Chapter 27 - Puluhan Warrior

1178 Kata
"Sayang, tidak perlu khawatir Dokter Anna akan memberikan perawatan terbaik yang bisa dia lakukan," sahut Alpha Mallory mengambil posisi tepat di samping Xynerva. "Yang dibilang Alpha, betul Luna. Saya akan melakukan semua hal yang terbaik untuk merawat Nona Lily. Jadi, Luna tidak perlu khawatir," tambah Anna Kalista. "Baiklah, Dokter Kalista. Terima kasih. Kamar tempat John dirawat berada di sebelah kamar ini. Aku akan mengantar," ucap Xynerva sedikit bernapas lega. Bagaimana pun juga ini termasuk kesalahannya walaupun secara tidak langsung. Dokter Anna Kalista memeriksa keadaan John yang tidak kalah parah dari Nona Lily. Apalagi pria berkulit kuning langsat itu sampai dilempar menabrak batang pohon yang keras. Dokter Anna Kalista mengambil napas sebelum berkata. "Luna, keadaan Tuan John juga sama parahnya dengan Nona Lily. Bahkan keadaannya lebih parah dari yang saya duga sebelumnya. Benturan keras sedikit membuat tulangnya bergeser." Kedua temanku berada dalam kondisi yang tidak baik karena penjahat-penjahat yang jahat itu, batin Xynerva geram. Hatinya begitu sedih melihat keadaan kedua temannya sejak kecil itu. "Dokter Kalista, apa tulang John yang bergeser bisa dikembalikan ke tempatnya yang semula? Dan apa punya kesempatan John bisa sembuh kembali?" tanya Xynerva dengan raut wajah penuh harapan. Sementara itu kedua netranya menampilkan kesedihan. Anna, lakukan yang terbaik untuk dua teman Luna. Jangan buat dia merasa sedih, walaupun persentasi kesembuhan mereka sangat sedikit, mindlink Alpha Mallory melalui pikiran. Baik, Alpha. Saya akan berusaha keras untuk menyembuhkan kedua anak muda itu, jawab Anna Kalista melalui pikiran. "Sama seperti Nona Lily, namun bukan berarti Tuan John tidak bisa sembuh. Asalkan kita bisa merawatnya dengan benar, dia pasti akan cepat sembuh," jawaban Anna Kalista membuat harapan Xynerva tumbuh. "Terima kasih, Dokter Anna." Anna Kalista mengangguk sebagai jawaban. Setelah dokter Anna Kalista memberikan obat herbal di kedua teman akrab Xynerva. Mereka kembali ke ruang tamu. Zeline dan Khansa belum juga pulang ke rumah. "Dokter Kalista, ada satu teman saya lagi yang belum diobati. Saya akan panggilkan dia terlebih dahulu." Xynerva teringat dengan Fahar yang diobati. Fahar yang sedang duduk posisi bersila membuka kelopak matanya yang semula tertutup saat seorang gadis cantik membuka pintu kamarnya. "Fahar, bagaimana keadaanmu?" tanya Xynerva dengan nada khawatir. Dia menatap wajah pucat Fahar. "Keadaanku tidak begitu baik, Natasha. Sejak serangan beberapa hari yang lalu energi spiritualku tidak bisa digunakan. Awalnya aku pikir setelah beberapa hari energi spiritualku bisa digunakan kembali, ternyata tidak," jelas Fahar jujur. Karena percuma saja jika Fahar berkata bohong, Natasha tidak akan percaya. "Fahar, kau bisa ikut aku keluar sebentar?" "Baiklah." Xynerva membantu memapah Fahar berjalan keluar kamar menuju ke ruang tamu. Setiba di ruang tamu Alpha Mallory yang menatap matenya menyentuh pria lain, membuatnya cemburu. "Sayang, biar aku saja yang papah siluman ini," ujar Alpha Mallory berjalan menghampiri keduanya. Dia menatap Fahar tajam dan dingin. Luna Xynerva tidak bereaksi apa-apa saat Lory mengatakan pria itu siluman? Apa dia sudah tahu soal itu? ucap Jayce di pikiran Lory. Siapa pria ini? Dia tampaknya cemburu saat Natasha membantuku? batin Fahar menatap datar tatapan Lory. Alpha Lory mengambil ambil memapah Fahar menuntunnya untuk duduk di sofa yang kosong. Sebelum Lory kembali ke tempat duduknya dia sempat berkata tepat di telinga Fahar dengan nada dingin dan datar. "Saya belum membuat perhitungan denganmu!" Dokter Anna segera mengeluarkan alat-alat kedokteran yang dibutuhkan dari dalam tas. Wanita itu memeriksa denyut nadi Fahar, dia bisa merasakan sedikit aura siluman dari tubuh pria muda itu. "Dokter Anna, bagaimana dengan keadaan Fahar?" tanya Xynerva setelah Anna selesai memeriksa keadaan Fahar. "Luna, luka dalam dan luka luar yang diderita Tuan Fahar harus dirawat beberapa hari. Saya akan memberikan obat khusus." Anna mengambil sebotol obat dari tas, lalu menyodorkan pada Xynerva. "Luna, maaf sebelumnya. Anda tahu jika Tuan Fahar bukanlah manusia?" tanya dokter Anna menatap Luna Xynerva yang berdiri di dekatnya. Xynerva mengangguk mengiakan. Dia tampak santai saja. "Iya, aku tahu. Jika Fahar bukan manusia. Dokter Anna kenapa bisa tahu soal itu?" tanyanya balik. Dokter Anna menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. "Jujur saja, saya juga bukan manusia. Oleh karena itu saya bisa tahu Tuan Fahar juga bukan manusia." Tawa Xynerva terdengar merdu di setiap pendengaran orang yang ada di dalam ruangan yang cukup luas itu. "Santai saja! Semua kaum sama saja. Tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah." Wajar saja saat Lory berkata temannya bukan manusia, dia biasa saja karena sudah tahu, mindlink Jayce. Hal ini cukup baik bagi kita. Itu artinya Luna Nerva tidak membenci kaum lain dan menganggap lebih rendah, jawab Alpha Mallory. "Aku sejak awal bertemu dengannya langsung mengatakan yang sebenarnya. Tidak ditutup-tutupi," jawab Fahar. "Baiklah, kalau begitu artinya tidak ada masalah. Saya bisa memulai proses menyembuhan luka dalam Fahar." Anna Kalista menyalurkan energi spiritual ke dalam tubuh Fahar. Perlu diketahui proses penyembuhan manusia dan kaum immortal itu berbeda. Jika kaum manusia membutuhkan ramuan dan energi murni, sedangkan kaum immortal energi spiritual. Namun kondisi itu juga tergantung dengan fisik masing-masing. Dan dokter Anna bertindak sesuai dengan keadaan. Pria yang bernama Fahar itu bahkan punya panggilan khusus untuk Luna Nerva, ucap Alpha Mallory dalam hati merasa kesal, geram, dan juga cemburu. Bayangkan belahan jiwa kalian, berusaha direbut orang lain. Itulah yang dirasakan Alpha Mallory. Tangannya digenggam kuat. *** Cahaya matahari sudah tenggelam seutuhnya. Kini cahaya bulan yang menerangi daratan dan lautan. Udara malam terasa dingin dan juga sejuk. Angin-angin nakal menggoyangkan semua tanaman. Dua orang wanita baru saja turun dari sepeda motornya. Memarkirkan sepeda motor di depan sederhana. "Siapa kalian?" Seorang warrior berjalan menghampiri kedua wanita yang menatap heran dan juga bingung karena ada banyak orang berjubah zirah yang mengelilingi rumah mereka. "Harusnya kami yang bertanya pada kalian. Apa yang sedang kalian lakukan di rumahku?" tanya Khansa menatap satu per satu pria tanpa rasa takut. "Kalian berdua bawahan dari pemimpin altar? Lebih baik kalian pergi sebelum kami menahan kalian!" tegas warrior yang lainnya. Mereka mendapatkan amanat dari Alpha Mallory untuk menjaga kediaman Luna Xynerva dan mereka harus melaksanakannya. "Bawahan apa? Kami tidak mengerti!" balas Zeline dengan raut wajah bingung. Mereka baru saja menutup toko dan pulang ke rumah. Eh, ketika pulang ke rumah sudah banyak orang-orang yang tidak dikenal itu. Khansa menunjuk satu per satu pria yang menggenggam pedang dan perisai di tangan. Ekpresinya marah. "Kalian apakan cucuku Xynerva?" "Berani sekali kau wanita tua. Menyebut nama Luna secara langsung, tanpa nama gelarnya!" Bentak warrior yang membuat Zeline menggeleng kepalanya. "Dasar tidak sopan! Di mana tata krama kalian? Akan kupukul pantatmu sampai merah!" Khansa bertambah jengkel dan kesal. Zeline merasa situasi yang akan terjadi bertambah panas. Mencoba menenangkan ibu kandungnya itu. "Ibu tenang sedikit. Jika Ibu tidak bisa tenang, kita sulit untuk mengetahui bagaimana keadaannya sekarang," ujarnya lembut. "Mohon maaf Tuan-Tuan. Aku adalah ibu dari Luna yang kalian sebut itu. Dan di samping adalah neneknya. Jika kalian tidak percaya bisa panggil Luna kalian secara langsung," ucap Zeline dengan nada lembut. Ucapan Zeline berhasil membuat suasana menjadi tidak tegang. Menimbang-nimbang akhirnya warrior yang berjaga di halaman depan setuju. "Baiklah, saya akan melapor terlebih dahulu ke dalam," ucapnya kemudian berjalan masuk ke dalam. Sebenarnya apa yang telah terjadi selama mereka penjaga toko? Kenapa ada banyak pria yang memakai zirah perang di halaman rumah? batin Zeline.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN