Chapter 18 - Kembali Ke Sekolah

1116 Kata
Hampir semua teman sekelas mengucapkan rasa syukur karena Nerissa Xynerva kembali ke sekolah dan dalam keadaan baik-baik saja. Guru yang mengajar juga sempat memeluk gadis itu. Maklum gadis itu adalah salah satu murid kesayangan guru. "Ibu senang Nerissa baik-baik saja," ujar Ibu Elysa setelah mengurai pelukannya. Menatap anak didiknya yang balas menatap dengan senyuman. "Terima kasih bu karena mengkhawatirkan Nerissa." "Sama-sama sayang." Elysa mengambil napas sebelum melanjutkan. "Baiklah, anak-anak kalau begitu Ibu akan menjelaskan materi pelajaran matematika wajib pada kalian." Wanita muda itu berjalan ke depan kelas mengambil spidol dan buku cetak matematika dari atas meja guru. Ibu Elysa menuliskan rumus-rumus matematika beserta contoh dan penyelesaian di papan tulis putih. Wanita itu berbalik menatap satu per satu muridnya. "Kita akan mengulang kembali materi pelajaran sebelumnya sebentar karena ada teman kalian yang sempat ketinggalan." "Baik, Bu!" jawab sekelas kompak. "Ada yang bisa mengerjakan soal ini anak-anak?" tanya Ibu Elysa yang dijawab gelengan anak-anak. Anak-anak itu justru menyebutkan nama Nerissa untuk maju ke depan kelas menyelesaikan soal yang susah. Xynerva bangkit dari posisi duduk, berjalan maju ke depan menyelesaikan soal-soal yang dianggap susah oleh teman-temannya dengan mudah tanpa kesulitan sedikit pun. Setelah selesak gadis itu kembali ke tempat duduknya. "Xynerva, kau mengerjakan soal susah itu seperti makan permen saja," puji John yang dijawab anggukan setuju Lily. Xynerva hanya membalas dengan senyuman khasnya. *** Seperti biasa suasana kantin selalu ramai dipenuhi oleh murid-murid dari berbagai kelas mengantre membeli makanan dan minuman. Di kantin tempat anak-anak melepas penat dan juga lapar di perut sehabis belajar. Kursi dan meja ditata rapi di sisi kanan ruangan. Di dinding bercat hijau terpasang poster tentang menjaga kesehatan dan makan makanan yang sehat. Beberapa pot-pot bunga srigading digantung di dinding. Aroma nikmat makanan yang baru saja dipesan menggoda perut agar makanan segera dimakan. "Xynerva, kau tahu kalau kamu tidak masuk kelas. Aku dan John selalu jadi sasaran untuk maju ke depan. Nah sekarang kau sudah masuk palingan satu atau dua soal saja kami mengerjakan," adu Lily yang dibalas kekehan Xynerva. "Iya itu bagus untuk kalian supaya sering maju," sahut Xynerva. Kali ini John yang menjawab. "Bagus apanya? Yang ada aku dan Lily pusing karena soalnya itu susah sekali." Pria itu berkata dengan raut wajah muram seolah menggambarkan betapa sulitnya soal hitungan yang diberikan guru. "Ke depannya kita bisa belajar sama-sama lagi dan juga bermain bersama." "Iya, kita depannya akan terus bersama. Bermain bersama, bercanda bersama, dan belajar bersama," sahut Lily. Wajahnya terlihat cerah dan gembira. "Selama beberapa hari tanpa kehadiranmu kami merasa sepi," ujar John. "Tapi sekarang tidak lagi," lanjut John. "Oh, ya jangan lupa aku pinjam buku catatan dan latihan kalian ya. Aku banyak ketinggalan." "Soal itu mudah aku akan membawanya besok," jawab Lily dengan nada enteng kemudian. "Sip." Xynerva mengacungkan jempol kanannya. *** Clara menyimpan selembar foto warna yang diberikan Alpha Mallory di dalam tas miliknya. "Alpha, kami berdua akan menghubungi kalau ada kabar mengenai Luna Nerva," ucap Gabriel yang dijawab anggukan Alpha Mallory. Bagi bangsa werewolf, mate atau belahan jiwa sangat penting bagi mereka. Setiap werewolf akan jatuh cinta pada pandangan pertam ketika menatap pasangan mereka yang ditakdirkan oleh Moon Goodes. Berselang beberapa saat kemudian Clara dan Gabriel membungkuk hormat dan pamit. "Semua wilayah pack Quirin sudah dicari, tapi tidak bertemu. Perbatasan kita secara langsung terhubung dengan dunia manusia. Kita harus juga mencari Luna Xynerva di dunia manusia," mindlink Jayce sang serigala. "Masuk akal, kita sudah mengerahkan para warrior mencari di semua wilayah bahkan ke wilayah pack lain, belum bertemu. Itu artinya Luna Nerva tidak berada di dunia kita." "Kepala warrior, kalian menyamarlah sebagai manusia dan cari Luna Nerva di dunia manusia," mindlink Alpha Mallory pada Kepala warrior pusat. Ada lima kepala warrior di pack Quirin yaitu kepala warrior pusat, kepala warrior utara, kepala warrior selatan, kepala warrior barat, dan kepala warrior timur. "Baik, Alpha. Saya akan memerintahkan sebagian para anggota warrior untuk menghentikan pencarian di perbatasan dan memerintahkan melanjutkan pencarian di dunia manusia," mindlink kepala warrior pusat. *** Di sebuah ruangan yang suram dan minim cahaya. Seorang pria berjubah hitam datang dan membungkuk hormat. Sang pemimpin duduk di singgasananya dengan gaya angkuh. Pakaian hitam dan merah membalut tubuhnya kekarnya. Topeng hitam berukiran menutupi sebagian wajahnya. "Silakan katakan hal-hal yang kau ketahui!" perintah sang pemimpin dengan nada tegas dan berwibawa. "Hormat saya pemimpin, hamba ingin menyampaikan informasi mengenai Alpha Mallory. Saya telah mengikutinya beberapa hari ini dan mendapatkan informasi Alpha Mallory telah menemukan matenya." "Berita yang menarik. Lanjutkan!" perintahnya sembari menggerakkan tangannya sebagai tanda lanjutkan. "Dan hamba mendengar informasi Luna Alpha Mallory menghilang dan anggota pack Quirin sedang mencarinya." Sang pemimpin menyunggingkan senyuman yang tampak menyeramkan di wajahnya. Pria yang sudah berusia ratusan tahun itu mengambil segelas air teh yang disuguhkan pelayan, lalu meneguknya secara perlahan. "Bawakan makanan ringan!" perintahnya pada seorang pelayan wanita muda yang bertugas mengipasi sang pemimpin. Pelayan wanita itu membungkuk, lalu berjalan melaksanakan perintah tanpa ada sedikit pun bantahan. "Kau membawa berita yang membuatku senang. Berikan dia beberapa lembar uang!" Seorang pelayan yang sudah bekerja pada sang pemimpin selama bertahun-tahun memberikan beberapa lembar uang pada mata-mata. "Terima kasih pemimpin atas kebaikan hati Anda!" Sekali lagi pria itu membungkuk sebagai rasa terima kasih. Wajahnya tampak bahagia dan senang menatap beberapa lembar kepingan uang yang di dalam genggaman tangannya. "Kau sudah tahu tugasmu bukan?" "Hamba mengerti pemimpin! Hamba berjanji tidak akan mengecewakan Anda!" "Bagus, aku tunggu kabar bagus darimu." *** "Fahar, kau sudah menemukan buku yang aku suka?" tanya Xynerva menoleh sekilas pada seorang pria yang berdiri di sampingnya. "Aku menemukan beberapa buku yang bagus. Apa buku ini bisa dibawa ke rumah untuk dibaca?" Saat ini mereka berdua sedang berada di perpustakaan daerah kota Arisia. Perpustakaan kedua yang paling lengkap setelah perpustakaan provinsi. "Sebentar kita tanya dulu pada penjaga perpustakaan boleh dibawa ke rumah atau tidak." Fahar mengangguk sebagai jawaban. "Sepertinya buku ini bagus untuk dijadikan latihan," ucap Xynerva Zanitha ketika kedua netra cokelatnya menatap buku cetak edisi soal matematika wajib. Berselang beberapa saat kemudian. Tiba-tiba pandangan Xynerva berubah menjadi gelap. "Kenapa saat-saat begini mati lampu sih?" keluh Xynerva sebal. Tidak biasanya perpustakaan daerah mati, batin gadis itu dengan nada heran. Dengan meraba-raba di sekitar supaya tidak terjatuh. Dia mengernyit heran merasakan bukanlah rak-rak, buku-buku yang disentuhnya. "Kenapa bentuknya kasar seperti batang pohon?" ucapnya seraya mengusap sekali lagi dan memastikan bahwa dia tidak salah. Tidak lama kemudian keadaan kembali normal. Betapa terkejutnya gadis berzodiak gemini itu ketika mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling, bukanlah pemandangan rak-rak buku yang berjajar rapi, tapi pohon-pohon yang berbaris rapi. "Ini... ini sebenarnya ada apa? Apa aku bermimpi?" Gadis itu tampak linglung. Xynerva mencubit tangannya pelan, dia merasakan sakit. "Aku tidak mungkin berpindah tempat dengan sendirinya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN