Rombongan warrior pack Quirin membelah jalanan hutan Bintang dengan kecepatan yang tinggi. Rombongan warrior mengendarai kuda sihir yang dipinjamkan Nyonya Bunga. Bentuk kuda sihirnya sama seperti kuda pada umumnya hanya saja kuda sihir hanya bisa digunakan dua jam belas saja dan setelah dua belas jam kuda sihir akan kembali menjadi bentuk kertas. Dan kuda sihir bisa digunakan kembali setelah istirahat selama lima jam dengan meneteskan madu. Sedangkan untuk warna kudanya ada yang warna putih, cokelat tua, cokelat muda, dan abu-abu. Kuda sihir lebih cepat dari kuda biasa.
Mereka bergerak melalui jalan rahasia yang diberitahu oleh Nyonya Bunga. Di jalan itu tidak terlalu banyak hewan-hewan yang harus dihadapi. Selain itu juga menghemat waktu perjalanan. Hanya dalam waktu setengah hari mereka sudah berhasil melewati hutan Bintang pusat menuju hutan Bintang barat.
Di dalam hutan Bintang terbagi menjadi empat tipe hutan Bintang yaitu hutan Bintang pusat, hutan Bintang utara, hutan Bintang selatan, hutan Bintang barat, dan hutan Bintang Timur. Setiap hutan dihuni oleh makhluk yang berbeda-beda. Kejadian Alpha Lory digigit monster ular berbisa itu terjadi di hutan bintang selatan.
Mereka harus sampai di hutan Bintang barat sebelum cahaya matahari menghilang karena jika malam tiba monster-monster itu akan bertambah kuat dan mereka akan lebih kesusahan ketika melawannya nanti.
"Avril, kira-kira bagaimana keadaan Alpha sekarang? Apakah sepasang suami istri itu memberikan pelayanan yang baik pada Alpha Lory?" tanya salah seorang warrior yang berjalan di samping warrior yang paling tua. Perjalanan yang mereka tempuh terlalu sunyi.
Laki-laki yang dipanggil dengan nama Avril itu menoleh lewat bahu pada warrior yang lebih muda. "Aku yakin mereka akan memberikan pelayanan yang baik pada Alpha Lory. Di sana 'kan ada Beta Darren juga," sahutnya dengan nada tenang.
Di depan mereka terbentang perbukitan hijau yang terlihat menakjubkan. Embusan udara segar membuat mereka lebih rileks dan nyaman. Kawanan burung-burung terlihat beterbangan.
"Pemandangannya sangat indah," puji salah seorang warrior dengan ekpresi kagum.
"Apakah pemandangan ini nyata atau tidak?" ujar warrior yang lain yang ragu.
"Kita percepat laju kuda kita supaya cepat sampai," instruksi warrior yang paling tua yang dijawab anggukan para warrior yang lebih muda.
"Ya, Kak Avril benar."
Pemandangan di sekitar mereka berubah. Langit yang awalnya biru terang berubah menjadi gelap. Perbukitan hijau yang terhampar berubah menjadi bukit yang tandus, pohon-pohon kering tak berdaun berbaris rapat tak berujung.
Suara petir dan kilat terdengar bersahut-sahutan dari kejauhan membuat kuda sihir yang ditunggani mereka tidak tenang dan ketakutan. Para kuda sihir mengatakan secara bersamaan jika bahaya mengintai di sekeliling mereka. Kuda sihir berubah menjadi bentuk kertas kembali sebelum pada waktunya dan bersembunyi dengan berubah menjadi cincin.
Para warrior mengambil pedang yang tersampir di pinggang masing-masing. Tatapan mata mereka waspada. Jalan yang awalnya dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah kini berubah menjadi jalan yang ditanami tulang-tulang tengkorak. Aroma busuk tercium di udara menusuk indra penciuman para warrior. Kabut tipis menyelimuti area tersebut.
Dari dalam tanah muncul tengkorak serigala kepala dua. Kedua kaki depannya yang hanya tulang tampak mengais-ngais tanah dan mengaum. Jika hal ini dilihat oleh manusia biasa maka akan dipastikan mereka akan lari ketakutan bahkan mungkin sampai pingsan di tempat.
"Monster serigala kepala dua tingkat satu," ucap warrior yang paling tua. Iya, dia juga diberi tahu soal itu oleh Tuan Aldo. Ucapannya bisa didengar oleh para warrior yang memiliki indra pendengaran yang tajam.
"Monster serigala kepala tua?" beo salah satu warrior seakan tak percaya.
"Saudara-saudara kalian harus berhati-hati!" instruksi Avril.
Kabut semakin pekat. Dan monster-monster serigala kepala dua berjalan mendekati para warrior. Monster itu menyerang dengan gerakan yang cepat. Cakarnya diarahkan untuk mengoyak korban. Para warrior bergerak menangkis serangan serigala tulang menggunakan pedang, berguling dan melompat. Berkat kekompakan mereka satu per satu serigala kepala dua berhasil tumbang di atas tanah. Meskipun begitu beberapa warrior juga sedikit terluka, tapi tidak parah. Para warrior sudah terbiasa yang namanya terluka, bisa dikatakan itu makanan sehari-hari. Para monster serigala seketika berubah menjadi satu tulang dan masuk kembali ke dalam tanah. Aroma busuk juga ikut menghilang.
Belum lama para warrior bernapas dengan lega, suara auman yang lain terdengar di indra pendengaran membuat mereka tegang. Udara di sekitar mereka berubah menjadi dingin. Pohon-pohon kering menjadi beku dan dipenuhi tumpukan salju. Napas yang diembuskan berembun.
"Saudaraku, sekarang hewan apa lagi?" tanya salah satu warrior pada Avril.
Melihat dari kondisi yang ada tampaknya hewan yang berkaitan dengan es. Siapa lagi kalau bukan harimau kutub? Hewan itu memiliki bulu berwarna putih bersih dan kedua mata biru cerah.
"Harimau kutub," balas Avril.
Auman kencang kembali terdengar bersamaan dengan sang pemilik suara yang keluar dari balik salah satu pohon besar yang ada. Sangking kuatnya aumannya beberapa tumpukan salju sampai terjatuh dari atas ranting-ranting pohon yang kering dan membeku.
Seekor monster berbentuk hewan besar muncul. Hewan itu mengaum seolah mengatakan jika wilayah itu adalah milik para monster. Harimau kutub berjalan dengan gagah dan gayanya angkuh. Jangan lupakan ekor panjang seputih kapasnya mengibas-ngibas dengan bebas. Mata biru jernihnya menatap satu per satu para warrior dengan ganas, tapi ekpresi para warrior tampak biasa saja seakan yang berdiri dengan jarak satu meter di hadapan adalah seekor anak kucing.
Harimau kutub berlari menerjang para warrior yang untungnya sudah siap. Warrior membentuk lingkaran sembari menodongkan pedang yang sudah dicelupkan dengan ramuan penguat senjata oleh Nyonya Bunga.
Tiga warrior secara bersamaan menusukkan pedang ke tubuh harimau kutub. Dengan mudah si hewan besar berputar, lalu melemparkan tiga warrior ke pohon sampai pohon terbelah menjadi dua dan tiga warrior itu ditimbuni salju.
Harimau kutub meraung kesakitan dan bulu putih bersihnya dinodai oleh darah. Salju putih juga ikut dinodai cairan merah. Dia menatap para pria dengan marah.
"Maaf, kami tidak ada waktu untuk bermain-main denganmu harimau kutub!" Avril mengambil kantong ramuan dan melemparkan isinya yang berupa secarik kertas cokelat muda di atas tanah bersalju. Beberapa detik kemudian muncul sebuah simbol yang rumit, yang para warrior tidak tahu itu simbol apa? Simbol itu hanya bisa dimengerti oleh bangsa penyihir.
Satu menit kemudian muncul sebuah sangkar berwarna perak mengurung harimau kutub. Kepala hewan besar itu menabrak dinding sangkar dan kaki besarnya mengais-ngais ingin melepaskan diri. Muncul listrik yang menyengat hewan besar itu sampai bulu-bulu lembut dan indahnya gosong. Harimau kutub terus saja meraung kesakitan seolah memohon untuk diselamatkan.
Kasihan sekali harimau kutub itu, tapi jika tidak dikurung. Dia akan menghambat waktu kami, batin warrior yang paling muda menatap iba pada si harimau putih.
Sesuai pesanan Nyonya Bunga, Avril memasukkan harimau putih ke dalam kantong ajaib. Kata Bunga harimau putih bisa dijadikan obat yang sangat berharga.
Avril membawa para warrior untuk berjalan lebih ke dalam hutan untuk menghadapi monster-monster yang lain. Lingkungan sekitar terasa lebih panas dan daun-daun pohon berwarna merah. Membuat badan berkeringat dan kepanasan.
Seekor naga panjang dan besar meliuk-liukan tubuhnya, dari mulutnya menyemburkan api membakar pepohonan sampai habis tak bersisa lagi.
Hutan bintang banyak sekali tersimpan hewan-hewan buas yang hebat, batin beberapa warrior merasa kagum.