"Serigala itu berani sekali melukai sahabatku!" ucap Lily dengan nada geram. Wajahnya tampak kesal dan marah.
"Lily, serigala jelek itu pasti sudah mendapatkan hukuman! Jadi, kau tak perlu emosi lagi ya!" sahut Xynerva mencoba menurunkan emosi sahabat perempuannya.
Gadis yang memiliki rambut pirang sebahu itu menatap Xynerva dengan raut wajah serius. "Apa itu benar?" tanyanya.
Maaf Lily aku terpaksa membohongi kamu. Aku tidak ingin kau sakit lagi karena terlalu banyak berpikir, batin Xynerva. Semua ini demi kesehatan Lily.
"Iya, tentu saja Lily." Kini John yang menjawab membantu Xynerva berbicara.
Sebelum John dan Lily pergi berkunjung ke rumah Xynerva. John sudah lebih dulu memberitahu tentang keadaan Lily pada Xynerva melalui aplikasi w******p. Iya, dua hari yang lalu Lily sempat pingsan di rumahnya karena terlalu banyak berpikir sehingga mengakibatkan gadis itu harus dirawat di rumah sakit. Lily baru saja sembuh kemaren. Dokter bilang jangan membuat Lily banyak pikiran dan juga stres.
"Tentu saja! Serigala itu sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya itu!" jawab Xynerva kemudian.
Berselang beberapa saat kemudian seorang pria bermata hijau sedang membawa nampan dari ruang dapur. Fahar meletakkan kudapan ringan dan seteko teh beserta cangkirnya di atas meja.
Kini pandangan John dan Lily menatap seorang pria tampan berambut hitam. Kemeja biru dan celana hitam dasar membalut tubuh atletisnya. Lily yakin pasti banyak gadis-gadis di luar sana yang akan berebutan mendapatkan cowok bermata hijau yang teduh itu.
"Xynerva, sepertinya kau mendapatkan seorang pria?" tanya John dengan nada menggoda menatap Xynerva yang kini menatapnya sebal.
"Dia adalah orang yang menyelamatkanku John dan Lily. Jangan salah paham dulu!" jelas Xynerva, tapi kedua temannya menatap dengan raut wajah tidak percaya.
"Ngaku aja Xynerva tidak usah malu ! Pria ini juga tampan cocok denganmu yang cantik!" sahut Lily tersenyum senang.
John mengangguk setuju. "Benar sekali yang dikatakan Lily, kau dengannya adalah pasangan yang serasi!" jawabnya.
Fahar yang menjadi bahan pembicaraan hanya bisa menggaruk kepalanya canggung. Dia merasa tidak enak dengan Xynerva. "Maaf sebelumnya aku dan Natasha hanyalah sahabat. Tidak punya hubungan yang lebih dari itu," jelas Fahar kemudian ikut mendudukkan diri di kursi yang kosong.
"Lalu panggilan yang special itu untuk apa?" Lily dan John bertanya kompak. Mereka berdua menaik turunkan alis.
"Begini waktu aku dan Fahar berkenalan, aku mengatakan namaku Natasha. Jadi, begitulah."
Tetap saja Lily dan John tidak percaya dengan penjelasan Xynerva dan Fahar. Kedua sahabatnya malah mengira kalau Xynerva dan Fahar sudah menjadi kekasih dan karena merasa malu jadi tidak mengaku.
Sebenarnya di dalam hati Fahar merasa senang karena John dan Lily mengatakan dia dan Xynerva cocok. Entah sejak kapan rasa itu mulai muncul? Apa karena kebersamaan mereka?
"Sudah, sudah lebih baik kita bicara hal yang lain. Bagaimana dengan tugas kita? Tugas itu sudah dikumpul belum?" Xynerva mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
"Iya, tugasnya sudah dikumpul Xynerva. Dan kita mendapatkan kabar yang baik nilai kita paling tinggi dari kelompok yang lain."
"Apa kita mendapatkan nilai seratus?" tanya Xynerva dengan raut wajah senang.
"Iya, betul sekali. Pihak sekolah juga ikut mencarimu Xynerva, tapi tidak bertemu. Nenek dan ibumu juga sempat melapor ke pihak kepolisian hasilnya juga sama tidak menemukanmu."
"Kenapa bisa sampai tidak bertemu ya? Padahal aku berada di dalam hutan Frinda?" Nada bicara gadis itu tidak percaya dan raut wajahnya bingung.
Aku tahu sebab kenapa Natasha tidak bisa ditemukan oleh bangsa manusia walaupun mereka sudah mencarinya. Itu karena di dalam hutan Frinda terdapat batasan dunia yang tidak bisa ditembus oleh manusia biasa, pikir Fahar.
Aku tidak mungkin memberi tahu John dan Lily soal hal ini. Takutnya mereka malah takut padaku dan menganggapku aneh, batin Fahar.
"Hutan Frinda itu sangat luas jadi wajar saja kalau pencarian tidak langsung bertemu. Lagipula di dalam hutan ada banyak hewan buas," sahut Fahar.
Lily dan John mengangguk setuju. "Kau benar, mencari orang di dalam hutan lebat seperti mencari jarum di dalam jerami sangat sulit," jawab John.
***
Sementara itu di tempat yang lain. Di ruangan yang luas dan rapi. Perabotan-perabotan mahal mengisi. Seorang pria bermata abu-abu sedang melamun.
Ketukan di pintu membuat pria itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu. "Masuk saja! Pintunya tidak dikunci!" sahutnya.
Seorang warrior laki-laki membungkuk hormat. "Maaf Alpha telah menganggu. Saya ingin menyampaikan kalau di depan ada orang yang mencari Alpha."
"Baiklah, aku akan ke sana. Kau bisa pergi." Warrior membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dari ruangan kerja Alpha Mallory.
Alpha Mallory merapikan berkas-berkas yang berisi laporan di setiap perbatasan sebelum berjalan menemui tamu yang datang.
"Lory?" ucap seseorang memanggil nama langsung. Siapa yang berani memanggil namanya tanpa embel-embel Alpha?
Pria tampan bermata abu-abu itu baru saja menginjak tangga terakhir yang menggabungkan lantai atas dengan lantai dasar. Panggilan itu membuatnya tersadar dan sekilas ingatan muncul. Alpha Lory mendudukkan diri pada sofa yang kosong sembari mengingat siapa kedua tamu yang datang tanpa diundang.
Seorang pria duduk di sofa berwarna hijau lumut dengan kaki menyilang dengan tenang sambil menikmati secangkir white coffee. Di sampingnya ada seorang wanita muda.
Jika menyangkut masalah kecantikan ya jelas lebih cantik Luna Xynerva, dia tak ada bandingan dengan wanita manapun, pikir Alpha Mallory. Tentu saja seorang laki-laki boleh memuji wanita yang dicintainya.
"Aku setuju denganmu Lory," balas Jayce melalui mindlink.
Wanita itu memakai long dress abu-abu dengan hiasan make up natural, sedangkan sang pria memakai setelan jas abu-abu. Mereka sangat cocok seratus persen. Alpha Mallory memilih duduk berseberangan dengan mereka tepatnya di depan sepasang kekasih dibatasi meja persegi panjang.
"Apa kau melupakanku, Lory?" Gabriel bertanya dengan raut wajah seolah-olah terluka.
Alpha Mallory tidak langsung menjawab, dia sedang menggali ingatannya. Wajar saja otaknya sedikit lambat karena selama minggu terakhir ini pikirannya sangat kacau dan hanya terfokus pada kekasih hatinya yang belum juga ditemukan.
"Aku tidak mengingatmu, namun aku merasa wajahmu sangat familiar."
"Wajahmu tetap saja datar seperti gunung es. Kau tidak berniat merubah wajahmu menjadi lebih hangat huh?" Gabriel bertanya tanpa rasa takut. Pelayan-pelayan yang mendengar ucapan itu spontan dalam hati berteriak ketakutan dan cemas. Takut sang pemimpin meledak.
Gunung es? Mungkinkah dia Gabriel? pikir Alpha Mallory.
"Gabriel?" tanya Lory dengan nada dingin.
"Aku tidak akan menyalahkanmu karena lama sekali baru mengingatku. Awalnya kedatanganku ke sini untuk mengajakmu bersenang-senang, tapi aku mendengar matemu hilang,'' ujar Gabriel merasa simpati. Tidak ada nada mencemooh dalam suaranya.
"Aku telah mengutus bawahan-bawahanku untuk mencari Luna. Tetap saja hasilnya sama nihil."
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang, Lory. Aku hanya bisa mengucapkan kau harus lebih sabar."
Lory mengangguk pelan. "Siapa wanita yang ada di sampingmu ini?"
"Dia adalah mateku. Aku bertemu dengannya satu tahun yang lalu." Gabriel menunjuk wanita yang berada di sampingnya. Wanita itu tersenyum.
"Aku Clara Stephanie panggil saja Clara, salam kenal," jawab mate Gabriel dengan nada ramah.
"Aku Mallory, aku teman masa kecil Gabriel." Seperti biasa nada bicaranya dingin dan datar.
Alpha Mallory menghela napas panjang. Jika saja Luna Nerva tidak hilang, pasti saat ini dia sudah mengenalkan kekasih hatinya itu pada teman dan semua anggota packnya. Di hari Luna Nerva menghilang, Alpha Mallory berencana untuk mengenalkannya, tapi rencana itu gagal.
"Aku dan Clara akan ikut membantumu mencari Luna," ujar Gabriel dengan nada pasti.
"Terima kasih karena sudah mau membantuku."
"Sama-sama Lory. Kami berdua harus pulang ke rumah. Besok pagi kami akan datang."
"Baiklah."
Clara dan Gabriel berjalan masuk ke dalam mobil. Alpha Mallory mengantarkan mereka. Kendaraan roda empat itu melaju, semakin lama semakin jauh. Hingga akhirnya tak terlihat lagi di pandangan Alpha Mallory. Laki-laki itu memutuskan kembali ke dalam istana pack Quirin.