Chapter 89 - Alpha Lory Sadar

1264 Kata
Bunga dan Aldo suaminya memberikan beberapa kantong ramuan yang bisa membantu para warrior untuk melawan monster-monster jahat. Bunga dan Aldo berasal dari rasa penyihir hijau. Mungkin ada yang penasaran mengapa mereka berdua tinggal di dalam hutan Bintang? Apa mereka tidak takut? Tentu saja mereka tidak takut! Itu karena sebelum hutan Bintang terbentuk mereka sudah lama tinggal di sana. "Nyonya dan Tuan, kami mohon agar bisa mengobati Alpha Lory kami sebelum kami berhasil mendapatkan obat yang sesungguhnya," pinta salah satu warrior yang paling tua dengan sopan. Walaupun sudah tua dia masih kelihatan gagah dan perkasa berkat latihan yang dia lakukan. "Kalian tenang saja! Aku dan istriku akan merawat Alpha kalian dengan baik! Oh, ya satu hal lagi aku lebih baik terus terang saja, kalian hanya punya waktu dua hari. Jika lewat dari situ aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Alpha kalian," jelas Aldo berkata jujur tanpa ditutup-tutupi. "Baiklah, Tuan. Kami akan berusaha untuk mendapatkan penawarnya secepat mungkin," sahut warrior yang kedua yang berdiri di samping warrior tertua. "Bawalah kompas ini sebagai petunjuk arah kalian," ucap Aldo yang memiliki rambut berwarna hijau tua dan kedua netra yang berbeda warna satunya berwarna hijau dan satunya bersama kuning. Warrior tertua menyimpan kompas ke dalam kantong celananya sembari mengucapkan kata terima kasih. "Kalian harus menjaga diri kalian baik-baik!" pesan Beta Darren pada para warrior. Laki-laki itu sudah menganggap para warrior sebagai saudaranya sendiri. Di setiap peperangan yang dilakukan dalam memperluas pack Quirin mereka selalu bersama. "Beta Darren, kau tak perlu khawatir kami akan menjaga diri kami dengan baik! Karena aku yang paling tua di sini aku akan berusaha menjaga saudara-saudara yang lain." Warrior pertama memeluk Beta Darren khas pelukan laki-laki. Setelah pelukan singkat dan pamit para warrior segera berangkat sebelum hari mulai siang. Semakin cepat mereka berangkat, maka semakin cepat Alpha Lory akan sembuh begitulah kata mereka di dalam hati. *** "Nak Darren, kau begitu berani mengubah wujudmu menjadi bentuk serigala. Untung saja sisi serigalamu tidak mengalami kecacatan," ujar Bunga menggeleng tak percaya setelah selesai memeriksa keadaan Beta Darren. Beta Darren hanya tersenyum menanggapinya. "Semua ini aku lakukan dengan Alpha Lory," ujarnya, pandangan matanya mengarah pada Alpha Lory yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi tak sadarkan diri. "Lory beruntung memiliki bawahan-bawahan seperti kalian yang begitu setia dan rela mengorbankan nyawa," sahut Aldo yang membantu istrinya mengipasi tungku obat. Asap-asap putih keluar setiap dikipas. "Paman bercanda, kami yang beruntung memiliki Alpha seperti dia. Alpha Lory sangat peduli pada kami bawahannya dan juga para rakyat. Ya, walaupun wajah dan nada suaranya terkesan dingin dan cuek, namun hatinya sangat baik," puji Beta Darren sembari tersenyum. Rambut cokelatnya tampak serasi dengan netra matanya yang juga berwarna cokelat. Tatapan matanya yang teduh membuat para gadis jatuh di dalam kedamaian abadi. Setelah Bunga menuangkan cairan obat ke dalam mangkuk, dia memberikannya pada Beta Darren. Beta Darren mengaduh kepanasan saat meminumnya membuat sepasang suami-istri itu tertawa karena tingkah lucu Darren. "Hati-hati, obatnya masih panas," ucap Bunga. "Tiup dulu baru diminum, Nak. Lidahmu bisa terbakar," timpal Aldo setuju. Selesai meminum obat Beta Darren menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian kembali menemani Alpha Lory. Sementara itu para omega membantu paman dan bibi memetik tanaman herbal dan memetik buah-buahan yang sudah matang di kebun yang terletak di belakang pondok. Darren mengambil posisi bersila dan memfokuskan pikirannya pada sisi serigala nya yang sejak pagi ini belum juga muncul. "Taren, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik setelah minum obat?" tanyanya ketika melihat sosok serigala berbulu cokelat muda yang sedang duduk dan matanya terpejam. Taren membuka kelopak matanya, lalu menatap sisi humannya, kemudian mengangguk mengiakan. "Keadaanku delapan puluh lima persen sudah sembuh. Obat dari bibi dan paman itu sangat mujarab. Awalnya aku pikir tubuhku akan cacat karena menentang larangan hutan Bintang," ujarnya dengan nada lega. Darren mengusap kepala Taren dengan lembut. "Sekarang kau tak perlu cemas lagi soal itu! Aku akan berusaha agar kau tak perlu keluar lagi dari tubuhku," ucapnya. "Beta, ini camilan untuk anda." Seorang omega wanita meletakkan nampan di meja kecil di dekat Darren. "Oh, baiklah terima kasih," jawab Beta Darren yang membuat gadis omega itu merasa senang. Darren mengambil sekeping biskuit rasa apel dan mencicipinya. "Bagaimana Beta rasanya apakah enak?" tanya omega wanita tadi yang dibalas anggukan Beta Darren. Darren adalah laki-laki kedua yang paling banyak disukai para gadis setelah Alpha Lory tentunya. Jika Lory merupakan gunung es yang indah, maka Darren adalah hutan musim gugur yang membuat hati damai. Walaupun banyak yang suka pada Darren dan mengatakan perasaannya pada Darren secara terang-terangan, dia berprinsip sama seperti Alpha Lory, dia hanya akan bersama mate yang telah ditakdirkan. Beta Darren berharap dia bisa menemukan sang mate sebentar lagi. Suara Alpha Lory terbangun membuatnya kembali ke alam sadar. Dia langsung menghampiri Alpha Lory dan membantunya untuk duduk bersandar di ranjang. "Alpha akhirnya kau sadar juga," ujar Beta Darren bernapas dengan lega. "Darren, sudah berapa lama aku terbaring di ranjang?" tanyanya menatap Beta Darren dengan wajah dan kedua matanya yang tampak lesuh dan lemah. Kulit wajahnya sedikit pucat. "Sejak kemaren sore Alpha. Bagaimana perasaan Alpha sekarang?" tanya Beta Darren. "Aku baik-baik saja, Beta Darren." Alpha Lory meminum segelas air yang disodorkan oleh Beta Darren. Air dingin menyegarkan tenggorokannya yang kering. "Alpha aku panggil Bibi Bunga ke sini dulu. " Tanpa menunggu jawaban dari Alpha Lory, Beta Darren segera berjalan menghampiri kedua orang yang sedang berada di kebun belakang bersama para omega. Bibi Bunga sedang memetik sayur-sayuran dan memasukkannya ke dalam keranjang. "Bi, Alpha Lory sudah bangun. Tolong Bibi periksa dia," ujar Beta Darren yang dijawab anggukan Bibi Bunga. Bibi Bunga meminta salah satu omega untuk melanjutkan memetik sayur-sayuran. Bunga bergerak memeriksa keadaan Alpha Lory. "Bagaimana perasaanmu, Nak?" tanyanya. "Aku baik-baik saja. Siapa kau?" tanya Alpha Lory pada Bunga. "Aku adalah Bunga. Kau bisa memanggilku dengan panggilan Bibi," sahut Bunga dengan senyuman di wajahnya. Walau saat ini keadaanya kurang sehat dan bisa dibilang kurang baik. Alpha Lory tidak menurunkan rasa curiga pada orang luar. "Alpha, Bibi Bunga adalah orang yang merawatmu Alpha dan juga dia yang membantu kita. Percaya padaku dia adalah orang yang baik," jelas Beta Darren yang membuat Alpha Lory menoleh padanya. Jika Beta Darren sudah berkata seperti itu berarti wanita ini bisa dipercaya, pikir Alpha Lory dalam hati. Bibi Bunga mengerti mengapa Alpha Lory yang seumuran dengan anaknya itu bersikap waspada. Hal itu merupakan hal yang wajar. Terutama dia adalah orang asing, yang baru saja bertemu. Selain itu seorang Alpha pemimpin sebuah pack pasti punya sikap waspada yang tinggi. "Baiklah, aku percaya padamu Beta Darren," ujar Alpha Lory. "Aku ucapkan terima kasih Nyonya Bunga," ujar Alpha Lory sopan. Pria yang berumur dua ratus tiga tahun itu tentu tahu yang namanya ucapan terima kasih. "Sama-sama, Nak. Minumlah sup jagung ini, bibi tahu kau pasti sangat lapar. " Bibi Bunga menyerahkan nampan yang berisi semangkuk bubur jagung yang masih panas dan segelas air putih bening. Beta Darren menerima nampan tersebut dan mengucapkan terima kasih pada Bibi Bunga. Setelah itu wanita yang telah berumur seribu tahun itu melangkah keluar dari ruangan kamar tamu. Alpha Lory masih ragu memakan bubur jagung yang kelihatannya enak itu. Asap panas mengepul membawa aroma nikmat yang membuat perutnya seketika berbunyi lapar. Beta Darren tersenyum kecil karena tingkah sang alpha yang selalu hati-hati. "Alpha, aku akan mencicipinya sedikit untuk mengetahui apakah di dalamnya ada racun atau tidak." Dia mengambil sendok kecil dan mencicipi bubur jagung. "Buburnya aman untuk dimakan. Alpha sekarang bisa memakan bubur jagungnya tanpa perlu khawatir," ucap Beta Darren sembari menyodorkan mangkuk berisi bubur jagung. Barulah Alpha Lory mau memakan bubur jagung tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN