." Jawaban Alpha Lory membuat Xynerva tersenyum dan bernapas dengan lega. Kalista, bisakah kau datang sekarang? mindlink Alpha Mallory pada Kalista yang sedang mengobati pasiennya yang terluka akibat terkena anak panah di dalam kamar perawatan. Saya saat ini sedang mengobati satu pasien Alpha. Lima belas menit lagi akan selesai, balas Kalista. Baiklah, setelah urusanmu selesai. Kau datanglah di perumahan Shiary yang terletak paling ujung di dekat hutan, mindlink Alpha Mallory. Baik, Alpha. Saya akan segera menuju ke tempat yang Alpha maksud, sahut Kalista. "Mall, aku lihat puluhan prajurit yang kau bawa sangat tangkas dan terlatih saat menumbangkan penjahat-penjahat itu. Bahkan, mereka mengalahkan pria-pria berjubah dalam waktu singkat tanpa kesulitan." Nerissa Xynerva Zanitha berkata dengan nada kagum. "Seolah-olah mereka sudah terlatih berperang," sambungnya. Penglihatan Luna Xynerva sangat baik. Dia bisa menilai para warrior pack sudah banyak melakukan peperangan untuk menumpas musuh dan menambah wilayah kekuasaan pack Quirin, mindlink Jayce yang disetujui Alpha Mallory. "Sayang, kinerja para prajurit yang kau katakan itu memang hasil dari latihan yang giat bertahun-tahun," ucap Alpha Mallory membuat Xynerva bertambah kagum. Tapi pekerjaan apa yang mengharuskan memiliki banyak penjaga yang berkualitas? Pengusaha yang sukses kah? Atau mungkin mafia? batin Xynerva. Inginnya gadis itu bertanya secara langsung, tapi takut Mall marah atau tersinggung karena mengurusi urusan pribadinya itu. Xynerva Zanitha menatap seorang pria berambut cokelat berdiri tepat di belakang Alpha Mallory. Pria itu memakai baju zirah perang. "Dan laki-laki ini siapa? Apa dia ketua prajurit?" tanyanya. Darren, jawab saja iya. Luna Nerva belum saatnya tahu soal bangsa werewolf kita, mindlink Alpha Mallory. Baiklah, Alpha. Saya akan melakukannya, jawab Darren. Darren mengangguk, mengiakan. "Iya, betul, Luna. Saya adalah Be- maksud saya Kepala Prajurit." Hampir saja Beta Pertama salah bicara. Lidahnya sungguh tak biasa mengucapkan posisi itu. "Sepertinya kau sudah lama bekerja dengan Mall ya?" tanya Xynerva penasaran. Tentu saja ini salah satu sifat gadis itu yang suka penasaran dan rajin bertanya seperti Fahar. "Ucapan Luna benar sekali. Saya sudah bekerja bertahun-tahun di bawah pimpinan Alpha Lory." Bukan bertahun-tahun lagi, tapi sudah beratus tahun. Kalau bilang sudah bekerja beratus tahun pada Luna Nerva, itu sangat tidak mungkin. "Wajar saja aku lihat kau dengan Mall tampaknya akrab," sahut Xynerva. Ketukan di pintu mengalihkan pandangan Xynerva. Gadis berusia tujuh belas tahun itu berjalan membuka pintu dan mendapati seorang wanita berpakaian merah muda beserta tas besar hitam yang ditentengnya. "Selamat sore, Luna," sapa Kalista sopan dengan senyuman di wajahnya. Wanita itu sedikit membungkuk. "Selamat sore juga. Silakan masuk. Kau pasti dokter keluarganya Mall 'kan ?" Kalista mengangguk, mengiakan. "Aku akan mengantarkan dokter ....?" Xynerva mengajak Kalista ke tempat tujuan. "Namaku Kalista, Luna. Panggil saja Kalista." "Baiklah, dokter Kalista aku akan mengantarkan ke kamar teman-temanku dirawat." Mereka berhenti di depan pintu kamar tamu yang tertutup. Nerissa Xynerva mendorong pintu yang tidak terkunci dan mengajak dokter Anna Kalista ke dalam. "Dokter, temanku Lily didorong oleh penjahat jahat. Sehingga dia jatuh terjerembab mencium tanah. Dia juga sempat memuntahkan seteguk darah segar," jelas Xynerva sambil melihat Lily yang masih belum sadarkan diri. Pakaiam kotor Lily sudah diganti yang baru. "Terima kasih atas penjelasannya, Luna. Saya akan memeriksa dia terlebih dahulu." Anna Kalista mengeluarkan peralatan kedokterannya dari dalam tas besar hitam, kemudian memeriksanya dengan teliti. Alpha Lory dan Darren ikut berjalan masuk ke dalam kamar saat Anna Kalista selesai memeriksa keadaan Lily. "Dokter Kalista, bagaimana dengan keadaan Lily?" tanya Xynerva menatap wanita di sampingnya itu. "Keadaan Nona Lily cukup parah, karena benturan keras yang membuat organ dalamnya terluka sehingga dia sempat muntah darah. Dari kekuatan besar yang mendorongnya, tampaknya penyerang bukanlah manusia," jelas Dokter Anna Kalista. "Dokter, apa Lily nanti bisa sembuh?" tanya Xynerva. "Ada kemungkinan untuk Lily bisa sembuh seperti sedia kala, tapi perawatannya harus benar-benar tanpa kesalahan. Karena ditambah Nona Lily hanya seorang manusia biasa," jelas Dokter Anna Kalista. "Dokter, aku mohon rawat teman-temanku dengan baik sampai mereka sembuh," pinta Xynerva dengan nada memohon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN